Catalog
15 chapters
Patah Hati itu Sakit
Terima Kasih dan Selamat TinggalPatah Hati Itu Sakit"Patah hati. Cinta pertama yang berjalan tidak baik." Hanggara mulai menimbang kembali pernyataan Kian selaku tangan kanan paling setia menemaninya selama belasan tahun. Meskipun kini lelaki itu sudah nampak berusia dan mungkin sebentar lagi sudah pensiun, tetapi loyalitas tanpa batas membuat Hanggara tidak bisa melepaskan begitu saja pun dengan keadaan bahwa putra dari Kian kini sedang membuat hati putri kecilnya patah.Ya. Kian memang mengatakan semuanya secara gamblang, bagaimana putra bungsunya menolak putri
Read more
Mendengar Kisah Mami Senna
Senna baru saja menyelesaikan mandinya ketika dilihatnya Hanggara sedang bercanda dengan kedua buah hati mereka. Si Kembar bungsu yang berjenis kelamin sama. Senna tidak pernah menyangka bahwa keputusannya untuk memberikan Hanggara kesempatan kedua bisa membuatnya memiliki satu keluarga yang melimpahinya dengan cinta."Kenapa masih berdiri di situ? Ke sinilah." Hanggara memberikan isyarat melalui mata agar istrinya mau duduk bersama dengan dirinya. Oh, jangan lupakan, Hanggara begitu merindukan aroma Senna dan ingin segera menyelesaikan semua urusannya dengan cepat bahkan dirinya meminta Kian untuk menggantikan perannya. Bertemu dengan klien dari Eropa, orang-orang yang membutuhkan buah mangganya agar bisa diekspor ke negara mereka. Ada Kane Mitsuko yang sebenarnya sedang menjalankan tugasnya sebagai ahli waris
Read more
Kerinduan Hanggara
"Apa kau sudah menemukannya?""Sudah, Tuan Muda Mitsuko." Kian menunduk penuh hormat.Sementara pria yang kini memandang nyalang pada pemandangan kota Den Haag itu seakan menatap sesuatu yang teramat jauh. Sorot mata yang tajam berbanding terbalik dengan seringai tipis yang menghiasi sudut bibirnya. Sudah hampir delapan
Read more
Bertemu, kenapa harus?
Angin malam semakin dingin membuat Senna kembali merapatkan mantel bulunya, sudah pukul sembilan malam. Dan, harus bergegas untuk secepatnya pulang. Senna sebenarnya sedikit melupakan janjinya untuk pulang lebih awal dari biasanya. Dia sudah berjanji pada putrinya untuk menemaninya belajar malam ini. Akan tetapi, si bos memberi beberapa tambahan pekerjaan. Esok lusa tamu akan datang dan ingin mengecek beberapa hal. Termasuk bagian pengeleloaan buah-buah segar. Padahal Senna bekerja sebagai akunting di sini. Seharusnya pekerjaan itu bukan untuknya, tak apalah demi sekantong receh dia harus bekerja lebih keras agar bisa mudik awal tahun depan.Read more
Masa Lalu
Senna berjalan dengan punggung tegap. Tak ada yang boleh menakutinya. Tidak, dia yang datang kembali dari ribuan jam yang telah berlalu ataukah mereka yang berdiri di depannya saat ini.Masa lalu bukan untuk diratapi meski seharusnya dia memaki karena sudah membuatnya terpaksa menjadi ibu tunggal. Tanpa suami. Beruntung kehidupan di sini tak mempermasalahkan siapa dan apakah dia sudah menikah atau belum.Hanya gelintir orang yang baru pertama kali mengenalnya dan itu takkan berlangsung lama. Sebab Senna mengatakan kalau Ayah Sven sedang tinggal jauh dari mereka. Bekerja yang entah kapan akan kembali pulang.

Read more

Perasaan Hanggara
Pukul tujuh pagi saat menyiapkan sarapan mereka seperti biasa, Sven memimpin berdoa. Kedua tangan mungilnya menengadah. "Ya Tuhan, terima kasih atas segala Rahmat-Mu pagi ini, atas semua hidangan nikmat yang sudah dibuat sendiri dari tangan mamiku, dan aku bersyukur bisa menikmatinya hingga detik ini. Jadi, kumohon berikan kami berkat dan kasihMu, amin."Senyum Senna merekah. Putri kecilnya semakin besar dan pintar seiring dengan waktu.
Read more
Ken
"Makan siang sendiri?" Seorang pria berkacamata tebal datang menghampiri meja Senna saat ia menikmati makan siang. Cuaca di musim dingin kali ini cukup bersahabat sehingga dia tak perlu memesan cokelat panas seperti biasa."Boleh aku duduk?" Tanya pria itu."Apa kau perlu meminta izin? Menyebalkan."Read more
Keinginan Pulang
Senna mengurung diri selama satu jam di dalam kamar mandi. Seharusnya seperti itu saja agar pria itu pulang dan meninggalkannya sendirian.Akan tetapi, meski selama apa pun dia mencoba mengabaikan, pria bernama Hanggara itu tetap duduk tenang ditemani sebotol minuman isotonik yang isinya tinggal separuh.Memperhatikan dengan seksama detil ruangan yang entah sudah ke berapa kalinya dia masuki. Jadi, sebenarnya Hanggara tak datang ke rumah ini hanya sekali – ralat – dua kali, tetapi sudah beberapa kali di saat pemilik rumah sedang sibuk di luar rumah.Read more
Dalam Kuasanya
Dalam Kuasanya Malam semakin larut saat Hanggara tetap tak mau pergi dari rumah kecil milik Senna. Bahkan saat ini pria itu justru berbaring di atas sofa lama dengan kaki terjulur hingga keluar badan sofa.Senna yang sejak tadi berjalan mondar-mandir, berkali-kali harus mengdengkus kesal. Bagaimana tidak, pria itu begitu kebal dan sangat menyebalkan. Se
Read more
Janji Papi yang Pertama
Pagi ini, matahari bersinar cukup cerah dengan aroma bunga mawar di halaman kecil rumahnya seolah menyambut mereka dengan senyum merekah. Sven yang sudah berdandan sangat cantik duduk di kursi tempat biasanya makan, sedangkan Senna sibuk dengan menu sarapan mereka bertiga.Baiklah, Senna harus menghitung satu pria dewasa yang saat ini duduk santai tanpa mengalihkan pandangannya pada Sven. Gadis kecil berusia tujuh tahun berambut ikal sebahu. Baju berwarna merah muda dengan bandana kelinci warna senada yang terlihat begitu manis tengah menguyah roti berlumur selai mangga miliknya.Tatapannya tidak beralih dari setangkup ke
Read more
DMCA.com Protection Status