Catalog
52 chapters
Awan mendung di kehidupan Hana
3 tahun sebelum kematian ibunda Hana Hari masih terlalu gelap untuk memulai beraktifitas namun keributan di rumah Hana sudah dimulai . Dari balik kamar Hana mendengar suara piring yang dilemparkan berkali-kali dibarengi teriakan ayah Hana. Hana berusaha menenangkan kedua adik perempuannya Sita dan Mira . Mira , adik Hana yang paling kecil merangkul kedua kakaknya dengan lengan kecilnya, ia menatap kedua kakaknya seakan bertanya apa yang sedang terjadi "Aku harap ayah secepatnya pergi ke neraka , agar dia tak mengganggu tidur kita setiap malam " jawab Sita penuh amarah "Sita.... Bicara apa kamu, dia itu ayah kita" Hana menegur adiknya yang berwajah manis itu "Kita tidak butuh ayah pemabuk yang tidak berguna seperti dia" Sita melanjutkan kembali tidurnya  Hana menggendong mira dipangkuannya mengintip dari sedikit pintu yang terbuka , disana pemandangan yang menyakitkan . Ayahnya sedang marah karena peng
Read more
Harga diri yang terbuang
 Mira keluar dari dalam rumah dengan tangannya memegang piring plastik berisi nasi goreng, tangan kecilnya berusaha memasukan sesuap demi sesuap ke dalam mulut mungilnya. Ada banyak butir nasi yang menempel berantakan di baju Mira .Aaaaa.... Hana membuka mulutnya minta disuapiMira mengangguk dengan senang hati, ia terlihat berusaha menyuapi kakaknya dengan satu sendok penuh nasi goreng ke dalam mulut Hana"Mmmmm.... enaknya, nasi goreng ibu memang paling enyyakk sedunia " puji Hana Ibunda Hana tersenyum melihat tingkah kedua putri yang amat disayanginya itu , lalu ibunda Hana mengeluarkan selembar lima ribu yang terlihat basah dari saku dasternya, ia memberikannya pada Hana "Maafin ibu ya Hana, uang jajanmu hari ini hanya segini "  Hana menerimanya dengan senang hati meski ia tahu nominal uang segitu hanya cukup untuk membeli sekantung plastik es teh manis di kantin sekolahnya, Hana tak ingin membuat ibundanya bersedi
Read more
Tiga
Hana berdiri mematung di depan pagar rumahnya yang sudah karatan. Beberapa bagian besinya nampak kopong dan patah. Gadis itu ragu untuk masuk ke dalam rumah sekarang, alasannya karena sebuah surat yang kini ada digenggaman tangannya . Surat peringatan dari sekolah karena sudah empat bulan Hana belum membayar uang spp sekolah .  "Permisi, apa benar ini rumah pak Gunawan?"  Sebuah tangan menepuk pundak Hana Hana berbalik "benar pak, bapak siapa ya?"  Hana bergidik ngeri melihat laki-laki ini . Tampangnya sangar dengan kacamata hitam dan jaket kulit mengkilatnya, bukan hanya satu tetapi ada lima orang lelaki berpenampilan serupa Tanpa menjawab pertanyaan Hana , laki-laki itu langsung membuka paksa pagar rumah Hana diikuti gerombolan dibelakangnya Kejadiannya berlangsung cepat ,gerombolan lelaki itu memasuki rumah Hana dan keluar mengangkuti barang-barang perabotan dari dalam rumah "Jangan pak, jangan ambil baran
Read more
Empat
"ketuklah pintunya, bos ada di dalam" wanita itu menyuruh Hana Hana tampak gugup, meski begitu tangannya akhirnya berani mengetuk pintu Tok tok tok tok , terdengar pelan "Lakukan lagi, ketukanmu tak terdengar di telinga bos kami, kau tahu bahkan dokter mengambil sebagian daun telinga kanannya" ucap wanita itu penuh senyum Hana menelan ludahnya, Tok tok tok tok , hana mengulanginya kali ini ketukan tangannya lebih bertenaga "Siapa?" Teriak seseorang dari dalam "Ada tamu bos, seorang gadis memakai seragam SMA , mau bertemu bos katanya " jawab wanita itu  masih dengan tersenyum Entah kenapa bagi Hana , senyuman wanita itu justru terlihat menakutkan "Gimana bos, boleh masuk sekarang?" Tanya wanita itu lagi "Baiklah,bawa gadis itu masuk kemari" Pintu pun dibuka pelan-pelan , wanita bergincu yang entah siapa namanya itu masuk duluan, di ikuti Hana dibela
Read more
Lima
Hari semakin gelap, Hana melihat waktu di layar ponselnya. Ia menarik nafasnya dalam-dalam. Tidak , ia tidak akan mundur, ia sudah kadung menerima perjanjian dengan pria tua itu tadi siang.  Ia harus menyelamatkan perabotan rumah milik keluarganya dan lagi pria tua itu juga menjanjikan akan melunasi spp sekolahnya yang menunggak jika misi yang diberikannya berhasil dilaksanakan Tapi bagaimana caranya? Aku sendiri bahkan belum pernah punya pacar , gumam Hana. Ia melihat pantulan dirinya yang masih memakai seragam sekolah pada kaca di luar bar Hana memperhatikan setiap orang yang akan memasuki bar itu . Ketika akhirnya Leon keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam bar, Hana langsung mengikutinya namun seorang security menahan Hana "Hey nak, anak sekolah dilarang masuk kesini" "Kenapa?" Tanya Hana polos "Perpustakaan lebih tepat untuk gadis seusiamu, okey . Kembalilah jika kau sudah punya ktp?" security itu mendorong pelan
Read more
Enam
Begitu memasuki bar , Hana tampak melongo tak percaya. Dunia baru yang sedang dijejaki kakinya sekarang membuatnya sakit kepala . Ada banyak laki-laki dan perempuan berbaur di lantai dansa, menggoyang-goyangkan tubuh mereka sesuka hati mengiringi dentuman musik yang diputar seorang dj diatas panggung.  Seorang waiter pria memakai kemeja hitam dan dasi kupu-kupu berwarna hitam di bagian kerahnya menghampiri Hana dan Cindy, satu tangannya memegang nampan berisi beberapa gelas yang diisi wine "Minuman selamat datang untuk dua gadis yang cantik" sambut pria itu. Hana menolak lembut " enggak makasih, kami mau lihat-lihat dulu" Cindy terlihat ingin protes namun lengannya sudah keburu ditarik Hana pergi menjauh dari sana "Lepasin aku Han, aku datang kesini mau senang-senang" "Tapi enggak minum juga ndy" "Trus ngapain? Ngaji disini?" Seloroh Cindy kesal "Udah deh kita masing-masing aja, aku
Read more
Tujuh
"nak,kamu dimana sekarang? Kamu baik-baik saja kan? Kamu enggak diapa-apain kan, ibu jemput kamu ya sekarang?" Suara cemas ibunya memberondong Hana seperti senapan "Hana baik-baik aja ko bu. Tadi bos kawanan preman itu berjanji akan mengembalikan barang-barang kita" Hana melirik ke arah Leon di tempat tidurnya. Tangan kanan leon bergerak menjambak rambutnya sendiri "Bu, Hana tutup dulu ya telponnya. Ibu enggak usah khawatir. Malam ini Hana ijin menginap di rumah Cindy ya bu" ucapnya sambil menggigit kuku telunjuknya "Kamu berkata jujur kan Hana?" Tanya ibunya "Hana enggak bohong ko. Tanya Cindy saja kalau tidak percaya"  Panggilan dimatikan Hana secara sepihak . Maaf ya bu, Hana terpaksa melakukan ini. Gumam Hana Selanjutnya Hana mengirim sebuah pesan suara kepada Cindy "Ndy, kalau ibuku tanya, tolong bilang aku lagi nginep di rumah kamu ya malam ini! Please....please....
Read more
Delapan
Keesokan paginya Leon terbangun dari tidurnya, ia merasakan sesuatu yang aneh  tubuhnya lebih fit dari biasanya . Ia menggeliat sebentar sebelum akhirnya ia menyadari tubuhnya yang hanya memakai sehelai celana dalam berbalut selimut.  Leon bergegas bangun dari tempat tidur dan alangkah terkejutnya ia saat melihat seorang gadis tertidur di sofanya  Ia mendekat ke arah gadis itu , tangannya ingin menepuk membangunkannya namun terdengar suara bell dari luar pintu apartemennya Siapa gadis ini,kenapa dia tertidur di sofaku? Dia terlihat masih dibawah umur dan sangat tidak pantas dengan pakaian yang dikenakannya sekarang . Siapa dia? Apa aku yang membawanya kemari? Bathin Leon penuh tanya ia tak mengingat apapun kejadian semalam"Sepertinya aku pernah melihatnya tapi dimana?" Leon mencoba mengingat . Bel pintu apartemen sudah berhenti, Leon mendengar langkah sepatu high hell ya
Read more
Sembilan
Tanpa membuang waktu lagi Sarah pergi meninggalkan apartemen kekasihnya. Ia merasakan amarah dan bingung bercampur aduk. Ia ingin sepenuhnya mempercayai pembelaan Leon namun gadis muda itu tidak mungkin berbohong kan Apakah leon sudah bosan denganku? Ataukah ini karma karena dulu aku pernah mengkhianatinya ? Desah Sarah 🥀🥀🥀🥀 Hana mengintip dari balik pintu ketika Leon memohon pada Sarah, namun Sarah yang sudah dikuasai emosi menampar Leon berkali-kali. Ia meluapkan seluruh kekecewaannya pada kekasihnya itu. Ah, andai ibuku juga punya kekuatan seperti nona Sarah untuk melawan ayahku, desah Hana dari balik pintu kamar Leon Pertunjukan berakhir, pertengkaran mereka usai tanpa terselesaikan . Leon memegangi wajahnya yang kini memerah karena tamparan bertubi-tubi dari Sarah . Lalu berjalan ke arah kamar dimana Hana mengintipnya sejak tadi. Leon memi
Read more
Sepuluh (pembullyan)
Hana memutuskan langsung pergi ke sekolah tanpa pulang ke rumahnya dulu.  Di kelas  Teng teng teng teng bel istrirahat berbunyi Sejak tadi suhu tubuh Hana menjadi panas , ia merasa seluruh tulang-tulangnya retak , bagian dada dan ujung pangkal pahanya terasa menegang sejak tadi  "Kamu kenapa Hana? Wajahmu pucat banget "  Tanya Bella teman sebangkunya khawatir  Hana menggeleng "aku enggak apa-apa ko" ia menyandarkan kepalanya ke dinding  "Kamu sakit Han, aku antar ke uks ya, mumpung lagi jam istirahat"  Hana menggeleng tidak mau, ia bersikeras dirinya baik-baik saja  "Yaudah aku mintain obat aja ya, kamu tunggu disini "  Hana mengangguk tersenyum "makasih Bel" ucapnya    Setelah Bella mendapatkan paracetamol di
Read more
DMCA.com Protection Status