Catalog
37 Chapters
Prolog
Apa yang akan kalian lakukan saat semua orang mendesak mu dengan pertanyaan, kapan menikah?Hal itulah yang di alami wanita berparas jelek. Kinara Larasati yang terus-menerus di desak orang tua, saudara bahkan teman-temannya yang selalu mendesak pertanyaan itu. Sekarang umurnya yang sudah memasuki usia 25 tahun, semakin membuat keluarganya rewel agar dirinya menemukan pasangan hidupnya. bahkan sangking rewelnya kedua orang tuanya, nekat menjodohkannya dengan berbagai macam jenis pria, sialnya, semua pria itu mundur menolak setelah bertemu langsung dengan Kinara. tentu saja Kinara tau alasannya, apa yang menyebabkan mereka mundur?Kinara sebenarnya tak mempermasalahkan itu. baginya, jika sampai sekarang ia belum juga menikah. mungkin saja Tuhan belum mempertemukannya dengan cinta sejatinya, sekarang yang Kinara pikirkan hanyalah bekerja. Ia yakin jika suatu saat nanti akan ada masanya dimana pangeran hati
Read more
Part 1
Kinara menatap sebuah benda yang sangat ringan dan indah di meja, dengan warna yang lembut terkesan elegan dan tak terlalu mencolok membuatnya terlihat menjadi romantis."Undangan pernikahan lagi." gumamnya lirih.Ia mengambil undangan tersebut dan menghembuskan nafas berat, hatinya meringis saat melihat undangan tertuju untuknya. yang membuatnya sesak adalah, di situ tertulis untuk Kinara Larasati & partner.Ia buka perlahan undangan itu dan mulai membaca isinya. ternyata teman sekolahnya dulu sewaktu SMA yang menikah, namanya Via. Kinara menutup kembali undangannya, dan melangkah masuk ke kamar. ia merebahkan tubuh lelahnya di ranjang yang tidak empuk namun juga tidak keras. Di tatapnya langit-langit kamar dengan sendu, apakah hanya dirinya yang tidak akan pernah memiliki pasangan? apakah dirinya sial soal urusan asmara? atau jangan-jangan ia memang terkena kutukan atas ucapannya dulu sewaktu SMA! pikirnya bertanya-tanya dalam hati.Ia terse
Read more
Part 2
Kejadian barusan masih terus berputar di ingatan Nara, entah kenapa rasanya begitu sesak.Nara berhenti di pinggir jalan, ia duduk di pinggir jalan seorang diri di tengah malam. kembali ia menumpahkan segala kesedihannya, bukannya ia tak bersyukur kepada sang kuasa karena telah lahir ke dunia tanpa cacat sedikit pun.Ia hanya merasa mengasihani dirinya sendiri, kenapa semua orang begitu kejam memperlakukan dirinya. apa salahnya jika ia lahir dengan wajah seperti ini, wajah buruk rupa yang sering kali di cemoh orang-orang begitu.TIIINNNNN!!!Suara klakson mobil yang sengaja di tekan kencang oleh sang pengemudi, Nara menghalau sinar lampu mobil yang begitu terang dengan kedua tangannya.Sang pemilik mobil keluar bersama supirnya tersebut menghampiri Nara, Nara menurunkan kedua tangannya. ia mendongak menatap wajah orang yang berdiri di hadapannya tersebut."Hhhh, kau lagi!" ucapnya tak suka.Nara tetap diam di posisinya tanpa menge
Read more
Part 3
Selamat membaca ============"Surprise!" ucap seorang pria menyodorkan se-buket bunga lili segar ke hadapan wanita paruh baya.Wanita itu tersenyum kemudian menerima buket bunga lili tersebut."Terima kasih bunganya putraku." ucapnya senang.Ternyata yang memberikan bunga itu adalah putranya."Hei, kenapa wajahmu di tekuk cemberut seperti itu sayang?" tanya wanita itu kepada putra kesayangannya."Tidak apa-apa mama." "Tidak apa-apa, tapi kok mukanya manyun gitu." sang ibu meraih dagu anaknya, sang anak menatapnya."Coba ceritakan sama mama." tuntutnya pada sang putra karena rasa penasaran.Lelaki itu terlihat menarik nafasnya dalam, sebenarnya ia enggan untuk bercerita kepada sang mama. namun wanita paruh baya itu tetap memaksanya untuk bercerita."Mama, apakah salah jika aku merasa kasihan pada seseorang?" Sang ibu tampak berpikir. "tentu tidak sayang, itu tandanya kamu masih memiliki hati yang bersih. hmmm, sekara
Read more
Part 4
Nara membuka pesan grup via WhatsApp sekolah SMA-nya dulu, teman-temannya mengajak untuk pergi berkumpul reunian.Nara sebenarnya malas datang, tapi ke tiga teman akrabnya memaksa, mau tak mau akhirnya ia menyetujui ajakan itu. Kini ia beserta ke-3 temannya telah sampai di tempat acara, Nara menghentikan langkahnya saat matanya melihat kehadiran seorang wanita yang dulu sangat suka menghinanya.Rizka teman sekolahnya dulu yang suka mengejeknya, dan sekarang wanita itu juga ada disini. Mira, Via dan Nazwa menghalangi langkah Nara yang ingin berbalik pergi."Lepas!" pinta Nara dengan suara tercekat."Kenapa Ra? kenapa lo harus takut? hadapi dia, jangan jadi pengecut gini dong." ucap Via."Kalian kenapa gak bilang kalau dia juga ikut kesini?" tanya Nara."Karena kami sengaja gak bilang, kalau kami bilang pasti kamu gak mau datang kan Ra?" "Tega ya kalian! kalian tahu kan dia itu seperti apa ke aku?" ucap Nara terisak.Mereka beremp
Read more
Part 5
Happy reading ============="Kenapa senyum-senyum sendiri begitu Adam?" tanya Karina melihat putranya yang tersenyum sendiri."Tidak ada bu, hanya teringat Nara." "Nara?" Adam mengangguk."Lalu kenapa kau tertawa saat mengingatnya?" tanya Karina lagi."Dia sangat lucu!" ucap Adam tanpa menoleh ke arah Karina."Apa kau kira Nara itu seorang badut!" sinis Karina menatap tajam putranya.Adam yang mendengar nada sinis dari ucapan ibunya pun menoleh ke arah Karina."Oh ayolah ibu, aku tidak sedang mengejek Nara seperti orang lain yang selalu mengolok-ngoloknya." tegas Adam membantah ucapan sang ibu yang seakan menuduhnya."Apa kau menyukai Nara?" tanya Karina to the point."A--apa maksud ibu?" tanya Adam tergagap."Adam, aku ini ibumu, wanita yang mengandung dan melahirkan mu, merawat serta membesarkan mu hingga sampai sekarang ini, tentu saja aku mengerti bagaimana putraku, apa yang di sukainya dan apa yang di bencinya.
Read more
Part 6
Happy reading! ❤️❤️❤️Nara menatap horor sosok pria yang menjulang di hadapannya, sosok itu tersenyum begitu manisnya. mengumbar kehangatan bak mentari bagi setiap yang melihatnya, namun sayangnya hal itu tak mempan untuk Nara."Ada apa kau kemari?!" tanya Nara galak."Tentu saja untuk membeli setangkai bunga. e--eeh tidak, tapi bertangkai-tangkai bunga sekalian akarnya." Arfaan mengedipkan sebelah matanya pada Nara.Nara sendiri terlihat jijik dan mual dengan bualan pria itu. Elma dan Tria terlihat khawatir pada Nara setelah Arfaan menginjakkan kakinya masuk ke dalam toko bunga."Cepatlah layani aku!" perintah Arfaan pada Nara.Tanpa banyak bicara Nara langsung melakukan apa yang di inginkan Arfaan, ia tak mau pria itu terlalu lama berada di sini yang semakin menimbulkan masalah untuknya.Arfaan melihat gelagat Elma dan Tria yang terlihat aneh begitu menatapnya, dengan iseng Arfaan pun mencoba untuk menggoda kedua wanita itu.
Read more
Part 7
Happy reading ========"Apa? undangan makan malam!" ucap Nara spontan kaget."Ya, orang tuaku ingin bertemu denganmu. terutama ibuku, dia sudah sangat tidak sabar ingin bertemu calon menantunya ini." Arfaan meneliti tubuh Nara dari atas ke bawah, dari bawah ke atas."Kenapa kau tak bilang jujur saja, kalau kita ini cuma berpura-pura Arfaan." "Kau bego ya? aku mengajak mu menjadi kekasih pura-pura ku agar orang tuaku berhenti menjodohkan ku dengan berbagai jenis macam wanita-wanita aneh." ucap Arfaan kesal."Aku rasa bukan wanita-wanita itu yang aneh, tapi kau manusia langkah yang sangat aneh." "Wow! aku langka? hmm, itu artinya pria tampan di dunia ini cuma aku dong. ckck, betapa senang dan bangganya aku di lahirkan." Nara melirik kesal pada Arfaan yang semakin stress."Aku tidak mau datang, menurutku ini tidak di perlukan dalam kerjasama kita." protes Nara."Eeh, siapa bilang?" "Aku lah, coba kau pikir saja sendiri
Read more
Part 8
Enjoy reading! ❤️❤️❤️❤️❤️Nara tampak gugup di hadapan kedua orang tuanya Arfaan, tampak sekali jika wanita itu gelisah duduk berhadapan dengan Santi dan Bimo. sedangkan Arfaan yang duduk di sampingnya malah cengenges-cengengesan."Pertunjukan di mulai, let's play!" ucap batin Arfaan senang dan tak sabar menunggu reaksi orang tuanya."Siapa nama kamu sayang?" tanya Santi lembut."Na--Nara tante." jawab Nara terbata-bata."Nama yang sangat cantik." puji Santi. "benarkan pa?" lanjut Santi bertanya pada suaminya."Iya ma, Nara umur berapa?" gantian Bimo yang bertanya."25 tahun om." "Wahh, umur yang sudah pas untuk menikah. bukankah begitu Arfaan?" ucap Bimo pada putranya."Eeh, gimana pa?" kaget Arfaan."Dih, anak kita ma, papa ngasih kode dia gak ngerti." kekeh Bimo.Sumpah! Arfaan merasa jengah dengan situasi ini."Nara pekerjaannya apa sayang?" tanya Santi lagi."Kerja di toko bunga milik bunda
Read more
Part 9
Selamat membaca Arfaan menyudahi ciumannya saat melihat Nara kehabisan nafas, di lihatnya wajah Nara yang memerah dengan nafas tersengal-sengal sama sepertinya.Belum lagi bibir Nara yang terbuka, membuat Arfaan tergoda ingin memakannya habis di dalam mulutnya."Aku tidak suka kau bercanda seperti itu Nara, menakutkan sekali." ucap Arfaan setelah melepaskan ciuman keduanya."Jika kau mengatakan hal seperti itu lagi, aku tidak akan mengampuninya. kau mengerti!" ancam Arfaan.Nara yang masih mengatur nafasnya pun menganggukkan kepalanya, wanita itu masih belum berpikir dengan jernih."Kita pulang, atau melanjutkan di mobil?" bisik Arfaan membuat Nara tersadar kemudian memukul lengannya kuat."Mesum!""Tapi kau menikmatinya sayang," goda Arfaan.Nara tak menjawabnya karena rasa malu yang menjalarinya. ia memalingkan wajahnya yang memerah karena ucapan Arfaan.Arfaan berhenti menggoda Nara, ia menghidupkan mes
Read more
DMCA.com Protection Status