Catalog
4 chapters
Prolog
Putih.Sejauh mata memandang, hanya putih yang terlihat. Kombinasi warna apik yang tercipta dari  pepohonan, rumah-rumah, juga jalanan telah hilang digantikan oleh dominasi putih. Sungai pun tak luput dari sasarannya. Kejernihan airnya tak lagi mengalir. Kini, sungai itu layaknya bongkahan es raksasa berwarna putih. Tak hanya itu. Warna udara juga terlihat putih. Hal ini terjadi karena butiran-butiran putih terus turun dari langit yang diselimuti awan tebal.Suram.Tebalnya awan mungkin menjadi jawaban mengapa suasana itu terasa di pagi ini. Ditambah matahari yang belum menampakkan dirinya, tentu memperparah keadaan tersebut. Padahal waktu telah menunjukkan pukul 8. Harusnya panas mentari sudah terasa. Namun, tebalnya awan menutupi semuanya, walau seberapa keras usaha sang sumber kehidupan untuk menembusnya. Mengintip pun tak berhasil. Mungkin pagi ini, ia harus absen menyinari apa yang ada di balik awan itu. Atau ia harus bersabar hingga para awan berbaik
Read more
Chapter 1
Rumah Harapan.Apa yang ada di benak kalian ketika mendengar kalimat tersebut? Rumah yang berisi sejuta harapan? Atau hanya sebuah nama untuk menarik ketertarikan orang-orang?Keduanya tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Rumah Harapan adalah tempat di mana para penghuninya merajut harapan akan kehidupannya. Dan sebagai sebuah panti asuhan, Rumah Harapan tentu ingin menarik simpati orang-orang untuk ikut memberi harapan di sana. Mereka yang ada di Rumah Harapan sama seperti manusia lain di luar. Mereka hanya menjadi korban takdir hingga harus berada di sana. Ah, tidak. Kata ‘korban’ terlalu kejam untuk digunakan. Justru mereka beruntung berada di sana. Mereka belajar untuk saling menyayangi layaknya saudara walau tak ada hubungan darah antara mereka. Mereka belajar untuk tak saling membenci karena sesungguhnya mereka adalah keluarga. Mereka belajar untuk saling berbagi karena tak ada ‘milik sendiri’. Semua menjadi milik bersama. Jika s
Read more
Chapter 2
“Segelas cokelat panas untuk si juara matematika.”Seorang lelaki muda meletakkan segelas cokelat dengan asap mengepul dari dalamnya. Siapa pun yang melihat akan tahu perkataan lelaki tersebut benar—tentang bagian panas. Dan Kyuhyun bodoh bila melupakan fakta itu. Ia tidak langsung mengambil gelas tersebut kemudian menyesap isinya. Ia memilih menunggu hingga kepulan asapnya mereda. “Terima kasih, Hyung,” ucapnya pada lelaki yang sengaja menghidangkan minuman favoritnya.“Kau ini seperti pada siapa saja, Kyu,” candanya. “Bukankah aku selalu menyiapkan cokelat panas tiap kali kau datang?”“Iya. Tapi, tetap saja aku harus berterima kasih, kan, Hyung?”“Baiklah.” Lelaki itu mulai mengacak rambut Kyuhyun—membuat surai panjangnya sedikit berantakan. “Jadi, apa yang ingin sang juara matematika makan sekarang?” tanyanya dengan nada menggoda.&l
Read more
Chapter 3
Lee Kyuhyun.Nama itu bukanlah nama orang yang Kibum cari. Kyuhyun yang dicarinya tidak memiliki suku kata Lee dalam namanya. Jika itu Cho, maka kemungkinan itu masih ada. Kyuhyun yang ia temui mungkin memang orang yang selama ini ia cari. Nyatanya, tidak ada kata Cho dalam namanya. Secara otomatis, kemungkinan itu pun hilang. Begitu pun dengan harapannya.Hal lain yang membuat Kibum harus benar-benar memupus harapannya adalah fakta Kyuhyun yang tinggal di panti asuhan. Kyuhyun dalam ingatannya bukanlah Kyuhyun yang hidup tanpa keluarga. Masih ada mereka yang merawat Kyuhyun. Tidak mungkin mereka tega menelantarkannya. Sudah menjadi kewajiban orang tua untuk merawat anak-anaknya. Dan kewajiban itu pula-lah yang dimiliki orang itu karena Kyuhyun adalah darah dagingnya. Ya, seberapa pun ia membenci orang itu, ia harus percaya bahwa orang itu akan merawat dan membesarkan Kyuhyun dengan baik.“Hyung, sedang melamun apa?”Suara ringan mili
Read more
DMCA.com Protection Status