Catalog
5 chapters
On Fire
Tubuhnya terbakar. Namun, bukan dengan api.Dalam ketidakberdayaannya, Vanessa Haven hanya bisa melemaskan diri agar rasa sakitnya berkurang. Ia tengah ditindih oleh pria berbadan besar dengan otot-otot padat yang menyembul di dadanya yang kekar. Tubuh bagian atas lelaki itu telanjang, dan ia masih mengenakan celana kain hitam yang dipakai saat acara pernikahan.Beberapa jam yang lalu Vanessa berpura-pura tidur untuk menghindari malam pertama yang tidak diinginkan. Hati gadis itu masih belum siap, ia terpaksa menikahi Damian, demi sang ayah tercinta, James Haven. Jika benar malam ini harus terjadi, ia pun berharap dapat diperlakukan secara lembut dan mesra seperti pasangan yang saling mencinta.Wanita bertubuh ramping itu jadi benar-benar terlelap setelah lama menutup mata dalam sandiwara. Dan begitu ia terbangun, tangannya sudah menyatu dengan jeruji kayu pada sandaran tempat tidur. Ikat pinggang bertepian keras menjadi pengganti tali.Vanessa terkejut. Mata
Read more
Pain Brings Pleasure
“Apa kau siap untuk ke tahap selanjutnya?”Tatapan mata amber Vanessa bergoyang mendengar bisikan itu. Hatinya terus bertanya-tanya. Hal apa yang ada di tahap selanjutnya? Apakah kenikmatan? Ataukah kesakitan?Ia bahkan tak berdaya dengan tangan terikat. Pria itu dapat bebas melucuti semua yang Vanessa kenakan jika ia mau.Sejak awal masuk ke kamar ini. Vanessa hanya diantarkan oleh salah satu pelayan Damian, Albert, setidaknya nama itu yang Vanessa ingat, pria paruh baya berambut putih yang memiliki senyum lembut. Cukup membantu menghangatkan suasana mencekam yang dengan alamiah tercipta di sini.Begitu pria itu pamit, dengan sengaja Vanessa bergegas menanggalkan pakaian pengantin. Ia menggantinya dengan piyama.Masih jelas dirasakan Vanessa, bulu roma yang berdiri saat matanya memandang ke sekeliling. Kamar tempatnya terjebak bahkan tak memiliki penerangan yang cukup. Temaram. Sekelilingnya didominasi dengan warna merah dan hitam. Ranjang tempat ia be
Read more
Time to be Your Husband
Vanessa mengerjap saat Damian menjauhkan lagi tangannya. Tanpa sentuhan hangat rasanya kembali meninggalkan perih. Mata Vanessa berair. Ia perlahan mulai merasakan sakit juga di tungkai dan area kewanitaannya.Air mata kembali keluar di mata amber yang indah itu. Vanessa menunduk. Bahunya semakin gemetar.Ditatap Damian wajah Vanessa dengan lekat. Lalu menaikkan sebelah tangannya menyentuh pipi lembut itu.Vanessa terjingkat dan menjauh. Refleks.Damian tak memaksa kali ini, ia malah tetap bersikap tenang. Dengan perlahan, diturunkannya kaki dari ranjang. Lelaki itu berdiri dengan tubuh telanjang. Vanessa menatap tubuh itu menjulang tinggi, dia begitu besar dan padat. Pantaslah Vanessa merasa remuk.Damian berjalan ke arah lemari hitam yang ada di sana. Ia mengeluarkan piyama dan memakainya. Keagungannya sebagai lelaki terasa begitu kental.Pemandangan berakhir. Dengan cepat ia kembali. Menatap Vanessa yang masih tertunduk sambil melindungi dada d
Read more
The Surprise Morning
Vanessa mengerjap dan terbangun. Terang yang masuk dari celah gorden jendela, cukup membuat alam bawah sadarnya bereaksi, memberi tahu bahwa pagi sudah datang.Dirasa Vanessa tubuhnya keram dan sakit. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Tangan yang memeluknya semalaman sudah tak ada lagi. Ia terbangun sendiri. Tak disangka rasa lelah dan berendam sesaat malah membawanya pada tidur yang sangat nyenyak.Diarahkan Vanessa mata ambernya menatap ke sekeliling kamar. Ia bangun, menarik selimut hingga ke dada, lalu berubah ke posisi duduk.“Sudah bangun?”Suara barriton berat itu mengagetkannya. Damian keluar dari pintu samping di kamar itu. Nampak segar dengan dibalut jas merah maron gelap yang berpadu dengan dasi abu-abu. Pria ini punya selera bagus dalam berpakaian. Bahkan Vanessa cukup terpesona memandangnya.Damian mendekat. Ia duduk di samping Vanessa. Tangan itu memegang lututnya. “Maaf, harus meninggalkanmu. Aku punya urusan sebenta
Read more
Love for Revenge
Vanessa menyantap sarapannya. Ia menghabiskan bubur tiram dan roti iris dengan butter yang terasa begitu menggoda selera. Selain itu, ia juga menyantap telur dan bacoon, semua makanan lezat itu pun ditutup dengan tegukan jus jeruk yang menyegarkan.Ia mungkin tak pernah makan sebanyak ini. Apa yang terjadi semalam, juga pergulatan batin, membuat ia menghabiskan banyak energi. Ia butuh kalori. Perutnya meminta lebih. Dan itulah yang terjadi.Setelah merendam kaki di air garam hangat yang mengandung essential oil. Vanessa pun pergi mandi sendiri.Sudah cukup ia menurut dan menerima pelayanan terkait perawatan kaki itu. Pelayan yang membantunya, bahkan menambahkan embel-embel akan dipecat jika tak melayani dengan baik. Ia meyakinkan Vanessa bahwa ini sudah tugasnya. Dan harus ia lakukan.Sebenarnya, merendam kaki bukan masalah, tapi Vanessa merasa tak enak saja jika area yang dipakai menginjak lantai, turut disentuh dan dipijat oleh orang lain, yang derajatn
Read more
DMCA.com Protection Status