Catalog
68 Chapters
Bab.1.Kelulusan.
Kepala sekolah mengumumkan  kelulusan siswa   Sma negeri  10 kota kecil di jawa tengah. Tepatnya di daerah pemalang. Para siswa   berderet menunggu pengumuman itu. Anak-anak Deg-deg an menunggu pengumuman. Tatkala kepala sekolah mengumumkan hasil kelulusan, mereka lulus seratus persen. Anak- anak bersorak sorai menyambut pengumuman dari kepala sekolah. Di lanjut Kepala sekolah mengumumkan juara satu sampai sepuluh. Amelia masuk dalam sepuluh besar.  Mendengar itu ia mengucap alhamdulilah,Selesai pengumuman murid menbubarkan diri, ada yang masuk  kelas masing- masing. Murid terutama yang laki- laki membawa  pilox untuk mencorat- coret pakaianya.  Tapi Amelia tak ikut corat- coret sebagai euforia kelulusan. Ia lebih suka masuk kelas. Amelia duduk di bangkunya. Shinta yang di sampingnya heran, sahabatnya heran dengan tingkah laku Amelia.  "Amel, kenapa malah duduk di sini? Nggak ikut corat- coret?"  "Ak
Read more
Bab. 2. Ingin kuliah.
    "Assalamulaikum " Ines baru pulang sekolah.  "Walaikum salam..." Jawab  Mama Ning.  Amelia yang mendengar dari dalam kamar   menjawabnya di dalam hati. Amelia kembali browsing dan mendapatkan dua Universitas yang mengadakan beasiswa. Satu kampus negeri dan satunya swasta. Ines melangkah menuju kamar kakaknya.  "Kak..." Suara Ines dari luar, tanganya mengetok pintu kamar Amelia.  "Ya." Balas Amelia dari dalam. Ia membuka pintu masuk ke kamar Amelia dan langsung duduk di pinggir Bednya.  "Ada apa Ines? Tanya Amelia menatap lekat adik kesayanganya.  "Kakak bajunya tidak di corat- coretkan?!"  "Nggak de, tenang saja."  "Syukurlah." Ines bernafas lega. Mereka duduk saling berhadapan. "Kakak hari ini pengumuman kelulusan kan?  "Iya, emang kenapa?"  "Kakak rangking berapa?"  "Yah, kakak hanya rangking lima dar
Read more
Bab 3. Ujian
     Trisno pulang ke rumah dengan perasaan lega. Ia membawa uang satu juta untuk uang saku anaknya. Sampai di rumah.  Ia langsung masuk ke rumah mencari Amelia. Ayahnya menemui dengan tergesa.  "Ada apa Yah? Sepertinya Ayah tergesa- gesa?"  "Syukurlah, kamu belum berangkat." Trisno mengeluarkan uang satu juta dari sakunya. Amelia tertegun. Padahal dirinya sudah mendapatkan uang saku dari Ibunya.    "Ini uang saku buat kamu, moga kamu di terima ya!" Trisno  mengusap kepala anaknya.  "Tapi, aku dah di kasih sama Ibu."  "Udah, buat jaga- jaga" Ucap Ayah.    "Udah siapkan?"  "Udah"  Kemudian Amelia berpamitan pada Ibunya dan Ines. Mereka menuju Terminal. Sampai di terminal Amelia turun dari motor. Ia pun berpamitan dan mencium punggung tangan  Ayahnya.   Trisno memandangi punggung putri sulungnya  berlalu dari
Read more
Bab 4. Di terima.
   Ujian selesai para peserta menghambur keluar, tak terkecuali Mita dan Amelia. Para peserta menunggu dengan was- was, karena hasil ujian akan di laksanakan hari ini.    Amelia dan Mita duduk di depan kelas juga para peserta lainya. Amelia matanya tak lepas dari dzikir digital yang ia lafalkan di dalam hati,  Sedang Mita chatan dengan pacarnya. "Kau chat an ama siapa Mit? Kayaknya seneng banget?" "Ama pacarlah, emang kamu jomblo!" "Jangan keras- keras dong, nanti ada yang denger, aku kan malu !" Ucap Amelia menutup mulut sahabatnya yang terlanjur ember. "Iya maaf, hehehe..." "Kamu nggak dzikir sih, kita udah berusaha harusnya berdoa dong." "Aku sebenarnya hanya cari pengalaman aja, kalau keterima ya Alhamdulilah kalau nggak juga nggak apa- apa." Ucap Mita Enteng. Amelia memukul lengan sahabatnya. "Terserah kau saja lah, kau kan anak orang kaya..." Read more
Bab.5. Mulai kuliah.
     Ningsih  sangat senang anaknya bisa lolos, itu artinya anaknya akan mendapatkan masa depan cerah. Amelia juga sangat bersyukur ini adalah Anugerah yang indah. Saking senangnya orang tua Amelia   mengadakan syukuran kecil- kecilan. Sebenarnya Amelia tak ingin mengadakan itu, tapi mereka  bersihkeras untuk melakukanya.     Tak lama kemudian Amelia  packing baju, setelah siap Amelia berpamitan pada orang tuanya. Amelia harus kembali ke kosan, Setelah perjalanan hampir memakan waktu empat jam, akhirnya Amelia sampai di Kosan. Ia menaruh baju di lemari juga perlengkapan dirinya yang lain.  Amelia kemudian merebahkan di bed. Tapi mengingat dirinya belum sholat isya, ia pun beranjak dan wudhu dan menunaikan Sholat Isya. Kantuk menghinggapi mata Amelia, ia kemudian memeluk guling dan tak lama kemudian menjemput mimpi.   Adzan subuh mengudara, Amelia terbangun. Ia membuka matanya, walau kantuk ma
Read more
Bab.6. Ryan Penasaran.
   Ryan mengamati gadis di depanya, kenapa begitu mirip dengan mendiang adiknya. Adiknya Ryan meninggal karena sakit komplikasi. Ryan menghela nafas pelan. Apakah di depannya kembaran adiknya? "Pak, ada apa aku di panggil kemari?" Tanya Amelia penasaran. Ryan tak bergeming, tapi ia masih menatap wajah Amelia. Tapi Akhirnya ia buka suara. "Asalmu dari mana?" "Saya dari kota P, jawa tengah pak..." Ucap Amelia sopan. "Siapa nama orang tuamu?" "Ayah saya bernama Papa  Heri dan ibu saya Mama Ning." "Huuuh... nama orang tuamu kampungan sekali !" "Saya emang dari kampung pak..." ucap Amelia spontan. "Ya... maaf..." Akhirnya Ryan meminta maaf, sudah menghina Amelia. " Kamu  tak penasaran dipanggil kemari?" "Iya pak, saya penasaran." Amelia menganguk. Ia ingin tau dirinya di panggil. "Wajahmu
Read more
Bab.7. Mulai sebel.
    Pagi ini Amelia bersiap ke kampus, buku pelajaran di masukan tas cangklong warna coklatnya. Amelia mematut dirinya di cermin mengenakan hijab warna biru. Di padu padan   jaket jeans juga warna  biru serta celana hitam.Merasa sudah siap, ia keluar kamar. Melangkah menuju kampus yang tak jauh dari kosnya. Amelia jalan sendirian sambil memegang buku diklat di tanganya. Ketika sudah sampai di kampus, masih sepi hanya ada beberapa siswa yang masuk. Amelia duduk di depan ruang perpustakaan ruang sebelum masuk ke ruangan kelasnya. Ia sembari menunggu Maryam sempatkan membaca buku diklat yang di pegang. Baru beberapa lembar yang di baca ada dosen Ryan menghampirinha. "Menunggu siapa Amelia?" Kata Amelia sengaja di tekankan. Sepertinya ia tak suka dirinya duduk di bangku panjang. Ia kemudian beranjak. "Pak, saya ke kelas dulu..." Amelia berlalu dari hadapan Dosen Ryan dan tak ingin mendapat jawaban. Amelia mul
Read more
Bab.8. Menanyakan.
     Maryam menyesap yang telah di sediakan oleh Amelia. Ia merangkai kata dalam pikiranya supaya Amelia tak tersinggung. "Amel, ada yang ingin aku tanyakan sama kamu..." Kata Maryam serius. "Ada apa Maryam? Ngomong aja " Amelia menatap lurus temanya. Maryam menunduk sejenak. Lalu ia beranikan menatap Amelia. "Eeehhmm, apa kamu menyukai Pak Dosen Ryan?" Amelia diam sebentar. "Kenapa kau menanyakan itu? Apa kamu menyukai pak Ryan?" Amelia tanya balik. Maryam menunduk malu. "Iya, tapi aku akan berusaha menghilangkan rasa ini dari hatiku seandainya kamu menyukai Pak Ryan." Kata Maryam. Amelia serba salah sendiri. Tak ingin membohongi hati dirinya, senang saat  dosen Ryan  memperhatikan dirinya  Tapi di sisi lain, ia juga belum tau perasaan dosen  Ryan kepadanya.Amelia menghela nafas pelan, ia buang secara perlahan. Ia malas membahas cowok
Read more
Bab. 9. Clarisa di skors.
        Clarisa rebahan di kamarnya, ia ingin menghubungi sahabatnya. Tapi di tahan, karena ini masih ada jam kuliah. Clarisa down kalau Rani sampai menjauhinya. Walau Clarisa ada temen lain, Tapi sama Rani ia merasa nyaman, karena sama- sama dari keluarga kaya.   Tok..tok... "Masuk Bi..." Kata Clarisa.  Bibi masuk membawakan susu coklat dan roti bakar selai kacang.  "Makasih Bi.."  "Sama- sama Non, susunya di minum."  "Iya Bi..."  Clarisa lalu bangkit dan menyesap susu coklat. Juga makan roti bakarnya. Setelah minum susu, ia merasa lebih baik perasaanya. Pandangan matanya tertuju pada buku di depanya. Ia mulai belajar.  'Mungkin aku dalam waktu sebulan harus belajar' batin Clarisa. Karena mulai besok Amelia harus menjalani hukumanya di skors. Mungkin akan di isi dengan belajar.  Mamanya yang baru pulang dari arisan menghampiri kamar Clarisa. Pi
Read more
Bab 10. Perasaan Ryan.
 Sebulan kemudian.      Clarisa telah menjalani hukuman skors sebulan dengan baik. Ia kini telah kembali ke kampus. Tapi teman- temanya menyadari Clarisa telah  banyak berubah. Ia tak lagi ketus walau masih banyak diamnya. Perubahan itu banyak temanya yang suka. Ia juga tidak menganggu Amelia lagi. *****Amelia menjalani hari di kampus dengan tenang, Dosen Ryan masih terus mendekatinya.  Amelia juga  senang dengan perhatian Ryan. "Amelia, nanti sepulang kuliah bisa pulang bareng?" Tanya Ryan menatap wajah cantik milik Amelia. Amelia tampak berpikir sejenak. Tapi akhirnya mengiyakan ajakan dosen Ryan. Tepat sepulang kuliah mereka ke taman dekat dengan kampus. Ryan memarkirkan mobilnya. Angin semilir menghembus kulit lembut Amelia. Rasa tenang menjalar di hati mereka berdua. Amelia duduk di bangku panjang, di susul Ryan. Amelia sesekali mencuri pandang menatap w
Read more
DMCA.com Protection Status