Catalog
15 chapters
Permintaan Terakhir
Kila duduk bersandar, dengan sebelah tangan mengusap pipinya yang masih terasa perih oleh tamparan yang dilakukan oleh Ibu Mertuanya. Sesekali, dia melirik ke arah keluarga Gilang, suaminya … Yang masih menunggu dengan harap-harap cemas. Wajah Kila tertunduk, menatapi bekas kotoran yang lengket di kebaya putih miliknya … Hari pernikahan, yang ia harapkan bahagia. Justru menjadi petaka untuk mereka berdua.“Kenapa kau masih di sini? Pergi!”“Aku, hanya ingin menunggu suamiku, Ma,” jawab Kila singkat, menanggapi bentakan dari perempuan yang menjadi ibu mertuanya itu.Kila beranjak berdiri, saat Husna berjalan lalu menampar kembali wajahnya, “suami? Mau kau hancurkan seperti apa lagi Putraku?!”“Kau membuat dia menentangku! Apa kau masih belum puas hanya mengincar hartanya saja! Kau bahkan sama sekali tidak bersedih, saat keadaan Putraku seperti ini!” Bentakan beruntun dari Husna, semakin menjadi-jadi, saat dia juga me
Read more
Membawaku
Kila duduk menatap kosong ke depan, saat suara doa yang dilantunkan pria paruh baya di depannya, mengalir ke dalam telinga. Dia masih tak percaya dengan apa yang terjadi … Semuanya terjadi begitu cepat, dan sekarang dia harus menjadi istri siri dari kakak iparnya sendiri. Kila melirik ke arah Rama, yang tengah berbincang setelah doa berakhir … Dia menyalami pria paruh baya tersebut, sebelum memerintahkan Kila untuk berjalan mengikutinya.Sepanjang perjalanan, tak ada sepatah kata pun yang mereka keluarkan, “aku sudah melakukan apa yang engkau perintahkan. Bisakah, aku dilepaskan sekarang?” tanya Kila dengan tetap menatap lurus ke depan.“Lepas? Kau ingin pergi ke mana? Aku, tidak ingin menanggung hidup seseorang secara percuma,” ucap Rama, sambil melirik ke arah Kila sebelum membuang kembali pandangan ke depan.“Aku, tidak memintamu untuk menanggung hidupku. Kau, yang memaksaku untuk menikah … Bahkan aku, sama sekali tidak berganti
Read more
Kesepakatan Bersama
Rama masih terdiam dengan melirik punggung Kila yang berjalan menjauh, dia meraih bantal yang sebelumnya Kila berikan lalu melemparkan bantal tersebut ke lantai, ‘apa yang dilihat Gilang, ke perempuan tanpa sopan santun sepertinya?' batin Rama seraya beranjak berdiri.Dia terus berjalan, lalu berhenti kembali saat pandangannya itu terjatuh kepada Kila yang berdiri mematung di depan jendela, ‘masalah apa lagi yang ingin dia lakukan?’ Rama kembali membatin, sebelum jalan berbelok ke samping.“Bahkan, tanpa perlu keluar rumah, di sini bisa dengan leluasa melihat langit,” gumam Kila sambil menempelkan telapak tangannya di jendela.“Jika aku membeli rumah dengan lantai bertingkat, mungkin aku akan mendapatkan hal yang sama … Aku harus mengumpulkan uang agar bisa lari dari sini,” sambung Kila bergumam pelan, sebelum dia berbalik meninggalkan jendela.Kila memperlamban kakinya, saat Rama masih berjalan menuruni tangga di h
Read more
Bisikan atau Hasutan
“Walau memerlukan banyak waktu, kita akhirnya telah menikah secara sah,” ucap Kila, dia menutup buku nikah di tangannya sambil melirik ke arah Rama yang ada di sampingnya.“Apa Istrimu benar-benar menyetujui pernikahan kita? Atau kakak, memalsukan pernyataan itu?” Kila bergumam, dia membuang pandangan ke samping sebelum menyimpan buku nikah tersebut ke dalam tas.Kila menghela napas dengan melirik ke arah Rama yang masih menutup mulutnya, “bahkan suaraku pun, seperti tidak ada di dunia ini-”“Apa lagi yang kau inginkan?” tukas Rama sembari melempar pandangan matanya kepada Kila.“Aku hanya berpikir,” sahut Kila sambil meletakan telapak tangannya di paha Rama, “setelah, Istri pertama pulang dari liburan … Bagaimana kakak ingin membagi waktu di antara kami? Mungkinkah, seminggu dengannya lalu seminggu denganku … Atau sehari dengannya lalu besoknya denganku,” Kila tersenyum kecil saat mobil tiba-tiba berhenti ketika ta
Read more
Sebelum Atasan Bawahan pun Jadi
Kedatangan Kila di dapur, membuat kegiatan yang dilakukan beberapa koki di sana terhenti. Kila acuh saja, dengan tetap melangkahkan kakinya mendekati kulkas yang ada di sana, “biar aku saja yang memasak untuk Tuan Rama hari ini,” tukas Kila dengan melirik ke arah mereka yang masih terdiam.“Aku, sudah sedikit lama berada di sini, tapi baru kali ini aku berani untuk menyapa kalian. Aku Kila, aku harap kalian juga menerimaku di sini. Kak Rama memintaku untuk memasak makanan untuknya, apa kalian tahu masakan kesukaannya?” tanya Kila sambil berbohong kepada mereka.“Kalian, tidak ingin menjawab pertanyaanku?” sambung Kila dengan membuang lirikan matanya ke samping.Kila menghela napas sembari meremaas erat kedua tangannya sendiri, “aku tahu, kalau aku sudah seperti orang ketiga di rumah ini. Jika kalian, memandangku seperti itu pun, aku tidak akan membantah karena kenyataannya memang seperti itu-”“Tapi ini juga berat u
Read more
Tidur di Kamar yang Sama
“Apa Kakak, tidak menyukai makanan yang aku masak?” tanya Kila sambil meletakan kembali sendok yang ia pegang.“Hanya katakan, apa yang sebenarnya kau inginkan?”Kila menghela napas dengan menjatuhkan pandangan pada tumpukan nasi di depannya, “aku memikirkan baik-baik hal ini sejak siang tadi. Sebenarnya, apa yang Gilang inginkan dengan meminta kakak menikahiku?”“Citra, mungkin perempuan yang baik, buktinya mereka berhubungan dengan waktu yang cukup lama. Kenapa dia justru melemparku ke rumah tangga kakaknya sendiri yang harmonis?” sambung Kila membual, dengan mengangkat telapak tangan kanannya menutupi mata, “aku tidak mengerti, maksud dari Gilang. Namun, jika memang ini yang ia inginkan … Aku, akan berusaha menjadi Istri yang baik untuk kakaknya, melaksanakan kewajibanku sebagai Istri dari kakaknya.”“Kita sama-sama terpaksa melangsungkan pernikahan ini, tapi itu bukan berarti aku harus menarik diri dari tanggung
Read more
Melaksanakan Kewajiban
Rama kembali membuka matanya, dia sedikit beranjak dengan melirik ke arah Kila yang terlelap dengan memeluk dirinya, “kenapa aku justru memilih untuk tidur di sini?” bisik Rama, diikuti tangannya yang hendak mengangkat tangan Kila di atas perutnya.Dia memijat kepalanya, saat tubuh bagian bawahnya tiba-tiba bereaksi … Setelah sebelumnya, pandangan matanya itu tak lepas menatap wajah Kila yang menempel di tubuhnya. Rama menghela napas, tiga bulan sudah dia menikahi Citra, tapi selama pernikahan mereka pun … Mereka jarang sekali untuk bertemu, Citra lebih memilih untuk mendapatkan pengakuan dari teman-temannya-Rama sendiri, tidak mempermasalahkannya. Toh, selama mereka menikah … Tidak ada perubahan yang berarti di hidup Rama, sebelum menikah atau setelah menikah, semuanya sama saja untuknya. Namun, ‘padahal masakannya, tidak lebih lezat dari apa yang koki masak. Tapi kenapa? Aku justru menghabiskan semuanya,’ batin Rama, tanpa sadar jari telunjuknya
Read more
Amarah Istri Pertama
“Kenapa justru menungguku di dalam mobil? Padahal aku ingin dijemput sampai ke dalam,” tukas Citra saat dia telah duduk di samping Rama.Rama melirik ke arah Citra yang menyandarkan kepalanya di pundak Rama, “Sayang, kau masih ingat dengan janjimu yang akan mengajakku liburan, kan?” tukas Citra kepada Rama yang masih mengatup bibirnya.“Apa kau masih belum puas berlibur dengan teman-temanmu? Bahkan kau langsung berangkat menemui mereka, sehari setelah pemakaman adikku.”Citra yang merasa tersindir, menarik rangkulannya kembali, “kami telah berjanji jauh-jauh hari, aku tidak bisa membatalkannya begitu saja-”“Benarkah? Ingatlah alasan kenapa aku menikahimu! Dan ingatlah, saat kau memohon untuk menikah denganku! Jika bukan karena Mama yang memintaku, aku tidak akan menikahi perempuan yang hanya tahu caranya menghabiskan uang sepertimu,” ucap Rama, dia mengetuk pahanya sendiri sebelum membuang kembali pandangannya ke s
Read more
Malaikat atau (?)
“Kak, kakak bangun!”Rama dengan perlahan membuka matanya, matanya beberapa kali berkedip sekedar untuk menghilangkan bayangan Kila yang mengabur di depannya, “apa ini sudah pagi?” tanya Rama sambil mengusap matanya.“Seperti yang kakak pinta semalam, ayo bangun! Aku akan menyiapkan sarapan, apa ada yang ingin kakak makan?” Kila balas bertanya, dia pun beranjak saat Rama juga telah beranjak.“Aku akan memakan apa pun yang kau persiapkan,” saut Rama, dia berdiri di samping ranjang, mengenakan sandal lalu berjalan ke luar kamar.Rama terus berjalan, dengan sesekali memukul-mukul pelan lehernya sendiri. Tangan Rama mengepal kuat, saat dia sudah berjalan semakin dekat ke kamar yang ditempatinya dan juga Citra. Rama berhenti di depan kamar, dia berusaha untuk membuka pintu kamar. Namun, pintu yang dikunci dari dalam itu tak kunjung terbuka walau Rama menggerakan beberapa kali gagang pintu tersebut dengan kuat.
Read more
Keputusan
‘Apa yang akan dia pikirkan, jika saja dia tahu … Rencananya untuk menarik perhatian suaminya sendiri justru gagal. Lihatlah! Wajah suami kita yang lelap tertidur di rangkulanku ini,’ batin Kila, sambil mengusap rambut Rama yang berbaring di sampingnya.“Apa aku membangunkanmu, kak?” tanya Kila yang menghentikan gerakan tangannya saat Rama membuka mata.“Jam berapa sekarang?”Kila melirik ke arah jam yang ada di arah belakang Rama, “hampir jam delapan malam. Aku, akan menyiapkan makan malam,” ucap Kila, sambil mengangkat tangan Rama yang merangkul pinggangnya.Kila beranjak turun dari ranjang tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya, “apa kak Rama tahu, makanan kesukaannya kak Citra?” tanya Kila, dengan melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi.Rama masih belum menjawab pertanyaan Kila, dia hanya beranjak duduk lalu bersandar di kepala ranjang. Matanya melirik ke arah ponsel Kila yang terselip di
Read more
DMCA.com Protection Status