Catalog
23 chapters
PROLOG
Kraak!Sepasang pintu ganda lemari kayu setinggi dua meter dibuka dengan penuh tekanan. Dia singkap deretan baju dan gaun yang tergantung di sana hingga menampakkan pintu lain yang tersembunyi di balik lemari. Kedua telapaknya meraba-raba sambungan panel penutupnya hingga menemukan satu titik yang terasa berbeda, menekannya, lalu, “Klik!”Panel di dinding itu terbuka secara otomatis. Lampu berpendar dengan cahaya putih yang menerangi ruangan berukuran dua kali dua meter tersebut. Dia melintasi deretan gaun yang tersingkap dan masuk ke balik panel dinding yang terbuka. Deretan senjata api dari berbagai merek dan seri tertata rapi pada rak khusus di dinding lengkap dengan peralatan penunjangnya.Perempuan itu menarik sebuah tas ransel hitam dan mulai mengisinya dengan DVL-10M3. Senapan penembak runduk terbaru buatan Rusia itu segera membuatnya jatuh cinta. Bobotnya ringan dengan jarak tembak sampai satu kilometer. Dia menimang-nimang amunisi d
Read more
1
“Hidangan utama terasa lebih nikmat jika kau berhasil mengambilnya dari piring saji orang lain, ada kekhawatiran, ketakutan, sekaligus tantangan dalam upaya memperolehnya. Namun, hasil yang kau dapat akan sebanding dengan itu semua!” suara serupa robot tanpa wajah itu menggema, disusul derai tawa dari sumber yang sama. Ruang pertemuan dengan meja melingkar berisi lebih dari selusin orang itu kedap dan gelap. Satu-satunya sumber pencahayaan berasal dari layar berpendar komputer meja yang mentransmisikan suara sang pimpinan kepada para peserta pertemuan. Cahaya putih kebiruannya segera lenyap seiring hilangnya suara robot tadi. Tak! Lampu seketika menyala, menerangi wajah-wajah cantik dan tampan dalam setelan kasual yang modis. Mereka duduk bersisian di balik meja yang melingkar dan saling pandang dalam diam, sesaat setelah suara robot menghilang. Sebuah misi baru saja mereka terima dan harus segera dilaksanakan, tanpa pertanyaan maupun sanggahan. Pint
Read more
2
Taxi mewah itu melaju di jalanan yang basah. Hujan bulan Juni membuat semuanya menjadi lembap. Di bangku belakang, Yana terus-menerus menggertakkan geligi. Matanya tak beralih dari lapisan kaca taxi yang berembun karena gerimis. Sejak meninggalkan rumah, tak sepatah kata pun terucap dari bibir Yana, pun sang sopir taxi. Seakan mereka tahu arah mana yang harus ditempuh dan tempat apa yang akan dituju. Berulang kali Yana membetulkan letak belahan gaun merahnya yang tak mampu menutupi kaki jenjang itu. Kulitnya yang terbuka terus-menerus meremang, entah oleh ketakutan atau pendingin ruangan. Taxi memelesat jauh meninggalkan jalan utama. Yana terlihat mulai gelisah. Dia tak menduga jika kendaraan yang menjemputnya itu akan menjauhi kota alih-alih memasukinya. Satu tangan kirinya tiada lepas dari tas tangan yang terasa panas di telapak, meski nyatanya tak demikian. Di balik tas tangan kulit itu terdapat ponsel yang menyimpan video telanjangnya dari nomer tak dikenal.
Read more
3
Ini adalah hari ke tujuh dan jatuh pada hari minggu. Dari semalam Yana dibuat tak nyenyak tidur. Dia berusaha mati-matian menghindari Han, menghindari bertatap mata dengan suami yang begitu baik padanya. Entah saat makan malam bersama, menonton televisi, atau bahkan di ranjang mereka berdua. Selama seminggu ini Yana merasa seperti seorang pesakitan yang menjijikkan. Yana begitu ketakutan. Dia merasa sang suami akan mampu mengetahui rahasianya, bahkan hanya dengan memandang mata atau sekadar menyentuh kulit tangan Yana. Perempuan bertubuh sekal semampai itu begidik dibuatnya. “Ada yang ingin kau bicarakan denganku, Sayang?” selidik Han saat memperhatikan istrinya yang terus-menerus murung dan gelisah. Yana terbelalak. Dia tak mungkin membicarakan masalah yang menimpa dirinya dengan sang suami. Siapa yang tahu bagaimana reaksi Han nanti? Yana bahkan masih belum mengenal Han terlalu dalam. “Tapi, aku membutuhkan bantuan!” desah Yana dalam hati. “Aku bisa
Read more
4
Rambut ikal sepunggung perempuan itu berterbangan karena terpaan angin kencang. Sebagian anak rambut terselip di antara bibir semerah darahnya yang bergetar. Dengan ponsel masih tergenggam di tangan, dia berputar-putar melihat awas ke sekitaran. Beberapa puncak gedung yang lebih tinggi dari tempatnya berpijak menjadi sasaran kecurigaan. Napas perempuan itu pendek-pendek dan cepat dengan wajah memucat. Gaun merah yang dikenakannya tampak koyak. Kaki telanjangnya menginjak lantai beton kasar yang mulai menghangat di atap gedung berlantai 29. “A-aku sudah sampai!” Dia gigit bibirnya hingga pecah, “Akan aku beri semua informasi yang kau butuhkan! To-long batalkan pengiriman lukisan itu ....” Dua orang pria yang mengenakan seragam merah dengan logo sebuah perusahaan pengiriman turun dari mobil box dan mengeluarkan sebuah lukisan yang terbungkus kertas cokelat. Setelah menyerahkan paket lukisan itu ke penanggung jawab pameran, salah satu kurir menyelinap ke toilet
Read more
5
Perempuan berambut ikal kecokelatan dengan hidung bangir itu berjalan mengendap-endap memasuki rumahnya sendiri. Dia lepas dan menjinjing sepatu hak tingginya di satu tangan. Tangan yang lain meraba-raba dalam kegelapan untuk mencari brankas di ruang kerja suaminya. “Kau baru pulang?” Han berdiri di ambang pintu dengan mata kantuknya. Ruangan itu menjadi terang, menampakkan Yana yang terkesiap dan memucat. Tanpa sengaja dia jatuhkan sepatunya ke permukaan karpet Turki yang empuk dan tebal di depan meja kerja Han. “A-aku ... mencari pena ... ya, pena!” ujar perempuan itu sambil membalik badan menghadapi suaminya. Han memicingkan mata. Dia tak bisa percaya begitu saja. Sudut matanya menangkap brankas yang tutupnya berusaha dibuka oleh Yana.  
Read more
6
Sebuah televisi layar datar berukuran besar tengah menayangkan berita terkait kasus bunuh diri di sebuah hotel terkenal di kota  S. Kabar bunuh diri itu disangkutpautkan dengan kasus serupa di waktu yang hampir bersamaan, tetapi di lokasi yang berbeda. “Bagaskara, seniman muda jenius dan berbakat dekade ini ditemukan meninggal di rumah studionya pagi ini. Menurut hasil penyelidikan sementara, diduga kuat dia melakukan bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya di kamar mandi. Melalui surat wasiat yang ditinggalkan, diketahui Bagaskara patah hati karena perasaan cintanya terhadap perempuan berinisial YN ditolak. Di dalam surat yang sama, dia juga meminta maaf karena telah mengabadikan kecantikan YN dalam setiap karya-karyanya” ujar seorang reporter perempuan dari sebuah acara berita di televisi menggema di dalam ruangan gelap di sebuah mansion tua. “Polisi masih menyelidiki keterkaitan kasus bunuh diri Bagaskara dengan kasus bunuh diri yang dilakukan oleh YN di tem
Read more
7
Pemuda berkaus Bonek berjalan terpincang-pincang mendekati perempuan yang ditabraknya. Perempuan itu terlihat tak mengalami cedera serius, meski roda depan motornya terlihat sedikit bengkok “Kau baik-baik saja? Aku rasa begitu! Seharusnya kau perhatikan jalanmu!” bentak sang pemuda dengan kesal. “Kau wartawan? Tak perlu menjawab karena terlihat dari kartu persmu!” Pemuda itu menangkap gerakan para pengejarnya yang semakin mendekat. Wartawan perempuan yang dikerumuni para pejalan kaki itu sudah bisa bangkit, bahkan bersiap memaki dan mengamuk pada sang pemuda. “Aku benci wartawan!” bisik sang pemuda sambil menegakkan kembali motor sport-nya dengan tergesa. Sebelum kembali memacu motor, dia sempat mengambil sebuah kamera Canon EOS 5DS R milik si wartawan perempuan yang terlempar tanpa sepengetahuan siapapun. “Kau harus membayar atas kelalaianmu dalam berkendara, Nona!” bisiknya penuh kemenangan sambil melaju meninggalkan lokasi tabrakan saat sirine mob
Read more
8
Jun kembali mengendarai mobilnya sambil terus berusaha menghubungi sang klien yang akan ditemui hari ini. Saat membelokkan mobil ke tikungan, dia hampir ditabrak oleh mobil lain yang baru saja keluar dari salah satu gedung perkantoran yang lengang. Perempuan di dalam mobil itu adalah Kamiya Moriuchi, perempuan keturunan Jepang yang baru saja membuka cabang usahanya di kota S. Dia menawarkan bisnis baru pada perusahaan Baviaan untuk menjadi pemasok kalsium sebagai salah satu bahan baku pembuatan pupuk. Beberapa saat lalu, dia mendapat panggilan telepon yang tidak mungkin untuk diabaikannya.   “Bisnis! Segala yang kau lakukan tak pernah jauh dari itu bukan? Aku mulai yakin kelahiranku juga hanya sekadar aset bisnis bagimu!” hardik Ben dengan kasar. “Semua yang kulakukan dan kubangun selama ini demi masa depanmu!” Herman mendesis, “Kau yang akan mewarisinya!” Ben mengabaikan ucapan sang ayah dan beralih pada laptop di meja belajarnya. <
Read more
9
Herman terlalu dibutakan oleh cinta dan harta. Dia pikir bisa menikahi putri seorang pengusaha properti terbesar dari kota J agar mudah mendapatkan suntikan dana untuk memperluas usahanya. Akan tetapi, Herman malah menjadi korban penipuan. Perusahaan properti milik istri mudanya ternyata hanyalah sebuah perusahaan fiktif. Istri dan ibu mertua barunya terlalu cerdik bahkan licik. Herman bukan orang sembarangan. Meski dia sudah menyelidiki perusahaan calon istrinya dengan seksama, nyatanya pria itu masih saja tertipu. Perusahaan properti yang disebut-sebut oleh istri muda dan ibu mertuanya itu ternyata perusahaan yang sudah hampir bangkrut. Herman dibujuk untuk berinvestasi besar-besaran. Saat seluruh asetnya diserahkan, sang istri kabur tanpa jejak meninggalkan kebangkrutan bagi perusahaan Herman sendiri. Akhir yang tragis bagi trah Herman Sugandi yang dibangunnya selama bertahun-tahun dengan merangkak dari bawah. Sejak itu, dia menghilang dan meninggalkan utang yang bertumpu
Read more
DMCA.com Protection Status