Catalog
101 chapters
Anna Frederica
"Anna, kamu tahu sekarang sudah jam berapa?" tanya mamaku dengan wajah kesal."Aigooo Mama, bawel banget sih ah." Aku dengan kesal menutup wajahku dengan bantal, AC kamar segera mama matikan, dan karena pintu kamar mama tidak tutup, udara panas dari luar langsung masuk."Mama dah janji kamu harus kesana pas makan siang, sekarang dah mau jam 10," ucap mama tidak sabar."Astaga mama!" seruku kesal. Aku bangkit dari tempat tidurku yang mungil, dan beranjak menuju kamar mandi.Apa sih spesialnya dengan janji dengan kakek tua itu, dari kemarin mama terlalu heboh, pikirku kesal sambil membersihkan tubuhku.Saat aku selesai mandi dan kembali ke kamar, ternyata mama masih menunggu di kamarku dengan tidak sabaran."Ayo... sini cepat pakai gaun cantik ya, nih yang warna kuning anak ayam, warnanya pas buat kulit kamu!" seru mama sambil menempelkan gaun itu ke badanku. Aish aku tidak
Read more
Ethan Samuel
Aku mengabaikan lagi panggilan telepon yang berulang kali berbunyi, dan mendengus dengan kesal, telepon itu sudah berulang kali aku angkat dan matikan tapi kakek tua itu pantang menyerah, dia masih terus menerorku sepanjang hari.Aku mencoba mengetik di laptopku, dan membaca tulisan kecil itu dengan hati-hati. Konsentrasi Ethan, kamu harus fokus! perintahku dalam hati. Tapi telepon itu terus berdering, aku mengangkat dengan kesal gagang telepon itu dan langsung menaruhnya di meja. Terdengar suara Daniel memanggil, tapi aku tidak ada waktu untuk menghiraukannya, aku tersenyum senang, kenapa cara ini tidak terpikirkan olehku dari tadi.Aku segera mengalihkan jemariku kembali ke laptop, beberapa menit lagi, selesai, aku memandang dokumen di hadapanku dengan puas, akhirnya selesai, dokumen yang dibutuhkan besok.Baru saja aku mau membuka file yang baru, handphone-ku berdering, nomor opa lagi, dengan kesal aku langsung mematikan handphon
Read more
Air Mata Untuk Kakek
Mataku tidak percaya akan apa yang terjadi di hadapannya, pada awalnya aku berpikir kakek tua itu bercanda saat dia menyatakan penolakannya, tapi ternyata dia serius, dia terjatuh miring memegangi dada nya, dan napasnya tersengal-senggal. Hatiku mencelos, dia mengangkat tangannya berusaha berbicara sesuatu tapi sepertinya lidahnya kelu, sehingga aku tidak bisa mengerti apa yang dia bicarakan.Pria berjas hitam tadi langsung membopongnya dan aku mengikutinya dari belakang, Oh Tuhan jangan biarkan ada apa-apa dengan Opa ini, aku merasa bertanggungjawab, jantungku berdebar-debar saat masuk ke mobil menemani kakek tua itu di belakang saat pria berjas itu menyetir dengan cepat menuju rumah sakit.Begitu sampai rumah sakit, Opa Jacob segera di periksa, sampai ditempel berbagai alat di badannya, sungguh menakutkan, aku tak tega melihatnya, tanpa sadar air mataku ikut terjatuh karena takut. Dokter mengatakan kalau dari hasil pengecekan awal sepertinya kondi
Read more
Semua Wanita Sama
"Opa sudah enakkan ya?" Aku mendengar suara perempuan itu. Kenapa dia yang jadi lebih khawatir daripada Aku sih? kataku dalam hati, Aku terus berjalan mendekati ruangan Opa."Sudah, berkat kamu Opa jadi tenang." suara opa kini lebih jelas dan stabil, sepertinya keadaannya sudah lebih baik, beban hatiku agak terangkat. Aku sudah di depan pintu saat aku mendengar suara opaku lagi."Maafkan Ethan, dia memang selalu begitu, tapi aslinya dia baik, jadi gimana? kamu mau kan?" Aku mendengar opaku memohon. Cih, kenapa dia sampai memohon seperti itu, seakan-akan aku bujangan lapuk, pikirku kesal, dan yang lebih menyebalkannya, perempuan ini sok jual mahal sekali, sampai menikah denganku saja perlu berpikir lama? pikirku kesal.Read more
Hangat dan Nyaman
Sebentar lagi pintu lift terbuka, aku harus langsung melesat menjauhi pria ini, tadi dia kesannya tak sudi bicara denganku, tapi sekarang dia malah mengikutiku. Aku merasakan pandangan pria itu di belakangnya. Aish, kenapa dia mengikutiku sih! jeritku dalam hati. Pintu terbuka 3...2...1 go!Aku segera berlari secepat mungkin, sepatu baru ini menyusahkan saja, kalau aku lepaskan, kira-kira lantai rumah sakit bersih nggak ya? aku menimbang-nimbang, tetapi sepertinya waktu aku membuka sepatu, aku bisa ditangkapnya."Anna!" panggilnya dari belakang, aku segera mempercepat langkahku, kakiku sempat terpeleset, seketika dia bisa mengejarku.Ethan meraih le
Read more
Tidak Bisa Pulang
Pembicaraanku dengan New York berjalan lancar, kantor pusat setuju dengan keputusan yang aku ambil, iklan yang berjalan yang menyesatkan publik itu akan ditarik dan akan kami buat baru lagi, walau akan keluar biaya baru, tapi pihak pusat akhirnya tidak keberatan. Aku sangat suka bekerja dengan perusahaan ini yg memiliki integritas ini.Setelah selesai bicara aku merasa lapar, wanita ini pasti juga lapar sudah hampir jam 11 malam dan kami belum makan malam. Aku memandang ke arahnya untuk menanyakan apakah ia lapar, tapi pemandangan yang aku lihat lebih menakjubkan.Gaunnya ternyata robek jahitannya dari dada sampai ke pinggang, walaupun aku tak ada bermaksud melihat tetapi naluri kelaki-lakianku langsung muncul dan menatap tubuhnya yang te
Read more
Yang Terjadi Semalam
Aku terbangun dengan puas, sudah lama aku tidak tidur senyaman ini. Matahari masuk dengan indahnya di antara sela-sela tirai putih. Nyamannya, berada di pelukannya tenyata begitu nyaman.Pelukan? Tirai putih? Aku dimana? jeritku dalam hati. Aku segera melirik ke samping, Kenapa bisa ada dia di sampingku? Lengannya yang berat ada di pinggangku. Oh Tuhan apa yang terjadi?Aku segera keluar dari selimut secepat tapi selembut mungkin, agar dia tidak terbangun. Suara napasnya yang teratur menyatakan kalau dia masih tertidur lelap, aku aman. Syukurlah aku masih berpakaian lengkap, dengan jasnya juga. Aku masih membutuhkan ini, aku segera beranjak meninggalkan kamarnya. Read more
Seharusnya Dia Tidak Ada Di sini
Wanita itu tertidur seperti kerbau, dia bahkan tidak terbangun ketika aku meletakkannya di tempat tidurku. Ternyata walau dia terlihat mungil dan langsing, membawanya masuk ke dalam rumah sambil menggendongnya itu sulit sekali."Cih, tidurnya pulas sekali!" gumamku kesal, setelah menaruhnya di tempat tidurku. Badanku terasa pegal, ternyata dia berat sekali! Wajahnya terlihat tenang dengan rambutnya yang terurai di belakang kepalanya. Terdapat beberapa helai rambut yang masuk ke dalam mulutnya.Aku menatapnya sebentar lalu duduk di sampingnya, tanganku bergerak sendiri untuk menarik rambut itu, dia bergerak sedikit ketika merasa rambutnya tertarik, dan tersenyum, entah bermimpi apa. Jika dia diam seperti ini, dia terlihat seperti bidadari,
Read more
Penyesalan
"Nanti kalau Opa bangun bagaimana?" tanyaku kesal dengan sikap tidak pedulinya. Dia malah menaikkan salah satu sudut bibirnya."Ada Daniel." Matanya yang hitam menatap ke sekretaris opa Jacob yang langsung mengangguk. Dia kembali tersenyum sinis lalu segera pergi."Tapi Daniel tidak bisa menggantikanmu, cucunya kan kamu!" teriakku kesal, nanti kalau ada apa-apa dengan opa jangan sampai kamu menyesal, pikirku dalam hati, aku tahu penyesalan itu rasanya seperti apa, aku sudah merasakannya, pikirku dalam hati. Aku tahu dia mendengarku, suaraku bergaung di lorong rumah sakit, tapi dia terus melangkahkan kakinya yang panjang menjauhiku."Mari kita ke rua
Read more
Penyesalan Datang Terlambat
Ruang duka, aku kembali ke Ruang duka. Dalam sekejap berita duka Opa menyebar kemana-mana, aku terkejut dengan kesigapan Daniel mengatur segalanya.Tapi memang berbeda, Ruang duka Opa Jacob sangat mewah, kakek disemayamkan di ruang besar, dengan tirai berenda-renda, karangan bunga, lampu kristal dan lilin dimana-mana. Orang-orang datang melayat juga membawa bunga, sampai penuh dipajang di jalan masuk ruang duka Opa.Suasana riuh, walaupun ini harusnya dalam suasana berduka, tapi orang yang datang tidak ada yang benar-benar berduka, mereka semua saling sibuk menegur bahkan tidak ada yang merasa aneh saat mereka bercanda dan tertawa.Hanya sesosok itu yang terlihat terpukul, wajahnya mengeras seperti patung. Dia mengenakan kaus polo hitam dengan celana panjang hitam, Daniel tiba-tiba membawakan baju itu tadi.Aku memperhatikannya dari tadi, semua orang datang kepadanya mengucapkan turut berdukacita, dia hanya mengangguk menyalami lalu kembali membeku menatap Op
Read more
DMCA.com Protection Status