Catalog
72 chapters
Intro
Kuda yang ditunggangi Jalabadra berjalan hati-hati menyusuri tepian sungai Tarum. Udara terasa lembap hari itu. Tubuh sang Maharsi sedikit terayun seirama langkah kuda, matanya basah oleh air mata yang menggenang. Saat-saat sang Pujaan Hati menutup mata masih terbayang di pikiran. Lelaki tua itu merasakan kelelahan yang amat sangat. Beberapa saat sebelumnya, dia telah mengerahkan segenap kekuatan dan kesaktian demi menjalankan keinginan terakhir perempuan anggun itu.Rombongan mereka tiba di jembatan kayu yang terbentang melintasi sungai. Satu per satu berjalan menyeberang. Air mengalir deras di bawah mereka, sepertinya hujan sedang turun di daerah hulu.Kuda Jalabadra sedang berjalan di pertengahan jembatan ketika rasa menusuk menyerang dada kiri sang pendeta, lalu menjalar hingga belikat dan pundak kiri. Wajahnya mengernyit menahan sakit, dadanya tersengal, berusaha menarik napas. Jalabadra tersenyum. Dia menghembuskan napas panjang, lalu seluruh otot tubuhnya melema
Read more
Kejutan
Sambil tersenyum simpul, Armand menyaksikan gadis yang duduk di hadapannya asyik menikmati affogato. Sendok demi sendok lenyap di antara kedua bibirnya yang bersaput lipstik merah. Rambut hitamnya menutupi bagian bahu blazer biru gelap yang dia kenakan. Bahkan dalam pakaian kerja, gadis itu tetap memesona. Armand menarik napas panjang, berusaha meredakan kegelisahan hati.Kalyana perlahan menghabiskan sendok terakhir affogato. “Ada apa, Mand?” tanyanya seraya meletakkan sendok di piring, tersipu menyadari tatapan Armand. “Bagaimana?” tanya Armand.“Enak sekali, Mand!” seru Kalyana seraya duduk bersandar, “luar biasa! Terima kasih kamu sudah mengajakku kencan ke sini, walau aku masih bingung, ada perayaan apa sebenarnya.”Armand tersenyum. Dia meminggirkan kedua piring makanan penutup yang sudah mereka habiskan, lalu menjulurkan tangan kirinya ke arah Kalyana. Kebingungan, Kalyana menegakkan kembali duduknya, lalu menyambut uluran tangan Armand. T
Read more
Impuls
Tak lama, mobil mereka meninggalkan hotel Jannah dan menyatu dengan lalu lintas jalan Mayjen Sungkono yang padat. Armand mengemudikan kendaraan sedangkan Kalyana duduk termangu di sebelahnya. "Armand ...," gumam Kalyana tiba-tiba. "Ya?""Kapan kita berangkat?" tanya Kalyana."Masih agak lama, sih, mungkin dua atau tiga bulan lagi. Yang jelas, kita harus secepatnya menikah agar aku bisa mendaftarkan namamu di departemen Relokasi perusahaan."Kalyana merasakan pipinya memanas. Dia tersenyum kikuk. "Secepat itu?" tanyanya, "apa cukup waktu untuk mempersiapkan semuanya?""Aku sudah atur segalanya," jawab Armand, "pestanya sederhana saja, semoga kamu enggak keberatan. Untuk bulan madunya, nanti kita jalani saat kita sudah di sana saja.""Wow, minggu kemarin kamu sibuk sekali rupanya," gumam Kalyana. "Kamu, kok, yakin banget aku mau menerima lamaranmu?" godanya, tersenyum iseng.Armand terkekeh. "Aku berpikir positif saja, Na." <
Read more
Interferensi
Gadis itu duduk berselonjor santai di kursi besi tuang di tepi danau. Rambutnya yang menutupi punggung kursi sedikit dipermainkan angin semilir bulan november yang dingin. Dia tampak asyik menulis sambil sesekali memandang Jet d'Eau.Dada Harso berdegup kencang. Pemandangan yang persis sama dengan yang pernah dia lihat bertahun lalu. Dia bisa merasakan dirinya melangkah mendekati si gadis.Semakin dekat dengan gadis manis itu, angin membawa sekilas harum parfum yang dia kenal baik. Lalu, seperti yang sebelumnya, beberapa gangguan statis mulai muncul di pandangan dan pendengaran Harso. Aroma wewangian pun hilang-timbul. Harso berusaha bertahan.Percuma, sekitar tiga meter dari tempat gadis itu duduk, pandangan Harso sudah kacau balau, penuh garis warna-warni. Telinganya hanya mendengar bebunyian tanpa arti, bagai puluhan stasiun radio diputar bersamaan, sementara berbagai bebauan menyeruak, memuakkan. Hanya degup jantungnya sendiri yang masih bisa dia rasakan di
Read more
Pamit
Menjelang istirahat siang, dari pintu ruang kerja yang terbuka lebar, Bu Rina tampak sedang berkonsentrasi penuh di depan layar komputer. Beberapa helai keperakan menghiasi rambutnya yang dibiarkan tergerai. Kaca mata baca bertengger manis di pertengahan batang hidung. Sang pimpinan tampak tetap anggun dalam balutan kemeja putih lengan panjang. Jas blazernya dia sampirkan di punggung kursi. “Permisi, Bu,” ujar Kalyana sambil mengetuk pintu ruang kerja.Bu Ani mengalihkan pandangan ke arah Kalyana. “Ada apa, Na?” tanyanya. “Ayo, sini, duduk!” ajaknya seraya mengangguk kepada kursi kosong di depan meja kerjanya. Jantung Kalyana berdegup kencang. Sambil menelan ludah dan berdehem perlahan, dia masuk ke ruang kerja Bu Rina dan duduk di kursi tersebut. “Begini, Bu,” ujarnya setelah duduk tegap, “dua bulan lagi kemungkinan besar saya harus mengundurkan diri.” Untuk beberapa detik, Bu Rina hanya menatap Kalyana dalam-dalam. Kemudian, perlahan dia mencopot lal
Read more
Memori
Lensa selalu berhasil menjauhkan Rajata dari masalah. Berada di belakang lubang bidik kamera, dia tidak merasakan terik matahari di atas desa Bokoharjo akhir pekan itu, maupun suasana hati yang sedang hampa. Dia juga tidak peduli akan wisatawan yang ramai di sekitar. Lelaki itu sibuk mencari obyek foto dan sudut pengambilan gambar di sekeliling areal candi Prambanan.Sebuah relief menarik perhatian. Rajata mengambil batu, lalu berdiri di atasnya agar bisa mengambil foto dari arah yang dia inginkan.Tiba-tiba, suara teriakan penuh canda di kejauhan mengagetkan Rajata. Secara refleks, dia memutar badan ke arah datangnya suara. Namun, rupanya gerakan tersebut membuat pijakan kakinya goyah. Lelaki itu terjatuh dari batu dan tubuhnya limbung ke arah candi.Dengan panik, Rajata berusaha melindungi kamera yang dia pegang. Berhasil. Pangkal ibu jarinya membentur relief, melindungi kamera. Sekejap kemudian, ribuan kunang-kunang membanjiri mata Rajata ketika kepalanya men
Read more
Lesehan
Kalyana menjatuhkan ransel di lantai, lalu membanting diri ke kasur. Hari sudah senja, padahal baru satu jam yang lalu pesawat yang dia tumpangi mendarat di Adi Sucipto. Kalyana kesal, menyesali keputusannya membeli tiket mendadak di jam yang tanggung. Entah apa yang bisa dia lakukan di Yogya di sisa hari ini. Besok, mungkin dia akan menyewa kendaraan. Gadis itu mengambil telepon genggam lalu menelusuri internet, mencoba mempelajari beberapa tempat wisata di Yogyakarta. Tidak ada yang menarik, semua informasi yang dibaca terasa lewat begitu saja, hanya membuat kepalanya pening. Semilir angin dari sistem penyejuk ruangan perlahan membuat Kalyana terlelap.***Dering telepon membangunkan Kalyana. Dengan enggan, dia meraih telepon dari saku celana. Panggilan dari Armand, sesuai dugaan. Kalyana ragu sejenak, sebelum akhirnya menekan tombol ‘Terima’.“Halo? Ada apa Mand?” sapanya sambil tetap berbaring di tempat tidur, masih mengantuk.“Kamu sudah sampai di Jo
Read more
Misteri
“Kopinya satu, Bu!” Suara seorang perempuan mengusik lamunan Rajata.Rajata mengangkat pandangan ke arah suara.Seorang gadis sedang membeli segelas kopi dan sepiring pisang goreng dari ibu penjaga lesehan. Rajata mengamati gadis itu berjalan ke pilar sebelah dan kemudian duduk bersandar di sana dengan lutut ditekuk. Sambil menikmati pisang goreng, gadis itu mengeluarkan sebuah tablet lalu mulai bekerja. Rambut hitamnya digelung ke atas, memperlihatkan bentuk wajah, telinga, dan lehernya.Rajata hanya bisa terpana. Sosok dan suara gadis itu mengingatkan dia kepada seseorang yang dia lihat di Prambanan.Kemudian, seolah merasa ada yang mengamati, gadis itu mengangkat pandangan dan menoleh ke samping, ke arah Rajata. Dia tersenyum sekilas, lalu kembali sibuk dengan perangkat di pangkuan.Rajata terkejut bercampur malu. Setelah bimbang sesaat, akhirnya dia berdiri lalu berjalan mendekati gadis tersebut.“Halo,” sapa Rajata, berdiri di hadapan si gadi
Read more
Percakapan
Pukul delapan kurang lima menit, mobil yang dikendarai Rajata memasuki pelataran Hotel 404. Dia berharap bisa membuktikan bahwa nomor telepon Kalyana memang benar dibutuhkan. Namun, ternyata Kalyana terlihat sudah berdiri di tangga lobi. Rambutnya tidak lagi diikat ke atas.Melihat Rajata tiba, Kalyana segera berjalan mendekat. “Kok terlambat, Mas?” sergahnya seraya masuk ke mobil.“Lho, ini, kan, masih kurang lima menit, Na,” tukas Rajata.“Tapi tadi katanya mau datang awal!” balas Kalyana.“Iya, ini kan masih kurang lima menit.”“Tapi aku sudah lama menunggu!”“Maaf, Na,” ujar Rajata, “nunggu dari jam berapa tadi?”“Dari jam delapan kurang enam menit!” sahut Kalyana ketua.“Ha?”Tawa Kalyana meledak.“Baru juga satu menit, Na!” seru Rajata sambil menggeleng dan tersenyum lebar.“Bu
Read more
Keraguan
Sambil menanti lift, Kalyana mengeluarkan telepon genggam dari saku jaket. Dia tersenyum melihat panggilan tak diangkat dari Armand. Pintu lift membuka. Kalyana pun mengembalikan telepon genggam ke saku lalu melangkah masuk.Sesampai di kamar, Kalyana langsung balik menelepon sang kekasih. “Halo, Na?” sapa Armand setelah dua kali deringan, “sibuk banget, ya, bikin novelnya, sampai tidak sempat menerima teleponku?”Kalyana terkekeh. “Enggak, aku Cuma lupa kalau teleponku aku silent,” jawabnya seraya melepas jaket.“Jadi bagaimana Jogja?” “Menarik,” sahut Kalyana, “Kemarin malam aku mengunjungi Malioboro, lalu tadi siang aku ke Prambanan, dan ini aku baru saja pulang makan malam di Gudeg Yu Jum.”Sejenak Kalyana terdiam. Di sisi seberang, Armand pun masih menunggu kelanjutan cerita sang Kekasih. “Yah, paling tidak,” lanjut Kalyana, &ldq
Read more
DMCA.com Protection Status