Catalog
35 chapters
1. Raina
Devan menggenggam tangan Raina yang kini berbaring di rumah bersalin. Dia melihat raut ketakutan pada mantan kekasih adiknya itu. Sebenarnya, genggaman ini bukan karena rasa kasih sayang, akan tetapi sebuah keterpaksaan yang perlahan mulai mengikis hatinya yang sunyi. "Jangan takut! Jangan berhenti berdoa biar hati kamu juga makin tenang. Percaya aja, bahwa kamu bisa melewatinya," ucap Devan dengan wajah datar. Seolah ucapan itu hanya sebatas kalimat penenang yang dia ambil dari g****e. Raina mengangguk seraya memaksakan diri untuk tersenyum. Dia dapat merasakan, seberapa canggungnya Devan. Beberapa detik kemudian dia mengalihkan pandangan pada langit-langit. Terlihat gerakan bibirnya membacakan do’a, namun raut wajahnya tetap resah. Sebentar lagi dirinya harus menjalani operasi Caesar. Devan mulai melirik Raina kembali. Dia mengacak rambutnya karena kebingungan, kalimat apa lagi yang harus diucapkan pada wanita yang dengan terpaksa dia nikahi bebera
Read more
2. Bayi Baru Lahir
Devan menaruh bungkusan warna putih. Tulisan mandarin dan logo brand di plastik tersebut membuat Raina tidak perlu bertanya untuk tahu isinya."Ini obat cina yang aku ceritain kemarin. Ada 6 kapsul, diminum setiap mau tidur, kata temanku proses penyembuhan luka caesar bakal cepet." Devan tidak tahu hal seperti ini, jika bukan dari temannya yang dengan inisiatif memberitahu duluan."Iya, makasih.""Aku juga beli ekstrak gabus buat kamu, kamu kan gak suka makan ikan gabus langsung. Jadi gantinya ini.""Iya, nanti bakalan aku minum," jawab Raina.Beberapa saat mereka terdiam, pandangan mata Devan masih tertuju pada plastik yang sudah dia taruh di nakas. Seolah, ingin mengatakan sesuatu namun tertahan.Raina tahu ada hal lain yang ingin Devan sampaikan, tapi dia pun tidak berani untuk bertanya.Hingga akhirny
Read more
3. Kehampaan
"Jika Raina pergi, pasti dia akan membawa Zian pergi juga, ibu gak ingin itu terjadi. Sementara Dhaka, anak itu keberadaanya saja gak tahu di mana." April berkata sambil melanjutkan pekerjaan dapur yang sempat tertunda.Devan terdiam."Ibu mohon sama kamu, supaya lebih memahami kondisi ini. Kamu tahu sendiri, hubungan Raina dan keluarga angkatnya kaya gimana, hanya Almarhumah Bu Fatma yang baik sama Raina. Jika Zian tinggal di sana, ibu gak bisa lihat perkembangan mental Zian seperti apa, terlebih Raina masih sangat labil jika dilihat dari usia dan kondisi keluarga angkatnya itu."Devan ingin sekali berkata bodo amat untuk masalah Raina, tapi takut kualat sama ibunya. Akhirnya, dia memilih mengangguk-angguk saja. Formalitas, supaya April tak membahas itu lagi."Lagipula Raina wanita yang baik.""Semua orang yang hidup menumpang, bisa mendadak jadi baik, Bu.
Read more
4. Awal Pernikahan
Raina tidak habis pikir, kenapa Devan tidak diskusi dulu tentang pernikahan sah mereka jika pada akhirnya mendiamkan dia seperti ini. Mungkin saja hanya demi Zian supaya bisa hidup lebih layak, karena tidak ada alasan lain yang lebih masuk akal bagi Raina selain itu.   Raina mendapatkan kehidupan yang layak dan nafkah yang cukup bersama Devan. Akan tetapi, dia tidak mendapatkan hati laki-laki itu.   Raina mendekati Devan. Dia ingin berbicara banyak hal, tapi dia bingung memulainya dari mana. Sehingga dari tadi hanya mengekor ke mana Devan pergi, ke dapur untuk minum ataupun menunggu di depan pintu kamar mandi. Hal itu cukup membuat Devan risi karena Raina hanya mengikutinya tanpa berkata apa-apa.  
Read more
5. Canggung
Raina tertegun atas ulah Devan. Mungkin pria ini kerasukan atau sekadar kedinginan, atau mungkin juga karena sempat terlalu lama menjomblo. Yang jelas, Raina merasa tubuhnya sesak dan bergerak gelisah dalam pelukan itu."Rain!"Raina gemetar saat Devan memanggil namanya dalam jarak sangat dekat. "Kenapa?""Request sambel goreng juga, ya! Terus cepetan masaknya, jangan pakai lama.""Katanya angetin yang ada aja?""Cuma tambah sambal aja, kok. GPL!""Ya udah, kalau disuruh GPL lepas dulu pelukannya. Apa Bang Dev nyuruh aku masak di kamar?"Devan melonggarkan pelukan dengan ekspresi biasa saja. "Sorry.""Titip Zian, ya! Kalau dia bangun bawa aja ke bawah!"Raina tergesa-gesa menuju dapur. Hatinya belum benar-benar stabil akibat pelukan dadakan yang dilakukan oleh suaminya.<
Read more
6. Mantan Pacar Suami
Mata Kirana lekat menatap Raina yang sedang mencuci piring sehabis makan bersama tadi. Iri, harusnya dia yang menjadi tuan rumah. Membuat sarapan tiap hari untuk Devan adalah impiannya. Apalagi Kirana pintar masak. Dia ragu, apakah bocah yang hamil diluar nikah seperti Raina bisa masak sehebat dirinya.Raina lebih cantik darinya. Kirana sangat yakin, Devan tidak akan berpikir dua kali untuk jatuh cinta pada Raina, kalau saja Raina tidak berlaku keji di masa lalu bersama Dhaka, hingga hamil diluar nikah."Raina, numpang ke kamar mandi bentar, ya!" Senja datang menghampiri."Kamar mandinya sebelah sini, Mbak." Raina berjalan ke arah kamar mandi menunjukan letak kamar mandi pada Senja."Oke, makasih, Rain." Senja masuk ke kamar mandi, sambil membawa Fanza, karena Fanza pup.Raina kembali ke wastafel, ternyata Kirana sudah menggantikan mencuci piring, membuat R
Read more
7. Staycation
Devan menunda pekerjaannya yang mulai menumpuk. Dia meraih smartphone, mencari website Hotel berdasarkan rating tertinggi di internet yaitu Crowne Luxury . Walaupun pada awalnya dia menanggap omong kosong saran dari anggota grup tadi, tapi apa salahnya dicoba.Devan menghampiri Raina yang sedang main games Uncle the horor. Devan Ingin memberitahu sesuatu, tapi Raina terlalu larut dalam permainan, membuat Devan terhenti haya untuk melihat raut wajah Raina saat bermain. Devan merasa aneh, padahal Raina sendiri yang memilih permainan, tapi saat hantunya muncul dia tutup mata, sambil bergedig takut. Jangan lupakan juga backsound games tersebut yang creepy. Devan duduk di samping Raina. "Seru banget, ya?""Eh, Bang Devan. Udah selesai makannya?""Iya udah."
Read more
8. Pria Brengsek
Devan menyadari Raina tak ada di ranjang. Saat membuka mata, dia hanya melihat Zian yang terlelap tidur dengan wajah yang polos. Devan melirik ke sisi jendela, ada cahaya lampu dari luar dan di sana juga dia melihat Raina duduk sambil menatap ke jendela.Wanita itu berwajah sendu. Devan mampu menangkap kesedihan darinya. Tanpa dia sadari, dia mulai tak rela melihat Raina bersedih.Devan bangkit dan mendekat pada Raina. Melihat wajah wanita itu dari samping, membuat kekaguman di dalam hati yang tak sudi dia utarakan. Dia masih bersikeras meyakini bahwa perasaan ini adalah hanya sebatas kasihan semata.Devan menaruh tangan di bahu Raina. "Kenapa gak tidur?"Raina terperanjat atas kehadiran Devan, terlebih pria itu memegang bahunya. "Gak tahu, susah tidur.""Ada yang dipikirkan?"Raina terdiam sejenak lalu kembali menatap ke arah luar, ka
Read more
9. Bersama Mantan
Sore ini, Devan pergi ke Jatinegara menemui seseorang yang sangat dekat dengannya di masa lalu. Tangannya menjinjing buah tangan, berbagai jenis makanan yang empuk. Karena dia yakin, kalau dikasih makanan yang keras sedikit yang punya rumah pasti menggerutu."Assalamualaikum."Sebenarnya, pintu terbuka setengah dari tadi. Devan bisa melihat orang tersebut duduk di tikar, mungkin orang itu berkurang pendengarannya. Devan tersenyum, membuka pintu lebih lebar, bersimpuh mendekati seorang kakek."Assalamualikum.""Waalaikumsalam. Ini Sape ye?" tanya Kong Darul sambil membenarkan kaca mata.Devan meraih tangan Kong Darul, sungkem. "Ini Devan, Kong." Devan duduk bersila kaki."Eh, elu kirain sape. Samar-samar tadi muke lu, tong.""Engkong sehat? Maaf baru bisa mampir ke sini, nengokin engkong."Dev
Read more
10. Hati yang Retak
Pagi, dan ini hari minggu. Suara denting piano terdengar dari lantai satu rumah Devan. Warmes on the soul judul yang ia bawakan. Baru pertama memainkannya. Dia tahu, Raina suka memutar lagu tersebut lewat ponsel. Itu lagu itu untuk istrinya.Raina menuruni anak tangga, menggendong Zian, permainan Devan memanjakan telinganya, tapi tidak merubah rasa kecewa yang ia kubur hingga terlelap tidur. Dirinya masih menggunakan piama, rambutnya terikat asal. Dia menghampiri Devan, dengan tampang kusut."Habis begadang, ya?" Devan menghentikan permainannya, dia lebih memilih menyapa istrinya."Iya. Maaf Raina gak tahu Abang udah pulang, belum ada sarapan, mau sarapan apa?""Santai saja, kamu juga keliatannya masih ngantuk dan aku juga belum lapar."Tidak tidur semalaman membuat Raina tidak fokus, bahkan untuk merencanakan kegiatan di pagi hari dia kesulitan. K
Read more
DMCA.com Protection Status