Share

4

“Aku tahu, lagian aku juga tidak mau hidup dalam kemiskinan!” balas Ardi kentus.

Lala yang lega, langsung bergegas pergi dari hadapan Ardi.

Ardi melihat kepergian ibunya dengan terburu-buru dan ia langsung masuk ke dalam rumah dan berpapasan dengan Narnia yang berjalan menuruni anak tangga dengan pakaian mengoda imam. Tang top ketat yang membungkus kedua buah kembar yang besar dan menampakkan lekuk tubuh di sertai celana denim yang pendek yang membelah belahan bawah dan sekaligus menampakkan kedua paha yang putih.

Ardi menelan saliva dengan kasar, ia tidak menyangka akan ketemu dengan Narnia yang merupakan wanita yang pernah ia lecehkan di Bandung dan sialnya. Narnia yang di maksud kedua orang tuanya. Ternyata Narnia yang ini yang sedang di hadapannya.

“Kau?” pekik Narnia histeris.

“Wah!” balas Ardi dengan santainya.

“Kenapa kau di sini?” tanya Narnia bersedekap pinggang.

“Ini rumahku, wajar aku di sini?” balas Ardi yang jalan mendekati Narnia. Hingga posisi keduanya berdekatan dan mata Ardi mengintip kedua gundukkan besar yang menampakkan keindahan yang padat dan berisi di hadapannya.

Plakkk

Sebuah tamparan melayang di wajah tampan Ardi.

“Jangan kurang ajar, pakai acara mengintip segala ke arah kedua buah kembarku!” ucap Narnia dengan sikap sombongnya yang menantag Ardi yang berdiri di depannya.

Ardi memegang wajahnya yang mati rasa sebelah. dengan senyuman liciknya. Matanya masih  menatap kedua gundakan yang berisi yang mengoda untuk di jamah.

“Tak lama lagi akan ku remas kedua gundunkkanmu yang berisi padat itu sampai puas dan akan ku hentakkan setiap hari tanpa ampun,” batin Ardi. Yang masih menatap wajah songong Narnia di depannya.

“Sepertinya, aku harus memberitau padamu! Apa itu sebuah balasan dari tamparan?” ucap Ardi yang langsung menarik Narnia ke dalam pelukkannya dengan nahan tengkuknya.

“Lepasin, ini pelecehan seksual!” pekik Narnia dengan meronta-ronta.

Ardi langsung menunduk, kemudian mengangkat Narnia dengan meletakkan di salah satu bahunya.

“Lepasin Aku…” pekik Narnia yang merontah-rontah kembali. dengan kedua kepala tangan memukul pinggang Ardi.

Ardi masih menulikan telinganya, ia berjalan menaiki anak tangga dengan memopong tubuh Narnia dibahu kirinya.

Kemudian, pintu kamar di buka dan Narnia di lemparkan ke atas ranjang dengan cara kasar.

Merasakan waspada, Narnia memundurkan langkahnya ke belakang.

“Lebih baik ganti pakaianmu! Kita semua akan makan malam,” ucap Ardi yang langsung keluar dari dalam kamarnya yang kini di huni oleh Narnia.

Narnia terbinggung, Ia mengira Ardi akan memperkosanya di dalam kamar. Ternyata Ardi memilih pergi. Setelah melemparkan dirinya ke atas ranjang.

“Benar-benar pria aneh?” gumam Narnia pelan.

Melihat pintu terbanting dengan keras, Narnia menghela nafas panjang. sekaligus lega dengan kepergian Ardi dari dalam kamarnya.

***

Malam hari, merupakan waktu makan malam bersama-sama di luar.

Adam sengaja menjemput Narnia dengan mobil mewah, Narnia tersipu malu. Saat di paksa masuk ke dalam oleh ibu tirinya yang bertingkah seperi kandung.

“Kesempatan langkah, manfaatin dengan baik!” bisik Lala pada anak tirinya.

Wajah Narnia memerah padam dengan keringat bercucuran karena malu.

Sesuai perintah ibu tirinya, Narnia masuk ke dalam dengan jantung berdebar-debar kencang. Berapa kali ia melirik Adam yang tampan. Sedang memegang kemudi mobil dengan tatapan menatap lulus ke depan jalan raya.

Tatapan Narnia ke rahang dan jemari Adam. Secara diam-diam mulai berhayal erotis sesat.

Waktu terus berjalan, berapa lampu hijau terlewati.

Narnia binggung, mau bagaimana menjelaskan atau memulai pembicaraan dengan Adam.

Suasana tegang dan canggung menyelimuti kedunya, hingga sampai ke salah satu restoran. Adam seperti pangeran berkuda putih yang membukakan pintu mobil untuk Narnia dan tidak lupa mengulurkan tangannya.

Dengan wajah malu-malu, Narnia menyambut uluran tangan Adam. Di belakang, Ardi yang melihatnya sampai merasa mual setengah mati. Perutnya terasa melilit dan ingin mengeluarkan isi-isinya.

Iri dan dendam kepada Adam, sudah mendarah daging untuk Ardi. Jika bukan karena perintah ayahnya untuk bersabar dalam persugihan ini. maka ia sudah menarik Narnia ke dalam pelukkan dan menyetubuhi Narnia selama beronde-ronde untuk mendengarkan suara desahan yang memanggil namanya. membayangkan saja sudah membuat bawah Ardi menengang sempurna dan terasa sesak yang meminta di puaskan.

“Jangan melamun,” ucap Herman yang mendorong kepala Ardi.

Dengan gaya malas, Ardi keluar dari dalam mobil dengan wajah kusutnya di ikuti oleh Lala dari belakang. seolah-olah mereka adalah keluarga bahagia. padahal semuanya punya niat tertentu.

Sesampai di dalam restoran, Ardi melihat Narnia menatap Adam penuh dengan perasaan cinta dan bahagia.

"Jalang," umpat Ardi dalam hati.

Ardi mengambil inisiatif untuk duduk di samping Narnia. Untuk sengaja mengerjain Narnia. Ia langsung mengusap paha Narnia dengan lembut. Hingga Narnia hampir saja Narnia mendesah keluar dari bibirnya.

Beruntungnya, Narnia segera mengubahnya menjadi batuk. Dengan alasan tenggorokannya gatal. Untuk menghindari kecurigaan semua orang yang menatapnya. dengan tatapan terheran-heran.

“Maaf, aku banyak makan gorengan berapa hari ini. jadi agak sedikit gatal tengorokkannya!” alasan Narnia dengan senyumannya dan langsung menenguk air putih di atas meja untuk membuktikan alibinya di hadapan semua orang yang menatapnya dengan tatapan heran.

Di bawah meja, Ardi sudah mengusap tangannya hingga semakin naik dan naik. Narnia mengerutkan keningnya sesaat. Ia merasa bagian bibir intinya di elus oleh jemari Ardi dan berusaha menyusup masuk ke dalam melalui cela pakaian berenda tipis yang menutup area tersebut.

Melihat Narnia tidak ada respon, Ardi sengaja memasukkan satu jarinya ke dalam bagian yang mempunyai cela dan mendiamkannya sesat di dalam, sebelum ia jemarinya mulai bergerak untuk merangsang air bening itu keluar dari cela yang di masuki oleh jemarinya.

Jantung Narnia berdetak kencang dan menelan saliva dengan kasar. Saat merasa jemari di dalam intinya sudah bergerak secara lincah sambil menekan bagian kecil dan lunak tersebut. untuk mengoda hasrahnya.

Sambil menahan gairahnya, Narnia memesan makanan dengan cepat dan pamit untuk ke toilet dengan alasan ke banyakkan minum.

Tidak ada yang curiga dengan apa yang di lakukan oleh Narnia, kecuali dengan Adam dan Ardi. Adam tahu apa yang di lakukan oleh Ardi kepada Narnia di bawah meja yang di tutupi kain panjang. Ia memilih diam tanpa membantu Narnia yang di lecehkan oleh Ardi. Tepatnya, membiarkan Ardi mengerjain Narnia barusan. agar Narnia semakin terbiasa menerima setiap pelecehan kecil-kecilan hingga keperlecehan besar nantinya yang akan membuat Narnia tidak bisa menolak setiap sentuhan dari para pria lagi. bahkan akan dengan senang hati membuka kedua kaki lebar-lebar seperti seorang wanita malam yang menjual tubuh.

Di dalam toilet, Narnia membersihkan air bening yang keluar dalam jumlah banyak di cela intinya yang berdenyut.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status