Share

12. Datang Jodoh

Semenjak kedatangan Kakek, Anna sudah mundar-mandir gelisah di lantai dua. Tidak berani turun ke lantai dasar terkecuali dipanggil. Lebih buruknya lagi, Zenith tidak bisa dihubungi semenjak kedatangan Kakek.

“Zenith, lo di culik tante kunti apa kemana sih?” Kesal Anna karena Zenith tak kunjung bisa di hubungi.

“Zenith!” teriak Kakek dari lantai bawah. Mendengar nama mantannya disebut, Anna cepat-cepat menuruni anak tangga dan menghampiri Kakek.

“Iya?”

Belum apa-apa, Kakek sudah berkacak pinggang. “Kenapa masih dekil gitu? Cepetan siap-siap! Pakai baju formal! Anterin Kakek pergi!”

“Kenapa—”

“Pertanyaannya di simpen dulu! Cepetan siap-siap!”

***

Anna memberhentikan mobil setelah memarkirkannya di area parkir restoran mewah. Tepat sesuai titik tujuan navigasi.

“Udah sampai Zen? Bener ini tempatnya?”

Anna menganggukkan kepala kemudia menoleh. “Sebenarnya Kakek mau ngapain kesini? Emangnya Kakek enggak capek dari bandara langsung kesini?”

“Ini cuma perjalanan Bali-Jakarta, bukan Jerman-Jakarta,” balas  Kakek santai.

Melihat Kakek sudah membuka pintu mobil, Anna menunjukkan telapak tangannya. “Jangan lupa bintang lima-nya ya.”

Awalnya Anna heran karena Kakek tidak membalas dan menutup pintu mobil setelah keluar. Ternyata Anna salah. Kakek membuka pintu mobil kemudi dan menarik telinga Anna dengan gemas.

“Aduh,” ringis Anna. Rupanya jeweran yang diberikan tidak main-main.

“Masih nakal? Iya? Kakek kira kamu udah berubah jadi kalem jadi sopan sama orang tua. Ayo cepetan ikut Kakek!” tanpa melepas jewerannya, Kakek membawa Anna masuk ke dalam restoran secara paksa sehingga menimbulkan perhatian dari orang sekitar.

“Aduh Kek, udah Kek, malu diliatin sama orang-orang,” rengek Anna, namun Kakek mengabaikan sepenuhnya.

Rupanya Kakek memesan ruang makan secara pribadi. Setelah membuka pintu, terlihatlah seorang wanita paruh baya dan seorang gadis yang tengah duduk manis di dalam.

‘Eh, beneran di jodohin? Sejak kapan seorang Zenith punya sejarah di jodohin?’

Awalnya Anna kira apa yang dikatakan oleh Zenith hanyalah omong kosong. Anna tidak menyangka apa yang dikatakan oleh Zenith ternyata akan menjadi seserius ini.

Sebagai sesama perempuan, Anna menatap penampilan gadis yang diperkirakan seumuran dengannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Rambut panjang bergelombang di urai, make up yang tidak menonjol namun tetap menyala, wajah cantik, dan menggunakan gaun pendek berwarna ungu muda.

Anna akui, gadis di hadapannya ini berkali-kali lipat lebih anggun dari pada dirinya. Jika harus dinilai melalui penampilan, Anna bisa berkata dengan jujur jika gadis ini lebih pantas bersanding dengan Zenith.

“Zenith! Kenapa bengong? Cepetan duduk!” Kakek membuyarkan lamunan Anna.

Setelah memberi salam, barulah Anna duduk di kursi.

“Zenith, kenalin, ini Giselle. Cantik’kan? Giselle ambil sekolah seni di Korea sekarang. Bakat kalian juga sama, mungkin kalian bakal cocok.”

“Hai Giselle,” sapa Anna ramah seraya mengulurkan tangannya, mengajak Giselle bersalaman.

“Hai Zenith.” Giselle tersenyum malu-malu ketika membalas jabatan tangan Anna.

Selama makan malam berlangsung, Anna tidak terlalu fokus dengan topik pembicaraan yang dibicarakan selama di meja makan. Anna hanya tersenyum dan membenarkan beberapa hal sesekali. Raga Zenith dan jiwa Anna memang berada disini, namun pikirannya terpusat jauh pada jiwa Zenith disana.

Lagipula Anna sudah tidak memiliki hak untuk menentang siapa calon pasangan Zenith berikutnya. Anna sadar diri bahwa dirinya hanyalah bagian dari masa lalu Zenith.

“Giselle, tolong pesenin makanan kesukaan ayah kamu ya di bungkus,” titah Ibu Giselle yang langsung di laksanakan oleh putrinya.

Ketika Giselle baru berdiri dari tempat duduknya, Kakek menyenggol tangan Anna yang sedang minum.

“Zenith,” panggil Kakek galak.

Anna tersedak karena terkejut. “Apa?”

“Kenapa masih diem disini? Cepetan anterin Giselle keluar,” perintah Kakek dengan nada otoriter khasnya.

“Tenang aja Kek, Zenith baru mau berdiri habis ngabisin minum.” Setelah meletakkan gelas kosong diatas meja, barulah Anna berdiri dan membuntuti Giselle pergi keluar.

‘Kenapa harus keluar segala? Bukannya tinggal manggil pelayan ke ruang makan aja ya?’

“Zenith,” panggil Giselle.

“Ya?” Anna menolehkan kepalanya pada Giselle. Namun hal itu tak berlangsung lama ketika Anna melihat Ezekiel menarik paksa Inara keluar dari ruang makan pribadi.

“Zenith, kamu ada—”

“Giselle, sorry, lo bisa pesen makanan sendiri’kan? Gue ada urusan mendesak.” Anna menepuk bahu Giselle sebelum pergi.

I’ll call you letter, OK?” teriak Anna dari jauh sebelum kembali berlari, dimana Ezekiel dan Inara berada.

Giselle menghela napas dan mengercutkan bibirnya melihat Anna dari jauh. Ada sedikit kekecewaan di hati Giselle, padahal mereka belum bicara banyak.

***

Anna mengendap-endap dan bersembunyi di balik tembok. Menguping pembicaraan antara Ezekiel dan Inara. Tak lupa Anna merekam pembicaraan mereka.

“Bisa gak sih lo enggak bersikap bego malam ini aja? Gue muak elo selalu bersikap sok jagoan!”

Dahi Anna mengernyit, sepanjang pertemannya dengan Ezekiel tak pernah ia dengar Ezekiel berbicara sekasar ini. Seantero sekolah pun tahu jika Ezekiel adalah murid cerdas nan sopan kebanggan sekolah.

“Lo kira gue tahu kalau anak dari calon istri bokap gue itu elo? Seandainya gue tahu juga, gue akan menentang pernikahan ini! Seandainya gue tahu, gue gak mungkin pertahanin perasaan suka gue buat elo!” balas Inara tak mau kalah. Suaranya sudah bergetar menahan tangisan.

For Godshake,” gumam Anna, tidak bisa menutupi rasa terkejutnya. “Pasti Zenith semangat kalau ada bahan gosip kayak gini,” sambungnya.

Ezekiel terbungkam. Terkejut dengan fakta bahwa Inara telah menyukainya selama ini. Rasa suka Inara yang telah ditunjukkan, kalah telak dengan perasaan benci Ezekiel terhadap Inara.

Ayah Ezekiel telah meninggal dua tahun yang lalu, sementara kedua orang tua Inara telah bercerai sepuluh tahun yang lalu. Minggu depan adalah hari pernikahan Ibu Ezekiel dengan ayah Inara.

Ezekiel yang masih belum mengikhlaskan kepergian ayahnya, tentu saja akan menentang pernikahan ini. Berbanding terbalik dengan Inara yang memberi dukungan penuh demi kebahagiaan ayahnya yang telah lama menjadi single parent.

Sebelum Ezekiel berbicara, Inara menggenggam kedua tangan Ezekiel. “Eze, gue tahu mungkin gue egois kali ini dan keputusan gue udah bulat. Please, terima bokap gue sebagai suami nyokap lo. Gue tahu banget gimana perjuangan bokap gue selmaa jadi single parent, gue jamin kalau bokap gue akan sayang sama lo sebesar dia sayang sama gue.”

Ezekiel menghempaskan tangan Inara kemudian berdecih sinis. “Egois? Gue jadi ragu kalau lo selama ini jatuh cinta sama gue.”

“Gue emang jatuh cinta sama lo, tapi gue lebih mentingin kebahagiaan bokap gue dari pada kebahagiaan gue sendiri.” Balas Inara mantap, tanpa ada keraguan sedikitpun. Inara tidak percaya jika pengakuan cintanya akan terjadi di kondisi ini.

“Gue gak mau lihat muka lo lagi. Kalau ketemu di sekolah, jangan bertingkah seolah lo kenal sama gue. Jangan sampai orang-orang tahu kalau nyokap gue nikah sama bokap lo.” Dengan kata lain, Ezekiel tidak ingin orang lain tahu jika mereka akan menjadi keluarga.

Tanpa menunggu jawaban, Ezekiel pergi meninggalkan Inara sendirian. Selepas kepergian Ezekiel, barulah Inara berjongkok dan menangis. Mengeluarkan semua yang sudah ia tahan sejak tadi.

Ingin sekali Anna menghampiri Inara dan memeluknya. Tapi Anna tidak bisa karena posisinya saat ini adalah sebagai Zenith. Anna tidak ingin membuat masalah Inara semakin rumit ditambah dengan masalah yang saat ini sedang Anna hadapi.

Sebuah pesan singkat Anna terima.

          Zenith : Lo dimana Na? Kakek terus neleponin gue dari tadi.

“Cish, giliran tadi gue cariin enggak ada. Giliran gue udah gak butuh malah dateng.” Gerutu Anna. Dengan cepat Anna mengetik balasan pada Zenith.

          Anna : Minta Kakek lo tunggu 5 menit. Gue ada urusan mendesak, gue ceritain nanti.

“Inara?” Tak tahan melihat sahabatnya begitu sedih, Anna memutuskan untuk memberanikan diri menghampiri Inara atas nama Zenith.

“Eh, Zenith?” Cepat-cepat Inara menghapus jejak air matanya.

“Ayo gue anter pulang.”

Inara masih terdiam. Ada keraguan ketika mendengar Anna mengajak Inara pulang.

 “Gue gak akan tanya lo kenapa, gue gak akan minta lo buat cerita sama gue. Cuma mungkin lo lebih baik pulang sama gue malam ini.” Tentu saja Anna tidak bisa membiarkan sahabatnya pulang bersama Ibunya dalam kondisi berantakan.

“Lo pasti gak mau bokap lo tahu kalau anaknya lagi berantakan bukan?” sambung Anna.

 “Gimana… Gimana lo bisa tahu kalau gue dateng sama bokap?” tanya Inara memastikan.

 “Restoran ini cuma tersedia ruang makan pribadi. Enggak mungkin lo dateng sendirian ke tempat kayak gini. Pasti lo dateng kesini sama nyokap lo,” Anna mencari jawaban asal yang masuk akal.

Inara menatap Anna kemudian terkekeh. “Gue mikir apaan sih, jelas-jelas di hadapan gue Zenith bukan Anna.” Gumam Inara namun terdengar jelas oleh Anna.

 “Jangan-jangan, Anna yang ngutus lo buat nolongin gue ya?”

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status