Share

PART 07

"Ya benar kata Dik Ifah, akhirnya pada Tahun kita pasrahkan segala urusan kita," timpal aku. Kemudian aku mengutip sebuah ungkapan: "Penghianat memang lebih cocok dengan penggoda. Biarkan mereka binasa bersama."

"Benar, Akhi, saya seakan-akan merasakan itu," ucap Latifah, sambil sesekali menyeka air matanya. "Saya benar-benar merasa terdzolimi. Di setiap dia menyiksa saya, saya selalu membungkam mulut saya agar tidak keluar jeritan. Namun di saat yang sama saya hanya bisa pasrah dan memohon pertolongan kepada Allah. Sampai suatu hari, ia diberi diberi musibah itu. Ia ditabrak lari pengendara sepeda motor pada saat ia sedang berjalan bergandengan tangan dengan istri barunya itu di Jepara. Ia sampai terlempar dan jatuh di got yang terbuka, hingga menyebabkan kedua tulang keringnya pecah dan patah."

Aku manggut-manggut. "Dik Ifah sering menjenguk suaminya di padepokan tempatnya dirawat?"

"Pernah, dua kali. Terakhir dua bulan yang lalu. Karena saya benci melihat istri mudanya, saya pun tak pernah menjenguknya lagi."

"Apa Dik Ifah tak berniat untuk menggugat cerai suaminya, misalnya. Maaf..."

"Terkadang ada keinginan itu, Akhi," kedua mata Latifah tampak kembali menggenang, dan beberapa bulir-bulir bening dibiarkannya menetes. "Tapi keinginan itu terhapus oleh rasa kasih sayang saya kepada kedua buah hati saya. Saya tak ingin mereka akan kehilangan figur seorang ayah mereka. Dan alhamdulillah, Akhi, kedukaan saya agak terhapus oleh keberadaan mereka. Mereka adalah anak-anak yang sangat baik dan penurut. Biarlah saya berjuang sendiri untuk menghidupi dan membesarkan mereka. Dan alhamdulillah, rejeki saya Allah mudahkan. Saya bisa memenuhi kebutuhan mereka, termasuk untuk mencicil rumah ini tiap bulannya."

"Syukur alhamdulilah, Dik. Dik Ifah adalah seorang ibu yang tangguh," pujiku secara tulus. "Akhi harus angkat topi untuk itu, dan untuk semua kelebihan yang Dik Ifah miliki. Terus-terang, Akhi sangat bahagia karena memiliki sahabat seperti Dik Ifah."

"Saya juga Akhi. Saya sangat bahagia punya sahabat seperti Akhi," sahut Latifah.

Sesaat aku terdiam, merenungi nasib yang dialami oleh wanita cantik berwajah lembut dalam layar hapeku itu. Jujur, aku benar-benar merasa terenyuh setelah mendengar kisah hidupnya. Dia memiliki cinta yang sangat besar, tetapi justru suaminya membuatnya menderita. Menurutku, dia adalah seorang bidadari yang disisihkan justru oleh laki-laki pujaannya dan yang cintanya ia pertahankan dengan gigih.

"Dulu...," ucapku, kemudian. "Akhi pernah sekali menyakiti fisik istri Akhi, dan itu pun dilakukan secara spontan. Tapi Akhi sangat menyesal hingga saat ini, dan mungkin sampai kapan pun. Benar kata pujangga, setelah yang kita miliki hilang dari kehidupan kita baru kita menyadari dan menyesali tindakan kita."

"Tapi kan Akhi sangat mencintai istri Akhi, kan?"

"Tentu saja. Akhi teramat mencintainya. Tapi dia...," aku tak melanjutkan ucapanku. Seolah-olah ada segenggam kain kering yang menyumbat esofagusku. Setitik cairan bening yang muncul di sudut mataku kuusap dengan ujung jari tengahku.

"Tapi kenapa, Akhi...?" tanya Latifah. Ia mengamati perubahan wajahku yang seolah-olah tiba-tiba tertutup mendung tipis.

"Tapi Allah lebih mencintainya, Dik Ifah," sahutku, tanpa menatap ke layar hapeku. "Dia telah pergi untuk selama-lamanya, meninggalkan Akhi dan kedua buah hatinya."

"Innalilahi wa innailaihi rajiun," ucap Latifah. Ada kekagetan yang tergambar di wajahnya. Tentu dia tak menduga jika aku sudah berstatus duda. "Ifah turut berbelasungkawa, Akhi. Semoga almarhumah Husnul khatimah. Amin Allahumma amin."

"Amin Allahumma amin. Terima kasih atas doanya, Dik Ifah."

"Ya, Akhi. Semoga Akhi dan anak-anak Akhi tabah, ya?"

"Insha Allah. Tapi syukurnya si bungsu tak sempat mengenal wajah ibunya. Hanya yang sulung yang masih mengingat-ingat wajah mendiang ibunya, dan kadang ia suka membuka album untuk melihat foto-foto mendiang ibunya."

"Terenyuh Latifah mendengarnya, Akhi," ucap Latifah. "Sudah beberapa lay, Akhi?"

 

"Sudah sepuluh tahun," jawabku. "Akibat mengalami pendarahan hebat dan tiba-tiba pasca partum si bungsu."

"Sudah cukup lama ternyata ya, Akhi? Maaf, apakah Akhi selama ini tidak pernah berfikir untuk menikah lagi? Biar ada yang mengurus Akhi dan anak-anak?"

"Tentu saja Akhi memikirkan hal itu, Dik Ifah," sahutku. "Tetapi mungkin Allah belum saatnya memberi Akhi jodoh. Dulu Akhi seorang PNS, tetapi setelah istri Akhi meninggal, Akhi mengajukan diri untuk pensiun muda karena ingin konsentrasi mengurus dan membesarkan kedua buah hati Akhi. Akhi lalu membangun usaha bengkel, dan alhamdulillah, usaha itu dapat berkembang dengan baik.'

"Subhanallah, Akhi seorang ayah yang sangat luar biasa, rela mengorbankan karir dan jabatan Akhi demi anak-anak Akhi. Oh, mengapa suaminya Ifah justru bersikap sebaliknya, Akhi? Demi wanita lain dia ikhlas membuang anak istrinya sendiri. Hiks..." ucap Latifah, lalu terisak.

"Ya, Dik Ifah harus tabah dan banyak-banyak berdoa, semoga Allah membalikkan hati suaminya Dik Ifah sehingga rumah tangga Dik Ifah kembali seperti sedia kala. Tentu ini semua adalah cobaan dari Allah. Akhi rasa, Dik Ifah lebih paham tentang hal itu. Bisa jadi Allah menguji kita dengan mengambil sesuatu yang sangat kita cintai dan menggantinya dengan yang jauh lebih baik. Allah Maha Pengatur segala peri kehidupan umatNya," aku mencoba sekedar membesarkan hatinya Latifah. Walau sebenarnya, nasib kami agak-agak mirip juga, yaitu: sama-sama kehilangan orang yang kami cinta, raib dari kehidupan kami. Hanya bedanya, orang yang aku cintai diambil oleh Sang Pemiliknya yang sejati, sedangkan suaminya Latifah diambil oleh Sang Pelakor!

*.  *.  *

Jujur, aku menjadi benar-benar penasaran dengan Latihan. Apakah semua yang diceritakannya benar adanya? Bukannya tidak percaya, tetapi kalau bersikap meragukan adalah wajar dan manusiawi Keraguanku begini: apa iya wanita secantik dan selembut Latifah ini tega disia-siakan oleh suaminya karena lebih memilih wanita lain? Artinya, apakah semua yang ia ceritakan itu benar adanya? Lalu, apakah dia wanita wanita yang benar-benar baik dan halus budi pekertinya seperti yang dia tampakkan di depan layar hapeku di kala mengadakan video call? Jadi, untuk menjawab keraguanku aku harus mencari informasi yang akurat tentang dia. Maka untuk memperoleh itu aku harus menggunakan jasa seseorang. Seseorang untuk melakukan semacam misi spionase kecil-kecilan.  Tak mengapalah aku harus mengeluarkan sedikit dana untuk itu. Bukan apa-apa, masalahnya aku pernah mempunyai pengalaman buruk dengan seorang wanita yang aku kenal di dunia maya, yang cerita akhirnya: aku tertipu habis-habisan. Begitulah. Jadi, akibat pengalaman yang rada-rada pahit setengah kecut itu, membuat aku seperti trauma dan harus berhati-hati untuk bergaul lebih dekat dengan seseorang di dunia maya. Wong, di dunia nyata saja kita terkadang bisa tertipu oleh seseorang yang telah kita kenal. Iya nggak?

Kebetulan salah satu karyawanku di bengkelku yang di cabang Magelang ada yang berasal dari daerahnya Latifah itu. Namanya Mirdas. Dia pemuda berusia 23 tahun. Dan kebenaran pula kampungnya Mirdas berdekatan dengan komplek tempat tinggalnya wanita itu. Artinya, misi spionase yang akan dilakukannya jadi lebih mudah. Lalu aku Midas aku tugaskan untuk melakukan spionase kecil-kecilan itu. Dia kusuruh pulang ke daerahnya agar ia dapat mengumpulkan informasi tentang Latifah. Aku menunjukkan nama akun F******k-nya Latifah Khairani kepada Mirdas.

"Kira-kira berapa lama waktu yang kaubutuhkan untuk mengumpulkan data dan informasi tentang wanita itu?" tanyaku pada Mirdas.

"Insha Allah, Bos, jika tak ada halangan, sekitar satu mingguan saya dapatkan informasi lengkap tentang Bu Latifah ini," jawab Mirdas dengan nada optimis dan meyakinkan.

"Baiklah," ucapku. "Jika kamu mendapatkan info yang akurat tentang wanita itu, aku akan memberimu bonus dua kali gaji ke kamu." Lantas aku menyodorkan sebuah amplop coklat kecil ke depannya. "Ini buat keperluan kauselama menjalankan misi."

"Siap, Bis! Hari ini pun saya akan balik ke daerah saya."

"Ok, selamat bertugas!"

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status