Share

PART 08

Misi yang aku berikan kepada Mirdas itu tepat di Minggu ketujuh aku berteman dengan Latifah di F******k.

 Dan, Mirdas melaksanakan tugas yang kuberikan itu dengan baik. Tak butuh satu Minggu dia sudah kembali ke Magelang dan menghadap aku di ruang kerjaku. "Gimana, gimana, hasil kerjamu, Boy?" tanyaku seraya mempersilakan dia duduk di kursi di depan meja kerjaku.

"Alhamdulilah, Bos, semua info dan data yang saya dapatkan ini akurat, karena di samping saya menggunakan jasa seorang teman saya yang sekampung dengan Bu Latifah, saya juga sempat dua kali datang ke tempatnya Ni Latifah dengan pura-pura membeli rokok. Beliau membuka toko sembako di depan rumahnya," cerita Mirdas.

Itu benar!, batinku. "Lantas bagaimana menurut Mirdas  tentang Bu Latifah itu?" tanyaku, menyembunyikan rasa antusias dan penasaranku.

"Dari tampilan fisiknya, beliau benar-benar cantik, Bos. Cantik sekali;"

Iya, aku sudah tahu itu, batinku lagi. Aku sedikit tersenyum lalu bertanya lagi, "Seperti itukah?'

"Menurut penilaian saya ya seperti itu, Bos. Beliau sangat cantik dan berwibawa. Malah lebih cantik dari yang terlihat di foto-fotonya," ucap Mirdas lagi dengan wajah serius dalam sikapnya yang tetap sopan.

Aku menyembunyikan senyum dengan sapu tanganku mendengar cerita pemuda di hadapanku, dan kembali membatin,  Aku harusnya membenarkan penglihatannya itu, namun aku justru berkata, "Ok, sekarang ceritakan hasil kerjamu."

Mirdas lantas menceritakan seluruh info dan hasil temuannya tentang Latifah. Aku pun mendengarkannya dengan seksama. Dan apa yang diceritakan oleh Mirdas tak jauh berbeda dengan yang Latifah sendiri ceritakan ke aku. Artinya, apa yang wanita itu ceritakan kepada aku tidaklah mengada-ada, tetapi memang menurut fakta yang sesungguhnya seperti bagaimana yang ia alami. Kecuali hal-hal yang memang belum pernah diceritakan oleh Latifah ke aku, seperti misalnya tentang kondisi kehidupan Latifah dalam hal membesarkan kedua anaknya selama pisah tinggal dengan suaminya, sejak setahun yang lalu. Menurut Mirdas, Latifah tinggal di sebuah rumah dengan tipe sederhana dengan status kredit di sebuah komplek perumahan. Di situ ia membuka toko sembako kecil-kecilan. Suaminya sudah amat jarang datang menjenguknya dan kedua anaknya bahkan sejak sebelum suaminya itu mendapat musibah ditabrak lari. Sebelum itu, menurut temannya Mirdas, jika pun datang hanya sebentar, tak lama, dan tak pernah menginap. Mungkin hanya datang mengambil sesuatu yang dia butuhkan, terus pergi. Selanjutnya, menurut info dan data yang Mirdas dapat, oleh masyarakat di lingkungan perumahan tempat tinggalnya, Latifah dipanggil dengan sebutan ustadzah, Ustadzah Latifah, karena dia suka memberikan tausiyah dalam pengajian ibu-ibu di komplek.

"Ya, begitulah info dan data yang saya dapatkan, Bos. Namun secara garis besar, Ibu, eh, Ustadzah Latifah adalah wanita yang cantik dan sangat penyabar orangnya. Dua kali ketika saya datang membeli rokok di tokonya, saya mendapat kesan, bahwa beliau memang orang yang sangat ramah dan halus budi bahasanya "

"Ok, Mirdas, terima kasih buat kerja samanya. Oh ya, nanti saya transfer ke rekeningnya, ya?" ucapku. Aku benar-benar merasa puas dengan info dan data yang diperoleh oleh karyawanku itu.

"Sama-sama, Bos, terima kasih."

"Ya, sama-sama."

Setelah Mirdas keluar dari ruang kerjaku, aku merilekskan tubuhku di kursi kerjaku dengan setengah berselonjor.  Kupejamkan kedua mataku, membayangkan wajah Latifah sambil menyebut namanya berkali-kali dalam hatiku. "Ya Allah, maafkan aku karena sempat sedikit meragukan pengakuan wanita itu," gumamku, lirih. Ternyata memang benar, Latifah tengah dirundung duka dan nestapa yang teramat dalam. Pantas dia suka meneteskan air mata dan terisak ketika bercerita tentang nasib rumah tangganya kepadaku. Namun demikian, dia tetaplah seorang wanita yang tegar di balik kelembutan sikap dan wajah cantiknya. "Kasihan nasib wanita itu," gumamku, seolah-olah kepada diriku sendiri.

Ada panggilan masuk audio via messenger. Ternyata dari Latifah. Panjang umurnya dia, batinku. "Assalamualaikum, Dik Ifah. Bagaimana kabarmu hari ini?" sapaku.

"Waalaikumsalam, Akhi. Alhamdulilah, baik, Akhi. Akhi sudah di tempat kerja, ya?" Suara khas Latifah yang lembut terasa nyaman dalam hatiku.

"Syukurlah. Iya nih, Dik Ifah. Di bengkel cabang Magelang," sahutku. "Dik Ifah sendiri lagi apa?'

"Sukses selalu, Akhi. Ini saya baru pulang dari pasar, beli dagangan."

Aku langsung teringat dengan yang diceritakan oleh Mirdas barusan,bahwa Latifah membuka toko sembako kecil-kecilan di bagian depan rumahnya. Artinya, beban ekonomi yang dia tanggung sangat berat. Dia harus menanggung kebutuhan kebutuhan diri dan kedua buah hatinya. Belum lagi dia harus menyisihkan pendapatannya dari berjualan itu untuk mencicil rumah yang ditempatinya. Jujur, andaikata aku berada di posisinya Latifah pun, tentu kondisi seperti itu sangatlah berat.  Tapi aku yakin, ia adalah wanita yang sangat tangguh. Tangguh jiwanya, tangguh semangatnya, tangguh dalam mengemban tanggung jawab sebagai seorang ibu, dan tangguh dalam berikhtiar dan berdoa. Setelah mendapatkan semua tentangnya dari Mirdas, maka makin kagum aku terhadap wanita itu.

"Amin Allahumma amin. Terima kasih, Dik Ifah..," aku baru menyahut agak lama.

"Iya sama-sama, Akhi.'

"Dik Ifah...," tiba-tiba aku memanggilnya.

"Iya, Akhi...?"

Sesaat aku terdiam. Sebenarnya aku persisnya hendak mengatakan apa? Aku jadi kebingungan sendiri. Tapi aku ingin melihat wajah wanita malang itu, lantas aku mengalihkan audio menjadi panggilan video.

 

Saat kami sudah saling melihat, Latifah langsung tersenyum dan bertanya. "Akhi hendak berkata apa?"

"Eng...oh ya, kalau boleh Akhi tau, toko sembako Dik Ifah sebesar apa?" Tiba-tiba aku bertanya demikian.

"Ya nggak besar sih, Akhi. Cuma memanfaatkan sebagian halaman depan rumah saja. Halaman yang tak luas. Biasalah Akhir, hanya rumah tipe sederhana," sahut Latifah. Ia mengarahkan kamera handphone-nya pada seantero ruangan toko sembakonya. Bagian depan tokonya itu berhadapan langsung dengan lorong komplek.

"Kalau boleh Akhi tau, pendapatan rata-rata Dik Ifah per hari dari jualan itu berapa?"

Latifah terlihat berpikir sesaat sebelum menjawab, "Tak banyak sih, Akhi. Tapi alhamdulillah, cukuplah untuk memenuhi kebutuhan saya dan anak-anak."

"Untuk kebutuhan yang lain bagaimana? Maksud Akhi, buat kebutuhan sekolah kedua buah hatimu, misalnya," sengaja aku tak sampai menyinggung soal untuk membayar cicilan rumah, misalnya.

Tapi kemudian dia berkata, "Iya saya sisihkan buat mencicil rumah ini juga, Akhi."

"Oh gitu?" Benar juga. Kupikir Latifah punya beban ekonomi yang sangat berat, tetapi karena dia wanita yang tangguh dan bagus imamnya, kondisinya itu tak ia tampakkan di wajah maupun lewat keluhan. "Tapi suami masih suka mengirimkan uang belanja, kan?"

"Latifah tersenyum dikulum yang disertai gelengan kecil. "Untuk kebutuhan dia saja sekarang dicukupkan oleh ortu dan mertuanya, Akhi, karena dia belum bisa bekerja, masih menjalani pemulihan. Dan saya dengar, dia sudah di-PHK oleh perusahaan tempatnya bekerja."

"Ooh...," hanya itu yang keluar dari mulutku, karena agak kaget. Seketika itu pun aku langsung berfikir, bahwa suami Latifah tengah memanen buah dari perbuatannya sendiri, walau aku tidak mengistilahkannya sebagai sebuah karma. Aku lalu mengalihkanku sendiri dengan bertanya, "Kalau dipikir, cukup berat juga ya beban ekonomi yang dialami oleh Dik Ifah?"

"Ya kalau dirasa malah sangat, Akhi," ucap Latifah. "Tapi saya selalu bersyukur dan qonaah saja. Dan alhamdulillah, saya tetap diberi rezeki oleh Allah, walau sekedar untuk hidup, Akhi."

Aku manggut-manggut. "Umpama jika toko sembako Dik Ifah itu dilengkapi dagangannya, mungkin pendapatan Dik Ifah bisa naik, ya?'

"Ya tentunya, Akhi. Kebetulan di komplek ini baru beberapa orang yang jualan seperti saya ini. Dan itu pun yang lain lumayan lebih lengkap toko saya, Akhi."

"Apa Dik Ifah punya rencana untuk membesarkan tokonya? Maksud Akhi, memperlengkap isi tokonya."

"Tentu ada, Akhi. Saya lagi mencoba untuk mengajukan pinjaman KUR. Jika bisa..."

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status