Share

PART 12

Kukira Latifah sedang menceritakan penderitaan batinnya. Maka aku pun hanya menanggapinya dengan berkata, "Iya, benar juga ya Dik ya?"

"Aku suka saudara juga, Akhi, perempuan, namanya Syarifah," Latifah lanjut bercerita," Dia juga senasib dengan saya. Suaminya pun meninggalkannya demi wanita lain, justru setelah dia menjadi seorang pengusaha yang cukup maju. Dia sudah cerai. Dulu modal usahanya itu adalah dari isterinya. Dulu sebelum menikah dengan mantan suaminya itu sudah sukses dalam usaha penjualan on-line." saudara saya memiliki jaringan bisnis penjualan on-line."

Aku mendengarkan cerita Latifah dengan seksama, dan mencoba ikut merasakan apa yang dirasakan olehnya. Namun agar tidak berlanjut mengungkit kisah getirnya, aku pun mengalihkan pembicaraan ke topik lain. "Ini barusan Akhi sudah booking tiket kereta api ke Demak, Dik. Turun di Stasiun Brumbung. Tempatnya Dik Ifah jauh nggak dengan Stasiun Brumbung?"

"Oh, syukurlah. Duh, Ifah jadi senang sekali mendengarnya, Akhi," ucap Latifah dengan wajah langsung berubah gembira. ", Nggak begitu jauh, Akhi. Hanya sekitar 15 menit dengan naik kendaraan."

"Ini katanya kereta tiba di Stasiun Brumbung menjelang Subuh. Akhi akan check-in di hotel sekitaran stasiun. Jadi Dik Ifah akan datang ke hotel seperti rencana Minggu yang lalu itu, ya?"

"Iya Akhi, saya akan datang menjenguk Akhi di hotel."

"Akhi rencananya seharian akan bersama Di Ifah di Demak, baru sorenya ke Jogja. Akhi pengen jalan-jalan dengan Dik Ifah ke destinasi-destinasi wisata di daerah Demak," ucapku.

"Oh, tentu, Akhi. Saya akan mencatat tempat-tempatnya ya, Akhi?

"Siiip! Berarti Dik Ifah ke hotel pakai taksi saja, karena kita besok akan menyewa mobil rental saja untuk kita berkeliling."

"Ok, siap, Akhi sayang!"

*.   *.   *

Menjelang subuh, kereta yang aku tumpangi dari Stasiun Gambir Jakarta telah tiba di Stasiun Brumbung, Kembangarum, Demak. Suasana udara pagi kotanya para aulia  ini yang sejuk langsung menyambutku ketika aku keluar dari kabin kereta.

Selanjutnya, dari Stasiun Brumbung aku naik taksi menuju sebuah hotel  yang terletak di Jalan Lingkar Demak-Kudus. Perjalanan  menuju hotel hanya butuh beberapa puluh menit saja, kebetulan jalannya masih relatif sepi.

Setelah check-in, di hotel yang telah aku booking itu, hal pertama yang aku lakukan adalah menyegarkan tubuh dengan mandi air hangat, kemudian menghubungi Latifah via video call.

"Assalamualaikum, Dik," aku menyapa, ketika wajah cantik Latifah muncul di layar handphone-ku.

Wanita itu menjawab salamku, lalu bertanya, "Akhi sudah sampai Demak?"

"Iya, Dik, ini sudah berada di kamar hotel. , Malah sudah mandi juga," jawabku. Dan, "Dik Ifah ke mari kira-kira jam berapa ntar?"

"Insya Allah, jam sembilan saya sudah tiba di hotel, Akhi."

"Ok, Akhi nunggu, ya? Assalamualaikum."

"Baiklah Akhi. Waalaikumsalam."

Berarti masih sekitar tiga jam lagi, pikirku. Maka kesempatan itu kupergunakan untuk istirahat. Setelah sholat subuh, aku lalu turun ke bawah lobi hotel untuk menanyakan mobil yang bisa aku rental dalam satu hari. Setelah itu aku naik kembali ke kamarku yang terletak di lantai dua, aku langsung naik ke tempat tidur. Hanya butuh waktu sebentar, aku sudah terlelap, dan terbangun saat ada telepon dari resepsionis hotel yang memberitahukan kehadiran tamuku, Latifah.

"Ya, terima kasih, saya akan menemuinya di lobi," ucapku.

Sekitar lima belas menit kemudian aku turun menemui Latifah di lobi hotel. Rona wajah wanita itu tak bisa menyembunyikan kegirangannya saat melihat kemunculanku. Mungkin karena ia sudah mengenakan kaos tangan yang tipis, sehingga ia tak ragu lagi untuk menyalami aku dan menggenggam tanganku lumayan erat, sehingga aku sempat merasakan tangannya yang begitu lembut sekalipun kulitnya tak bersentuhan langsung dengan kulitku. Dan kutangkap tatapan sepasang mata indah nan sayu itu adalah tatapan rindu yang terbebaskan.

Oh my God! Dia benar-benar wanita yang cantik, batinku. Sebentar-sebentar dia memandangku lekat-lekat dengan wajah senang. Aku tahu, Latifah sedang senang hatinya melihatku dan kehadiranku di kotanya, dan bukan sedang mengagumi wajahku yang tidak ganteng lagi, tentunya. Hehehe.

 

"Maaf, nunggunya agak lama," ucapku, sembari membalas genggaman tangannya.

"Nggak kok, Akhi. Tadi Akhi sempat tidur dulu ya?"

"Iya, karena dalam kereta Akhi kurang normal tidurnya," sahutku. Kuajak dia duduk di sofa yang berada di lobi. "Cuma sendirian?"

""Iya, cuma sendiri," jawab Latifah, tanpa melepaskan tatapannya pada wajahku. "Ternyata Akhi orangnya tinggi kekar, ya?  Ifah perkirakan postur Akhi itu sedangan, tidak tinggi dan tak pendek. Juga sisa kegantengannya masih tampak."

Aku tertawa oleh kalimat terakhirnya Latifah. "Bagi laki-laki yang sudah melewati usia 35 tahun itu kegantengan dari masa mudanya sudah banyak terlucuti, ya oleh usia dan perjuangan hidupnya buat keluarganya. Laki-laki, setelah ia memiliki istri dan anak, sudah tak lagi memikirkan soal kegantengannya lagi. Mau kegantengannya masih ada atau sudah luntur, dia tak peduli. Ckckckck.

"Benar juga ya, Akhi?"

"Iya, dong?!" ucapku. "Oh ya, waktu muda dulu Akhi hobi voly dan basket. Bahkan untuk basket Akhi masuk dalam dan sebuah regu basket yang cukup terkenal dulu di kotanya Akhi di Jambi sana."

"Oh, pantesan!" ujar Latifah.

"Ngomong-ngomong, kedua anaknya Dik Ifah di rumah sama siapa? Ini kan hari Ahad, ya?" tanyaku.

"Mereka di rumah buleknya, Syarifah."

"Oh, yang pernah Dik Ifah ceritakan itu, ya?"

"Iya, Akhi. Kebetulan anak buleknya itu seusia mereka juga. Satu orang."

"Oh gitu?" sahutku. "Dari namanya, Dik Syarifah juga pasti juga cantik seperti Dik Ifah," ucapanku.

"Kecantikan itu relatif kan, Akhi?"

"Tapi kecantikan Dik Ifah ini mutlak, kok."

Latifah langsung menutup mulutnya hijabnya, tertawa, sembari menatap wajahku. "Akhi ngegombalnya ngeri-ngeri sedap," ucapnya. "Oh iya,  wajahnya Syarifah itu ya seperti saya, Akhi."

"Oh ya? Ya berarti feeling-nya Akhi benar, dong,?" ucapku. "Dia bisnis apa sekarang? Atau masih dengan bisnis on-line-nya?"

 

"Iya, masih, Akhi. Dia lebih pintar cari uangnya ketimbang Ifah," cerita Latifah.

"Tapi Dik Ifah juga wanita yang pandai mencari rejeki kok, dan pekerja yang ulet," pujiku.

"Alhamdulilah, Akhi. Ifah berharap suatu saat Akhi bisa mengenal Syarifah juga. Saya juga pernah bercerita ke dia tentang Akhi ke dia. Dan dia sangat senang karena saya memiliki sahabat yang baik dan perhatian seperti Akhi Zoel."

"Oh ya? Aamiiin. Semoga suatu saat Akhi bisa bersilaturahim dengan Dik Syarifah juga. Titip salam Akhi kepada beliau."

"Insha Allah, Akhi. Saya akan sampaikan."

Seorang pegawai hotel datang mendekati kami. "Permisi... dengan Bapak Zoel Hendri?"

"Benar, saya Pak Zoel Hendri," jawab aku. "Ada yang bisa saya bantu?"

"Oh iya, ini Pak, mobil yang Bapak pesan sudah siap di areal parkir," ucap pegawai hotel itu, lalu menyerahkan kunci mobil dan STNK-nya.

"Oh, baik, terima kasih," sahutku. "Tagihannya nanti sekalian dengan tagihan hotelnya, ya?"

"Siap, Pak. Mari..."

"Ya, mari..."

DMCA.com Protection Status