Share

PART 02

Akan tetapi, di luar dugaan, pemuda yang tengah ia perhatikan, tiba-tiba mengangkat wajahnya dan otomatis melihat ke arahnya. Si wanita muda tak mampu menyembunyikan salah tingkahnya, dan kulit wajahnya yang putih halus langsung bersemu merah. Namun untungnya di pemuda, Jasman, mengangguk pelan dengan sikap hormat sembari tersenyum ringan kepadanya.

Jasman hendak mengembalikan perhatiannya pada layar hape-nya, tetapi arah pandangan Jasman tertahan oleh kehadiran tiga orang laki-laki ke dalam kedai. Satu orang bertubuh agak gemuk yang dibalut oleh jas tuxedo. Tampangnya lumayan sangar namun tertutup oleh aura wibawanya. Sementara dua pria muda lain berpenampilan rambut ala punk yang dicat warna pirang anjing. Tubuh keduanya tetap tampak kekar dan berotot walau juga terbungkus oleh jaket kulit yang mereka kenakan. Mungkin keduanya adalah sepasang body guard dari laki-laki yang ber-tuxedo.

Saat laki-laki berpenampilan bos-bos itu melangkah mendekati si wanita muda, Jasman langsung menduga mungkin ia adalah suami dari si wanita muda. Atas dugaan itu, ia pun lantas kembali pada layar hape-nya. Emde Mallaow baru saja memosting sebuah cerpen. Ia selalu menyukai  setiap postingan dari laki-laki yang masih satu daerah dengannya itu.  Kebetulan juga Bang Emde Mallaow termasuk seniornya juga, karena beliau pernah kuliah di kampus yang sama juga dengannya.

Konsentrasi Jasman agak teralihkan oleh suara berat laki-laki di depannya terhadap di wanita muda yang didatanginya.

"Maaf, karena aku akhirnya menemukanmu juga," ucap pria itu. Suaranya dingin dan tanpa tekanan, tetapi mengandung daya amarah.

Jasman sebenarnya tak ambil peduli, karena toh sama sekali bukan urusannya. Bahkan ia berusaha untuk tidak mau mencuri dengar dengan ucapan laki-laki terhadap si perempuan. Namun karena jaraknya tak jauh, maka kata-kata laki-laki itu tetap jua tertangkap dengan baik oleh telinganya.

"Sampai ke ujung dunia pun kaupergi menghindar, aku akan tetap menemukanmu! Aku tidak akan pernah berhenti untuk mencari dan mendapatkanmu lagi. Kamu tidak akan pernah melepaskanmu! Karena itu, kamu tidak bisa pergi begitu saja dari kehidupan aku. Ingat itu!" Suara berat namun tegas di laki-laki mengisyaratkan bahwa si perempuan agar tidak  lagi menghindarinya.

"Sudahlah Mas," jawab si wanita dengan suara halus dan pelan. "Melanjutkan hubungan kita tidak akan membawa kebaikan, selama orang-orang di sekitar Mas menolak mentah-mentah keberadaanku di samping Mas. Lagi pula, selama ini aku tidak sama sekali tidak merasakan cintanya Mas terhadap aku. Jadi Mas, lupakan aku. Mas harus legowo dan membiarkan aku pergi dengan nyaman dari kehidupannya Mas."

"Tidak! Tidak bisa!" suara si pria sontak naik, membuat mata semua orang yang ada dalam kedai itu tertuju kepadanya.

Demikian juga Jasman. Ia memandang ke punggung si laki-laki itu, karena saat itu laki-laki itu sedang membelakanginya.

"Kamu jangan membuat kesabaranku hilang dengan keputusan sepihak mu. Kamu selalu menghindar untuk bertemu aku. Sekarang akan menemuimu di sini. Aku harap, kamu jangan membuatku kecewa dan marah. Jangan bersikap bodoh! Selama ini sudah memintamu baik-baik, kenapa kamu masih juga keras kepala?!"

 

"Sudah cukup Mas!" si wanita jadi terpancing juga amarahnya. "Selama ini aku sudah cukup bersabar bersama Mas. Namun jika batas perjanjian itu sudah berakhir, tentu aku pun sudah bebas untuk menentukan arah hidupku sendiri! Jadi, selama ini aku menghindar untuk bertemu lagi dengan Mas itu sudah tindakan yang wajar dan tepat. Seharusnya Mas paham, bahwa aku benar-benar sudah ingin pergi buat selamanya dari kehidupan Mas!"

"Baik!" ucap si pria, "Tapi ada beberapa hal penting yang harus kita bahas dan selesaikan. Setelah itu kamu boleh pergi pergi ke mana pun yang kamu mau, entah ke neraka sekalipun!"

"Ya Monggo, Mas bicarakan saja sekarang!"

"Tidak! Kita harus bicarakan di tempat lain. Kamu harus ikut dengan kami!"

"Kami...?"

Belum sempat wanita muda menyelesaikan ucapannya, dua orang pria muda yang duduk di belakang mendehem nyaris bersamaan lalu   bangkit berdiri dengan sikap tenang dengan tangan memeluk dada. Keduanya memang tidak berbicara, namun sorot mata dan tampang mereka  tenang seolah-olah memberi sinyal pada si wanita muda bahwa mereka adalah sepasang manusia kejam yang berdarah dingin.

Saat salah satu dari dua body guard itu berkata dengan pelan dan berat, "Ayolah Nyonya, ikut kami...!"

 

Si wanita dengan suara tinggi menolak: "Tidak! Saya tidak mau ikut!"

"Pokoknya kamu harus ikut!" si laki-laki ber-tuxedo setengah membentak dan memaksa. "Aku peringatkan pada kamu, tolong jangan membuat kesabaranku menjadi benar-benar hilang. Aku bilang bertindak tanpa welas terhadap kamu!"

 

"Kamu mesti gitu, Mas," sahut di wanita.

 

"Katanya Mas mencintai aku dan nggak mau kehilangan aku, tapi kamu selalu menyakiti aku secara lahir dan batin! Aku ini manusia, Mas, bukan seonggok boneka seperti dulu sering Mas bilang! Jadi, apa pun yang akan Mas lakukan terhadap aku di sini, aku tetap tidak akan mengikuti Mas lagi!"

Si pria menghela nafas panjang dan mengusap wajah gusarnya, lalu, "Mau ikut aku baik-baik tidak! Kalau tidak mau ikut secara baik-baik, terpaksa aku akan menyeretmu! Mau!"

"Mas bunuh aku pun aku tak akan ikut!" si wanita bersikeras menolak.

"Oh begitu ya? Baik!" Habis berucap demikian, ia mencengkeram pergelangan tangan kanan di wanita dengan kuat dan hendak menyeretnya.

Si wanita sontak memberontak dan berteriak. Dengan sebuah keberanian ia menggigit tangan si pria kuat-kuat.

Mendapat gigitan yang kuat itu, membuat si pria ber-tuxedo berteriak nyaring dan melepaskan cengkeraman tangannya.

"Benar-benar perempuan iblis!" ucapnya geram. Bersamaan dengan itu ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan akan dilayangkan pada pelipis di wanita. si wanita menjerit sembari menunduk dan melindungi kepalanya dengan kedua tangan halusnya.

Namun saat tangan kekar berbulu itu akan menghantam keras pelipis si wanita dan menggegerkan isi kepalanya, tiba-tiba satu tangan yang jauh lebih kekar mencengkeram tangan si pria ber-tuxedo dari arah belakang. Si pria ber-tuxedo merasakan tangannya seolah-olah terkena cengkeraman jemari tangan sebuah robot baja. Saat ia menoleh, satu wajah seorang pria nyaris menempel dengan wajahnya, tersenyum, dan berkata pelan, "Seorang waria pun tidak mau menzolimi seorang wanita, lebih-lebih di muka umum seperti ini!" Lalu satu ludahkan bertengger di wajahnya.

Mendapat perlakuan dan hinaan yang demikian rupa itu dari seorang pria asing, si pria ber-tuxedo benar-benar kaget dan murka. Dengan kasar ia melepaskan pergelangan tangannya dari cengkeraman sang pemuda asing, yang tak lain adalah Jasman, lalu mengusap air ludah yang menempel di wajahnya. "Kamu ini siapa, berani ikut campur urusan saya! Kurang ajar sekali! He, mau sok jadi pahlawan kesiangan ya!?"

"Ah, sorry, bro," jawab Jasman tenang, "saya mulanya tak mau peduli urusan sampeyan dengan mbaknya. Tetapi karena sampeyan mau bertindak zalim terhadap mbaknya, maka sebagai manusia yang beradab saya harus peduli dan mencegahnya. Ingat, bro, mencegah dengan ikut campur itu adalah dua hal yang berbeda."

"Ah, pandai berceloteh kau!" sanggah si pria ber-tuxedo. Satu anggukan pelan kepalanya. menjadi sebuah kode kepada kedua body guard-nya agar melakukan suatu tindakan.

Kedua body guard-nya yang bertampang sangat itu pun paham dengan kode itu, dan tanpa membuang-buang waktu lagi keduanya langsung menyerang Jasman secara serentak dengan mengiblatkan tendangan keras ke arah Jasman.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status