Share

Chapter 8 : Bad luck

Sona Aprilia, ia mengambil satu botol susu dan satu roti sobek. Dia membawanya ke kasir lalu segera membayarnya. Bayangan Sona hanya bisa tergambar wajah menyebalkan Nagara. Ingin sekali menendang hidung pria itu sekali lagi. 

"16 ribu, Kak Son," ucap sang kasir yang sudah mengenal Sona.

Wati memasukan barang yang dibeli Sona di plastik kecil lalu memandang gadis itu dengan heran. "Woy ... Jangan melamun disini deh! Antrian banyak," ucap Wati.

Sona terkejut, ia langsung mengambil uang di sakunya lalu membayar pada Wati. Setelah mendapat kembalian ia keluar dari minimarket. Sona masih terdiam membisu, kenapa hidupnya bisa sangat sial sekali?  Dia hanya ingin ketenangan dalam menjalani hidup. 

Tin ... tin ...

Suara klakson berbunyi, Sona memandangnya dan bisa melihat Sekertaris Kai yang berada di mobil itu. Langkah kakinya ia percepat supaya bisa menghindari Sekertaris Kai. Pria tinggi itu mengejar Sona dan pada akhirnya Sona mengalah juga. Dia memandang Sekertaris Kai dengan heran. 

"Ikut aku!" ucap Sekertaris Kai menarik tangan Sona. 

Sona menahan tangannya supaya pria itu menghentikan langkah kakinya. Sorot mata Sona seolah curiga, pasti ada sesuatu hal yang membuat Sekretaris Kai mengajak Sona ke suatu tempat. 

"Kita sudah putus, jangan menemui aku lagi!" ucap Sona.

Ekspresi wajah Sekertaris Kai mendadak dingin, ia tidak menggubris ucapan Sona lalu menyeret Sona secara paksa. Wanita itu tentu saja memberontak dan pada akhirnya mengalah. Sona masuk ke dalam mobil, di benaknya ia sangat penasaran dengan pria aneh itu.

"Kita sebenarnya mau ke mana?" tanya Sona. 

"Rumah Kakek Adhiatma."

Sona sangat terkejut, ia segera membuka pintu mobil namun sudah terkunci. Untuk apa ia di bawa ke rumah kakek dari Nagara? Apakah beliau mau menuntut Sona karena sudah menang hidung cucunya? Semua ini membuat Sona sangat takut. Dalam perjalanan ia terus saja berdoa supaya tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Apalagi sampai masuk penjara di usianya yang masih muda. Sungguh, tak bisa terbayangkan.

"Apakah kakek Nagara akan menuntutku?" tanya Sona penasaran.

Sekertaris Kai tersenyum kecil, ia melirik Sona yang sudah sangat gugup. Sepertinya mengerjai Sona tak masalah. Sekali-kali membuat wanita itu kapok. Sekertaris Kai mengangguk dan ia melirik ekspresi Sona yang semakin panik. Sona menggigit jemarinya, bagaimana ini? Apakah ini akhir dari segalanya? 

"Kak Kai, tolong aku! Tolong yakinkan pada Kakek si Nagara itu jika aku tidak sengaja menendang putranya,"

"Hadapilah nasibmu! Itu kita dari orang yang suka seenaknya dengan orang lain."

Sona memandang Sekertaris Kai, ia sangat kesal dengan mantan pacarnya itu. Huh ... ingin sekali menendang wajahnya yang sok itu. Sekertaris Kai tersenyum kecil karena bisa sedikit menggoda Sona. 

"Kakek ingin berbicara penting padamu makanya dia menyuruhku untuk membawamu ke rumahnya."

Sona mengernyitkan dahi, ia semakin berdebar kencang. Jika ini mengenai Nagara maka ia sudah tidak bisa berkata-kata lagi atau ia harus merayu Kakek Adhiatma supaya melepaskan dari segala tuntutan? Setengah jam kemudian, mereka sampai di rumah Kakek Adhiatma, Sekertaris kai mengantarnya masuk ke sebuah ruangan mewah. Mata Sona terus terbelalak memandang rumah mewah yang di huni sendirian itu. Kapan dia bisa menikmati tinggal di rumah sebesar ini? 

Ornamen klasik terpampang di setiap sudut, pilar-pilar besar menyangga setiap sudut rumah. Tatapan Sona seolah terdekat melihat rumah yang harganya milyaran ini. Setelah sampai lorong, Sekertaris Kai menyerahkan Sona pada Zian, dialah asisten pribadi Kakek Adhiatma. 

"Uncle Zi, saya serahkan Sona pada anda," ucap Sekertaris Kai.

Sona memandang pria tampan itu, dia sangat terkejut ternyata pria itu adalah pria gila yang mengaku sebagai ayahnya. Zian tersenyum kecil membuat Sona mundur perlahan karena takut. Pria yang tiba-tiba saat itu memeluknya dan mengaku sebagai ayahnya kini sudah ada di depannya. 

Flashback saat itu, 

“Duduklah, Zi!”

“Baik, tuan.”

Zian duduk dan memesan makanan, saat mendongak melihat wanita pelayan cafe ia melihat bola mata wanita itu seperti familiar dan wajahnya nampak tidak asing.

“Silahkan, Pak! Menu cafe hari ini jika saya boleh merekomendasikan adalah daging bakar dengan lelehan keju dan juga sedang promo,” ucap wanita itu.

Zian langsung tersadar saat wanita itu menyadarkannya, Zian langsung memesan apa yang dirokemendasikan oleh wanita itu. Wanita itu tersenyum dan pergi setelah menulis pesanan Zian.

“Zi, kau sudah mempunyai istri malah masih melirik wanita lain,” sindir Kakek Adhiatma.

“Bukan begitu, tuan. Dia sangat mirip dengan orang yang saya kenal.”

Kakek Adhiatma tersenyum, ia mengancam Zian untuk tetap selalu setia pada Elara yang kini belum

bisa berjalan. Tentu saja Zian sangat mengerti sebab hanya Elara yang dia

sayangi. Beberapa menit kemudian, pelayan itu datang lagi untuk menyerahkan pesanan Zian. Namun kesialan terjadi, ia tidak sengaja menumpahkan daging panas

itu ke tangan Zian. Zian merasa kepanasan lalu menyiram air putih yang ada di depannya pada tangannya yang terkena daging itu.

“Maaf, Pak. Saya tidak sengaja.”

Wanita itu sangat ketakutan dan disaat bersamaan sang bos datang untuk melihat apa yang terjadi. Rupaya sang pelayan membuat ulah untuk kesekian kalinya.

“Maaf, Pak. Kami akan membiayai pengobatan anda,” ucap si pemilik cafe.

“Tidak perlu, Pak. Hanya luka biasa.”

Si pemilik dan pelayan itu meminta maaf yang sebesar-besarnya, setelah Zian memaafkan mereka lalu wanita pelayan itu menghadap sang bos diruangannya. Tentu saja, dia dipecat karena melakukan kesalahan yang sangat fatal.Wanita itu sangat sedih padahal pekerjaan ini yang bisa menghidupinya sehari-hari.

Zian yang sedang di kamar mandi lalu membasuh tangannya keluar dan melewati ruangan si pemilik cafe. Dia mendengarkan jika wanita itu dipecat karena tidak kesengajaan. Zian mendengar dengan seksama sampai si pria menyebut nama wanita tersebut.

“Sona, aku sudah tidak bisa menerimamu lagi. Besok kau datang untuk ambil barang-barangmu dan gajimu bulan ini. Ini kesekian kalinya kau membuat kesalahann yang merugikan kami,” ucap sang bos.

Sona mengerti, ia lalu melepas rompi kerjanya dan berpamitan untuk pulang. Saat keluar dari ruangan sang bos, ia melihat Zian berada didepan pintu. Wanita itu sekali menunduk untuk meminta maaf.

“Namamu siapa?” tanya Zian.

“Nama saya Sona Aprilia, jika anda ingin menuntut saya bisa memakai nama itu untuk melaporkan saya  pada polisi.”

Zian semakin penasaran lalu memperhatikan lengan wanita itu, perasaannya tidak karuan saat

melihat sebuah tanda lahir berada di lengan wanita itu.

Dia putriku yang selama ini aku cari?

Sona? Sona ku? Apalah benar jika kau adalah Sona putriku? Batin Zian.

Zian memeluknya dengan erat, Sona yang merasa pria ini mesum langsung mendorongnya. Dia tak habis pikir dengan pria matang didepannya ini.

“Anda tidak waras, Pak? Dasar mesum!” ucap Sona.

“Kau putriku yang hilang, kau adalah Sonalia Mawar Zianila. Kau putriku,” ucap Zian.

“Bapak salah orang, saya Sona Aprilia dan saya juga punya orang tua sendiri tapi mereka sudah meninggal," jawab Sona.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status