Share

Bayi Tabung

"Mayang," panggil Aditya, ia kembali memasuki rumah, dengan dalih, ada yang tertinggal. Aditya menemukan Mayang dan Yura sedang saling menatap di dalam kamar keponakan istrinya.

"Kelarin dulu, apa yang mau kamu omongin." Mayang menatap serius pada Yura. 

"Pacar aku itu, namanya A" Yura menatap pada Aditya, Aditya langsung menarik lengan Mayang.

"Adit, ada apa? Kok kamu balik lagi ke rumah?" Mayang bertanya dengan lemah lembut.

"Ada yang ketinggalan, kamu bisa tolong cariin gak?" pinta Aditya pada Mayang. 

"Ya, apa itu?"

"Hp aku yang satunya lagi." Aditya berpura-pura mencarinya. 

"Aku coba telepon, ya." Mayang menelepon nomor Aditya. Namun, Aditya lupa, ponselnya dalam keadaan berdering.

"Hehe." Aditya terkekeh sambil mengeluarkan ponsel yang berdering.

"Kebiasaan." Mayang pergi untuk menemui Yura lagi, dia begitu penasaran dengan sosok kekasih dari keponakannya itu. Aditya memegang pelan lengan Mayang dengan lembut dan memeluknya.

"Kamu gak ada masalah kan sama Yura." Aditya mencoba untuk mencari tahu. 

"Gak ada kok dit, kamu harus kerja kan." 

"Yaudah, kalo gitu aku berangkat ya." Aditya menoleh ke belakang, melihat situasi yang Yura dan Mayang lakukan. Aditya menggeleng pelan memberikan kode pada Yura untuk tidak membeberkan hubungan mereka yang sebenarnya pada Mayang. Saat mayang, sedang menerima sambungan telepon.

Brak! Yura hanya melirik sinis pada Aditya lalu, membanting pintu kamar. Mayang yang melihat itu, menutup sambungan teleponnya.

"Yura, Tante belum selesai ngomong loh," teriak Mayang. 

"Jangan terlalu diambil hati ya sama sikap Yura, mungkin ada sesuatu yang belum mau Yura bilang. Aku yakin, Yura bisa berubah." Aditya mencoba untuk menghibur perasaan Mayang yang tampak kecewa.

"Kamu kok masih di sini."

"Iya, sayang, ini juga aku mau pergi kerja kok," ujar Aditya. 

Mayang tengah menerka apa yang sebenarnya terjadi pada Yura, mengapa gadis yang kini tengah tumbuh menjadi dewasa itu, begitu sensitif pada dirinya. 

"Salah apa ya aku? Apa aku terlalu menyinggung perasaannya?" batin Mayang. Mayang berjaga di depan kamar Yura. Dengan hati-hati, dia mendekatkan telinga untuk menguping. Mayang masih menduga, bahwa Yura telah menyembunyikan seorang pria di dalam kamarnya.

"Untungnya, dia tidak menemukan ini." Yura memeluk figura fotonya dengan Aditya, Foto itu, cukup mesra, jika harus dikatakan bahwa Yura dan Aditya adalah om dan keponakan.

"Dasar idoit," hina Yura saat melihat Mayang tengah tertidur di depan kamarnya. Yura pun, berangkat ke kampus.

Mayang sadar, setelah pembantu rumah tangga menekan bel Apartementnya. Dia memegang kepala lalu menyentuh seluruh tubuhnya. Dan melihat kamar Yura yang telah kosong.

"Bik, beres-beresnya cepetan ya, soalnya, saya mau pergi," titah Mayang. Peraturan dalam apartement memang begitu. Asisten rumah tangga tidak diperbolehkan untuk tinggal dalam 24 jam. Sang asisten akan bekerja pagi sampai pekerjaan usai. Dan akan datang lagi, sore hari. Hal itu, memudahkan Aditya dan Yura untuk melakukan cinta terlarang mereka.

"Baik, Buk Mayang," sahut Bik Tati.

Mayang memasang anting-anting, memilih baju juga sepatu. 

"Ada apa dengan anak itu? Kelakuannya membuatku khawatir. Aku jadi semakin penasaran, siapa kekasihnya itu, siapa pria yang membuat sikapnya menjadi ketus padaku" lirih Mayang. 

"Jangan terlalu mencolok di depan Mayang!" saran Aditya. 

"Memangnya kenapa?" Yura melepaskan lengannya dari Aditya yang sedari tadi begitu erat menempel.

"Berarti kamu tidak begitu mengenalnya," tebak Aditya. 

"Mayang adalah orang yang akan mencari tahu segala sesuatu yang terjadi di sekitarmu," jelas Aditya. 

"Aku kira dia tidak cukup pintar untuk memahami hubungan kita, kakak tahu? Dia tidur sepanjang malam di depan kamarku dia mengira aku menyembunyikan pria lain di kamarku seperti orang idiot." Yura dengan bahagia menjelek-jelekan tantenya di hadapan suami dari tantenya itu. 

"Dia pasti kedinginan." Mendengarkan cerita dari Yura, membuat Aditya merasa iba pada Mayang. Sehingga, Aditya tidak sengaja melontarkan kata-kata untuk Mayang. 

"Apa sekarang waktunya untuk mencemaskan dia?" Yura menghentikan makannya dan lekas pergi.

"Yura!" Aditya mengejar Yura yang sedang cemburu.

"Pergilah padanya, jika kamu begitu khawatir." Yura menatap dengan tatapan kesal pada Aditya. Lalu, menepis lengan Aditya. Bunyi pesan dari Mayang, merelakan Yura pergi dari hadapannya. 

"Adit sayang, tebak aku lagi dimana? Aku lagi di ruangannya dokter Aira loh!" isi pesan dari Mayang, membuat Aditya kembali menuju ke rumah sakit.

"Loh, ada apa sayang?" Dengan napas yang tersenggal, Aditya menemukan Mayang di ruangan dokter Aira, seorang dokter kandungan. 

"Kenapa buru-buru dit? Kaya lagi ketahuan selingkuh aja," ledek dokter Aira. 

"Iya dit, kamu kok buru-buru gitu?" tanya Mayang.

"Karena, aku gak mau buat kamu menunggu loh, sayang." Aditya mendekati Mayang, dan duduk di samping istrinya.

"Keromantisan kalian, membuat aku iri." ungkap dokter Aira. 

"Jadi ada apa kamu manggil aku ke sini?" Aditya menatap lekat Mayang, membayangkan bahwa malam tadi, Mayang kedinginan sepanjang malam, hanya untuk menjaga Yura dari pria nakal, padahal, Aditya lah yang seharusnya Mayang curigai. 

"Aku mau kita proses bayi tabung dit, kamu mau kan, setuju kan?" tutur Mayang. 

"Apa kamu seputus asa itu?"

"Aku gak putus asa kok, dit, justru, sekarang ini aku mau berjuang, berjuang sama kamu, udah tiga belas  tahun loh, usia pernikahan kita." Mayang sedikit menitikan air mata. 

"Maafin aku ya." Aditya memeluk Mayang, Aditya teringat hubungannya dengan Yura. Mayang dengan begitu tulus mencintainya. Namun, begitu bejat, mengingat apa yang Aditya dan Yura lakukan di dalam Apartement yang seharusnya menjadi rumah paling nyaman bagi Mayang, rumah yang harusnya bisa memberikan kehangatan, ketika Mayang tidak bisa mendapatkannya di luar. 

"Dit, itu bukan salah kamu kok, aku gak bisa salahin kamu juga, mungkin, tuhan ingin kita berusaha lagi." 

"Peluang keberhasilan bayi tabung itu tergantung usia, karena Buk Mayang, berusia 30 tahun ke atas, tingkat  keberhasilannya 28 sampai 30%, banyak juga risikonya. Mental dan fisik harus benar-benar siap," penjelasan dokter Aira. 

"Kenapa manggilnya jadi Ibu sama Bapak gini sih?" tanya Aditya. 

"Jadi gini, untuk saat ini, kalian itu adalah pasien yang sedang berkonsultasi dengan saya," jelas dokter Aira. 

"Ra, kenapa sih cemberut terus," tanya salah satu dari teman Yura. 

"Tau nih, padahal, banyak loh, cewe yang iri di kampus ini sama kamu."

"Iri?" Yura menatap kedua temannya itu. 

"Iya, gara-gara itu loh, si Putra bilang sama anak-anak cewek kalo kamu itu wanita idamannya, kayanya bentar lagi mau ditembak nih," ujar Tika. 

"Cowok Gila," Gumam Yura. Kedua temannya hanya bisa menggeleng, melihat sikap Yura yang begitu acuh terhadap pria tampan, yang menjadi incaran para mahasiswi. Banyak para mahasiswi yang menyukai Putra. Namun, Yura malah mengejek pria yang begitu digemari oleh kaum hawa itu. 

"Oh, jadi ini, cewek idaman Putra, gimana rasanya? Seneng?" selidik beberapa senior perempuan.

"Aku rasanya ingin muntah," jawab Yura dengan sinis dan pergi meninggalkan para geng perempuan itu. 

"Yur? Beneran gak suka sama Putra?" tanya Dinda. 

"Yakin? Nanti nyesel loh," tanya Tika. Untuk saat ini, Yura tidak begitu mendengarkan apa yang kedua temannya itu katakan. Dia hanya sedang merasakan api cemburu, dan marah pada Mayang. Sementara itu, sosok Putra sedang mendekat ke arahnya, Putra terlihat membawa sekuntum bunga.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status