Share

1.Malam Terakhir Mencintaimu

Di bawah sinar matahari sore yang bersinar lembut, serta bunga sakura yang terus berguguran.

Seorang pria memeluk seorang wanita yang tertusuk oleh panah di jantungnya.

Wanita itu masih terlihat sangat cantik, meskipun wajahnya pucat pasi. Tangannya terulur menyentuh wajah pria yang menusuknya.

"Meskipun kamu membunuhku namun, tetap saja aku mencintaimu. Chen Xiu aku mencintaimu...," ucap seorang wanita dengan terbata dan gaun putihnya berlumuran darah.

Wanita itu tersenyum sedih. Mati di tangan kekasihnya adalah hal yang amat menyakitkan, namun dia tidak mampu membencinya.

Bahkan ketika dia membunuhnya, dia tetap mencintainya. Sang pria tidak menanggapi pernyataan cintanya dan tersenyum sedih.

Perlahan mata wanita itu terpejam untuk selamanya. Dan tangannya perlahan jatuh ke atas tanah.

Pria itu menangis dan mendekap erat tubuh tanpa nyawa itu. Angin bertiup menerbangkan bunga sakura, seakan memberikan ucapan selamat tinggal untuknya.

"Maafkan aku Yi'er. Maafkan aku. Semua ini aku lakukan demi kamu. Aku mencintaimu," ucap pria itu penuh rasa bersalah dan setetes air mata jatuh ke wajah wanita itu. Namun, ini yang terbaik untuknya. Takdir tidak mengizinkan mereka untuk bersama.

"Cut!" teriak sang sutradara.

Wanita itu membuka matanya dan berdiri begitu pun dengan lelaki itu.

"Sempurna. Kerja bagus, Ratu Lin." Sang sutradara memujinya dan tersenyum puas ketika wanita itu berjalan mendekat.

Wanita itu tersenyum tipis menambah kecantikan di wajah pucatnya akibat riasan.

"Terima kasih."

Asistennya segera menghampirinya dan memberikannya sebotol air minum yang tutupnya telah terbuka. Wanita itu menerimanya dan meminumnya.

Lin Sha Na, itulah namanya. Dia seorang Ratu Film yang memiliki karir yang sangat sukses dalam industri hiburan. Namun, di balik itu semua itu, dia adalah seorang mafia yang kekuatannya sangat ditakuti di dunia bawah.

Tidak ada satu orang pun yang mengetahuinya bahkan, kekasihnya pun tidak mengetahuinya.

"Nona, Lio Wen menelfon." Asistennya mengulurkan sebuah ponsel kepadanya.

Lio Wen adalah kekasihnya dan Lin Sha Na sangat mencintainya. Di dunia ini, dia adalah orang yang paling ia percayai.

Lin Sha Na menerima ponselnya. Dia memberikan botol itu kepada asistennya yang langsung menerimanya dan Lin Sha Na berjalan menjauh dengan ponsel di telinganya. Segera, dia menjawab panggilan itu.

''Xiao Wen, ada apa?" tanya Lin Sha Na dengan nada lembut.

Berbeda dengannya saat menjalankan misi yang menunjukkan ekspresi kejam di wajah dinginnya, saat bersama Lio Wen dia bersikap layaknya gadis normal yang sedang jatuh cinta.

"Aku ingin mengajak kamu ke suatu tempat

malam ini. Apakah kamu memiliki waktu?" tanya pria di seberang sana.

Lin Sha Na berfikir sejenak, malam ini dia memiliki sebuah misi, namun jika bertemu dengannya untuk sesaat sepertinya bisa.

"Tentu. Aku akan menemuimu, tapi aku tidak bisa lama."

"Baiklah sayang, aku akan menunggu kamu di tempat biasa setelah kamu selesai syuting," ucap Lio Wen.

Lin Sha Na mengiyakan dan panggilan itu terputus. Panggilan dari kru mengalihkan perhatiannya. Lin Sha Na berbalik dan berbaur bersama kru lainnya.

...

Lin Sha Na tersenyum kala melihat seorang pria menunggunya di samping mobil ferrari hitamnya.

Dia adalah Lio Wen. Kekasihnya selama lima tahun ini. Pertemuan mereka adalah bagaikan keajaiban bagi Lin Sha Na.

Pria itu terlihat sangat tampan malam ini.

Lin Sha Na tersenyum dan berlari ke arahnya. Lin Sha Na memeluknya dan Lio Wen balas memeluk kekasihnya.

"Apakah kamu lelah?" tanya Lio Wen dengan lembut.

"Sedikit. Kita mau ke mana?" tanya Lin Sha Na sambil mendongak menatap Lio Wen penuh dengan senyuman dan cinta di mata indahnya.

"Ke suatu tempat yang akan kamu suka. Ayo masuk," perintah Lio Wen sambil membuka pintu mobil. Lin Sha Na menurut dan berjalan masuk duduk di samping pengemudi.

Setelah memastikannya masuk Lio Wen menutup pintunya dan segera masuk ke balik kemudi. Mobil itu melaju meninggalkan lokasi syuting.

...

Lin Sha Na memandang kagum pada pemandangan yang ia lihat dari atas tebing. Terlihat sangat indah. Kunang-kunang terbang dari bawah tebing ke atas dan bintang bersinar terang.

"Sangat indah," gumam Lin Sha Na dengan nada penuh kekaguman.

Perlahan tangan Lio Wen meraih kedua jemari Lin Sha Na. Membuat Lin Sha Na memutar badannya dan menatapnya penuh tanda tanya.

"Lin Sha Na, aku mencintaimu. Will you marry me?" tanya Lio Wen dengan nada penuh harap menanti jawaban 'ya' dari kekasihnya.

Lin Sha Na sedikit menundukkan kepalanya dan tersenyum malu. Jantungnya berdetak kencang.

"Yes, i will," jawab Lin Sha Na dengan lirih.

Lio Wen tersenyum dan memeluknya.

"Aku mencintaimu," ucap Lio Wen.

"Aku juga mencintaimu."

Lin Sha Na membalas pelukannya dan memejamkan matanya dalam pelukannya.

Namun, kebahagiaannya tidak lama, ketika sesuatu menusuk dadanya, membuat Lin Sha Na memekik terkejut dan seketika membuka matanya.

Lin Sha Na ingin melepaskan pelukan itu, namun dia tidak bisa melepaskannya. Yang paling tidak ia percaya adalah kekasihnya, orang yang paling ia percaya, justru dialah yang membunuhnya.

Lio Wen menikamnya dengan belati tajam. Darah menetes jatuh ke atas tanah.

"Mengapa?" Lin Sha Na memandang Lio Wen dengan keterkejutan, kekecewaan, sekaligus tidak percaya.

Matanya berkaca-kaca.

Rasa sakit dari pedang yang menusuknya terasa amat menyakitkan ketika yang menusuknya adalah seseorang yang teramat di cintainya.

"Karena Ayahmulah penyebab keluargaku terbunuh. Ingatkah kamu pada keluarga bermarga Qi?" tanya Lio Wen pada Lin Sha Na dengan ekspresi dingin. Matanya menatap mata Lin Sha Na dengan penuh dendam.

Sebuah ekspresi yang tidak pernah Lin Sha Na lihat selama bersamanya. Ini adalah pertama kalinya Lin Sha Na melihatnya berekspresi seperti itu dan pertama kalinya dia menunjukkan wajahnya yang sebenarnya.

Mendengar itu membuat Lin Sha Na terkejut. Keluarga bermarga Qi-lah yang membunuh ibunya dan kakak laki lakinya hanya karena mereka kalah dalam sebuah tender besar.

Lio Wen tersenyum menyadari reaksinya.

"Benar. Aku adalah anak dari keluarga itu, Qi Lio itulah namaku. Namun, karena Ayahmu, aku kehilangan keluargaku dan aku bersusah payah untuk bertahan hidup dan terpaksa mengganti identitas demi membalaskan dendam keluargaku," ucap Lio Wen dengan nada yang sangat dingin.

Lin Sha Na tersenyum miris dan mengangkat tangannya yang memegang belati tajam miliknya yang ia ambil secara diam diam tanpa Lio Wen ketahui dan menusuknya tepat di jantungnya.

"Aakh..."

Lio Wen terkejut saat benda tajam menembus dadanya dan tidak menduga bahwa Lin Sha Na akan menusuknya.

"Jika hari ini aku mati di tanganmu maka aku akan menyeretmu ikut ke dalam neraka. Akanku pastikan kamu mati di tanganku."

"Memang benar, Ayahku yang membunuh keluargamu. Namun, keluargamulah yang terlebih dulu membunuh Ibu dan Kakakku hanya karena keluargamu kalah dalam sebuah tender besar," ucap Lin Sha Na sambil menatap mata Lio Wen dengan penuh kebencian.

Sedikit keterkejutan melintas di mata Lio Wen.

"Tidak mungkin."

"Percaya atau tidak. Itulah kebenarannya."

Tubuh mereka lemah karena darah yang terus mengalir.

Lin Sha Na mendorong Lio Wen hingga tubuhnya terlepas darinya. Lin Sha Na tanpa sadar melangkah mundur. Namun, Lin Sha Na mundur terlalu jauh. Dia lupa bahwa di bawahnya adalah tebing yang curam.

Lin Sha Na terjatuh ke dalam jurang. Saat tubuhnya berada di udara, Lin Sha Na memandang Lio Wen yang kesakitan di atas sana dan menatapnya penuh kesedihan.

Di ambang kematiannya setetes air mata jatuh.

Malam ini akan menjadi malam terakhir dia mencintainya. Setelah semua ini Lin Sha Na akan melupakannya dan menghapus semua perasaannya untuknya.

Jika ada kehidupan selanjutnya, dia tidak akan mengulangi kesalahannya dalam memilih orang yang mencintainya.

...

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status