Share

Scene 6

Segerombolan pasukan khusus turun dari truk pengangkut, tentu saja dia yang membawa kamera di lehernya juga ikut turun dengan wajah datar dan tanpa minatnya. Ini adalah hari pertamanya meliput peperangan, demi seluruh bahan liputan di dunia ini dia atau mungkin lebih enak di panggil Althea ini sangat menolak jika harus di hadapkan dengan situasi chaos peperangan, rasa ingin melarikan diri dalam benak gadis yang baru saja memulai karir selama satu tahun terkahir atau mungkin lebih di dunia jurnalistik ini selalu menggelayut setiap Hela nafasnya. Berlebihan sekali, tapi itulah dirinya.

Bila Althea di suruh memilih antara perang berdarah atau perang mulut, maka Althea akan lebih memilih perang mulut di debat konvensi menuju pemilihan umum. Itu lebih baik daripada mengambil gambar menyedihkan dari orang-orang yang harusnya tidak di perlihatkan, miris sekali.

"Sejak tadi wajahmu masam sekali, ada apa?" Tanya seorang wanita yang berjalan di samping Althea, di tanya seperti itu membuat mood Althea semakin anjlok saja.

"Bukan hal bagus, sebaiknya kau tidak tau apa alasannya." Jawab Althea ketus, wanita itu terkekeh kecil. Lalu menyodorkan tangannya di hadapan Althea.

"Namaku Violetta Braunschweig, jurnalis dari Get Bros media." Wanita itu memperkenalkan diri dengan sangat riang, Althea tersenyum kecil saat mendengar dari stasiun televisi mana dia bekerja.

Get Bros Media, terkenal sebagai channel tv yang mengangkat hal-hal berbau menyedihkan dan mengangkat beberapa hal tabu di masyarakat. Kabarnya, stasiun televisi swasta di kota Eginhard itu sempat di kecam beberapa kali, di cekal oleh kelompok masyarakat pemerhati penyiaran nasional Jerman. Hingga tidak mendapatkan jatah jam tayang di televisi karena tidak mendapatkan izin dari pemerintah. Sampai empat atau lima tahun belakangan ini Get Bros Media kembali menyiarkan berbagai macam liputan dalam versi yang lebih aman dan layak untuk di pertontonkan banyak orang. Kurang lebih seperti itulah yang Althea tau.

"Althea Erdritter, jurnalis Sunburn Media." Violetta membolakan matanya, tampak sangat terkejut dengan apa yang baru saja di dengarnya. Iris matanya berbinar-binar menatap Althea.

"Benarkah itu?!! Kau dari Sunburn?! Hebat sekali!! Aku selalu ingin bekerja di sana... Enaknya...." Wanita yang sepertinya memiliki usia satu tahun di bawah Althea itu berkata dengan nada iri, dalam hati Althea tersenyum kecut.

'apanya yang enak? Aku selalu terkena cibiran di kantor, menyedihkan sekali.'  pikir Althea.

"Kenapa diam?" Tanya Violetta, kesadaran Althea kembali ke permukaan.

"Tidak ada, aku hanya berpikir ada baiknya aku kembali dan tidur di rumahku sendiri." Jawab Althea, Violetta tertawa akan keluhan pemudi di sampingnya ini.

"Omong-omong, mereka tega sekali mengirim gadis mungil ke tempat berdarah seperti ini." Ujar Althea, gadis berambut coklat itu menepuk dadanya penuh semangat sampai terbatuk-batuk karena terlalu kencang.

"Tentu saja aku yang minta untuk di kirimkan ke tempat ini, akan jadi pencapaian terbaik kalau aku bisa mendapatkan liputan terhebat dari semua orang tua yang datang ke tempat ini hahahaha...." Althea meringis, sepertinya ada yang salah dengan kepala Violetta.

"Oi! Kalian bisakah berhenti bicara?!" Tegur seorang Kapten yang memang berdiri di depan Althea dan Violetta,keduanya tercengir-cengir karena teguran tersebut.

"Erdritter, kau ikut denganku." Kata Ervand, pemudi berambut panjang itu mengangguk.

"Aku pergi dulu, setelah selesai ayo bicara lagi." Ucap Althea, Violetta mengangguk.

"Tentu saja, kita harus membicarakan banyak hal. Apalagi kau dari media Sunburn, aku ingin mendengar hal hebat darimu. Tetap hidup yaa!!"

Althea melambaikan tangannya sambil berlari menyusul kolonel yang memiliki tinggi 170 itu, "saya akan mendapatkan tempat liputan dimana, sir?" Tanya Althea menyamai langkahnya dengan Ervand, pria yang memiliki bekas luka di wajahnya itu melirik sebentar.

"Pos utama." Jawab Ervand  singkat, beberapa detik Althea sempat menegang. Sedikit terkejut karena pos utama tentu akan banyak sekali korban yang di bawa ke barak kesehatan, dan lagi dia akan langsung mendengar desingan peluru, gesekan dan ledakkan bom yang memekakkan telinga.

Melihat keterdiaman Althea, Ervand menghentikan langkahnya. Gadis itu terus berjalan tanpa tau kalau Kapten yang membimbingnya tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya.

"MAU KEMANA KAU, Erdritter?!" Teriak Ervand tegas, Althea menghentikan laju langkahnya secara mendadak. Menoleh ke belakang mendapati Ervand yang sangat jauh dari dirinya saat ini, Ervand berjalan santai ke arah Althea yang kini memalingkan wajahnya kearah lain. Mata elang Ervand melihat angin menerbangkan helaian rambut yang tak terikat oleh karet, hidung mancung, bibir tipis nan merah, tatapan yang menyiratkan keengganan terlihat jelas di sana. Jujur saja Ervand selalu terpesona jika menatap Althea seintens ini - sejak dulu sekalipun - , gadis itu memang sangat indah dan selalu menarik dirinya untuk terus memandangnya lebih lama dan lama lagi. Namun, dia tak pernah punya waktu untuk menatapnya lama. Ervand tak boleh lengah di tempat ini, salah sedikit saja nyawanya akan melayang dalam hitungan detik.

"Ada apa denganmu?" Tanya Ervand serius, mengabaikan dirinya yang terpesona pada gadis ini. Althea sedikit menunduk sebelum menatap Ervand dalam, binar di kelereng emerald itu menyiratkan kalau dirinya baik-baik saja.

"Saya baik-baik saja, sir. Tidak perlu menatap seolah beberapa saat nanti saya akan mati." Ucap Althea di selingi nada canda di dalamnya, Ervand mendengus kecil. Melangkah lebih dulu melewati Althea yang kini mengekor di belakangnya.

"Aku tidak  mengharapkan kau mati di tempat seperti ini." Ervand berujar ringan, namun jika di telisik lewat pandangannya akan terlihat kalau dia serius dengan ucapannya.

"Manusia tidak bisa memilih dimana dia akan mati." Timpal Althea, Ervand terkekeh kecil.

"Siapa bilang? Di zaman sekarang, kita bisa memilih dimana kita ingin mati." Manik hitam melirik Althea yang berjalan di sampingnya, pemuda itu menghela napas seperti orang tua.

"Haaah... Kalau begitu, saya ingin mati di tempat yang banyak airnya seperti lautan. Di perairan Atlantik kurasa tidak akan buruk haha... Kalau Kapten sendiri, ingin mati di tempat seperti apa?" Terdengar sangat kurang ajar pertanyaan yang di lontarkan Althea sampai-sampai Ervand meliriknya dengan sinis, gadis tinggi itu hanya meringis-ringis sambil menyentuh tengkuknya kikuk.

"Sepertinya pembicaraan kita terlalu buruk untuk di bahas lagi, hehe...." Dengusan kasar keluar dari bibir tipis Ervand.

"Itu tidak lucu," Ervand membawa langkahnya mendahului Althea yang menatap dirinya dengan alis bertaut erat.

"TAPI SUNGGUH, KAPTEN! SAYA INGIN TAU, DI TEMPAT SEPERTI APA ANDA INGIN MATI?!" Teriak Althea, lambaian tangan Ervand menjadi tanda kalau pria itu tak ingin menjawabnya sedikitpun. Althea mengerang kecil lalu berlari menyusul Ervand yang mulai jauh di depannya.

°°°

BERSAMBUNG

Fiafitria

Hallo, setelah cukup lama menghilang aku kembali datang dan mencoba untuk melanjutkan karya yang telah terbengkalai. Semoga ada yang singgah dan membacanya

| Sukai
DMCA.com Protection Status