Share

Bab 4

Hancur Karena Notifikasi M-banking

Part 4

**

"Oh, iya. Bagaimana sama popok dan susunya? Udah beli juga? Katanya kemarin ATM Arfan hilang sampai kamu nggak bisa beli susu dan popok?" ungkapku semakin menjadi.

Wajah Linda tampak pias, sedangkan Arfan terlihat lebih heran dengan perkataanku. Mas Bayu menyenggol lenganku agar aku dian dan tidak mengatakan semuanya.

"Ini ada apa, sih? Tolong jelaskan," tanya Arfan sembari menatap kami satu persatu.

"Loh, kamu nggak tau, Fan?" tanyaku dengan di sertai gelengan kepala oleh adik kandung suamiku ini.

"Kan kemarin Linda minje ...."

"Kemarin aku nitip beli susu sama popok Rio ke Mas Bayu, kan tempat kerjanya deket sama swalayan, Mas, aku juga minta tolong pakai uangnya dulu. Tapi ternyata nggak ada. Iya 'kan, Mas?" kilah Linda sembari menatap Mas Bayu.

Apa sih maunya anak ini? Alasan macam apalagi ini? Kenapa dia pandai sekali berkilah di depan suaminya.

"Kok gitu, sih, Lin. Kan ceritanya nggak gitu?" kataku membela, sungguh aku tidak rela jika Mas Bayu harus terus menerus membela benalu seperti dia.

"Udah lah, Dek. Jangan di perpanjang lagi. Udah nggak papa, nggak usah di bahas lagi. Yang penting Rio bisa tetep minum susu sama kebutuhan popoknya tercukupi,"

Aku memutar bola mata malas. Mas Bayu juga bikin aku naik darah. Apa sebenarnya maunya?

Bukan perkara uangnya, toh kemarin juga sudah kembalikan oleh Linda. Tapi bagaimana caranya Linda itu membohongi kami semua, terlebih suaminya. Apalagi dia membawa nama suamiku. Apa jangan-jangan mereka ada main di belakangku?

Jika memang iya, Mas Bayu benar-benar keterlaluan. Tega-teganya main api dengan iparnya sendiri.

"Assalamualaikum," ucap seseorang dari arah pintu. Kami semua serentak menjawab salamnya dengan melihat ke arah sumber suara.

Ternyata dua mertuaku juga sedang berkunjung ke rumah Arfan. Sebenarnya rumah kami saling berdekatan. Semenjak menikah para anak lelakinya di minta untuk hidup mandiri dengan istri-istrinya. Sedangkan Bapak dan Ibu sekarang tinggal bersama Sekar, adik bungsu Mas Bayu yang masih kuliah.

"Wah, ada Bayu sama Nurma juga. Kebetulan kita bisa kumpul di sini," kata Ibu setelah kami bersalaman satu persatu.

"Iya, Bu. Mumpung Mas Bayu libur, main sekalian nengokin Rio," ucapku pada Ibu yang telah menggendong cucunya.

Wajar, kami semua sangat sayang pada Rio, karena Rio merupakan satu-satunya bayi di keluarga Pradipta. Karena sampai hari ini aku belum bisa memberikan keturunan untuk Mas Bayu. Dokter bilang kami sehat, tapi entah kenapa Tuhan belum mempercayakan keturunan pada kami.

"Kamu buruan nyusul Linda, Nurma. Pernikahan kamu sama Bayu udah lima tahun, masa kalah sama yang baru dua tahun," ungkap Ibu, membuat hatiku tersentil.

"Bu ...." Bapak menegur istrinya, mungkin Bapak pun tahu kalau kata-kata Ibu menyakiti hatiku.

Tapi tak apa, memang kenyataannya seperti ini. Aku belum bisa memberikan keturunan untuk keluarga Pradipta.

"Bukan karena aku tidak mau atau gimana, Bu. Tapi kalau Tuhan belum memberikannya pada kami lalu kami bisa apa? Dokter bilang aku sama Mas Bayu sehat, kok. Ibu sama Bapak doakan saja yang terbaik, ya," terangku seraya meminta Rio dari gendongan Ibu.

Kami pun akhirnya melupakan pembahasan itu dan mulai mengobrol hangat. Sedangkan Linda sibuk di dapur menyiapkan jamuan untuk kami semua. Kebetulan sudah masuk jam makan siang, jadi kami memutuskan untuk makan siang sekalian di rumah Arfan.

"Aku bantu Linda dulu, ya, Nur. Kamu jagain Rio," ucap Ibu sembari meninggalkanku yang masih menggendong Rio.

Aku hanya mengangguk, lalu mengajak Rio keluar rumah untuk mencari angin segar. Sedangkan para bapak-bapak mengobrol di teras.

Sekitar sepuluh menit setelah itu Rio tertidur. Aku hendak menidurkannya di dalam kamarnya, tapi sebelum itu lebih baik aku minta ijin dulu pada Linda. Tidak enak hati kalau masuk ke kamar orang lain tanpa ijin.

Namun, apa yang kudengar ketika tengah berdiri di ambang pintu dapur sungguh mengejutkan hatiku.

"Ya gitu, deh, Bu. Mas Bayu sering curhat ke Linda kalau Mbak Nurma itu boros, jarang masak, rumah tak selalu bersih,"

Degh.

Apa-apaan ini? Benarkan Mas Bayu sering cerita ke Linda perihal rumah tangga kami?

Aku bukan jarang masak karena malas, tapi memang pagi-pagi sekali kami harus berangkat kerja. Lagipula Mas Bayu selalu masak terlebih dahulu karena itu memang hobinya. Perihal rumah tak selalu bersih, akhir-akhir ini pekerjaanku sedang banyak, aku juga sudah menyewa asisten rumah tangga yang datang seminggu tiga kali untuk membersihkan rumah. Lalu, apa benar jika Mas Bayu mengatakan semua itu pada Linda?

"Ah ... Masa iya? Ckckck, kasihan Bayu, ya. Nurma cantik, punya kerjaan bagus, perhatian, sopan, tapi kenapa sekarang berubah seperti itu,"

"Bu, itu kan dulu. Sekarang mah Mbak Nurma males, Mas Bayu sering ngeluh ke Linda. Katanya juga udah nggak betah hidup sama Mbak Nurma," ungkap Linda panjang lebar, membuat hatiku tergores dalam.

Tanpa terasa buliran hangat keluar dari kedua mataku. Tak kusangka Linda begitu lihai meracuni pikiran Ibu. Untuk apa ia melakukan seperti itu? Kedudukan kami sama, sama-sama menantu, tidak seharusnya ia bisa berlaku seperti itu.

"Mbak, ngapain?" bentak Arfan mengagetkanku.

Seketika itu juga Ibu dan Linda menatapku yang masih menggendong Rio di ambang pintu dapur. Mereka tampak kaget dengan kehadiranku, tapi tidak dengan Arfan karena ia tak tahu semuanya dari awal.

Aku lantas berbalik, lalu menyerahkan Rio yang masih tertidur pulas kepada ayahnya.

"Fan, aku pulang dulu," ucapku sembari berlalu meninggalkan mereka.

Terdengar samar, Ibu meneriakiku dari dapur. Tapi aku memilih pergi meninggalkan mereka.

"Dek, ada apa?" tanya Mas Bayu ketika aku melewatinya dan Bapak yang ada di ruang tamu.

Awas saja kamu Linda, sudah apa yang akan aku perbuat padamu setelah ini. Rupanya kamu berani macam-macam denganku, padahal sedikitpun aku tak mengusik hidupmu.

Aku lantas masuk ke dalam mobil dengan geram. Dan rupanya Mas Bayu pun juga mengikutiku hingga ke dalam mobil. Ia terlihat cemas karena perubahan sikapku.

"Dek, ada apa?"

"Jalan, pulang sekarang juga,"

"Ada apa ini? Jelaskan?"

"Jangan banyak bicara, cepat jalankan mobilnya atau aku akan menghancurkan kaca mobil ini," ancamku seraya mengacungkan high hillsku ke kaca depan mobilnya.

Mau tak mau Mas Bayu menuruti permintaanku, Ibu tampak menangis dengan memanggil namaku. Namun, tak secuil pun rasa ingin kembali ke rumah itu untuk mendengarkan penjelasan Linda.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status