Share

Bab 02: Xavier Alexander

Aurora dan petugas penyelidik, membawa ayahnya ke rumah sakit terdekat.

Mereka akhirnya sampai di sebuah rumah sakit di mana ibunya Aurora berada. Ayahnya langsung mendapat penanganan dari dokter.

"Tolong semua menunggu di luar!" ucap salah satu dokter yang akan menangani ayahnya.

"Tolong lakukan yang terbaik dokter." Ucap Aurora memohon.

"Tentu saja Nona." Sahut dokter tersebut dan menutup pintu ruangan perawatan.

...........................................................................................................................

Aurora menunggu dengan cemas, ia mondar mandir tidak bisa menenangkan dirinya.

"Nona, apa yang harus kita lakukan?" ucap sekretaris Susan yang menemaninya bertanya.

"Aku tidak tahu, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang." Ia memeluk Susan dengan erat dan penuh ketakutan.

Susan mengelus kepala Aurora dengan lembut, berusaha untuk menenangkannya.

"Tuan pasti baik-baik saja Nona." Ujar Susan meski ragu.

Petugas penyelidik berjalan dan menghampiri mereka.

"Nona, saya telah menempatkan beberapa petugas penyelidik, saya akan pergi untuk melaporkan masalah ini kepada penuntut!" ujar salah satu penyelidik tersebut.

"Baik Pak, silahkan." Sahut Susan, yang saat itu Aurora tidak berkata apapun, ia hanya menangis di pelukan Susan. Penyelidik itupun meninggalkan mereka berdua, dan melangkah pergi menjauh dari tempat tersebut.

Ia melakukan sebuah panggilan telpon kepada salah seorang asisten pribadi dari penuntut kasus tersebut.

"Halo, apa ini asisten tuan Xavier?" ujarnya bertanya.

"Ya, ada yang bisa saya bantu?" ujar Lucas yang sebagai asisten pribadi Xavier.

"Tuan, saya ingin memberitahukan, kalau tuan Jordy telah masuk rumah sakit, sepertinya ia mengalami masalah jantung." Ucap petugas tersebut dalam panggilan teleponnya.

"Apa yang terjadi padanya?" ucap Lucas seraya menatap Xavier yang tengah berada di dekatnya.

"Tuan Jordy tengah mendapatkan penanganan dari dokter tuan," sahut petugas tersebut.

"Berikan padaku teleponnya!" Sahut Xavier meminta telepon genggam milik asistennya.

"Apa yang terjadi?" ucap Xavier bertanya kepada petugas tersebut.

"Putri, putri dari tuan Jordy menemuinya di ruangan penyelidikan tuan, dia... dia memberitahukan kalau istrinya tuan Jordy telah meninggal dunia, akibat serangan jantung," jawab penyelidik itu dengan suara terbata-bata.

Xavier yang mendengar hal tersebut mendengus kesal.

"Cih... merepotkan sekali," Ucap Xavier jengkel.

"Tetap awasi mereka! Aku tidak suka seorang tikus lepas dari tanganku." Ucap Xavier dengan tegas.

"Baik tuan." Sahut petugas itu, melihat panggilan teleponnya telah terputus, ia menghela napas panjang.

"Benar-benar membuatku berasa hampir mati." Ujarnya seraya meninggalkan tempat itu, ia segera menuju arah di mana Aurora menunggu ayahnya.

"Tuan, haruskah saya menyelidiki masalah ini lebih dalam?" Ujar Lucas bertanya kepada Xavier ditempat yang jauh di sana.

"Tidak perlu repot-repot, walaupun dia bukan dalangnya, tetap saja dia sebagai pemilik perusahaan, harus bertanggung jawab dengan kerugian dan kebodohannya sendiri." Tegasnya.

Xavier Alexander.

Dia adalah seorang pengusaha ternama, dari sebuah pemilik perusahaan besar yang bernama X.A technologi. Berusia 28 tahun, dan terlahir di Negara Rusia.

Diusianya yang masih terbilang cukup muda, dengan kekuatan dan kemampuannya, ia mampu mengobrak-abrik suatu negara tanpa kesulitan.

Ketika semua orang mendengar namanya saja, sudah cukup membuat mereka mengigil ketakutan. Sikapnya yang kejam, dingin, bahkan tidak ragu untuk menghilangkan sebuah nyawa seseorang dengan mudah, membuat ia ditakuti dalam dunia bisnis.

Akan tetapi tidak sedikit orang yang ingin mempererat dan menjalin kontrak kerjasama dengan perusahaannya, keuntungan bisnis, dan perlindungan dari Xavier yang membuat semua orang buta, dan berlomba-lomba menarik dan menjilat agar dapat menjalin kerja sama dengannya.

Kadang kala, mereka tidak memikirkan konsekuensi yang akan mereka terima, ketika salah satu dari mereka menyinggungnya, nyawalah yang menjadi taruhannya.

Dengan kekayaan yang berlimpah, kekuasaan yang sangat besar, bahkan banyak dari para wanita yang rela hanya untuk menjadi teman tidurnya, dan sebagai penghangat ranjang semata.

Hal apapun yang diinginkan oleh Xavier, tidak ada yang berani untuk menolaknya. Beberapa dari perusahaan yang bekerja sama dengannya, bahkan tidak ragu untuk memberikan putri mereka, walau hanya sebagai untuk penghangat ranjangnya saja. Karena Xavier selalu memberikan kemewahan yang melimpah kepada orang-orang yang mampu menyenangkan dirinya dan memuaskan keinginannya.

"Lucas, bersiaplah! Kita akan mengunjungi pemakaman Nyonya dari tuan Jordy," ucap Xavier dingin.

"Apa anda yakin tuan?" Ia tahu kalau selama ini tuannya tidak pernah tertarik dengan masalah sepele.

"Bagaimanapun orang tua bodoh itu, telah menjalin kerjasama yang baik selama beberapa tahun terakhir ini." Sahut Xavier tegas.

"Baik tuan." sahut Lucas sedikit menghela napas.

...........................................................................................................................

Disisi lain, Aurora yang masih menunggu dengan cemas keadaan ayahnya, ia takut setelah kehilangan ibunya, ia juga harus kehilangan ayahnya.

"Nona, kita harus menyiapkan pemakaman terlebih dahulu untuk Nyonya," ucap Susan mengingatkan Aurora.

Aurora menyadari semua itu, jasad ibunya tidak baik jika dibiarkan lebih lama lagi.

"Baiklah, Susan tolong suruh seseorang yang dapat dipercaya untuk menjaga ayah di sini!" seru Aurora kepada Susan.

"Baik Nona, saya akan menyuruhnya agar datang kemari."

Susan pergi menelepon salah satu kepercayaannya untuk berjaga-jaga, bilamana keadaan ayahnya Aurora telah siuman dan membaik.

"Pak, tolong kabari saya secepatnya apapun yang terjadi kepada ayah saya." Ujar Aurora kepada petugas penyelidik yang menjaga ayahnya di rumah sakit.

Pria itu menganggukkan kepalanya.

"Baik Nona, saya ikut prihatin dengan ibu Nona." Ucap pria itu.

"Terimakasih pak." Aurora segera meninggalkan tempat tersebut dan melangkah pergi menuju kamar mayat di mana ibunya berada.

"Nona?" Ucap bibi pengurus rumahnya sedikit bertanya, ketika melihat Aurora menghampirinya.

Ia menghampiri jasad ibunya yang tertutup kain putih.

"Bibi, tolong telepon dan suruh orang kita agar datang menjemput, dan segera menyiapkan pemakaman untuk ibu!" ucap Aurora.

"Baik Nona." sahut Bibi.

Aurora yang tengah ditemani Susan sekretaris ayahnya, ia terdiam memandangi wajah ibunya, semua perasaan dan hatinya saat itu sangat kacau, ia merasa dunia tengah menghukumnya, pikirannya kosong, tidak tahu harus berbuat apa, ibu yang meninggal secara mendadak, ayah yang tengah kritis tidak sadarkan diri, perusahaan yang diambang kebangkrutan. Semua masalah menimpa keluarganya secara bersamaan.

Susan yang melihat Aurora begitu terpukul, ia mengelus pundak Aurora dengan lembut.

"Nona pasti bisa melewati semua ini." Ucapnya pelan.

"Terimakasih Susan," sahutnya tersenyum pahit,

"Susan, bantu aku untuk urus pemakaman ibu terlebih dahulu, setelah it, baru kita bahas masalah perusahaan, maukah kamu membantu?" Ucap Aurora yang tidak tahu harus meminta saran kepada siapa lagi.

"Tentu saja Nona, Saya akan selalu berada disisi Tuan, dan disisi Nona." Tegas Susan menjawab.

"Terimakasih banyak, Susan, terimakasih." ujar Aurora lirih, dengan suara beratnya.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status