Share

Bab 03: Pemakaman dan pertemuan

Beberapa saat kemudian, mobil untuk menjemput jenajah ibunya tiba di rumah sakit.

"Nona, mobil sudah sampai, apa kita akan pergi sekarang untuk membawa Nyonya?" ujar Bibi pengurus rumah menghampiri Aurora dan Susan.

"Apa tempat untuk pemakaman ibu sudah disiapkan?" tanya Aurora kepada Bibi pengurus rumah.

"Tentu Nona, semua telah siap dan tinggal menunggu Nona."

"Baiklah, ayo!"

Aurora bergegas meninggalkan rumah sakit untuk segera melakukan pemakaman, karena hari juga sudah mulai sore. Sesampainya di rumah, mereka segera berganti pakaian dengan warna hitam, semua anggota keluarganya tidak ada yang hadir, pemakaman hanya dihadiri oleh orang-orang terdekatnya dan para pegawainya saja, beberapa karyawan ayahnya juga hadir untuk mengantar kepergian istri dari atasan mereka.

...........................................................................................................................

Keadaan Aurora terlihat begitu lemah dan menyedihkan, walau ia berusaha terlihat tegar, akan tetapi ekspresi kesedihan itu terlihat sangat jelas di wajah cantiknya. Ia terdiam mematung tak bergeming memandangi sebuah batu nisan yang bertuliskan nama dan Poto ibunya.

Ia berkali-kali memejamkan mata untuk menghentikan air matanya yang tanpa ia sadari terus menetes membasahi pipi.

"Ibu, apa yang harus aku lakukan sekarang?" ucapnya dalam hati.

"aku tidak mau hidup sendirian di dunia ini." sambungnya.

Aurora berjongkok mengelus Poto ibunya yang berada di batu nisan.

"Semoga ibu bisa tenang dan damai di surga nanti." Ucap Aurora.

Susan mengikuti Aurora berjongkok seraya mengelus pundaknya.

Tak lama kemudian seorang pria yang berpostur tinggi dan gagah menghampiri tempat pemakaman tersebut, ditemani seseorang yang tidak lain, adalah asisten pribadinya.

Mendengar suara langkah kaki yang menghampirinya, Aurora mendongakkan wajahnya ke arah pria tersebut. Ia langsung berdiri menatapnya bingung, mungkin itu adalah rekan bisnis ayahnya, Aurora kemudian memberikan ruang untuk pria tersebut memberikan penghormatan terakhir.

"Silahkan Tuan." Ucap Aurora seraya membungkuk sopan.

Pria tersebut menatap wajah Aurora dengan dalam, tanpa ekspresi apapun. kemudian ia melirik ke arah asistennya.

"Dia adalah putri dari tuan Jordy tuan." jawab asistennya, yang telah mengerti dengan maksud tatapan tuannya.

Pria itu kembali menatap wajah Aurora dengan dingin.

"Oh." Jawabnya singkat.

Ya, tidak lain pria itu adalah Xavier Alexander. Ia segera melangkah untuk memberikan penghormatan terakhir untuk ibunya Aurora.

Disaat yang bersamaan, ketika Xavier tengah memberikan penghormatan, orang-orang mulai meninggalkan pemakaman tersebut.

"Nona... maaf, kami tidak bisa berlama-lama," ujar mereka sopan untuk berpamitan.

"Tidak apa-apa, terimakasih sudah berkenan mengantar kepergian ibu saya." Sahut Aurora kepada orang-orang tersebut seraya membungkukkan badannya.

"Kalau begitu kami permisi Nona." Pamit mereka semua.

"Silahkan." Ujar Aurora sopan.

Xavier yang telah selesai memberi penghormatan, ia tiba-tiba melangkah menghampiri Aurora, yang didampingi Susan dan bibi Lani selaku pengurus rumahnya.

"Apa kamu anak dari tuan Jordy?" ujar Xavier bertanya.

Susan yang sudah tahu siapa pria ini, ia hanya terdiam membeku tak bergeming, seluruh badannya terasa kaku seperti mati rasa, ia merasakan tekanan yang begitu hebat dari aura pria tersebut.

"Maaf Tuan, anda adalah?" Aurora balik bertanya, karena ia tidak tahu siapa pria yang berdiri di depannya saat ini.

"Kamu tidak tahu siapa saya Nona?" Xavier balik bertanya dengan dingin.

Aurora mengerutkan dahinya, karena ia memang tidak tahu siapa pria tersebut.

"Maaf atas kelancangan saya Tuan, tapi saya tidak mengenal, dan tidak tahu anda siapa," sahut Aurora.

Xavier tersenyum tipis dengan dingin diujung bibirnya, seperti ia tengahmeremehkan ucapan Aurora.

"Nona yang begitu terlihat polos." Ujarnya.

Mendengar hal itu, Aurora segera melirik kearah Susan, mencoba bertanya siapa pria tersebut, namun melihat dari ekspresi Susan saat ini, ia seperti menduga kalau pria dihadapannya, bukanlah orang biasa-biasa saja. Susan dengan ragu mendekatkan badannya kepada Aurora seraya berbisik.

"Nona... dia, dia adalah tuan Xavier Alexander, yang telah bekerja sama dengan ayah Nona." Ujar Susan sedikit menjelaskan, seraya tangan dan bibirnya bergetar.

Mata Aurora seketika langsung terbelalak dengan kaget, ia memang telah mendengar kalau perusahaan ayahnya telah bekerjasama dengan sebuah perusahaan besar bernama X.A technologi, yang pemiliknya adalah bernama Xavier Alexander, seorang pria yang dirumorkan berdarah dingin dan terkenal dengan sifatnya yang tak berbelas kasih dan tanpa ampun, akan tetapi, ia tidak pernah tahu seperti apa dari wajah pria tersebut.

"Apakah pria ini yang telah menuntut perusahaan ayah, pantas saja ayah memintaku untuk meninggalkan rumah secepatnya." Ujarnya dalam hati seraya menatap wajah Xavier.

"Tuan, maaf saya tidak mengenali anda, saya memang tidak ikut campur dalam urusan perusahaan ayah saya," ujarnya sopan.

"Nona, apakah maksud anda, kalau anda tidak tahu apa yang telah dilakukan ayah anda, dan menjelaskan bahwa anda tidak terlibat, begitu?" Tegas Xavier mencibir.

"Maaf Tuan, saya tidak bermaksud berbicara seperti itu, yang saya maksud adalah, saya tidak tahu rekan bisnis ayah saya siapa saja," sahut Aurora.

Xavier yang mendengar ucapan Aurora, ia mendengus dan sedikit menyeringai.

"Benarkah?" ujar Xavier bertanya, seraya mendekat kearahnya.

"Ya Tuan."

Aurora spontan segera mundur selangkah ke belakang dengan sangat cepat.

"Nona, apakah kamu tengah melihat hantu?" Xavier mengerutkan dahi dan mendengus geram, melihat wanita itu yang terlihat ketakutan, bahkan segera menghindari jarak dengannya.

"Maaf Tuan, saya tidak bermaksud tidak sopan," Sahut Aurora sopan, mencoba tenang walau ia sebenarnya merasa begitu tertekan.

"Wanita ini cukup tenang." Xavier berkata dalam hatinya, seraya ia menatap dalam wajah Aurora cukup lama.

"Tuan, apa ada yang mau anda katakan?" Aurora bertanya seraya ia menggenggam erat tangan Susan.

"Sepertinya kau telah menduga, bahwa aku yang telah menggugat ayahmu," tegas Xavier. Aurora hanya bisa terdiam.

"Apa tidak ada yang ingin kau utarakan?"

Xavier mencoba untuk mencari keuntungannya sendiri dibalik setiap situasi.

Aurora ragu untuk menjawab pertanyaan itu, akan tetapi, ia teringat perkataan ayahnya, kalau dia telah dijebak oleh pamannya sendiri, dan uang perusahaan, kemungkinan pamannya yang telah membawa kabur uang tersebut.

"Maaf Tuan, sepertinya ayah saya telah dijebak oleh seseorang." Ucap Aurora spontan.

"Oh... apakah menurut kamu aku yang telah menjebaknya?" seringai Xavier dibalik bibir tipisnya.

"Tidak, Tuan. Bukan seperti itu, ayah saya berkata, paman saya telah menghilang dan tidak diketahui keberadaannya," sahut Aurora menjelaskan dengan ucapan yang sedikit terbata-bata.

"Itu artinya, ayah kamu bodoh. Sebagai pemilik perusahaan, tidak bisa mengurus orang sendiri dengan benar, bagaimanapun dia harus bertanggung jawab atas kerugian perusahaanku!" tegas Xavier penuh cibiran.

"Saya mengerti Tuan." sahut Aurora singkat.

Mendengar perkataan wanita tersebut, Xavier mengerutkan dahi nya.

"Apa kau akan membiarkan ayah kamu membusuk didalam penjara?" tanya Xavier dengan seringai liciknya, "Oh iya... dan juga, aku akan menyita rumah kalian, begitu juga perusahaan, sebagai ganti rugi untuk sebagian hutang ayahmu terhadapku!" Tegas Xavier memperingatkan.

"Tuan anda--" ujar Aurora ragu, dan segera menghentikan ucapannya

"Kenapa, apa kau keberatan Nona? Bagaimanapun, aku orang yang telah kehilangan berapa milyar oleh kebodohan ayahmu itu," tegas Xavier.

"Saya mohon, jangan lakukan itu Tuan." Ucap Aurora dengan lirih.

"Heh... Nona, setiap orang harus menanggung kesalahan mereka sendiri!" Tegas Xavier, seraya ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan tempat tersebut.

Aurora seketika terdiam, dadanya sesak, frustasi, bingung, ia hanya bisa menangis kedalam pelukan Susan, ketika ia melihat pria itu pergi tanpa menoleh sedikitpun.

"Susan, apa yang harus aku lakukan?" Ucapnya seraya menangis tersedu-sedu bingung.

"Nona, apa kita akan meninggalkan rumah?" tanya bibi Lani ragu.

Aurora bingung harus menjawab apa, apakah ada cara untuk menyelamatkan perusahaan ayahnya, juga cara mempertahankan rumahnya, baginya, rumah tersebut begitu berarti, karena begitu banyak menyimpan kenangan bersama ibunya.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status