Share

AKU BISA TANPA KAMU
AKU BISA TANPA KAMU
Penulis: Reinee

IJIN PULANG

"Ibu sakit, Mas. Aku minta ijin pulang ya?" pintaku saat menghampiri tempat duduknya.

"Sakit apa?" tanya mas Bram yang sedang duduk-duduk di teras rumah bersama ibu dan dua adik perempuannya, bahkan tanpa menoleh sebentar pun ke arahku. 

"Aku belum tau, Mas. Barusan mba Santi ngasih kabar katanya semalem ibu pingsan, tapi katanya udah dibawa ke klinik."

"Ooh, ya udah, pulang aja sana nggak apa-apa," katanya enteng. 

Aku tercenung di tempatku berdiri. Heran dengan sikapnya yang begitu tak peduli dengan keadaan orang tuaku. Dia bahkan langsung melanjutkan obrolannya dengan ibu dan dua adiknya yang nampak serius. 

Ini memang bukan pertama kalinya sikap suamiku seperti itu jika menyangkut aku dan keluargaku. Namun kali ini benar-benar sangat menyesakkan.

"Mas," panggilku lagi.

"Ada apa lagi sih?" Setelah menoleh padaku, dia pun langsung berdiri dengan gerutu kesalnya sambil berjalan menghampiriku. 

"Bisa ngomong sebentar nggak? Ini penting, Mas," pintaku lagi. 

"Ya udah, ayo!" 

Dengan langkah cepat mas Bram menuju ke kamar kami, sedangkan aku mengikuti di belakangnya. 

Sesampainya di kamar, kulihat dia segera mengambil dompet dari celana panjangnya, lalu mengulurkan selembar uang 100 ribuan padaku. 

"Nih!" katanya sedikit kasar. 

"Cuma segini, Mas?" 

"Maunya berapa? Cuma buat ongkos jalan aja kan? Rumah ibumu juga nggak jauh-jauh amat."

"Bukan gitu, Mas. Ibu lagi sakit. Tadi mba Santi bilang butuh uang 1 juta buat bawa pulang ibu sore ini dari klinik. Boleh ya mas aku minta?"

"Apa? Satu juta? Gila kamu, Din. Kamu nggak denger apa tadi aku, ibu, Dira, sama Lina lagi ngobrolin apa? Minggu ini Lina waktunya bayar semesteran kuliahnya, trus Dira bulan depan mau nikah. Kamu tau berapa besar biaya yang harus aku keluarkan untuk itu semua?" 

"Iya mas, aku tahu. Tapi ini mendesak buat ibu. Cuma satu juta lho, Mas," rengekku meminta belas kasihan.

"Cuma kok satu juta. Ya biar dipikir lah sama mbak Santimu itu. Masa' aku yang harus mikirin juga. Urusanku udah banyak, Dindaaa."

"Ya Allah, Mas, mbak Santi nggak ada uang. Tau sendiri kan mbak Santi dan suaminya hanya  buruh kerjanya. Dia nggak punya mas uang segitu."

"Halah alasan saja mah itu. Makanya kalian itu jadi orang jangan miskin kenapa sih?" 

"Mas! Keterlaluan banget sih ngomongnya? Ya sudah kalau aku nggak boleh minta uang buat biaya sakit ibuku, aku pinjem dulu nanti aku kembalikan, Mas."

Tiba-tiba terdengar suara tawa suamiku yang menggelegar di dalam kamar hingga membuat Icha, anak semata wayang tiga tahun kami yang masih pulas tertidur jadi bangun karena kaget. 

"Apa? Pinjem kamu bilang? Kamu aja nggak kerja gimana caranya nanti mau balikinnya? Ada-ada aja kamu ini, Din."

"Mas, tapi aku serius. Aku bener-bener butuh uang untuk biaya ibu, Mas." Kali ini aku tak kuasa membendung air mata.

"Nggak bisa! Udahlah sana kalau kamu mau pulang nengokin ibu kamu, pulang aja. Nggak usah pake ikut mikirin biaya berobat dia atau apalah itu. Dah, aku mau nganterin ibu belanja keperluan pernikahan Dira dulu. Hati-hati nanti di jalan kalau mau berangkat," katanya kemudian. 

"Ya Allah, Maass!" teriakku.

Namun percuma saja aku meneriakinya, karena lelaki itu tetap saja pergi meninggalkan kamar kami menuju ibu dan saudara-saudaranya. 

Aku menghela nafas berat. Sesak rasanya dada ini. Selama ini mas Bram memang jarang memperhatikan keperluanku, apalagi keluargaku. Namun aku masih bertahan karena dia masih begitu perhatian dengan anak kami. Kali ini, kurasa sikapnya sudah benar-benar keterlaluan. Aku sudah tidak sanggup lagi rasanya. 

Dengan gerakan cepat aku pun segera mengganti bajuku dan anakku. Mengisi tas dengan beberapa lembar pakaian kami dan bergegas meninggalkan rumah yang sudah nampak sepi karena sebagian penghuninya sudah meninggalkan rumah ini dengan roda empat milik mas Bram beberapa menit yang lalu. 

.

.

.

Dengan angkutan umum, akhirnya aku dan anakku sampai juga di klinik tempat ibu di rawat. Mba Santi sudah menyambutku di depan pintu kamar perawatan ibu. Sadar bahwa aku datang tanpa membawa solusi untuk keluargaku, segera saja aku menubruknya dan menangis sesenggukan di dada kakakku itu.

"Maaf mba, aku nggak bawa uangnya. Mas Bram nggak mau memberikan uangnya padaku," kataku dengan terbata menahan tangis. 

Mba Santi segera mengelus punggungku dengan lembut. 

"Sudah nggak apa-apa, Din. Masalahnya sudah selesai kok. Pakdhe Arno tadi datang menjenguk ibu. Alhamdulillah semua biaya ibu sudah diselesaikan sama pakdhe."

Seketika kulepaskan pelukanku ke mbak Santi. Mataku membelalak lebar menatapnya. 

"Pakdhe Arno?" Dahiku berkerut penasaran.

"Iya Pakdhe Arno, saudara jauh ibu, anaknya kakaknya kakek. Kamu inget nggak? Yang tinggal di jakarta itu."

"Ooh itu. Iya mbak aku ingat. Jadi pakdhe kesini dan membayar biaya pengobatan ibu?" tanyaku meyakinkan.

"Iya, Din. Semuanya sudah beres, tinggal bawa pulang ibu nanti sore."

"Alhamdulillah," ucap syukurku dengan senyuman lega. "Trus dimana mbak sekarang pakdhe?" Aku celingukan mencari-cari sosok pahlawan yang telah menyelesaikan masalah kami itu.

"Sudah pulang baru saja sebelum kamu datang tadi. Oiya, tadi pakdhe juga nanyain kamu lho kerja apa katanya. Dia mau menawarimu kerjaan, Din. Pakdhe kan lagi buka cabang perusahaan barunya di kota ini."

"Maksudnya? Pakdhe buka kantor cabang di sini, mbak?"

"Iya, Din. Dan dia nawarin kamu kerjaan kalau kamu mau. Kecuali kamu tetep mau jadi ibu rumah tangga aja."

"Aku mau mbak. Aku mau. Aku memang lagi butuh kerjaan sekarang. Aku lelah bergantung terus sama mas Bram kalau setiap saat cuma selalu direndahkan seperti ini." 

Kutundukkan kepala lemas. Teringat kembali kata-kata menyakitkannya setiap kali kami bertengkar. 

Seandainya saja mbak Santi tahu apa yang mas Bram katakan saat tadi aku meminta uang untuk biaya pengobatan ibu. 

"Jangan terburu-buru. Pikirkan saja dulu matang-matang. Pakdhe rencananya juga akan tinggal lama kok di sini, Din. Jadi kamu bisa pikirkan dulu dan bicarakan dulu sama Bram."

"Nggak perlu, Mbak. Aku nggak perlu lagi ngomongin masalah ini sama mas Bram. Sudah kuputuskan, sudah waktunya aku mandiri. Aku lelah, aku yakin bisa sendiri kok tanpa dia."

Komen (2)
goodnovel comment avatar
Irwin rogate
cerita bagus senang ada istri yang mau berusaha tidak selalu bergantung pada suami brengsek.
goodnovel comment avatar
dwi nurhayati
bagus ,bukannya kita gimana y tapi emang klo bisa kita itu harus bekerja
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status