Share

2. Dua Pilar Cinta

Kepulan asap menari di atas dua cangkir gelas, meliuk-liuk karena tergoda angin dari pintu depan yang terbuka. Rinai hujan masih enggan reda, tetapi kedua penghuni rumah masih belum bersuara.

Raihan, lelaki berahang tegas itu sesekali mencuri pandang melalui ekor mata. Tampak sang bapak baru saja meletakkan cangkir ke meja. Ada seberkas senyum yang tersungging di bibir. Hari ini adalah kali pertama dirinya bertatap wajah dengan pria berbaju batik itu setelah sekian lama.

“Ada hal yang ingin Bapak sampaikan sama kamu, Han,” ucap pria paruh baya itu tanpa menatap sang putra.

Raihan hanya menunduk, merasa berat untuk sekadar bertemu pandang dengan bapaknya. Ia hanya diam sembari sesekali mengepalkan tangan. Setelah perkataan barusan, ruangan kembali didekap keheningan.

“Kamu harus tahu kalau Bapak menaruh harapan besar sama kamu, Han.”

Raihan mengangguk. Saat mendongak, pemuda itu melihat kristal bening yang menyelimuti bola mata sang bapak. Dilihat dari cara bicara dan situasi yang ada, ia menduga bila akan ada pembicaraan serius.

“Han,” ujar Rojak lembut. Tatapannya menunduk sesaat, kemudian teralih pada putra tunggalnya.

Raihan perlahan mendongak. Ketika pandangannya dengan sang bapak menumbuk, secarik senyum dengan cepat tercipta.

“Ka-kamu ... akan Bapak jodohkan dengan anak teman Bapak,” ujar Rojak.

Senyum yang menghias paras Raihan dengan cepat sirna, berganti dengan tatapan kosong. Pemilik manik cokelat muda itu lantas menggigit bibir bawah, berusaha menetralisir emosi. Pemuda itu itu sangat berharap apa yang baru saja ia dengar adalah sebuah kesalahan. Namun, saat detak jam terus memekik, kalimat itu tak pernah di tarik.

“Dijodohin?” tanya Raihan hati-hati. Keterkejutan belum sepenuhnya pudar dari parasnya. Saat mengatakan hal tersebut, tangannya tiba-tiba terkepal kuat.

Rojak mengangguk. Pandangannya teralih pada rinai hujan yang kian gigih membasahi bumi. “Dan Bapak gak nerima penolakan apa pun.”

Kepalan tangan Raihan melemah seiring dengan pandangannya yang kembali menunduk. Pemuda itu beberapa kali meneguk saliva, berusaha merangkai kata untuk menyambung percakapan. “Apa ... ini tidak terlalu cepat, Pak?” tanyanya kemudian.

Rojak menggeleng. Pandangannya masih tertuju pada tetes air yang jatuh dari genting.

Raihan kembali menoleh pada sang bapak sebelum berbicara, “Tapi, Raihan masih—”

“Bapak tahu,” sela Rojak cepat.

“Sejujurnya, Raihan masih jauh dari kata siap, Pak. Nikah itu—”

“Ikuti perintah Bapak!” bentak Rojak sembari menggebrak meja. Isi cangkir seketika tumpah ruah membasahi meja kaca. Hening dengan cepat menyergap.

Raihan tercenung singkat. Sorot tajam sang bapak berhasil menguliti keberaniannya secara perlahan. Meski begitu, belum ada kata sepakat atas permintaan tersebut. Bagi pemuda itu, perintah ini sangatlah tidak masuk akal. “Pak,” lirihnya sembari berusaha menggapai tangan orang tua tunggalnya.

 Rojak segera menarik tangannya, kemudian mengalihkan pandangan pada sembarang arah. “Ikuti perintah Bapak, Han,” ujarnya dingin.

“Kalaupun harus menikah, Bapak bisa nunggu Raihan sampai—”

“Anggap saja ini permintaan terakir Bapak sebelum Bapak mati,” ucap Rojak penuh penekanan, “kalau kamu memang menghormati dan menganggap Bapak sosok penting dalam hidup kamu, kamu akan menurut dan tidak akan banyak bertanya.”

“Pak,” gumam Raihan dengan mata berkaca-kaca. Bola matanya bergerak gelisah. Rasanya berat untuk sekadar mengangguk. Sulit sekali untuk bisa bernapas dengan normal. Dunia terasa menyempit, sedang mimpi dan cita-citanya terasa terhimpit oleh kenyataan pahit. Tak ada kesempatan bagi pemuda itu untuk membantah.

“Dan kamu akan menikah besok,” lanjut Rojak.

Laksana disirim air es, Raihan seketika membeku. Tangannya membatu sedang hatinya bagai dirajam sembilu. “Be-besok?”

Rojak bangkit dari kursi, kemudian memasuki kamar yang berada paling ujung. Pria berbadan tegap itu kembali dengan selembar map. “Ini biodata gadis yang akan menikah dengan kamu besok.”

Raihan menerima map tersebut, lantas membuka isinya. Sejujurnya, ia tak benar-benar membaca informasi mengenai si gadis yang tertera di sana. Gerakan matanya dibuat seolah tengah mencerna tulisan tersebut. Fakta ini sukses menghantam pikiran dan perasaan, atau malah kewarasan.

“Bapak sudah memberitahu Kiai kalau kamu akan absen selama beberapa hari ke depan,” jelas Rojak, “Bapak juga sudah menyiapkan semua keperluan kamu untuk besok. Bapak tunggu kedatangan kamu jam tujuh pagi.”

“Bagaimana dengan keluarga—”

“Oh, ya, jangan bilang sama siapa pun soal masalah ini,” tandas Rojak.

“Apa yang—”

“Kamu bisa pergi sekarang, Han,” sela Rojak sembari kembali bangkit dari kursi.

Raihan terpejam, lantas menoleh ke arah selasar rumah. Hujan sudah sepenuhnya reda. Pemuda itu bangkit walau terasa sulit. Setelahnya, ia menyalami Rojak, kemudian berjalan menuju teras.

“Wassalamualaikum,” pamit Raihan ketika tubuhnya sudah berada di atas sepeda. Santri dari pesantren itu menatap Rojak lekat-lekat, berharap semua permintaan ini tak lain adalah sebuah candaan. Saat ucapan tak kunjung datang, Raihan mulai secara perlahan mengayuh sepeda.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status