Share

7. Si Sinting Rafael Dan Hadiah

"Anjing…." makiku. Tanganku yang menahan dada Rafael tidak mampu menghentikan bibirnya yang sukses mendarat di atas bibirku. Badanku rasanya lemas, dia malah tersenyum puas. 

Aku cepat-cepat menjauhkan diri darinya dan menggusap bibirku dengan punggung tangan. Rasanya sangat menjijikan, ini jauh lebih berat daripada terkena pukulan telak. 

Bima menatap kami berdua dengan bengong. Tidak percaya dengan apa yang disaksikannya barusan. Rafel yang punya harga diri, melakukan hal yang sangat menjijikan. 

"Hua… Rafa sama Andro baru saja ciuman. Bibir ketemu bibir," katanya heboh membuat Akira, Aldo, dan Alwi melihat kearaha kami. 

"Anjing diam lo. Gue tonjok juga lo." Ancamku tidak dipedulikan. Dia terus tertawa memegangi perutnya dan melihat aku dan Rafael secara bergantian. 

Tatapan tajamku tidak mampu menghentikan tawa Bima yang memenuhi seisi ruangan ini. Aku maju dan memukul kepalanya, saat mundur Rafael menahan tanganku.

Aku mencoba melepaskan tanganku, tapi dia menahan tanganku. Genggamannya berubah menjadi lebih erat. Membuat aku mengerutkan kening. Tatapan matanya terlihat serius. 

"Lepasin, Anjing!" kataku kesal. Dia lalu melepaskan tanganku dan meninggalkan kami ke dapur. 

"Dia kenapa? Sikapnya aneh banget." tanya Bima bingung. Aku hanya menggeleng tidak tahu. 

Akira lalu turun dari sofa dan bergabung di karpet berbulu. Duduk tepat di sebelahku. Aku memiringkan posisiku sedikit dan bersandar ke punggung Akira. 

Rafael kembali dengan membawa beberapa minuman dingin dan melemparnya padaku. Aku menangkap dengan tangan sebelah kiri. Saat dia mendekat ke arah kami. Rafael malah nendang Akira sehingga terjatuh. 

Aku juga ikut terjatuh untung Bima menarik bajuku dan menahan tubuhku sehingga tubuhku tidak menimpa tubuh Akira. 

"Lama-lama stres gue kalau kalian kayak gini. Tantrum gak jelas," omel Bima. 

"Sok bener, anjing," kataku memaki. Bima hanya tertawa terbahak-bahak.

Bima kemudian menarik kerah bajuku dan memaksaku duduk di depan komputer. Tangan kirinya menyalakan komputer dan Pc. Sementara tangan kanannya menahan tubuhku agar terus duduk di kursi. 

Komputer menyala dan Bima langsung membuka satu aplikasi game yang cukup terkenal. Selesai login dia duduk di sebelahku. 

"Ajak dong temen lo yang jago main," katanya menyalakan komputer yang satu lagi. Di basecamp ada sembilan unik komputer yang mendukung untuk memainkan game berat. 

"Yang mana?"

"Ocean, yang jadi top global itu," katanya penuh harap padaku. 

"Dia sibuk," kata ku menolak. Aku tidak boleh terlalu dekat dengan kelompokku selama di sini. Kalau wanita jalang itu tau. Dia akan membuat sulit mereka semua.

"Bohong banget. Tu anak online kok," Kata Bima menunjuk layar komputer. 

'Sialan, kenapa juga dia harus online'

"Si Anjing pelit amat. Gue cuman mau belajar aja. Trik dia gak bisa ditemui dimanapun. Tempo permainan dia juga unik, cepet tapi akurat."

'Dia jauh lebih hebat dari itu. Jangankan hanya memainkan game. Membuat game saja dia bisa.'

"Ayo Andro undang temen lo buat main," kata Bima sambil merangkul bahuku. Dengan terpaksa aku mengundangnya Ocean kedalam pemain. Dia langsung menerima undanganku.

Ocean hanyalah nama di dalam game saja. Di dalam kelompok mafia kami, dia harusnya memiliki masa depan cerah. Tapi entah kenapa dia tidak meninggalkan kelompok. 

Ocean terus bertahan dan hidup dalam dunia kotor. Padahal kemampuan di bidang IT sangat hebat. Banyak yang ingin merekrutnya, tapi semuanya ditolak dengan alasan tidak jelas. 

"Bagaimana kabarmu?" tanyaku pada Ocean melalui voice game. 

". Tidak ada pembuat onar lagi. Jangan khawatir semuanya baik-baik saja. Jaga saja dirimu baik-baik," katanya lembut. Dibalik suara lembut itu dia adalah orang yang kejam. Dia tipe orang yang suka memanipulasi keadaan dan membuat orang lain melakukan apa yang dia inginkan. Untung Ocean orang yang setia.

"Ocean jangan membunuh sembarangan lagi," kataku memperingatinya. Bima yang berada di sampingku tidak memperdulikan kami. Dia fokus pada jalannya permainan, sementara itu Rafael memperhatikan aku dari karpet berbulu. 

Aku mengeluarkan jari tengah ku padanya. Dia hanya mengangkat alisnya saja. Aku berdecak dan kembali fokus pada permainan. 

"Aku punya hadiah yang menarik untukmu. Semoga kamu senang," kata Ocean sebelum menutup permainan. 

"Gua bilang jangan main-main," kataku berteriak tapi dia telah offline dari permainan.

Ponselku berbunyi dan itu dari wanita jalang itu. Hadiah apa yang diberikan oleh Ocean? Yang pasti itu bukan hal benar!

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status