Share

Bangkitnya Sang Ahli Pedang
Bangkitnya Sang Ahli Pedang
Penulis: Viens Aisling

Anak yang Tersadar

“Dasar, gembel ini!“ Dia membuka ritsleting celana sekolahnya.

Samar-samar mataku memandang apa yang akan dia lakukan. Tanganku mengepal, siap menerima perlakuan yang dilakukan. Kenapa aku selalu sial, padahal aku tidak melakukan kesalahan apa pun. Hanya karena aku seorang anak yatim piatu mereka menindasku, bahkan mereka yang melihatku tidak membantu. 

Rasa hangat dari pipis yang dia siramkan padaku serasa membakar diriku, aku hanya bisa mengeram. Akan tetapi, bau dari pipis seorang perokok dan kurang minum ini yang benar-benar membuatku muntah.  Bahkan mereka tidak membiarkanku menyelesaikan muntah. Satu dari mereka menerjang tubuhku dengan kuat. 

“Ugh ....” Aku mengerang kuat, kepalaku berputar-putar, tanpa sadar air mataku mengalir. 

“Hei, kau gembel! Seharusnya bersyukur dengan anugerah yang kuberikan ini.” Dia tertawa kejam. 

Plak! 

Kepalaku ditampar oleh dia lagi. Aku semakin tertunduk. 

“Kalau kau memohon pada kami, kami mungkin akan membebaskanmu.” Mereka berdua tertawa. 

Aku tidak mungkin memohon maaf dengan menjilati sepatu mereka—kedua sampah ini. Bahkan kata maaf dariku saja tidak pantas untuk mereka. 

“A-aku tidak mau.”

Dia menatap tajam, seolah kedua bola matanya akan keluar. Bibirnya membentuk sudut yang mengerikan. 

“Dasar, gembel busuk! Mati!”

“Mati! Mati kau!”

Aku melindungi tubuhku yang diinjak-injak oleh mereka. Kalau begini, aku bisa benar-benar mati. Tubuhku lunglai, napasku berat dan suara pun tidak bisa keluar. Dengan penglihatan samar, aku pun terjatuh dan semuanya menjadi gelap. Hanya terdengar suara-suara pelan dari mereka yang mempertanyakan apakah aku sudah mati? 

**

Katanya, akan ada kehidupan setelah kematian. Kehidupan yang mungkin saja baik atau mungkin saja buruk untukmu. Saat aku membuka mataku untuk kali pertama, aku berpikir kehidupan baik yang akan mulai terjadi padaku. 

Mungkin ini mimpi? Tidak. Minuman yang kupegang ini terasa dingin dan nyata. Bagaimana bisa senyata ini? 

Aku ingat, terakhir kali ketika mataku masih terbuka, aku sedang mereka pukuli dengan brutal. 

Aku meremas gelas tanpa sadar dan gelas itu pecah. Aku tersadar kembali. 

Ini nyata. 

Lihat apa yang telah kuperbuat ini? 

“Di mana aku? Apa ini surga?”

Tepat saat aku mengucapkan itu, seorang pelayanan tua dengan gaya yang sangat klasik masuk. Mukanya terlihat bingung saat memperhatikanku.

Namun, seharusnya yang bingung di sini adalah aku. Apa mereka menculikku? 

“Ada apa, Tuan Muda?” tanyanya sedikit ragu. 

Ah, tuan muda. Aku memang hidup kaya dulu, punya pelayan, tetapi tidak satu pun dari mereka memanggilku tuan muda. 

Tunggu! Bahasa apa ini? Ini bahasa yang sangat baru kudengar. Dan ... dan hebatnya lagi aku memahaminya. Aku mulai takut dengan kewarasanku sendiri. Apa karena benturan di kepalaku, aku menjadi sedikit gila?

“Aku di mana?” Aku dengan ragu bertanya. Ah, aku bisa berbicara bahasa yang sama. Secara spontan aku memegang mulutku.

Wajah pelayanan itu masih terlihat kebingungan.

“Anda ada di ruangan Anda, Tuan Muda.”

Aku lebih bingung dari sebelumnya. Seumur hidupku, aku tidak punya ruangan seklasik ini. Sungguh interior yang bisa membuat kagum, kuno dan elegan. 

Aku melirik ke mana-mana, tepat di sudut kiri bawahku, aku melihat bayangan terpantul. 

Wajah siapa ini!? 

Aku memegang wajahku dengan kasar. 

Ini sungguh aku? 

Bagaimana bisa kulitku semulus ini? Rambut berwarna blonde, bibir tebal yang sexy, serta rahang yang tajam. Sorot mata ini, aku tidak punya. Ini sorot mata seorang predator. 

Aku menelan ludah. 

“Bisa kau ambilkan cermin?”

Aku ingin memastikan lagi. Namun, semua keraguan tadi adalah kenyataan. Ini adalah aku dengan wajah yang tidak kukenal.

“A-ku ... siapa aku?!” teriakku. 

Pelayanan itu dengan panik melihatku yang histeris. Dia memanggil bantuan dengan tergesa-gesa. 

**

 Akion Naal Sanktessy. 

Itu namaku. Seorang anak kedua dari Baron Sanktessy, yang tinggal di wilayah penuh dengan hutan kegelapan. 

Dikenal sebagai swordmaster termuda, mendapatkan gelar itu pada umur enam belas tahun—orang yang ditakuti. 

Nama lainnya adalah monster dari wilayah tandus, dengan tatapannya yang dingin, orang-orang bisa langsung pingsan

“Bagaimana dengan anakku?” 

Lelaki dengan wajah tegang itu pasti ayah dari Akion. Dia bertanya pada sosok berbaju hitam yang tadi mengobatiku. 

“Kondisi Tuan Muda baik-baik saja. Hanya saja, sepertinya dia sedikit mengalami hilang ingatan.”

Dia menelan ludah dan memegang kedua pundakku secepat mungkin. “Bagaimana bisa?”

“Apa kau ingat ini Ayah?”

“Ayah?” 

“Oh, tidak! Sialan!” makinya dengan raut wajah kecewa. 

“Bastian, tolong antarkan Tuan Penyihir pulang. Dan, kau tahu apa yang harus diperbuat, ‘kan?”

Pelayanan tua yang dipanggil Bastian itu mengangguk. 

“Jangan sampai informasi ini bocor ke kekaisaran.”

“Baik, Tuan.” Bastian pamit untuk mengantar Tuan Penyihir. 

Setelah hanya kami berdua yang tinggal, wajah ayahku berubah menjadi wajah penuh frustrasi. 

“Aku akan menghancurkan cermin sialan itu,” omelnya, “karena dia jatuh menimpamu, kau kehilangan ingatan!”

“Bagaimana nasib kita?”

“Ah, apa kita kirim saja Harzem? Ah, tidak, tidak, Harzem itu bodoh.”

“Renia itu perempuan.” Dia mengoceh sendiri. 

Matanya melirik padaku, rasa frustrasinya meluap. 

“Ayah akan memikirkannya. Kau tenanglah di sini. “ Dia menatap dalam mataku kembali. “Jika butuh apa pun, panggil saja Bastian.”

Ayah Akion tersenyum kaku. Kemudian, pergi ke luar meninggalkanku dengan sejuta tanda tanya.

BERSAMBUNG•••

Komen (3)
goodnovel comment avatar
Agus Sutikno
nama2nya....agak sulit
goodnovel comment avatar
Sastra Bengkut
up ny macet ngga kakak2?
goodnovel comment avatar
Tersesi
BAGUS BANGET :)
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status