Keluarga

Setelah menemui kesatriaku, aku berjalan ke Taman Baron. Taman yang tidak begitu mewah sesuai yang kupikirkan. 

Mana mungkin mewah, jika mereka saja sering kali kekurangan. Akan tetapi, Taman Baron cukup hidup. 

Di tepi danau, aku melihat Renia sedang berpiknik dengan pelayannya. 

Renia adalah anak bungsu Baron, dan adiknya Akion. Umurnya delapan tahun, mempunyai rambut pendek berwarna sama seperti Akion dan mata berwarna emas yang selalu membuatku kagum akan rupa keluarga ini. 

Adik atau saudara, aku tidak punya sebelumnya. Yang kupunya hanyalah sepupu brengsek yang ingin kubunuh. 

Dengan seluruh hatiku, kehadiran Renia membuatku senang. 

“Renia.” Aku tersenyum lebar pada Renia. 

Dia bergidik ngeri sendiri. 

Akion selalu sibuk untuk belajar, berlatih dan berburu monster. Sehingga Renia tidak dekat dengan Akion, dia cenderung takut pada kakaknya itu. 

Ya, seperti yang ada diingatanku ini, Akion selalu menatap Renia dengan sorot mata pemburu. 

Salahnya. Tentu. 

“Ada apa, Kak ...?” jawabnya kaku. 

Apa ini salahku, ya? Aku menggaruk keningku pelan. 

Kemudian, pikiran itu aku hilangkan dan duduk di samping Renia. 

“Maaf, aku mengganggumu. Bolehkah kakakmu ini meminta secangkir teh pada adik manisnya ini?”

Renia terlihat ragu. “Ten-tentu.”

Aku menyadari bahwa aku telah berbuat sesukanya. 

Nami, pelayan dari Renia telah memberikanku teh. Aku menyesapnya sambil memperhatikan Renia yang ragu-ragu untuk meminumnya. 

“Renia, kenapa kau tidak meminumnya?” Aku tersenyum agar dia merasa nyaman. 

Mungkin jaraknya begitu jauh, tidak ada sedikit pun rasa persaudaraan di antara mereka. 

“Kakak … apa aku melakukan kesalahan?”

Aku berhenti minum, alisku sedikit terangkat. Setiap kali aku tersenyum, orang-orang akan bertanya apa mereka melakukan kesalahan  atau mereka membuatku tidak nyaman. Sepertinya karena wajah ini selalu saja tegang. 

Akion ... ya, kaulah pelaku dari semua ini. Wajah kakumu dan sikap terlalu seriusmu membuat orang salah paham. 

“Tidak.” Aku meletakan gelas tehku. “Sepertinya aku yang melakukan kesalahan. Mengganggu waktu piknikmu.”

Aku mengusap lembut kepala Renia lalu memperbaiki pita rambutnya yang sedikit miring. 

“Aku harap, lain kali kita bisa minum teh di waktu yang tepat. ”

“Dan, maafkan sikap kasar Kakak untuk hari ini.”

Aku mengundurkan diri, dan meninggalkan Renia dengan kebingungan akan perubahan sikap kakaknya. 

**

Aku meneguk anggurku perlahan. 

Saat di bumi, aku tidak pernah menyentuh ini. Aku takjub sendiri,  aku rasanya bahkan bisa menenggak sebotol. Batasan umur di sini terlalu rendah. Pada umurku yang baru tujuh belas tahun, aku sudah dianggap dewasa dan mampu untuk melakukan apa pun.

Banyak perbedaan di antara Bumi dan Xellim. 

Xellim, benua luas  yang terkadang muncul bulan biru. Ini warna yang biasa. 

Untuk konsep matahari dan bulan, kurasa sama saja dengan Bumi, berotasi selamat 24 jam dan berevolusi 365 hari. 

Hanya saja, di sini mempunyai dua bulan. Satu berwarna kuning, dan satu berwarna biru yang muncul enam bulan sekali. Dan, menurut catatan yang kubaca, ada satu lagi bulan berwarna emas yang muncul dua belas tahun sekali. 

Jika dirunutan, maka ada tiga bulan di Xellim. Kuning, biru, dan emas. 

Penggunaan sihir dan Mana adalah hal yang biasa di sini. Apa pun menggunakan yang namanya sihir. 

Lihat lampu sihir itu! Sangat cantik

Mereka bersinar,  disalurkan melalui Kabel Mana yang berpusat ke Batu Mana.  Mereka menakjubkan. 

Jika ini di bumi, pengguna sihir akan dirajam. Ya, kalau ini abad ke enam belas. Ini adalah dunia fantasi yang diimpikan orang-orang di bumi. 

Aku menelengkan kepala. 

“Ada apa, Akion?”

Ayah Akion menghentikan makannya, matanya menatapku khawatir. Seperti terakhir kali, kepalaku sakit secara tiba-tiba. Kalau saja ini tubuhku sendiri, dengan rasa sakit seperti menghadapi kematian itu. Tubuhku akan menyerah. 

“Aku hanya mengagumi rasa anggur yang nikmat ini, Ayah.”

Wajahnya terlihat bahagia. Dia memanggil pelayan dan menunjukkan botol anggur yang dia pegang. 

“Ini Roxanne XII, tahun 1472 dibuat 200 tahun yang lalu.”

Matanya berbinar. Sepertinya dia begitu kagum dengan anggur ini. 

“Ayah mendapatkannya dari Duke Lexier. Dia harap bisa berhubungan baik dengan keluarga kita.”

Aku tidak ingin menekuk wajahku dan membuat kebahagiaannya sinar. 

Duke Lexier adalah penguasa wilayah Selatan. Berbeda dengan di sini, wilayahnya dikenal dengan wilayah cahaya, banyak kuil berdiri di sana, wilayah kekuasaan yang cukup makmur. Sang penguasa bangsawan sentral.

Keturunan Duke Lexier sekarang bahkan digadang akan menjadi swordmaster dan gelar itu sudah berada di tanganku sebelum anaknya berhasil mencapai gelar itu. 

Setelah hal itu, Duke Lexier mendekatkan diri pada keluarga Baron Sanktessy. Bangsawan lain menganggap hal itu sebagai kemurahan hati dari Duke Lexier. 

Namun, aku menganggapnya lain. 

Keluarga yang menguasai jantung kekuasaan, tidak akan semudah itu melepaskan keistimewaannya. 

“Sungguh Duke Lexier orang yang bermurah hati.”

Aku tersenyum misterius dan menghabiskan anggur yang kupegang dengan sekali teguk. 

**

“Kakak, maafkan aku atas sifatku siang tadi.” Renia memberi salam dengan membungkuk. Pelayan setianya juga membungkuk. 

Ini sebabnya sejak tadi di ruang makan dia terlihat ragu-ragu melihatku. 

“Renia, yang mengacaukan piknikmu adalah aku.”

Renia menatapku. Ada ketakutan dalam dirinya. Kemudian, dia melihat Nami di belakangnya yang membalas menatapnya. 

Mungkin Nami telah memberi masukan pada Renia agar meminta maaf. 

“Renia, apa kau takut pada Kakak?”

Renia terdiam. Raut mukanya berubah menjadi ragu-ragu. 

“Ti-tidak,“ jawabnya terbata-bata. 

Aku menunduk, memegang pundak kecilnya. Renia tertegun, sorot mata kami bertemu. Aku tidak ingin menghancurkan tubuh cantik ini. 

“Renia, selama ini Kakak memang jarang berinteraksi denganmu. Kakak merasa bersalah dengan hal itu, bagaimana bisa Kakak marah padamu?”

Mendengar omongan yang seperti dibuat-buat, Renia menatap keheranan. 

“Pada dasarnya, katakan apa pun yang kau mau. Kau boleh meminta apa pun padaku karena aku adalah kakakmu.”

Aku tersenyum. 

Wajah Renia terlihat sedikit malu, sifat anak-anaknya terlihat saat begini. Sedangkan Nami, ini kali kedua aku melihatnya terdiam, terjebak dalam pesona Akion yang tersenyum. 

“Terima kasih, Kak Akion.” Dia tersipu, tetapi masih mencoba mempertahankan keanggunannya. 

Di bumi, kita mempunyai bangsawan juga pada abad terdahulu. Tentang aturan-aturan mereka yang merepotkan, sama halnya seperti yang kubaca di buku sejarah. 

Awalnya, bangsawan dianggap keturunan dewa. 

Untuk itulah mereka menjaga kekentalan adat, tata cara, dan peraturan

Di mana pun, peraturan memang diperlukan. 

Aku melambaikan tanganku pada Renia yang undur diri. Untuk pertumbuhannya, tidur cepat itu baik. 

**

Aku melihat diriku sendiri lagi. 

Diriku yang dikelilingi oleh buku. Ayahku bilang, dengan buku, aku bisa membuat kehidupan menjadi baik. 

Aku sedang duduk di perpustakaan pribadi yang Ayah dan Ibu berikan saat ulang tahunku yang ke-10. Aku membuka lembar per lembar buku. Mungkin, terlihat membosankan. Namun, raut wajahku tidak begitu. 

Kemudian, itu berputar lagi. 

"Pesawat Elang 3612B menghilang di lautan antara negara Jepang-Korea."

Terputus kembali. 

"Ayah, ibumu dinyatakan telah meninggal. "

Raut mukaku di sana mengerikan. Aku menangis dan berteriak, orang-orang hanya berbisik mengasihaniku. 

Paman dan keluarganya datang ke rumahku. Dia masuk sebagai wali. Anaknya yang seumuran denganku menatap dengan tajam. Aku melihat pamanku tersenyum sambil memegang tangan orang yang membawa tumpukan berkas itu. 

DUGHH! 

Tendangan bersarang di pinggulku. Aku terdorong. 

Paman dan bibiku hanya melirik sebentar, tidak peduli dengan perbuatan anaknya. 

Gelap lagi. Perasaan yang sangat aku ketahui. 

"Tuan Leon, Anda seharusnya melaporkan ini."

Pintu kamarku terbuka, bayangan monster itu masuk. Mereka menarik asisten rumah tanggaku, mereka memecatnya dan mengusirnya. Seakan rumah ini milik mereka. Aku diam—tubuhku gemetar. 

Ini berlanjut hingga empat tahun. 

"Ampuni aku, Paman, Bibi ... kumohon."

Aku memohon dengan tangan gemetar. Kemudian, aku melihat Haikal melemparkan ikat pinggang ke depan kedua orang tuanya. Aku pun dipukuli lebih brutal. 

"Dasar, gembel!"

Aku ingat ini, masih sangat segar. Dia mengencingiku, si bocah brengsek bernama Haikal. Dia yang membuatku mati.

Aku meremas dadaku. Rasanya jantungku ingin meledak. Tubuh ini basah dengan keringat, ini mimpi buruk dari kehidupanku dahulu. 

Aku ingin menebas kepala mereka  lalu menginjak-injaknya. 

Aku mencoba menstabilkan napas. untungnya dengan tubuh ini, itu hal yang mudah. 

Setelah aku benar-benar tenang, aku merasa bodoh sendiri. Kenapa aku begitu takut dengan mereka? Ada banyak cara untukku melawan dan aku hanya diam lalu mati. 

Kemudian, kembali lahir ke dalam tubuh kuat ini. 

Jadi, di mana Akion yang asli? Apa dia masuk ke dalam tubuhku? 

Sejak hari pertama aku berada di tubuhnya. Aku sudah menanyakan jutaan pertanyaan tentang situasi ini pada dewa dan tak mendapatkan jawaban. 

Aku berjalan seolah ini tubuhku sendiri. Terkutuk!

Memang terkutuk. Setidaknya biarkan aku membalaskan dendam terlebih dahulu pada mereka di sana. Sekarang, aku diseret pada Pertempuran sengit para penguasa. 

Aku saling menatap pada bayanganku di kaca, tatapan tajam yang penuh permusuhan. Cahaya bulan yang masuk tidak melunakkan amarahku. Namun, aku memutuskan untuk keluar dan berdiri di teras lalu menghirup udara malam yang seakan memelukku untuk terlelap kembali.

BERSAMBUNG•••

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status