AURUS

“Tuan Muda Akion, kenapa Anda tidur di sini?”

Saat aku membuka mataku, cahaya matahari langsung menyerang retinaku dan membuat buta sesaat. Setelah aku terbiasa, aku sadar Bastian menyelimuti. wajahnya penuh dengan rasa khawatir. 

“Aku hanya tertidur saat mencari angin semalam.”

Wajahnya belum berubah. 

Aku berdiri dari kursi yang kududuki. Selimut yang sebelumnya dia selimutkan padaku, kuberikan dengan sesopan mungkin. Mungkin kasta di sini bisa saja membuatku bertindak sesukanya, tetapi itu bukan aku. 

“Tolong, siapkan air mandi untukku, Bastian.”

Sekarang, aku harus menjalani hidup sebagai Akion. Tidak perlu banyak berpikir tentang yang dahulu, bahkan pertempuran sengit berada di depanku. 

Ada rasa khawatir dalam diriku terhadap keluarga ini. Bagaimana nasib mereka, jika aku kabur begitu saja atau tidak memedulikannya. Mungkin, perasaan Akion perlahan menyatu padaku. 

“Tuan Baron mempersilakan Anda masuk, Tuan Muda Akion.”

Bastian membukakan pintu ruang kerja ayahku. Banyak tumpukan berkas di hadapannya. Bahkan nyaris membuat wajahnya tidak terlihat. 

Melihat dari betapa tidak terurusnya ruangan ini, aku tahu mereka kekurangan pekerja. Sudah sewajarnya seorang pemimpin mempunyai sekretaris pribadi, tetapi di sini yang selalu kulihat untuk mengurus apa pun adalah Bastian. 

Mereka hanya bangsawan yang bergelar. 

Aku menatap wajah ayahku. Sikapku sempurna sebagai kesatria, tubuh yang tegap dan pandangan lurus tanpa ada rasa ragu. 

“Ada masalah di wilayah kita.” Dia meletakan berkasnya sesaat sebelum bicara, dan matanya fokus memandangku dengan penuh harap. 

“Masalah apa, Ayah?”

“Duduklah dulu. Ini akan menjadi pembicaraan panjang.”

Dia berdiri dan menoleh ke Bastian memberikan perintah hanya dengan gerakan. Bastian keluar. 

Aku duduk berhadapan dengan ayahku.  Dia memberikan berkas padaku. Aku mengambilnya dan membacanya dengan hati-hati. 

Ada wilayah yang bernama Aurus di wilayah kekuasaan Baron. Wilayah yang sangat miskin. Kekeringan sudah berlangsung selama enam bulan di sana. Beberapa monster muncul dan wilayah itu perlahan menjadi seperti sumber kutukan. 

Aku menatap ayahku. Dengan permasalahan yang dimulai selama ini, memang sudah jelas bahwa Baron sendiri kekurangan kredibilitasnya. 

Ayahku menjelaskan, dia sudah meminta bantuan pada kekaisaran, dan keluarga bangsawan lain. Namun, apa timbal baliknya? 

Sesuatu itu saling menguntungkan, itulah pertimbangan yang paling utama. Sedangkan wilayah ini? Tidak ada sedikit pun keuntungan di dalamnya. 

Sejenak aku mengingat, bahwa Akion sendiri telah memikirkan Aurus. Bagaimana caranya dia membuat rakyatnya tidak menderita? 

Aku menyesap teh yang dibawakan oleh Bastian. Memperkirakan tentang Aurus, aku tidak bisa duduk saja dan menyelesaikannya hanya dengan membaca buku. Aku harus ke sana. 

“Ayah, izinkan aku ke Aurus.” 

Ayah melihatku dengan tersenyum. Sepertinya inilah yang dia harapkan. Satu-satunya yang bisa diandalkan di keluarga ini adalah Akion. Sedangkan Harzem, dia sibuk bermain ke mana pun. 

Namun,  dahinya berkerut alami. 

“Apa tidak masalah kau membawa sedikit kesatria?” 

Kekhawatiran itu muncul. Mereka kekurangan pekerja, membawa banyak kesatria dan menyebabkan mereka bisa saja kehilangan nyawa, akan lebih merugikan bagi keluarga Baron. 

“Aku hanya perlu membawa Levian, Ayah.”

Ayah mengangguk. 

Aku seorang swordmaster dan Levian adalah kesatriaku yang paling hebat. Kami berdua bahkan bisa mengalahkan ratusan prajurit. 

**

Burung terbang di atas kepala kami. Dari balik jubahku, aku mengintip burung itu membentangkan sayapnya lebar. 

Langit yang biru, udara panas,  tanah yang mengeras, bahkan sebagian besar adalah gurun pasir. Kuda kami berjalan di atasnya. Pohon adalah pemandangan langkah. 

Setiap keluarga mempunyai ceritanya sendiri, Sanktessy diceritakan sebagai wilayah yang makmur, banyak pohon yang tumbuh di atas tanahnya. Wilayah yang diberkahi. 

Ini bermulai sejak 430 tahun yang lalu. Tiba-tiba wilayah Sanktessy dilanda hujan darah. Sejak itu, semua perlahan berubah. 

Ada yang bilang, wilayah ini terkena kutukan. Dengan pikiran yang seperti itu, perlahan pendeta memilih meninggalkan wilayah ini dan menetap di wilayah kekuasaan bangsawan lainnya. Bertemu dengan pelayan dewa lebih sulit dibandingkan dengan penyihir. Itu alasan kenapa Baron Sanktessy memanggil penyihir ketimbang pendeta saat Akion sakit. 

Menurut Levian, kami akan tiba di Aurus tujuh hari lagi, total perjalanan sembilan hari. Aurus berada di bagian Tenggara wilayah Baron Sanktessy, jalur perjalanannya memang termasuk sulit. Sehingga membuat Aurus menjadi wilayah yang terisolasi.

Mereka dikepung bencana. 

Satu, dua, lima, delapan, tiga belas, tujuh belas ....

Total monster gurun yang telah dikalahkan olehku dalam perjalanan ke Aurus. Tidak banyak. Namun, bagi mereka yang tidak terlatih, itu menjadi momok yang mengerikan. 

Saat aku memasuki wilayah Aurus, angin yang sangat kering menerpa. Aku sudah tahu, akan seperti apa wilayah dengan angin sekering ini. 

Sesaat aku mengingat tentang keadaan bumi. Di sini dikenal dengan kutukan, makan di negaraku dikenal dengan azab. 

“Tuan Akion, kita akan ke mana?”

Levian berbisik padaku. Orang-orang yang melihat kami berdua memakai jubah hitam terlihat memelas. Anak-anak duduk tidak berdaya. Keadaan wilayah ini begitu parah. 

“Mari ke tempat kepala desa.” Aku menggerakkan kudaku perlahan, menyusuri jalan desa. 

**

“Tuan Muda Akion, kenapa tidak memberi kabar terlebih dahulu?” Kepala desa menyambutku dengan tergesa-gesa. 

Sorot mataku yang tajam membuatnya penuh pertimbangan dalam mengambil tindakan. 

“Sudah sewajarnya aku melihat wilayahku.” 

Aku dan Levian membuka jubah yang kami gunakan. Penyambutan mewah tidak pernah terpikir di otakku, wilayah ini sedang kritis. Untuk makan saja seharusnya bersyukur. 

Namun, ada yang aneh di sini. 

Kepala desa menyuguhkan makanan yang cukup mewah. Kentang yang rasanya cukup manis, daging asap berlemak, dan sayuran. Bahkan sebotol anggur menyegarkan. 

Aku memakannya tanpa ragu. 

“Ini makanan ternikmat kita selama perjalanan, 'kan, Levian?” Aku melirik Levian. 

“Iya, Tuan Muda Akion.”

Walaupun kami berdua sibuk mengunyah makanan, tetapi aku tahu ada rasa tidak nyaman pada Levian, sama sepertiku. 

“Aku ingin melihat pembukuan tentang Aurus.”

“Apakah itu perlu, Tuan Muda Akion?” Dia sedikit menggigit bibir bawahnya sebentar. 

Mungkin di sini juga ada tikus. 

Aku terkekeh pelan di balik kedua tanganku yang mengampu di hadapan wajahku. 

“Ya?” Responsnya cukup bagus. Sepertinya dia mendengar kekehku yang pelan. 

“Apakah ada masalah untukku melihat pembukuan dari wilayahku sendiri?” 

Aku tanpa berbasa-basi menekankan suaraku, ada aura mengancam terpancar dari itu. Kulihat tubuhnya sedikit gemetar dan dia mengangguk. 

“Tidak ada, Tuan Muda Akion. Tapi, bisakah Anda memberi saya waktu sampai makan siang besok untuk memberikan pembukuannya?”

“Memang kenapa?”

Dia mencoba mencari alasan lagi. “Saya harus memastikan untuk memberikan laporan yang baik untuk Tuan Muda Akion.”

Senyumannya penuh kebohongan. 

Aku melirik Levian sesaat dan kembali melihatnya. 

“Baiklah. Lakukan yang kau butuhkan!” 

“Aku akan istirahat terlebih dahulu.” 

Aku keluar dari ruangan makan. Dari sisiku yang sudah membelakanginya, aku tahu apa yang akan dia lakukan setelah ini. 

Levian berdiri di dekat jendela. Dia hanya menunggu aba-aba dariku untuk menjalankan tugasnya. Kesatria terlatih bahkan bisa tidak tidur untuk beberapa hari. Maka aku sengaja berbuat kejam dengan memberinya perintah tanpa tidur. 

“Kalau begitu, saya pergi dulu Tuan Muda Akion.” 

Levian menghilang di kegelapan. Hanya angin malam yang masuk menemaniku. 

**

 Semuanya sudah siap. 

Para pelayan melihatku dengan gelisah. Kepala desa datang dengan tergesa-gesa, aku melihat dia melotot kepada pelayannya yang belum menjamuku dengan semua makanan milik mereka. 

Aku hanya menyentuh sedikit makanan yang mereka siapkan. Aku tidak mempunyai keinginan untuk makan. Jadi, aku mengatakan pada kepala desa, aku akan pergi ke luar. 

“Tuan Muda Akion, bukankah lebih baik Anda beristirahat lagi?” 

Kepala desa menyentuh tanganku tanpa sadar. Dia melupakan siapa yang berdiri di hadapannya. 

Aku menarik tanganku dan menatapnya, menegaskan bahwa aku tidak ingin dia menghalangiku. 

Dia menunduk, ada tarikan napas khawatir yang keluar dari mulutnya. Aku meninggalkannya tanpa melihat ke belakang. 

Lihat, aku mungkin bukan berasal dari dunia ini. Namun, aku tidak bisa melupakan mereka yang kelaparan seperti ini. Desa ini memang dilanda kehancuran dan kepala desa mereka makan dengan tenang. 

Aku mengingat ayah-ibuku. Mereka mengajariku untuk membantu sesama. Bahkan kami mempunyai panti asuhan di Indonesia.  

“Tuan, bisakah kau memberikanku roti?” Anak perempuan berambut cokelat memegang celanaku. Menatap dengan pilu. 

Aku melihat luka di tangan kanannya. 

“Siapa namamu?” Aku duduk berjongkok, membuat pandangan mata kami selaras. Wajahnya waspada. 

Di jalanan hal seperti itu adalah biasa. Aku tahu bagaimana mengkhawatirkan akan menerima pukulan. 

“Agnes.”

“Nama yang cantik.”

Aku melirik di gang belakangnya. 

“Panggil saudaramu untuk makan bersama.”

Dia tersenyum ceria. “Sungguh bolehkah, Tuan? ”

Aku mengangguk. Matanya yang bercahaya seakan menembus jantungku, dia berbalik ke arah gang dan memanggil saudaranya. 

Anak kembar laki-laki mungkin berumur tiga tahun  dan satu anak perempuan sekitar umur lima tahun muncul dan memandangku.

BERSAMBUNG•••••

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status