Share

Peri Tanah

Levian menangkap kelinci monster sebelum aku terbangun, dia membuatnya menjadi sup dengan bahan seadanya.

Cuaca dingin yang menusuk, memang yang terbaik adalah sup hangat.

Dia memberikanku semangkuk penuh sup monster kelinci itu, anehnya aku memakan tanpa beban. Berbeda saat di bumi dahulu, kelinci biasa saja aku menolaknya untuk makan.

Aku menyuap sesendok penuh daging monster kelinci itu, empuk dan berlemak, tetapi sedikit alot juga.

“Masakan yang enak, Levian,”

Bagiku ini adalah kali pertama aku mencoba masakan Levian.

“Ini adalah masakan sederhana, Tuan Akion. Siapa pun bisa membuatnya." Dia tersipu, tetapi bersembunyi dengan membelakangiku.

Sungguh pengikut yang pengertian. Kali ini, dia memasak dibandingkan memberiku roti lapis, pasti karena memikirkan udara yang sangat dingin.

“Kau hanya merendah, Levian. Jika aku yang memasaknya, maka akan kupastikan itu gosong dengan sempurna.”

Dia tertawa kecil lalu buru-buru mengentikannya.

Ya, tiba-tiba aku memikirkan makanan khas Indonesia. Aku telah lama hidup di sana, banyak makanan yang kucoba. Melihat daging kelinci ini pun, rasanya aku menginginkan sate Madura atau tongseng kelinci.

“Andai kita punya kecap." Tiba-tiba aku mengatakannya tanpa kusadari.

“Kecap? Apa itu, Tuan Akion?”

Aku menatap Levian memelas, sepertinya di sini tidak ada. Keinginan ini semakin memuncak.

“Kecap itu berasal dari fermentasi kedelai dan gula Jawa. Rasanya sangat enak, manis di mulut, tapi kaya cita rasa. Rasa yang sungguh membuat ketagihan.”

Rasanya liurku telah memenuhi semua rongga mulut. Ya, aku sangat ingin kecap. Ibarat kata  aku sedang mengidam.

Aku memendamkan kepalaku ke dalam tangkupan tangan. Kecewa.

“Saya tidak tahu yang Tuan Akion maksud. Hanya saja, di wilayah Tenggara ada seseorang yang ahli dalam fermentasi,”

Aku memandang Levian antusias.

“Dia sangat terkenal di sana, Tuan Levian. Mungkin saja, jika Anda minta tolong padanya, dia bisa membuatkan yang Anda mau.”

Senyumku terlukis lebar di wajah. Bahkan jika bisa, orang tersebut akan kuseret ke Sanktessy. Namun, itu hanyalah angan-angan jika kami terus begini.

**

“Tuan Akion, semua sudah siap.”

Levian melapor padaku saat aku sedang sibuk melihat langit dari atas Aaron. Aku mengangguk.

Saat dia menaiki kudanya, aku dengan cepat memacu kudaku kembali. Sejauh ini, kami hanya bertemu satu monster berjenis Ogre.

Entah karena apa mereka tidak terlihat banyak. Ada sesuatu di hutan atau karna insting mereka yang mengatakan harus menghindariku.

Sehari, dua hari, tiga hari ... tujuh hari, kami telah melewati hutan ini. Bahkan ini terlalu mulus untuk hutan yang sangat ditakuti.

Aku berhenti di danau. Aku basuh mukaku dan melihat pantulan wajahku di danau. Sungguh wajah yang tidak bosan untuk di pandang.

Wajahmu ini, Akion.

Jika dia lebih ramah sedikit saja, kuyakin banyak perempuan yang menginginkannya.

“Hentikan! Lepaskan aku!”

Seseorang berteriak dari kejauhan, teriakan itu sebenarnya nyaris tidak terdengar oleh telinga manusia biasa. Namun, karena Akion seorang swordmaster, dia bisa mendengarnya dengan jelas.

Aku berdiri, kugenggam erat pedang hitam bermata merahku.

Kemudian, aku mendengar teriakan itu lagi.

“Tolong aku! Siapa pun tolong aku!”

Jari-jari kakiku memberat, tekanan di antaranya membuat tanah yang kuinjak hancur. Aku berlari sangat cepat.

Ah, aku melihat mereka. Itu sekumpulan Ogre. Gigi-gigi mereka besar, keluar. Tubuh mereka membawa sesuatu yang seperti kandang burung.

Mataku memandang lebih fokus, dalam kandang itu aku melihat sayap berwarna cokelat dan magenta.  Sayapnya mengepak-kepak.

Peri kecil berambut cokelat itu berusaha kabur dengan kekuatannya. Namun, sangkar yang kuat membuat usahanya tidak berhasil.

Ini jaraknya.

Kemudian, aku menganyunkan pedangku selaras dengan kepala mereka. Lima Ogre tumbang dengan kepala yang putus menggelinding di tanah.

Tanganku langsung menangkap sangkar itu.

Si peri terkejut. Namun, setelah melihat Ogre yang tumbang, rasa lega dalam dirinya muncul.

“Hai, peri kecil! Apa kau tidak apa-apa?” tanyaku sembari tersenyum.

Wajah peri itu terlihat malu dan ragu. "A-aku baik-baik saja.”

“Baguslah.” Aku tersenyum lagi.

Sepertinya, seranganku tidak hanya berhenti saat mengenai Ogre itu, seberkas ayunan pedangku mengenai markas mereka dan membuat keributan.

Mereka semua keluar. Sepertinya ada puluhan Ogre, dan ya, yang besar bewarna lebih gelap itu pasti pemimpinnya. Darahku mendidih.

“Sepertinya, pembicaraan kita lanjutkan nanti  saja."

Kuletakan sangkar berisi Peri itu pelan di atas tanah agar sedikit pun goncagan tidak terjadi.

Ogre itu memandangku intens, kemarahan mereka terlihat dengan jelas.

Serangan mereka dilakukan bersamaan, alat pentung besar mereka ayunkan padaku, kapak besar mereka lemparkan. Namun, aku menghindari dengan mudah.

Sebuah ide konyol muncul di otakku, aku ingin  mencoba gaya berpedang rambut hijau di anime yang kutonton.

“Santoryuu Ougi." Serangan kulepaskan. Aku tersenyum dengan bangga. Pedangku memutar dengan cepat. Kemudian, menyerbu musuh dengan cepat dan menjatuhkan mereka.

Ya, tidak buruk. Hal yang tidak bisa kucoba di bumi. Di sini berhasil, aku bangga.

Kulakukan itu berulang-ulang hanya untuk kepuasanku saja. Ini bayaran dari masa kecil yang terlalu serius.

Setelah itu, tiba saatnya aku menghadapi pemimpin Ogre. Aku terlalu puas bermain, mengambil jalan cepatlah yang kulakukan. Aku berjalan tenang menghadapi pemimpin Ogre, kuayunkan pelan pedangku. Saat aku membelakanginya, darah menyembur dari badannya yang terbelah dua.

Prok prok prok!

Suara tepuk tangan.

Aku memandang dia, si pelakunya, Levian yang menyender dengan santai di pohon. Sepertinya dia tidak bisa mengimbangi kecepatan lariku.

“Apa maksud dari Santoryuu Ougi, Tuan Akion?”

Wajahku memerah. Aku kepergok melakukan hal aneh di depan Levian.

“Itu bukan apa-apa,” sanggahku.

“Tapi, itu sangat keren, Tuan Akion.” Dia tersenyum, tetapi senyuman itu terlihat mengejek bagiku.

“Lupakan!”

“Anda sangat keren, Tuan Akion."

“Oh, lupakanlah, Levian!” kesalku. “Kenapa kau tidak membantuku tadi? “.

“Tuan Akion, saya ini guru Anda juga. Saya yakin Anda mampu menghadapinya dan saya menemukan hal baru pada Tuan Akion.”

Tubuhnya setengah berjongkok, tangan kanannya di dada.

“Maafkan keegoisan saya yang menikmati pertarungan Anda, Tuan Akion.”

Ini pukulan telak bagiku. Aku mana mungkin menghukumnya, aku  mengangguk dengan malu.

“Baiklah. Sekarang, yang lebih penting adalah dia.”

Aku mengalihkan perhatianku ke sangkar berisi peri yang kuletakan tadi.

Levian memandangnya serius.

**

Peri itu terbang setelah kubukakan sangkarnya, sayapnya mengepak-kepak perlahan. Tubuhnya mungkin hanya sebesar lima belas sentimeter.

Dia terbang di hadapan kami.

“Terima kasih, Tuan telah menyelamatkanku.”

 “Sama-sama," jawabku.

“Kenapa kau bisa tertangkap oleh mereka?”

Ini aneh, bukannya Ogre tidak bisa mengganggu peri. Apalagi peri terkenal lebih kuat sihirnya dibandingkan dengan mereka.

“Sebelumnya, izinkan aku memperkenalkan diri, namaku Tanka, peri tanah.”

Peri tanah ternyata begini wujudnya.

“Aku ditangkap oleh mereka saat keluar dari sarangku,” jelasnya lagi tanpa menunggu responsku. Tampaknya Tanka seorang peri yang suka bercerita.

“Saat itu, aku baru saja akan keluar, ternyata mereka mengamatiku dan menangkapku dengan sangkar besi itu,”

Tanka menjelaskan dengan wajahnya yang kesal. Dia menunjuk-tunjuk sangkar itu sembari mengutuk.

Peri lemah terhadap besi, itulah yang menyebabkan tubuhnya tidak bisa mengeluarkan sihir untuk menghabisi mereka.

Wajahnya masih terlihat penuh dengan emosi.

“Jika Tuan tidak lewat dan membantuku, maka aku pasti telah disiksa oleh mereka dan dimanfaatkan,” ketusnya.

Aku tersenyum dengan curiga, Ogre ternyata cukup pintar untuk memikirkan kehidupan mereka. Pengaruh Bulan biru, kah?

Apalagi memanfaatkan seorang peri tanah? Ada apa dengan peri tanah ini?

“Maksudku dimanfaatkan seperti apa?”

Mendengarku akhirnya berbicara, dia langsung melihatku.

“Ya ... seperti mengambil batu ....”

Tanka langsung menutup mulutnya. Tampaknya, dia sudah kelepasan berbicara yang tak seharusnya padaku.

“Memanfaatkan begitulah." Pipinya menggembung. Tubuhnya yang kecil dan kaki kirinya yang bergoyang-goyang tampak sangat lucu.

“Oh, iya, siapa nama Tuan yang menyelamatkanku ini?”

“Aku, Akion Naal Sanktessy,”

Aku berbicara hangat, tetapi dengan rasa percaya diri.

“Apa?! Sanktessy!”

Matanya membulat.

“Sanktessy!?” Dia mendekat ke wajahku, intonasi suaranya mengisyaratkan bahwa dia sedang bertanya padaku.

“Iya, Sanktessy." Aku tersenyum.

“Sanktessy, sih, pemilik hutan ini?!” Dia masih tampak tidak percaya.

Aku mengangguk untuk mengatakan bahwa itu tidak salah.

“Sanktessy akhirnya ke sini! Mereka sudah ratusan tahun tidak menginjakkan kakinya di sini!"

Memangnya ada apa dengan keluargaku? Tanka, si peri tanah ini sangat heboh.

“Kupikir Sanktessy semuanya telah habis!”

Aku menggeleng menatapnya. Wajahku, dia sentuh.

“Akhirnya Anda datang, Tuan.” Dia mengecup pipiku sekali. Tangannya berada di dada kirinya. Tampaknya ini adalah penyambutan dari Tanka.

“Aku Tanka, peri tanah satu-satunya di sini. Bertugas menjaga harta pusaka Keluarga Sanktessy.”

Aku terkejut mendengar penjelasannya. Akhirnya, aku tahu apa yang tidak boleh dikatakan Tanka tadi.

BERSAMBUNG•••

Bab terkait

DMCA.com Protection Status