Share

CHAPTER 6

"Ga kangen sama siapa-siapa."

Alexa mengerucutkan bibirnya merasa kesal. Kenapa sih Rayn suka sekali gengsi!? Membuatnya kesal saja.

Rayn terkekeh geli melihat raut wajah gadis itu. Alexa terlihat sangat lucu.

"Gue kangen sama lo, Alexa," ujar Rayn tepat di telinga Alexa membuat bulu kuduk gadis itu meremang.

"Kamu beneran?"

"Lo maunya beneran apa bohongan?" Tanya Rayn balik.

"Aku maunya beneran."

"Ya udah berarti beneran," ujar Rayn membuat senyum Alexa merekah.

Alexa bahagia saat ini, entah kenapa Rayn malam ini begitu manis padanya.

"E-emangnya kamu ga mau minta maaf?" cicit Alexa ragu-ragu.

"Emang gue salah apa?"

EMANG GUE SALAH APA?!

Dia ga merasa bersalah sama sekali gitu?! Bener-bener cowok ga punya hati!

"Ga usah ngumpatin gue dalem hati. Mending ngomong secara langsung," ujar Rayn membuat Alexa melotot kaget.

"Ka-kamu bisa denger suara hati aku?!"

Rayn meledakkan tawanya seketika. Alexa benar-benar polos, gadis itu benar-benar harus dijaga agar tidak ada cowok hidung belang yang bisa mengelabui gadisnya di luar sana. Sementara di tempatnya, Alexa menatap Rayn heran.

"Kenapa kamu ketawa?"

"Ga papa," ujar Rayn lalu merubah wajahnya menjadi datar kembali.

Tidak ada yang boleh melihatnya tertawa kecuali Alexa.

"Tidur gih, gue mau pulang."

Rayn mengusap puncak kepala Alexa dengan lembut sambil menatap gadis itu dengan tatapan dalam dan hangat membuat gadis itu terpaku.

"Iya, kamu hati-hati ya pulangnya," ujar Alexa membalas tatapan hangat milik Rayn.

"Satu lagi, Alexa. Gue minta maaf."

                         🍋💡🍋💡

Alexa masih tidak menyangka kalau pagi ini dirinya berada di boncengan cowok yang disukainya. Entah apa yang merasuki Rayn sehingga cowok itu datang menjemputnya pagi-pagi untuk mengajaknya berangkat sekolah bersama.

"Rayn." Gadis itu memanggil Rayn dengan suara yang agak kencang karena mereka masih di atas motor.

"Hmm." Rayn menjawab dengan deheman.

"Kamu kenapa kemaren berangkat bareng Brissia?" tanya Alexa yang merasa penasaran.

"Kepo," jawab Rayn membuat bahu Alexa meluruh.

Alexa mengerucutkan bibirnya sebal, Rayn tidak mau menjawab pertanyaannya yang satu itu. Padahal kan Alexa penasaran. Apa Rayn sengaja mau membuatnya cemburu? Tapi kenapa?

"Pasti Brissia yang ngajak kan kemaren?" tebak Alexa sembari mendongak memandang kepala Rayn yang tertutup helm.

"Gue yang ngajak dia."

Alexa memberengut sedih mendengar pernyataan Rayn.

"Kamu suka sama dia ya?" gumamnya yang tidak bisa didengar oleh Rayn.

"Lo ngomong apa?" Rayn bertanya pada Alexa.

Alexa tak menghiraukan pertanyaan Rayn, dia sebal. Kenapa Rayn tidak pernah bisa menjaga perasaannya?! Padahal Alexa selalu berusaha menjaga perasaan Rayn. Dia juga bisa lelah jika lama-lama seperti ini. Kalau bukan karena wasiat dari Liliana, mungkin Alexa sudah memilih untuk mundur dari dulu.

Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di sekolah. Setelah memarkirkan motornya, Alexa hendak buru-buru pergi namun tangannya ditahan oleh Rayn.

"Eits, tungguin gue," ujar cowok itu sambil menggandeng tangan Alexa membuat cewek itu merona.

Mood Alexa jadi agak membaik. Alexa masih setia memandangi tangannya yang digenggam oleh Rayn sembari menahan senyumnya. Entah mengapa kini rasa sebalnya menguap begitu saja. Setelah mereka sampai di koridor, Alexa bisa melihat jika perhatian seluruh siswa menuju ke arahnya dan Rayn. Alexa sungguh tidak nyaman, dia tidak suka jadi pusat perhatian.

Rayn yang menyadari gerak-gerik tidak nyaman dari tubuh gadis itu pun segera angkat bicara.

"Kenapa?"

"Lepas aja ya, Rayn."

Alexa mencoba untuk melepaskan genggaman tangan Rayn namun cowok itu nampak enggan untuk melepasnya.

"Gue tanya, kenapa?"

Rayn menatap kedua mata bulat Alexa dengan tatapan dalam membuat Alexa gugup.

"A-aku ga suka diliatin," gumam gadis itu.

"Ga usah peduliin mereka," ujar Rayn kemudian kembali menggandeng tangan Alexa menuju kelas gadis itu. Kini genggaman Rayn pada Alexa makin mengerat.

"Tapi Rayn, aku ga nyaman."

Rayn pun menghentikan langkahnya kemudian menangkup kedua sisi wajah Alexa. Rayn menatap kedua mata Alexa dengan tatapan teduh, dan itu membuat hati Alexa menghangat.

"Dengerin gue, Alexa. If you always worried about what the others say about you, you will never be happy. Mereka punya mulut buat bicara dan lo punya telinga buat denger, but sometimes many peoples try to knock you down with words you don't deserve to hear," ujar Rayn sambil mengelus lembut pipi bulat gadis itu.

Alexa terpaku memandang Rayn, cowok itu tidak pernah menatapnya sehangat ini sebelumnya. Alexa benar-benar terharu sekaligus senang dengan perubahan sikap Rayn. Sepertinya itu adalah kata-kata terpanjang yang pernah Rayn ucapkan padanya.

Gadis itu selalu mencoba untuk bersikap bodo amat, tapi tetap saja kata-kata mereka membuatnya sakit hati. Intinya, kita harus bersikap percaya diri.

"Makasih, Rayn."

Alexa memeluk pinggang Rayn tanpa permisi membuat cowok itu kaget. Alexa bahkan tidak peduli jika kini banyak siswa yang melihat tindakannya ini. Benar kata Rayn jika terkadang banyak orang yang coba untuk menjatuhkan kita dengan kata-kata yang tidak pantas untuk kita dengar.

Rayn pun membalas pelukan Alexa tak kalah erat, tangannya mengelus lembut punggung gadis itu. Rayn dapat mencium harum rambut Alexa yang membuat hatinya menghangat. Dia pun mengecup lembut pelipis gadis itu membuat para gadis yang melihatnya histeris.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status