Share

6. Ombak Laut

Tubuh kurus itu menyentuh permukaan Laut, lalu melesat cepat ke dalam laut. Di tangannya tongkat dari batang kayu dipegangnya erat-erat. Tak lama kemudian dia berusaha menggerakkan tubuhnya untuk menuju permukaan.  Saat kepalanya sudah berhasil menyembul keluar, ombak tiba-tiba besar. Sekuat tenaga dia jaga tongkatnya agar tidak terlepas dari genggamannya. Bimantara berusaha memulai berenang menuju sebuah pulau di hadapannya yang samar terlihat.

“Kenapa tidak ada keajaiban? Kenapa aku harus berenang secara normal? Apakah aku bukan manusia yang terpilih untuk menjadi murid di Perguruan Matahari?” tanya Bimantara dalam benaknya.

Dengan susah payah dia gerakkan tangan dan satu kakinya sambil memegang tongkat kayu dalam genggamannya di atas permukaan laut itu. Bimantara mulai kelelahan.  Jaraknya masih sangat dekat dengan Dermaga. Orang-orang yang menyaksikannya di Dermaga tampak menyayangkannya. Mereka yakin apa yang dilakukan Bimantara adalah sebuah kesia-siaan belaka. Mereka percaya bahwa Bimantara tak akan selamat sampai ke pulau Perguruan Matahari.

Salah satu dari mereka mendekat ke Kakek Sangkala.

“Kau tega pada cucumu sendiri! Suruhlah dia kembali ke Dermaga! Dia tak akan berhasil menempuh pulau itu!” protes seorang Ibu-Ibu padanya.

“Dia cucu terbaikku! Dia pasti berhasil menempuh pulau itu!” tegas Kakek Sangkala padanya.

“Jangan kau biarkan seeokar Naga penghuni lautan ini memakan cucumu! Jika itu terjadi jangan sampai menyesal!” teriak ibu-ibu itu penuh amarah lalu pergi meninggalkan Kakek Sangkala.

Kakek Sangkala hanya menghela napas. Dia mengalihkan pandangannya ke arah Bimantara yang masih berusaha berenang. Dia yakin akan ada kejaiban dari alam yang bisa membawanya cucunya itu ke Perguruan Matahari.

“Ayo, Bimantara! Kamu pasti bisa!” Teriak Kakek Sangkala di ujung Dermaga padanya.

Bimantara mendengar suara teriakan Kakeknya itu. Seketika semangatnya kembali menggelora. Dia terus saja berusaha berenang sekuat tenaganya. Tak lama kemudian dia melihat satu persatu remaja lainnya berenang dengan melesat mendahuluinya.  Ada yang seperti berlari di atas permukaan laut. Ada yang seolah terbang bagai burung di atas ombak laut menuju pulau itu. Bimantara kembali ciut melihat itu. 

“Apakah mereka orang-orang yang terpilih untuk menjadi murid di Perguruan Matahari hingga dengan mudahnya mereka melalui lautan ini?” tanya Bimantara dalam hati.

Sorak gembira kepada para remaja yang mendapat keajaiban itu terdengar dari atas tebing dan dermaga dari orang-orang yang menyaksikannya. Bimantara menyerah. Dia berhenti berenang. Tubuhnya dibiarkan mengambang menghadap langit di atas lautan yang bergelombang. Kakek Sangkala heran melihatnya. Dia mulai panik.

“Bimantara!” teriak Kakek Sangkala memanggilnya. Dia ingin memastikan apakah cucunya itu baik-baik saja?

Bimantara masih mengambang pasrah di atas lautan sambil menatap langit yang cerah dengan sedih. Dia tidak menggubris panggilan Kakeknya itu. Matanya berkaca-kaca. Dia sedih karena merasa bukan manusia terpilih untuk menjadi murid di Perguruan Matahari. Tenaganya sudah tidak kuat untuk berenang lebih jauh lagi. Dia yakin tak akan sampai ke pulau Perguruan Matahari.

“Kakek… Maafkan aku…  Aku tak kuat jika harus berenang normal menuju pulau itu… Tak ada keajaiban yang menghampiriku. Aku bukan murid yang terpilih… Aku tidak bisa ke sana… Apa yang harus aku lakukan, Kek?” tanya Bimantara dalam hatinya. Matanya mulai berkaca-kaca.

Sementara itu, Dahayu berlari menuju Dermaga. Ketika dia sampai di sisi Dermaga, dia melihat Bimantara masih mengambang di atas lautan. Dahayu heran. Dia takut kalau sahabatnya yang sangat dicintainya itu kehilangan tenanga.

“Bimantaraaa!”

Mendengar suara itu Bimantara menoleh ke arah Dermaga. Dia melihat seorang gadis sedang berdiri menatapnya dari sana.

“Dahayu?” Remaja itu heran kenapa Dahayu memanggilnya.

“Ayo, Bimantara! Kamu Bisa! Aku mendukungmu!” teriak Dahayu padanya.

Bimantara terharu mendengar itu. Kata-kata dari seorang gadis yang sudah dianggapnya saudara sendiri itu telah menjadi energi bagi tubuhnya yang lesu. Sesaat kemudian dia kembali berenang dengan sekuat tenaganya. Kakek Sangkala lega melihatnya. Bersamaan dengan itu, kini banyak remaja yang ditarik ombak hingga terhempas ke pantai. Seolah laut tak sudi direnangi oleh mereka. Sementara Bimantara masih berusaha berenang menuju pulau.

"Tak mengapa tak ada keajaiban. Aku akan berusaha berenang hingga sampai ke sana," bisik Bimantara dalam hatinya.

Dari pulau Perguruan Matahari, Adji Darma berdiri di atas Dermaga bersama para pendekar yang akan menjadi guru di sana. Dia menggunakan topeng khasnya. Dia memandang ke laut. Pemimpin perguruan itu sedang menunggu datangnya calon murid yang terpilih. Ratusan murid Perguruan Matahari pun berdiri di atas tebing. Mereka juga menunggu kedatangan murid baru yang terpilih.

Adji Darma menoleh pada Pendekar Tangan Besi yang berdiri di sebelahnya.

“Kenapa belum ada satu pun yang tiba?” tanyanya heran.

“Sepertinya tahun ini akan berbeda dengan tahun sebelumnya, Tuan Guru,” jawab Pendekar Tangan Besi.

Adji Darma heran. “Berbeda bagaimana?”

“Semalam saya bermimpi. Saya melihat banyak murid yang terpilih dan hampir berhasil menginjak pulau ini, akan tetapi ombak laut kembali menarik mereka ke pulau asal,” jawab Pendekar Tangan Besi.

“Kenapa bisa begitu?” tanya Adji Darma heran.

“Banyak remaja yang tidak berbudi. Itulah yang menggagalkan mereka menjadi murid di perguruan kita, Tuan Guru,” jawab Pendekar Tangan Besi.

Adji Darma merenung mendengar itu. Dia mengalihkan pandangannya menuju laut. Tak lama kemudian dia kembali menoleh pada Pendekar Tangan Besi dengan sorot mata yang penuh dengan tanda tanya. “Dalam mimpimu, apakah kau melihat jumlah murid yang diterima di sini?"

Pendekar Tangan Besi mengangguk.

"Ada berapa calon murid yang berhasil menginjak pulau ini yang kau lihat dalam mimpimu, Pendekar Tangan Besi?”

“Hanya enam murid, Tuan Guru,” jawab Pendekar Tangan Besi.

Adji Darma tercengang mendengarnya. 

Tahun lalu hampir 200 murid yang berhasil menuju pulau itu. Dan setiap tahunnya selalu di atas 100 jumlah murid yang berhasil bergabung dengan Perguruan Matahari. Dia heran kenapa sekarang alam memberi tanda-tanda begitu pada Pendekar Tangan Besi? Sesaat kemudian Adji Darma menepis rasa percayanya pada mimpi Pendekar Tangan Besi. Dia tahu bahwa itu hanya sebuah petanda. Petanda belum tentu benar adanya. Akan tetapi ketika melihat ke belakang bahwa apa yang sering dilihat Pendekar Tangan Besi dalam mimpinya selalu menjadi kenyataan, Adji Darma kembali percaya bahwa apa yang dikatakan Pendekar kepercayaannya itu yang fokus mengajarkan Ilmu Tenaga Dalam pada murid-muridnya di perguruan adalah benar.

Seketika ada tiga remaja yang hampir sampai menuju Dermaga. Para murid di perguruan mulai riuh melihat kedatangan mereka. Namun, saat tiga remaja itu hampir tiba di Dermaga, ombak laut tiba-tiba kembali mendorong mereka ke tengah lautan menuju pulau seberang. Adji Darma tercengang melihat itu. Ucapan Pendekar Tangan Besi terbukti. Adji Darma gelisah. Siapakah enam calon pendekar yang akan menjadi murid barunya itu? Apakah mereka orang-orang berbudi yang memang pantas untuk menjadi murid di sana?

Sementara itu, Bimantara masih berenang dengan tenaganya sendiri di tengah lautan. Dia berada di tengah-tengah antara pulau kediamannya dengan pulau Perguruan Matahari. Tak ada keajaiban yang datang padanya. Seperti kata orang-orang jika memang terpilih untuk menjadi murid di Perguruan Matahari, maka alam akan memudahkannya untuk tiba di pulau itu. Bimantara tak peduli lagi soal itu. Dia ingin membuktikan, meski hanya dengan tenaganya, dia pasti sampai ke pulau itu.

Matahari semakin meninggi. Kakek Sangkala dan Dahayu berdiri cemas di Dermaga. Mereka sudah tidak bisa melihat keberadaan Bimantara di atas lautan. Jarak pandang sudah mengaburkan padangan mereka untuk melihat jejak Bimantara. Apalagi ketika mereka melihat banyak remaja yang kembali terhempas ke pantai. Rasa cemas mereka semakin menjadi. Laut telah mengembalikan para remaja yang berusaha menjadi murid di Perguruan Matahari ke sana. Alam tidak meridhoi mereka untuk menjadi murid di sana. Mereka khawatir itu juga terjadi pada Bimantara.

Dahayu menoleh pada Kakek Sangkala.

“Apa Bimantara bisa sampai ke sana, Kek?” tanya gadis itu dengan khawatirnya pada Kakek Sangkala.

“Kita berdoa saja, semoga Bimantara sampai ke sana,” jawab Kakek Sangkala sedikit putus asa.

Dahayu kembali memandang lautan di hadapannya. Dia berusaha mencari-cari keberadaan sahabat semasa kecilnya itu di tengah kaburnya pemandangan permukaan laut nun jauh di sana. 

“Bimantara, tetaplah kuat. Buktikan pada mereka bahwa kamu bisa,” gumam Dahayu dengan penuh harap.

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Cedar Karamy
Yeee Bimantara bisa berhasil dengan kekuatannya sendiri
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status