Share

Mati kutu

 

 

Aku mengangguk, sementara Mbak Astri bangkit dari kursi dan menggebrak meja dengan keras.

 

 

Brak!

 

 

"Kamu sengaja kan, Hal, mau buat aku malu? Kamu sengaja membahas ini di depan Ibu dan Bapak agar aku terlihat seperti ipar yang buruk bagimu, begitu kan?!" Air mata Mbak Astri keluar dengan derasnya. Aku membuang muka, disini, seolah-olah aku yang bersalah, padahal nyatanya bukan begitu.

 

 

Mas Vano menggenggam jemariku dan memintaku untuk lebih tenang. 

 

 

"Duduklah, Mbak. Kita bicarakan ini baik-baik," pinta Mas Vano.

 

 

"Tidak perlu! Apa lagi yang harus dibicarakan, lagipula Halimah sengaja mengungkit-ungkit uang yang dia kirim pada Ibu, apa salahnya kita juga menggunakan uang itu sedikit untuk keperluanku dan kakakmu, Hal? Apa kamu pikir mengurus orang tua itu mudah? Uang kiriman darimu bahkan tidak ada apa-apanya dibanding tenaga kami selama ini!" seru Mbak Astri sengit.

 

 

"Cukup ... Cukup ...!" Bapak berbicara lantang, kulihat tubuh Mbak Astri sampai berjingkat mendengar teriakan Bapak. "Aku tidak suka jika anak-anakku berseteru karena uang. Persaudaraan lebih penting daripada harta, Nak. Sudah ... Jangan dilanjut pertikaian ini."

 

 

Aku melengos, kulihat senyuman tipis terbit di bibir Mbak Astri. Aku yakin, dia bahagia karena berhasil membuat Bapak dan Ibu merasa bersalah karena keributan yang terjadi. Aku benar-benar tidak menyangka jika Mbak Astri ternyata selicik ini. Lalu, kemana perginya uang kiriman Ibu selama tiga tahun belakangan? Apa untuk biaya renovasi rumah ini?

 

 

"Maaf, Pak ... Maaf, jika saya lancang. Tapi, ada yang harus saya luruskan disini."

 

 

"Tolonglah, Van. Jangan bikin keributan di rumahku," sahut Mas Tomi.

 

 

"Apa Mas Tomi begitu takut pada istri? Sehingga berusaha menutupi kesalahan yang sudah Mbak Astri lakukan?"

 

 

Mas Tomi mengusap wajahnya kasar, "Apa yang kamu katakan? Jangan menuduh istriku yang bukan-bukan, Van. Jaga batasanmu!" hardik Mas Tomi. Wajahnya terlihat memerah dengan kedua tangan yang mengepal.

 

 

"Ini bukan hanya tentang uang, Mas. Tapi amanah dan tanggung jawab, saya dan Halimah sidJ mengamanahkan uang sebesar lima juta setiap bulan untuk Bapak dan Ibu, tapi ketika kami datang kemarin, apa yang kami lihat justru sangat mengiris hati kami ...."

 

 

"Jangan banyak drama, Van!" sela Mbak Astri.

 

 

"Diam, Mbak!" bentak Mas Vano lantang, "Kami tidak masalah jika andaikata Mas Tomi dan Mbak Astri mengambil sedikit jatah yang kami berikan pada Bapak dan Ibu, tapi setidaknya, penuhi kebutuhan orang tua kita, Bapak dan Ibu sudah tua, harusnya uang lima juta sebulan cukup untuk hidup mereka selama sebulan, tapi nyatanya...."

 

 

 

"Bapak dan Ibu masih menggarap sawah orang, bahkan disaat kondisi Bapak sudah sering sakit-sakitan. Dimana empati kalian sebagai anak?" sambung Mas Vano. Ibu tergugu dalam pelukanku. Sedangkan Mbak Astri masih menatap arah lain.

 

 

"Jangan bicara soal empati, Van. Kamu dan Halimah bahkan tidak ikut mengurus Bapak dan Ibu bukan?" sergah Mbak Astri.

 

 

"Itu sebabnya, mulai hari ini, kami yang akan mengurus Bapak dan Ibu."

 

 

Mata Mbak Astri kulihat membeliak lebar, "Lalu uang kiriman tiap bulan?" 

 

 

Setelah menyadari ucapannya, Mbak Astri menutup mulut dan memukul-mukul bibirnya berulang kali.

 

 

"Cukup tiga tahun belakang kami menjadi orang bodoh, Mbak. Anggap saja, kami turut menyumbang biaya renovasi rumah kalian, bukan begitu?" 

 

 

Kalah telak.

 

 

Mas Tomi menundukkan kepalanya, sementara Mbak Astri menatap tidak suka ke arah kami.

 

 

"Jaga mulutmu, Vano!" Mbak Astri berkacak pinggang. "Rumah ini kami renovasi dari uang hasil usaha bengkel Mas Tomi. Apa buktinya jika kami memakai uang kiriman dari kalian, hah?!"

 

 

"Buktinya sudah cukup jelas dengan tidak terpenuhinya kebutuhan Bapak dan Ibu selama ini. Dan satu lagi, saya menyimpan semua struk bukti transfer ke rekening Mas Tomi. Mbak tau kan, berapa puluh juta uang kami yang keluarkan, tapi tidak tersalur dengan sebagaimana mestinya?"

 

 

"Ta ... Tapi ...."

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komen (98)
goodnovel comment avatar
Lidia Rahmawati
seru bagus ceritanya
goodnovel comment avatar
Yuki Inong
aplikasi novel yg paling resek
goodnovel comment avatar
Mim Wan
malas deh baca...harusnya ada koin...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status