Share

Bab 6

Tidak sesuai rencana karena sejak siang tadi hingga pukul delapan malam, Rafan belum juga pulang ke rumah. Alasannya ketika hendak pergi tadi adalah ada urusan kantor. Aku yakin, pasti ia ke rumah Marsha lagi.

Semua sudah aku ceritakan pada ibu ketika ayah mertua sedang berada di kamar mandi. Tentang perselingkuhan Rafan dan kabar kehamilan itu. Rupanya, ibu tahu betul siapa Marsha. Mereka pernah akrab beberapa bulan sebelum akhirnya perempuan itu menghilang meninggalkan luka di hati putranya.

"Apa setiap hari Rafan selalu meninggalkanmu hingga larut malam, Lin?" tanya ibu memecah lamunanku.

"Tidak, Bu. Rafan selalu pulang tepat waktu." Aku berbohong. Terpaksa melakukan ini agar air mata ibu tidak lagi jatuh. Ayah yang sedang menelepon tidak bisa mendengar percakapan kami.

Ibu mengaku sedih karena hanya satu malam di sini. Begitu pun denganku. Tempat untuk bercerita akan pulang, tentu aku merasa kesepian. Andai saja bisa ikut mereka, tetapi ayah akan menaruh curiga.

"Aku pulang!" Suara Rafan membuat kami menoleh bersamaan. Ia membawa dua kantong plastik berisi makanan. "Maaf, telat karena urusan mendadak sekali."

"Tidak apa-apa, kita bahas lain kali saja karena besok ayah ada urusan yang sangat penting."

Rafan mengukir senyum semringah. Aku bisa menebak lelaki itu sangat bahagia mendengar jawaban ayah mertua. Maknanya ia bisa kembali menghabiskan waktu bersama Marsha bahkan mungkin leluasa membawanya ke rumah ini.

Ketika Marsha datang, sudah bisa ditebak aku akan dijadikan babu gratis. Secara perempuan itu tengah mengandung anak Rafan, jadi kalau ada kebutuhan akan memanggil namaku. Miris sekali ditakdirkan sebagai istri pertama.

"Ibu harap, kalian berdua bahagia selamanya. Tidak ada perempuan kedua yang hadir karena itu akan sangat melukai hati istri pertamamu, Fan," sindir ibu. Aku tahu beliau pasti tidak bisa menahan diri. Beruntung aku membujuk selama dua jam tadi.

"Kami masih berdua, Bu. Tidak akan ada orang ketiga, hanya berdua!" jawab Rafan seakan Marsha itu tidak pernah ia nikahi. Aku mengukir senyum untuk menutupi luka.

***

"Ibu pergi dulu. Kalian baik-baik di sini. Kalau mau hubungan kalian awet, harus saling terbuka dan menyayangi. Oke?"

Aku dan Rafan mengangguk bersamaan. Ayah sudah duduk di kursi kemudi. Beberapa menit kemudian mobil sudah meninggalkan halaman rumah. Rafan menyeretku masuk kamar. Matanya meyalak tajam.

Ia bertanya, "kenapa ibu bisa bilang begitu, Lin? Kamu jujur sama ibu?"

"Tidak." Aku menjawab setelah mengembuskan napas kasar.

Lelaki bermata sipit itu mengusap wajah gusar, lalu mengacak rambut. Ia menatapku tanpa ada binar cinta di manik matanya. Semua sudah sirna, mungkin ini adalah saat yang tepat.

Aku mendekati Rafan, lalu memeluk erat. Sayang sekali, ia mendorongku untuk menjauh. Ketika aku tanyakan tentang cinta, ia acuh dan enggan menatap wajahku. Semua semakin jelas, pernikahan ini harus kandas di tengah jalan.

"Ceraikan aku, Fan!" teriakku memukul dada bidangnya yang selama ini membuatku nyaman.

"Iya, aku menjatuhkan talak satu untukmu, Putri Raline!" ucapnya dengan suara menggelegar.

Aku mundur beberapa langkah, sakit luar biasa bagai disambar petir. Kaki tidak mampu menopang berat badan, tetapi air mata tidak juga turun. Mungkin sudah lelah dengan drama rumah tangga kami.

Rafan memintaku tetap tinggal di sini sementara ia akan menginap di rumah Marsha. Aku hanya diam, berusaha menguatkan diri. Ini masih talak satu, entah kenapa aku berharap lelaki itu memintaku kembali.

"Jangan pernah pergi dari sini sebelum masa iddahmu selesai. Aku pergi, jaga dirimu!" titah Rafan membuatku semakin hancur. Ingin memeluk lelaki itu memintanya tetap tinggal, tetapi apa daya.

Status kini berubah menjadi janda hanya satu kalimat. Harusnya aku senang, nyatanya tidak. Berulang kali aku mengembus napas kasar dengan sesekali mengusap wajah. Kalimat Rafan ketika menjatuhkan talak terus terngiang dalam pikiran.

"Andai tahu jatuh cinta sesakit ini, maka aku tidak akan mau mencoba merasakannya. Pernikahan yang hanya menggores luka karena Tuhan belum meniupkan ruh dalam rahimku," monologku dengan derai air mata. Sesak sekali.

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Veronika Tandi Angga
Sdh tahu sakit...kok disembunyikan??? aneh
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status