Share

7 - Kutukan

Arch membuka kancing teratas kemejanya, ia melonggarkan dasinya dengan kasar. "Claudia, bertarung denganku!"

"Baik, Ketua." Claudia mengepalkan jarinya. Ini pasti ulah Luciellea. Wanita sialan itu, dia yang berulah sekarang dirinya yang harus menanggung akibatnya.

Siapa yang sanggup menahan kemarahan Arch Callister? Ia pasti akan menderita beberapa pukulan hari ini.

Arch melemparkan jas yang ia kenakan ke sembarang arah. "Serang aku!" serunya kasar.

Claudia tidak memiliki pilihan lain. Ia segera melayangkan tinjunya ke arah wajah Arch.

Claudia sejujurnya sedikit merendah, nyatanya ia dilatih sama kerasnya dengan Arch. Ia diletakan di sisi Arch bukan tanpa alasan, ayah Arch ingin Claudia bisa menjadi perisai untuk Arch saat Arch mengalami bahaya.

Di dunia ini selalu ada kemungkinan buruk, dan ayah Arch menjaga Arch dari kemungkinan itu. Begitulah rasa sayang Duarte Callister terhadap putra semata wayangnya.

Arch tanpa ampun membalas serangan Claudia. Pria itu menggila, menyerang dari segala arah. Benar-benar meluapkan kemarahannya dalam setiap gerakan.

Claudia masih ingin hidup, ia dipaksa untuk menjadi lebih cepat agar tidak terkena serangan Arch. Ia mungkin bisa patah tulang rusuk jika terkena satu tendangan Arch. Ia juga bisa kehilangan nyawanya jika Arch berhasil mematahkan lehernya.

Luciellea, kau wanita sialan! Claudia terus memaki Luciellea. Jika bukan karena Luciellea ia pasti tidak akan menghadapi Arch yang lebih berbahaya dari mesin pembunuh ini.

Claudia benar-benar heran, jika Arch marah seharusnya pria itu meledakannya pada Luciellea, bukan pada orang lain. Biarkan Luciellea yang menanggung rasa sakit akibat murka Arch.

Sayangnya, Arch terlalu mencintai Luciellea. Arch bahkan tidak akan tega menampar wajah Luciellea. Arch akan lebih memilih menghancurkan sekelilingnya daripada menggunakan tangannya untuk menyakiti Luciellea.

Satu pukulan keras Arch mengenai rahang Claudia, jangan pernah berharap Arch akan berhenti sekarang. Pria itu melayangkan serangan lain, dan Claudia bergerak mengelak dengan cepat.

Tangan dan kaki Arch bergerak silih berganti begitu juga dengan Claudia. Keringat sudah membasahi tubuh dua orang itu, tapi masih belum ada tanda-tanda berhenti.

Claudia tidak mengeluh meski ia sudah sangat lelah, ia pernah berada dalam situasi di mana ia nyaris mati, tapi tetap berjuang untuk menyelamatkan diri.

Menghadapi Arch saat ini sama seperti menghadapi misi berbahaya yang menjadikan nyawa sebagai taruhannya. Ia tidak tahu kapan harus berhenti, dan tidak bisa berhenti sama sekali. Karena jika ia berhenti maka ia mati.

Satu pukulan Claudia mengenai rahang Arch. Ia melayangkan tendangan keras ke dada bidang Arch sehingga pria itu mundur beberapa langkah. Duel itu masih terus berlangsung. Suara pertemuan kulit yang membungkus tulang terdengar nyaring di ruangan itu.

"Kau berniat membunuh Claudia, Arch Callister?" Suara tegas datang dari belakang. Dua orang yang sedang bertarung akhirnya berhenti.

"Ayah." Arch berdiri tegak menghadap ke pria yang sudah menjadi pahlawan baginya itu.

"Tuan Besar." Claudia menundukan kepalanya hormat.

"Claudia, kau bisa pergi sekarang."

"Baik, Tuan Besar." Claudia menundukan kepalanya sekali lagi lalu meninggalkan ruangan itu. Kali ini tuan besarnya sudah menyelamatkannya dari amukan Arch. Benar-benar sebuah keberuntungan baginya.

"Apa yang terjadi pada pengantin baru ini? Mengamuk seperti anjing gila. Kau tidak mendapatkan malam pertamamu, heh?" Duarte mengejek putranya.

"Apa yang Ayah lakukan di sini?"

"Apa yang salah dengan mengunjungi putra sendiri? Apa setelah menikah kau melarangku untuk datang ke rumah ini? Ckck, baru sehari menikah kau sudah ingin memutuskan hubungan ayah dan anak denganku."

"Jangan bicara sembarangan, Ayah." Arch menegur ayahnya. Ia mana mungkin ingin memutuskan hubungan ayah dan anak dengan ayahnya yang hebat.

"Lihat wajahmu, ckck seharusnya kau tersenyum seperti pengantin baru pada umumnya, bukan memasang wajah mengerikan seperti ini. Siapa yang sedang ingin kau takut-takuti di rumah ini dengan wajahmu itu?"

"Cih, seperti Ayah tahu saja bagaimana menjadi pengantin baru. Lihat dirimu sendiri, Ayah. Kau belum menikah sampai detik ini."

"Apa bagusnya menikah? Lihat dirimu? Kau baru menikah satu hari, tapi kau sudah menjadi lebih gila dari sebelumnya. Istrimu pasti sangat menyebalkan." Duarte mengolok-olok putranya.

"Ellea tidak menyebalkan."

"Benar, tidak menyebalkan hanya sangat menjengkelkan," cibir Duarte. "Pria yang jatuh cinta memang terkadang jadi bodoh. Apa bagusnya menikah dengan wanita yang tidak mencintaimu, Arch? Kau sepertinya sangat suka menyiksa dirimu sendiri."

"Maksud Ayah aku harus seperti Ayah? Membiarkan wanita yang aku cintai menikah dengan pria yang ia cintai? Aku tidak sebaik Ayah."

"Omong kosong, jika aku menghalangi mereka maka saat ini kau pasti tidak ada. Bukankah aku memiliki akhir yang bahagia? Aku memiliki anak dari wanita yang aku cintai tanpa harus menghancurkan kebahagiaannya?"

"Jadi, apakah Ayah mengatakan aku menghancurkan kebahagiaan Ellea?"

"Memangnya kau tidak sadar tentang hal itu." Duarte mencibir Arch.

"Ayah, saat ini kita berbeda kasus. Ayah melepaskan Ibu karena pria yang dicintai oleh Ibu adalah pria yang tepat, sedangkan Ellea? Kennand sepenuhnya bajingan. Ellea tidak akan pernah bahagia dengan bajingan pengkhianat itu." Arch mungkin bisa mengambil tindakan yang sama seperti yang ayahnya lakukan jika pria yang dicintai oleh Lucielllea merupakan pria yang tepat, yang benar-benar mencintai dan mampu melindungi Luciellea. Namun, kenyataannya Kennand tidak seperti itu. Kennand seratus persen bajingan.

"Ya, ya, ya, tidak akan ada yang bisa menghentikan kau dari tindakan bodohmu ini. Sudahlah, terserah kau saja. Kau sendiri yang menderita." Duarte menyerah menasehati putranya.

Arch tidak menjawab ocehan dari ayahnya. Ia tahu bahwa ayahnya sangat menyayanginya oleh karena itu pria ini terkadang menjadi cerewet dan menasehatinya.

"Karena Ayah sudah di sini, mari makan malam bersama." Arch mengalihkan pembicaraan.

"Baiklah. Sebelum itu mari bicarakan mengenai perkembangan senjata yang sedang kita buat."

"Baik, Ayah."

Arch pergi ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya. Pria itu keluar dari kamarnya dengan wajah segar serta bau maskulin yang akan membuat wanita meleleh seperti es.

Duarte berada di dalam ruang kerja Arch. Pria tua itu menyentuh beberapa laporan di meja kerja. Sejak Arch mengambil alih perusahaan juga Eldragon, Duarte lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menenangkan diri di desa tempat kelahirannya.

Di desa itu juga ia bertemu dengan wanita yang ia cintai hingga saat ini. Duarte merupakan tipe pria setia yang hanya akan mencintai satu wanita sampai ia mati. Bahkan setelah wanita yang ia cintai menikah dengan pria lain, ia memilih untuk tetap melajang. Bukan perkara mudah untuk jatuh cinta lagi. Duarte sudah menyerahkan hatinya untuk satu wanita, jadi tidak ada ruang kosong yang tersisa untuk wanita lain lagi.

Arch masuk ke dalam ruang kerjanya, Duarte yang berdiri di sebelah meja kerja mengangkat wajahnya menatap Arch.

"Kau memiliki banyak sekali pekerjaan." Duarte mengacu pada tumpukan dokumen yang harus diperiksa dan ditanda tangani oleh Arch.

"Jika saja Ayah memiliki anak lain, aku tidak perlu melakukan banyak pekerjaan seperti ini." Arch melewati ayahnya.

"Itulah keberuntunganmu menjadi putraku. Kau tidak perlu bersusah payah memikirkan tentang mencari pekerjaan. Semuanya sudah tersedia untukmu." Duarte tersenyum dengan bangga.

Arch berdecih pelan. "Aku sangat berterima kasih sekali pada Ayah."

Duarte terkekeh geli. "Kau benar-benar anak yang berbudi luhur."

Arch menggelengkan kepalanya. Ayahnya memang sangat pandai mengartikan sindiran orang lain.

Arch memilih dokumen yang berisi perkembangan pembuatan senjata canggih yang dilakukan oleh Eldragon secara ilegal.

"Ini perkembangannya. Jika tidak ada masalah senjata api itu akan diproduksi enam bulan lagi." Arch menyerahkan laporan di tangannya pada sang ayah.

Duarte mulai membaca, setelah selesai ia tampak puas dengan hasilnya.

Waktu berlalu, sekarang sudah waktunya makan siang. Arch dan Duarte meninggalkan ruang kerja dan pergi ke ruang makan.

"Katakan pada Nyonya untuk turun makan malam." Arch memberi perintah pada Claudia.

"Baik, Tuan." Claudia undur diri. Ia segera pergi ke lantai dua. Mengetuk pintu lalu kemudian masuk ke dalam kamar Arch.

"Nyonya, Ketua menunggu Anda di ruang makan." Claudia menatap Luciellea yang saat ini sedang menonton televisi.

"Aku tidak memiliki nafsu makan."

"Nyonya, apakah Anda memiliki nafsu makan atau tidak, Anda harus tetap makan malam. Sekarang angkat bokong Anda dan segera pergi ke ruang makan," seru Claudia tidak sabar.

"Bahkan untuk makan pun aku harus mengikuti keinginan kalian? Ckck, sebenarnya kalian menganggapku manusia atau binatang?"

"Nyonya, tidak ada yang merendahkan diri Anda di sini, jadi berhenti bertingkah seolah Anda tidak dihormati di sini. Anda hanya diminta untuk makan malam."

Suasana hati Luciellea sudah sangat buruk, ditambah lagi gangguan dari Claudia ia semakin tidak bahagia. "Aku katakan padamu bahwa aku tidak akan makan malam! Kau tidak tuli, kan? Enyah sekarang juga!" usir Luciellea.

Claudia mendengkus kasar. Ia ingin memaki Luciellea, tapi ia masih menahan dirinya. Ia berbalik lalu keluar dari kamar itu. "Wanita keras kepala!"

Ia kembali ke ruang makan. "Ketua, Nyonya tidak memiliki nafsu makan."

"Biarkan saja dia." Duarte tidak ingin selera makannya rusak karena tingkah laku Luciellea.

"Duduklah, Claudia." Arch tidak akan membujuk Luciellea kali ini. Ia tidak ingin ayahnya melihat bagaimana sikap Luciellea terhadapnya.

"Baik, Ketua." Claudia duduk di sebelah Duarte. Ia tidak akan mungkin mengambil tempat duduk Luciellea yang ada di sebelah Arch.

Makan malam itu berlangsung dalam keheningan. Setelah selesai Arch berbincang dengan ayahnya sejenak, lalu kemudian kembali ke kamarnya setelah sang ayah pergi.

"Kenapa kau tidak makan malam, Ellea? Kau akan kelaparan." Arch bicara pada Luciellea yang masih duduk di sofa, ia tampak seperti menonton televisi, tapi pada kenyataannya wanita itu sejak tadi melamun.

Luciellea tersadar ketika Arch masuk ke dalam kamar. Ia langsung menjadi waspada. "Aku makan atau tidak itu bukan urusanmu!"

"Bagaimana bukan urusanku? Kau istriku. Aku tidak ingin kau sakit." Arch bersuara pelan. Pria ini membuang seluruh egonya demi mengambil hati Luciellea. Ia ingin istrinya itu bisa merasakan ketulusan hatinya.

Luciellea langsung merasa jijik ketika ia mendengar ucapan Arch. "Kau pikir dengan sikapmu yang menjijikan ini aku akan tersentuh? Ckck, kau bermimpi! Aku membencimu, sangat membencimu."

"Sudah malam, ayo tidur." Arch mengabaikan kata-kata Luciellea yang setajam pedang yang menghancurkan hati Arch.

"Aku tidak sudi tidur denganmu!" tolak Luciellea.

"Selalu ada batasan terhadap kompromi, Ellea." Arch mendekati Luciellea dan menggendong tubuh langsing wanita itu.

"Turunkan aku!" Luciellea memberontak, tapi perlawanan wanita tidak terlatih seperti dirinya bukan apa-apa bagi Arch.

Tubuh Luciellea dilemparkan ke atas ranjang oleh Arch. Gaun tidur wanita itu tersingkap, paha mulusnya tampak sangat menggoda.

"Kau maniak! Jangan pernah menyentuhku!" Luciellea mencoba untuk bangkit, tapi Arch sudah menekan tubuh Luciellea. Pria itu menyegel bibir Luciellea, meredam semua makian Luciellea yang kini tersangkut di kerongkongan.

Luciellea menggigit bibir Arch sebagai tanda perlawanan yang sengit. Arch mengelus bibirnya yang sakit, tapi tindakan Luciellea semakin membuatnya bergairah. Arch mencium bibir Luciellea lebih ganas. Pria ini seperti binatang buas yang melahap mangsanya tanpa ampun.

Kedua tangan Arch mengoyak gaun tidur tipis Luciellea. Ia sangat berterima kasih pada Claudia karena memilihkan gaun tidur yang sangat mudah untuk ia robek.

Dada sintal Luciellea tampak begitu angkuh, Arch tidak tahan untuk melahap daging kenyal itu.

Luciella masih berjuang melawan Arch, tapi penolakan, makian dan tangisan Luciellea tidak bisa menghentikan gairah Arch.

Arch bisa tidak meluapkan emosinya dengan memakai kekerasan pada Luciellea, tapi untuk kebutuhan fisiknya, ia tidak akan menahan dirinya.

Luciellea merasa sangat hancur di bawah Arch. Untuk kedua kalinya ia dipaksa melayani nafsu binatang Arch. Luciellea berpikir ingin mati sekarang. Ia merasa dirinya sangat hina dan kotor.

Malam itu menjadi malam yang panjang. Aroma percintaan menyatu dengan udara di dalam ruangan itu, menyebar ke setiap sudut.

Arch baru berhenti ketika ia sudah merasa puas. Ia telah menahan dirinya selama bertahun-tahun untuk bercinta dengan Luciellea, andai saja ia tidak memikirkan Luciellea ia pasti akan membuat penantian panjang itu terbayar dari malam sampai pagi menjelang.

Arch menarik tubuh lemah Luciellea. "Aku sangat mencintaimu, Ellea. Kau adalah milikku." Ia mendaratkan kecupan di atas kepala Luciellea.

Air mata jatuh dari mata indah Luciellea. Dicintai oleh Arch merupakan kutukan baginya.

tbc

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status