Share

Keputusan yang Berat

Bagas menutupi tubuh Jessica yang terbuka menggunakan kemeja miliknya.

“Aku tidak punya waktu untuk melakukan ini.” Bagas memalingkan tubuhnya.

Ego Jessica sedikit terluka mengetahui Bagas sama tidak tertarik melakukan hubungan bahkan ia sama tidak bergairah sedikitpun.

“Bagas, tunggu!” Jessica menarik lengan Bagas sebelum pria itu pergi.

“Aku telah memaafkanmu, jadi biarkan aku pergi sekarang.” Bagas melepaskan tangan Jessica dengan pelan.

Lidah Jessica tercekat, sekali lagi ia melihat punggung Bagas menjauh. Kini tubuhnya terasa dingin di kamar sendiran dengan pakaian terbuka padahal ia mengharapkan kehangatan dari Bagas.

***

“Rasakan ini, huh.” Amanda yang terjebak di pelukan Budi melakukan perlawan dengan menginjak kaki pria berengsek itu sehingga ia dapat meloloskan diri.

“Aduhhh,” Budi meringis kesakitan.

“Dasar pria menjijikan,” Amanda memaki Budi sambil menangis.

Tuhan masih mengasihani Amanda buktinya kehormatannya masih terjaga. Wanita itu berlari meninggalkan kebun kopi berserta pekerjaannya tanpa menghiraukan buruh lain yang menatapnya heran.

“Huft… huft… huft…” Napas Amanda tersegal mengeluarkan udara panas lewat mulut.

Untungnya di rumah belum ada Diana atau wanita itu akan bertanya kenapa dan mengapa ia pulang cepat. Tangan Amanda dengan sigap mengunci pintu rumahnya rapat-rapat ia khawatir apabila Budi mengejarnya sampai sini. Air mata Amanda tumpah ruah saat mengingat kejadian barusan. 

“PRAKKK!” Celengan Ayam yang selama ini ia sembunyikan untuk keperluan darurat akhirnya pecah. Lembaran uang berhamburan dilantai.

“Mungkin sudah saatnya aku kabur dari rumah ini.” Uang yang Amanda kumpulkan selama dua tahun terakhir dari hasil kerjanya ternyata lumayan banyak kira-kira sekitar 7 jutaan lebih. Rencananya Amanda akan menggunakan uang itu sebagai modal merantau ke kota. Amanda yang sibuk menghitung uang tiba-tiba terperanjat mendengar suara pintu rumah terbuka padahal ia telah menguncinya tadi.

“Waduh, Diana sudah pulang atau jangan-jangan itu Budi.” Jantung Amanda berdegub kencang tangannya tidak henti-hentinya gemetar sambil memungut lembaran uang yang berserakan.

“Wahh, ngak bisa dibiarin, nih.” Diana seketika geram mengetahui Amanda sudah ada di rumah.

Suara langkah kaki terdengar nyaring dari luar kamar Amanda sekujur tubuhnya kaku mengingat sebentar lagi ia akan kena serangan mental.

“Lu bolos kerja, yah?!” bentak Diana kepada Amanda yang sedang duduk ketakutan di lantai.

“Anu-“ Amanda coba memberi alasan akan tetapi Diana tidak peduli.

“Ngak usah banyak alasan dehh lo, pokoknya sekarang lu harus kembali ke kebun Pak Sulaeman!” paksa Diana.

Amanda tidak bergeming mendengar perintah Diana yang tidak akan ia lakukan.

“Berani lu, yah.” Emosi Diana melecut.

“PLAKKK!” Telapak tangannya melayang dengan ringan di udara lalu menghantam pipi Amanda.

Rasanya sangat panas. Amanda mengelus-elus pipinya yang sakit akan tetapi Diana sama sekali tidak peduli sebenarnya kejadian seperti ini sering kali terjadi diantara mereka berdua. Beberapa saat kemudian Amanda tersenyum ia membayangkan dirinya ada tempat lain “Sebentar lagi aku akan bebas dari neraka ini,” ucapnya dalam hati.

Pukul sebelas malam meraka kedatangan tamu karena berada di dalam kamar Amanda hanya mendengar suara, ia menduga kalau yang datang itu pasti pacar Diana yang ingin meminta jatah seperti biasa.

“Mereka berdua pasti akan mengotori rumah ini lagi.” Desisnya.

Diam-diam Amanda mempacking barang-barangnya di kamar, ia berencana meninggalkan rumah besok pagi lalu berangkan ke kota untuk merantau dan memulai hidup baru. Sementara Diana masih asik bercengkrama di ruang tamu. “Ada yang aneh.” biasanya Amanda mendengar suara desahan wanita lacur itu tapi sekarang semuanya terdengar normal-normal saja. Jarum jam menunjuk pukul setengah dua belas malam sekali lagi Amanda merasa aneh biasanya pacar Diana pulang pukul dua tau tiga malam tapi sekarang ia pulang cepat. Mendengar suara pintu menutup tanda bahwa tamu itu telah pergi Amanda kemudian mematikan lampu kamarnya agar Diana mengira kalau ia sudah tidur.

Sebelum Diana bangun, Amanda menyiapkan sarapan terlebih dahulu untuknya sebagai salam perpisahan. Walaupun masa-masanya bersama Diana selalu menyedihkan, akan tetapi ia berterima kasih karena telah mendidiknya mandiri. Pisau dapur yang ia ganggam menjadi salah satu barang bawaannya di perjalanan.

“Wah, si babu udah nyiapin sarapan.” Diana yang baru melek melirik meja makan yang telah dihuni makanan enak. 

“Mandaaa!” Baru kali ini Diana memanggil Amanda menggunkan nama aslinya.

“Iya,” Amanda menyahut sembari mendatangi Diana. 

“Sebenarnya ada yang pengen gua omongin sama elu,” ajak Diana tanpa melihat wajah lawan bicaranya.

“Apa itu?” Alis Amanda terangkat lumayan terkejut.

“Tadi malam anaknya Pak Sulaeman datang ke rumah kalau ngak salah namanya si Budi,” ucap Diana ragu. “Oh, iya, Budi,” sambungnya yakin.

“Apaaa? Budi?!” Spontan Amanda terkejut mendengar nama pria berengsek itu.

“Ehh, biasa aja dong, elu.” Diana ikut terperanjat kemudian lanjut cerita. “Sebenarnya niatan si Budi itu baik sama elu, jadi dia minta restu sama gua sebagai ibu tiri untuk nikahin elu sama dia.”

“Tidak,” responsnya singkat. 

“Asal elu tau yah, dia itu anak orang kaya. Kalau elu jadi istrinya, hidup kita bakal enak. Jadi, elu ngak boleh nolak!” tegas Diana.

Tanpa memperdulikan keinginan ibu tirinya ia pun pergi mengambil tas yang berisi pakaian dan barang pridinya kemudian berlari keluar rumah. Diana yang melihat Amanda kabur seperti kucing lepas tidak tinggal diam, ia pun mengejarnya. 

“Mundur atau elo gua bunuh.” Ketika jarak meraka sudah dekat Amanda berhenti dan tanpa ragu menondongkan pisau ke arah Diana.

“Tunggu… tunggu… tunggu…” Kedua tangan Diana terangkat tanda menyerah.

“Selama aku masih hidup aku tidak akan pernah melupakan sosokmu yang hina, kejam, dan keji itu Diana. Hahaha.” Hati Amanda sangat puas memaki ibu tirinya yang sangat ingin ia lakukan sejak dulu. Rasanya sangat lega sampai-sampai ia tertawa.

“Beraninya kau, arghhhh!” Diana memekik tidak terima ia bahkan mengabaikan peringatan Amanda yang akan membunuhnya apabila ia nekat mendekat.

“Rasakan ini wanita jalang.” Pisau yang digenggam Amanda terayun mengenai tangan Diana hingga terluka. 

“Aduhhh,” Diana merintih merasakan perih. 

Akhirnya Amanda terbebas dari belenggu ibu tirinya berbekal sedikit tabungan yang akan menjadi modal hidupnya di kota.  Sekarang ia berada di terminal menunggu bus. Perjalanan yang ia tempuh cukup jauh untuk sampai ke kota yaitu 200 km atau sekitar 7 jam menggunakan jalur darat. Laju bus kini melambat bukan karena kehabisan bensin atau mogok melainkan arus lalu lintas kota yang macet itu tandanya Amanda sudah sampai di tempat tujuan. Pemandangan yang luar biasa tampak dari luar jendela bus.

“Wow.” Reaksi Amanda ketika melihat gedung pencakar langit yang saling berhadap-hadapan sambil membayangkan rasanya ada di dalam sana. Binar mata Amanda sangat antusias ingin menelusuri setiap sudut kota. Pejalan kaki yang lalu-lalang semuanya berpenampilan menarik jauh berbeda dengannya yang berasal dari desa. Selama di perjalanan Amanda selalu membandingkan antara desa dan kota dan tentu saja saat ini ia memilih kota sebagai tempat terbaik. Amanda yang kampungan terus saja terkesima melihat hal-hal baru terlihat jelas dari senyumnya yang tidak dapat menyembunyikan kebahagiaan. Amanda menarik nafas ketika turun dari bus sebagai peresmian pijakan pertamanya di kota sebagai tempat tinggal barunya.

“Uhuk…  uhuk…” Polusi udara membuat paru-paru Amanda merasa tidak nyaman, sekali lagi ia membandingkan. “Sepertinya udara di desa jauh lebih baik. Semoga aku bisa beradaptasi,” keluhnya dalam hati.

***

“Halo, Bagas,” Bintang menelepon, suaranya terdengar gelisah mengingat hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja. 

“Iya,” jawabnya malas.

“Aku tahu kau marah, tapi jangan biasakan kabur dari masalah. Kakak mohon, pulanglah,” bujuk Bintang sambil menunggu jawaban.  

“Ntah, lah.” Bahu Bagas menggidik tidak tahu.

“Kita bisa membicarakannya baik-baik.” Bintang belum menyerah membujuk Bagas yang merajuk.

Bagas menimbang-nimbang dalam hati apakah ia harus menyerah demi ayahnya atau melawan demi kebebasan. “Andai mama masih ada aku yakin hidupku tidak akan selinglung ini. Alangkah beruntungnya Adrian yang masih memiliki Bi Idah. Mama kenapa kau pergi begitu cepat?” Dada Bagas terasa sesak sampai-sampai air matanya berlinang kala mengingat almarhumah mamanya yang telah pergi dan tidak akan pernah kembali. Satu-satunya wanita yang ia cintai di dunia ini hanyalah mamanya seorang, buktinya sampai sekarang Bagas sering kali sensitif kepada wanita yang sok peduli padanya seperti Jessica dan masih banyak lagi wanita yang mencintainya karena fisik dan meteri intinya berkutat disitu-situ saja.

Bagas menyeka air mata yang mengucur deras di pipi, tiba-tiba ia tenggelam dalam bayangan masa lalu yang memperlihatkan wajah mamanya menyeringai sambil berkata, “Mama ingin menjadi artis.”

Bagas kecil bertanya dengan polos, “Kenapa?”

Mamanya memikirkan jawaban sambil menekan-nekan pipi. “Karena artis adalah cita-cita Mama sejak kecil. Nah, Bagas juga harus punya cita-cita dari sekarang supaya belajarnya tambah semangat, yah.”

“Kalau begitu Bagas mau jadi pembuat film supaya Mama bisa jadi artis, hehehe,” Bagas kecil  terkikik.

“Anak Mama memang pintar, hahaha,” Mamanya tertawa geli mendengar cita-cita Bagas yang tidak ia sangka-sangka, cita-cita itu memotivasinya sampai sekarang.

Bagas yang sementara menyetir masih belum sadar sementara di depannya ada wanita yang juga tidak merperhatikan jalan karena terlalu sibuk mengagumi kemegahan kota.

“Astaga… awasss!!!” Bagas kembali sadar akan tetapi ia hilang kendali, tak henti-hentinya ia menekan klakson untuk memperingati wanita di depannya agar tidak tertabrak.

“Aaaaaa!” wanita itu terkejut sampai kaku sekujur tubuh.

BRUKK…

DMCA.com Protection Status