Share

Setelah Lima Tahun
Setelah Lima Tahun
Penulis: Lis Susanawati

Part 1 Aku yang Menyerah

Part 1 Aku yang Menyerah

"Cerai? Kamu serius?" tanya Miya dengan mimik muka tidak percaya. Dia memandangku lekat.

"Ya."

"Sudah kamu pikirkan masak-masak."

"Hu um. Ini sudah keputusan finalku. Aku menyerah dengan cinta yang kuperjuangkan selama ini. Nyatanya sampe sekarang aku tidak pernah jadi pemenangnya. Hati Mas Ilham tetap untuk Nura."

Rasanya sangat sakit mengucapkan kalimat itu. Namun aku memang butuh teman berbagi, agar beban dan luka dada ini terasa berkurang. 

Miya sudah kukenal sejak duduk di bangku SMA hingga kuliah. Dia juga yang tahu bagaimana hubunganku dan Mas Ilham bermula.

"Kalian punya Syifa. Apa enggak kasihan sama anak."

Kupandang bocah perempuan yang asyik bermain dengan Tita, anaknya Miya yang seumuran dengan Syifa.

"Syifa enggak begitu dekat dengan papanya. Jadi enggak akan berpengaruh dengan perpisahan kami."

Miya menggenggam erat tanganku yang dingin. Sebak di dada ini tidak lagi mengalirkan air mata seperti biasanya. Hatiku memang sudah beku dengan drama yang terjadi di rumah tangga yang terbina lima tahun ini.

"Sabar, Vi."

Aku tersenyum getir.

"Apa ibumu dan mertuamu sudah tahu."

"Sebelumnya aku sudah minta pertimbangan sama Ibu. Beliau enggak bisa berkata apa-apa. Ibu juga tahu aku sudah cukup bertahan selama ini. Kalau mertuaku ... masih berharap bahwa kami akan baik-baik saja."

"Ilham sendiri bagaimana?"

"Masih diam."

Kualihkan pandanganku pada mentari di ujung barat. Sinarnya mulai meredup di antara gumpalan mega-mega putih.

"Teman-teman kita akan kaget mendengar ini," gumam Miya.

Tentu saja mereka akan kaget. Sebab orang-orang di luar melihat kami hidup dengan harmonis. Mereka mana tahu, apa yang sesungguhnya terjadi di istana megah kami. Aku hanyalah ratu tanpa mahkota di sana. Aku hanya pelengkap status bagi pria yang menikahiku lima tahun yang lalu.

Aku sudah berusaha semampuku menjadi istri yang berbakti untuknya. Melayani dengan paripurna, tapi masa lalu masih juga merongrongnya.

Cerai? Selama lima tahun ini aku tidak pernah berpikir mengambil jalan itu. Aku percaya semua akan membaik pada akhirnya. Namun kini aku harus menyerah juga. 

Malam setelah kupergoki Mas Ilham tertidur di ruang kerjanya, saat itu ditangannya ada buku yang terselip foto lama seorang wanita. Dia Nura. Mantan kekasihnya.

Bukan alasan itu saja yang membuatku nekat bercerai. Waktu Mas Ilham opname, dari kaca pintu kulihat Nura menyuapinya dengan penuh perhatian. Mereka bercengkrama layaknya pasangan yang bercinta.

"Vi," panggilan Miya membuyarkan lamunanku.

Aku menarik napas panjang, melihat jam tangan kemudian meraih hand bag di atas meja taman, tempat di mana aku dan Miya bertemu sore itu.

"Ayo, kita pulang Miya. Nanti suamimu pulang kerja kalian enggak ada di rumah."

"Vi, aku yakin kamu kuat. Hadapi dengan sabar dan doa."

Aku mengangguk. Kurasa aku cukup kuat selama ini. Bertahan dalam mahligai tanpa ada cinta di dalamnya.

"Syifa, ayo kita pulang, Sayang."

Dua bocah perempuan itu berlari pada kami. Miya mengajak anaknya pulang jalan kaki setelah aku naik taksi bersama Syifa. Taman itu memang tidak jauh dari perumahannya. Tadi aku belanja kebutuhan rumah di pusat perbelanjaan yang tidak jauh dari rumah Miya. Makanya sekalian kuajak dia ketemuan.

Jarak dari taman ke rumah hanya dua puluh menit. Saat taksi berhenti di depan rumah, tampak mobil Mas Ilham sudah terparkir di garasi. Rupanya dia pulang lebih awal. Apa tidak ada janji dengan perempuan itu?

Setelah membayar ongkos taksi, kugandeng Syifa masuk rumah.

"Assalamu'alaikum."

"W*'alaikumsalam," jawab Mas Ilham yang keluar dari kamar.

Tampaknya dia baru selesai mandi. Bau wangi sabun menguar di sekitar kami. Seperti yang kuajarkan pada Syifa, gadis kecilku akan mencium tangan papanya saat kami baru dari luar atau ketika Mas Ilham baru pulang dari kantor.

"Darimana?" 

"Belanja, sekalian ngajak main Syifa sebentar."

Aku ke belakang untuk menaruh barang belanjaan. Syifa langsung duduk di depan TV melihat kartun dan Mas Ilham duduk di sebelahnya. Membelai rambut putri kami. 

Ah, tiba-tiba dadaku terasa nyeri melihat pemandangan yang sangat jarang terjadi. Mas Ilham, ayah yang kaku dan tidak tahu bagaimana memuji anaknya. Dia hanya akan tersenyum sambil mengacungkan ibu jari saat Syifa menunjukkan hasil mewarnai di sekolah.

Jilbab kulepas sambil melangkah masuk kamar. Kemudian menutup jendela, mengambil baju kotor Mas Ilham di kamar mandi lalu membawanya ke belakang. Sekalian aku menyiapkan hidangan makan malam.

Kami langsung ke ruang makan setelah selesai Salat Maghrib berjamaah. Kulayani suami seperti biasa setelah mengambilkan makan untuk Syifa.

"Ma, besok kita jadi renang, enggak? Katanya kalau libur sekolah Mama mau ngajak Syifa renang," tanya Syifa.

"Iya. Besok kita pergi," jawabku sambil tersenyum.

"Besok Papa antar."

Syifa mengangguk sambil memandang papanya. Ada binar bahagia di mata gadis kecil kami. Namun aku justru takut, karena kenyamanan itu tak lama lagi akan terenggut.

Kami makan malam sambil mendengar Syifa bercerita tentang sekolahnya. Seperti biasa aku yang menanggapi, sedangkan Mas Ilham hanya jadi pendengar. Terkadang saja tersenyum.

Sudah jadi kebiasaanku kalau habis makan malam, langsung membereskan dapur. Bahkan langsung kupel malam itu juga. Keharmonisan yang tidak ada di antara kami, membuatku selalu menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah tangga. Hampir setiap hari lantai aku pel setelah mengantar Syifa sekolah. Kaca rumah bening tanpa dihinggapi debu karena selalu kulap setiap hari.

Sejak pembicaraan cerai seminggu yang lalu, aku tidur menemani Syifa di kamarnya. Seperti malam ini. Setelah Syifa tidur, aku membereskan buku-buku mewarnai dan beberapa krayon yang berserakan di atas meja belajarnya.

"Vi." Ada panggilan pelan bersamaan dengan ketukan di pintu kamar.

"Syifa sudah tidur?" tanya Mas Ilham saat aku membuka pintu.

"Sudah."

"Kita bicara sebentar."

Aku mengangguk dan mengikutinya ke ruang tengah.

Hening sejenak menjadi jeda.

"Minggu depan aku akan pindah ke rumah Ibu." Akhirnya aku yang membuka percakapan. Mas Ilham menatap kaget.

"Kamu serius kita cerai?"

"Ya."

"Apa tanggapan orang-orang nanti?"

Aku tersenyum getir sambil memainkan ujung piyama yang kupakai.

"Kenapa harus peduli dengan tanggapan orang. Mereka hanya beberapa waktu saja menggunjing. Setelahnya akan diam dan lupa."

"Antara aku dan Nura tidak ada hubungan apa-apa."

"Yang kutahu kalian saling mencintai dan menunggu satu sama lain. Sampai dia rela meninggalkan suaminya hanya untuk bersama Mas. Aku tahu kalian pergi bersama keluar kota hari itu."

Mas Ilham menatapku lekat. "Itu hanya untuk urusan pekerjaan."

"Aku juga tahu saat dia menyuapi Mas di rumah sakit. Aku tahu saat dia menggenggam tangan Mas dengan tatapan memuja. Aku pun tahu saat Mas tertidur di ruang kerja sambil memeluk buku terbuka yang terselip foto lama Nura."

"Vi ...."

"Aku juga tahu catatan di laptop Mas, tentang ungkapan perasaan Mas padanya. Maaf, aku enggak sengaja membacanya ketika Mas lupa mematikan laptop malam itu."

Aku berhenti sejenak. Menarik napas dalam-dalam untuk melonggarkan dada yang kian sesak.

"Jadi enggak ada alasan aku untuk bertahan lagi. Seolah aku yang menjadi duri di antara kalian. Aku enggak ingin seperti ini. Aku juga ingin bahagia. Mungkin dengan kita bercerai, Mas akan bahagia dan aku juga akan tenang."

Hembusan napas Mas Ilham terlihat berat, netranya sudah memerah. Entah apa yang dirasakannya. Malu karena aku bisa menyibak semuanya, atau khawatir dengan reputasinya yang akan terjejas setelah perceraian kami. Secara kariernya di kantor sebagai branch manager sedang berada di puncak.

"Aku enggak akan menuntut apa pun. Nafkah untuk Syifa, Mas pikirkan sendiri. Bukan karena aku enggak butuh, tapi aku juga sadar kalau sebenarnya kelahiran Syifa enggak pernah Mas inginkan."

Mas Ilham menatapku tajam, seolah menyangkal dengan apa yang aku ucapkan. Namun dia tetap diam tak bersuara. Membuatku semakin membenarkan asumsiku sendiri.

"Kita akan berpisah secara damai. Jangan khawatir, aku tidak akan mempersulit urusan pengadilan. Biar kalian segera bisa bersama."

Air mata berderai tidak terbendung. Aku harus segera pergi biar dia tidak tahu betapa hancurnya perasaanku.

"Vi."

Mas Ilham meraih lenganku kemudian berdiri. "Maaf untuk semuanya. Mungkin Mas memang sebrengsek itu, yang tidak memahami bagaimana perasaanmu. Marilah kita perbaiki hubungan ini. Kita coba sekali lagi."

Aku tersenyum getir. "Jangan sia-siakan waktu untuk uji coba. Kalau Mas ingin berubah, waktu lima tahun enggak sebentar. Tapi kenyataannya semua masih sama."

"Mas tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Nura. Kami memang dekat, tapi hanya sebatas teman. Kamu juga tahu kalau Mama sudah menganggap Nura seperti anak sendiri."

"Enggak ada apa-apa, tapi Mas menulis ungkapan cinta untuknya."

"Itu tulisan lama yang belum sempat Mas hapus."

Ah, tulisan lama katanya. Namun kenapa dia membuka dan membacanya lagi. Jika itu tidak bermakna lagi, kenapa tidak segera dihapus saja.

Kulepaskan pegangan tangannya. Aku tidak ingin membicarakan hal itu lagi. Semua amat menyakiti. Mungkin Mas Ilham tidak tahu, kalau aku mengetahui mereka sering pergi berdua. Meski dengan alasan pekerjaan. Ya, mereka memang bekerja di dua tempat yang berbeda, tapi masing-masing perusahaan memiliki ikatan kerjasama.

"Sudah malam, tidurlah, Mas!"

Aku melangkah kembali ke kamar Syifa sambil mengusap air mata. 

Setelah menutup pintu kamar, aku duduk menatap Syifa yang tidur pulas. Air mata kembali menganak sungai saat ingat lima tahun yang lalu. Bagaimana reaksi Mas Ilham saat tahu aku hamil, tidak tampak dimatanya binar bahagia. Bahkan begitu kaget dan tidak siap.

Bahkan waktu kelahiran Syifa dia sedang ke luar kota. Dia tidak tahu bagaimana aku bertarung nyawa demi melahirkan anaknya. Setelah pulang pun Mas Ilham tetap sibuk dengan urusan pekerjaan. Bayi kecilku kuurus dengan bantuan Mama mertua. 

Sesekali Ibu akan datang di waktu longgarnya. Sebab usaha kue ibu saat itu sedang berkembang pesat. Pesanan datang dari mana-mana.

Kukecup kening gadis cantikku penuh cinta sebelum aku rebah di sampingnya.

🌷🌷🌷

"Mama, tolong ikatkan tali sepatu. Syifa enggak bisa, Ma," teriak Syifa dari teras. Pagi itu kami bersiap pergi berenang.

"Iya, sebentar," jawabku sambil memasukkan bekal. Aku membawa kue dan cemilan.

"Sini, Papa ikatkan." 

Mas Ilham mendekati Syifa. Kuperhatikan bocah itu diam saja. Setelah mengucapkan terima kasih langsung duduk di kursi teras, menjauh dari papanya.

Lihatlah, anak sekecil itu sangat peka dengan apa yang terjadi antara kami. Mungkin Syifa juga merasa bahwa dulu kehadirannya diterima dengan setengah hati.

Dari dalam kulihat Mas Ilham masih berjongkok sambil memandang putri kami. Mungkin dia juga sadar bahwa ada jarak yang membentang di antara dia dan anaknya.

"Kita berangkat!" ajakku dengan nada datar.

Tercipta hening dalam perjalanan. Aku tetap duduk di bangku depan, sambil memangku Syifa. Sesekali Syifa bertanya tentang apa yang dilihatnya dalam perjalanan. 

"Katanya kita mau tinggal di rumah Nenek. Kapan, Ma?"

Mas Ilham menatap kami.

"Minggu depan, Sayang. Nunggu Pak Nardi longgar dulu, ya," jawabku pelan.

Pak Nardi adalah tetangga ibuku sekaligus orang yang sering disuruh ibu untuk mengantarkan pesanan-pesanan kue.

"Papa ikut juga?"

"Enggak. Kalau Papa ikut siapa yang akan menjaga rumah."

Syifa mengangguk sambil memandang papanya sebentar.

Setelah turun dari mobil, Syifa langsung berlari sambil menarikku menuju loket pembelian tiket. Mas Ilham mengikuti di belakang. Entah kenapa dia ikut, biasanya menunggu di mobil atau pulang.

Kami duduk di ayunan besi tepi kolam tempat berenang Syifa. Dia sibuk dengan ponselnya, sedangkan aku memperhatikan keceriaan anak-anak yang sedang bermain air dan beberapa orang tua yang sedang menungguinya.

Tiba-tiba ponsel Mas Ilham berdering. Kulirik sekilas ada panggilan masuk dari Nura. Dibiarkan panggilan itu hingga berhenti. Kemudian disusul panggilan selanjutnya. Dan sebuah pesan masuk saat Mas Ilham masih diam. Entah pesan dari siapa.

Kenapa aku tidak marah atau menegurnya? Bukankah aku berhak untuk itu?

Aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Setelah aku hampir depresi setelah melahirkan Syifa. Aku pernah mengamuk saat bayi kami rewel, sedangkan Mas Ilham malah sibuk menenangkan Nura yang kala itu sedang mengurus perceraian dengan suaminya.

Saat Syifa umur dua bulan, aku tidak mau menyusuinya. Setelah bayiku hampir sakit, aku sadar kalau tindakan itu sangat bodoh dan konyol. Untuk apa menyiksa diri demi pria yang tidak menganggapku sama sekali. Aku harus waras demi anak dan diriku sendiri.

"Kalau Mas ada urusan lain, tinggalkan kami. Nanti kami bisa naik taksi," ucapku kemudian meninggalkannya untuk menghampiri Syifa.

Dia tidak pergi, tapi malah memperhatikan aku dan Syifa yang bercanda di tepi kolam. Sejak dulu sikapnya memang sulit ditebak.

Next ...

Terima kasih untuk like dan komentarnya Man-teman 😍😘

Komen (45)
goodnovel comment avatar
Safwan Libra
nanti smpai di bab 1000 bru lu hujat ini novel
goodnovel comment avatar
Anggreni Yulia
apakah cerita ini ada novel tercetaknya?
goodnovel comment avatar
Iasha Beta
novel terbagus, nyata
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status