Share

BAB 5

"Kakak Martha memang yah… " Clarine dan ibunya tersenyum dalam dekapan itu. 

"Kakak… Eh." Sanders merasa malu sendiri. 

Clarine yang mendengar suara panggilan terhadap Martha akhirnya pun melepaskan pelukan, retinanya bertanya dia siapa. 

"Saya berhasil Sand, nah kenalin ini Sanders. Clarine… " 

Mereka bersalaman, sampai pada akhirnya Martha yang pamit duluan. 

"Gimana tadi Kak di ruangan?" tanya Sanders yang kebetulan tidak bisa menenami Martha. Dia harus mengurus keperluan sekolah adiknya, di tengah-tengah jalannya sidang penggugatan tersebut. Adiknya menelpon bahwa Sanders harus ke sekolah. Akhirnya dia pun izin menyelinap ke belakang. 

"Kamu dari mana aja? Lancar… Kemampuan orasinya lebih dari yang saya pikirkan ternyata. Pengacara-pengacar atau kuasa hakim zaman sekarang hanya fokus pada clien untuk mampu memenangkan saja, tanpa dipikir hal lain."

"Lah memang itukan tujuan pengacara, dan kenapa orang-orang sehingga sanggup membayar meski harga selangit…" 

"Tidak seperti itu juga bambang, pengacara yang baik itu bukan melepaskan kesalahan, ataupun meliarkan kejahatan, tapi harus mampu mencari jalan ringan agar bisa selamat dari terpaan air sunga sewaktu-waktu naik ke daratan. Apalagi untuk hal kebenaran, dia harus mampu membebaskannya, sampai sebebes-bebasnya." 

"Dalem banget Kak perumpamaan tentang sungainya, sampai saya pun tak paham. Hehee… " 

Membelah jalanan yang nampak ramai dengan sepeda motor matic berdua, keduanya membisu setelah itu, meski ada yang mengganjal di hari Martha, ketika Sanders tak menjawab telah dari mana dia." 

***

"Kakak ingatkan pada kemenangan kasus pertama itu, terus kakak marah-marah selanjutnya kenapa tak menjawab pertanyaan saya hari itu kenapa menghilang bahkan sampai hari ini saya masih bungkam… Hheee," ucap Sanders.

"Saya menghilang secara diam-diam karena memang mendapat telpon, adik saya di sekolah dipanggil guru, gurunya bertanya di mana ayahnya. Saya ke sana langsung, selepas di sana. Gurunya hampir nangis, saya heran dong kenapa. Apa adik saya memang nakal banget sampai segitunya. Gurunya berceritalah, bahwa setiap kali ditanya di mana ayah kamu, adik saya selalu menjawab saya tidak punya ayah, kerjaan ayah seperti apa, dia selalu menjawab ayah itu orang gila dan tak bertanggung jawab, kemudian apa ayah selalu memberi cokelat, adik saya menjawab bukan colekat melainkan luka. Gurunya naik pitam, sampai memukuli adik saya. Saya tidak sadar, soalnya memang ada luka sih di pipi serta punggungnya itu. Gurunya bilang adik saya durhaka, tidak tahu terima kasih. Kemudian hari berikutnya dia melihat adik saya tetap berangkat sekolah dan ketika gurunya itu masuk, dia tak menampilkan kebencian apapun. Gurunya heran, lekas dipanggillah kemudian adik saya disuruh nelpon saya. Adik saya memberi jawaban menohok. Katanya, kenapa harus benci ibu jika ibu memang tak pernah tahu kehidupan saya, saya hanya menjawab jujur setiap kata yang ibu lontarkan. Kemarahan saya sudah lenyap di bawa angan-angan kemarin malam, itulah yang selalu ibu saya katakan, yang seharusnya marah, benci dan merasa terluka lebih itu ialah Kakak saya. Karena ayah, Kakak harus menjadi korban. Saya juga belum paham sih korban apa, tapi melihat kegigihan dia serta sayangnya dia kepada keluarga. Saya percaya ibu saya tak bohong. Gurunya meminta maaf, lalu menyerahkan kwitansi bahwa sekolah adik saya lunas sampai dia kelas enam SD. Biar katanya yang bayarin itu beliau… " 

"Wow, kamu punya bakat menjadi pendongeng juga yah ternyata." Tanggapan Martha sedikit takjub.

"Kamu membaca setiap kata dan titiknya pas loh, jadi tidak menimbulkan ambiguitas. Ohhh… Jadi itu, saat usia kita tepatnya aku sih, dua puluh dua yah, dan kamu dua puluh dong… " 

Sanders mengangguk. "Jadi Kakak kenapa sekarang?" tanya Sanders. 

"Itu dia, tapi tidak apa-apa deh. Saya sekarang sudah mulai membaik… " 

Sanders menatap curiga Martha, bahkan leluasa melihat Martha dari kedekatan.

"Apa kamu pikir saya butuh cinta?" yang ditatap malah acuh dan bertanya hal ini. 

"Kenapa Kakak tiba-tiba bertanya perkara cinta? Setiap saat, Kakak selalu menjadi penebar cinta dan dengan kata lain kakak memang sudah mendapatkannya. Kenapa… " 

"Issshh bukan itu maksud saya, Sanders… " 

"Terus apa dong?" 

"Tander Alfenzo, kira-kira--" 

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status