Share

Bab 7. Jadi Berita

Setelah puas mengambil foto, reporter itu beringsut menjauh, memeriksa foto-foto hasil jepretannya dan tertawa-tawa merasa puas.

"Ini pasti akan menjadi berita yang booming besok pagi, aku pasti akan mendapatkan keuntungan yang besar," kata reporter itu gembira sambil masuk ke dalam mobilnya dan berlalu.

Keesokan paginya berita di berbagai media tentang Rengga yang menangis dan teriak-teriak di depan rumah Mirela saat malam pengantinnya mulai menjamur.

Dean yang sedang membaca berita di ponselnya mengerutkan alis merasa kesal dan jengkel.

"Dasar bedebah! Bisa-bisanya dia cari sensasi di malam pernikahannya di depan rumah Mirela!" gerutu Dean sambil menggebrak mejanya.

Dean mulai menelpon Dina dengan wajah merah karena marah, dia benar-benar merasa malu dengan berita yang tersiar soal adik iparnya itu.

"Kak?!" sapa Dina dari sebrang telpon dengan suara yang masih mengantuk.

"Dimana dia?!" tanya Dean to the point.

"Dia Siapa?" tanya Dina heran.

"Suami terkutuk kamu itu!" cetus Dean tanpa menyembunyikan rasa kesalnya.

"Kak! Kenapa kakak mengutuk suami aku?!" tanya Mirela tidak terima.

"Ya aku mengutuk suami idiot kamu itu! Yang sudah menyeret dan mencoreng nama baik kita dengan kelakuan bodohnya di malam pernikahan kalian."

"......" Dina terdiam, dia tidak menyangka kakaknya tahu soal kejadian tadi malam. 'Sial! Siapa yang membocorkan kejadian tadi malam?' tanya Dina dalam hati sambil mengerutkan kening.

"Periksa berita! Lihat bagaimana suami idiot kamu menjadi pemberitaan dan juga aku mengucapkan selamat foto kamu juga ada di berita itu, apakah kalian senang sekarang? Puas? Karena telah menjadi selebriti dadakan?! Aku benar-benar tidak mengerti apa sih yang ada di pikiran kamu hingga membiarkan dia datang di malam pernikahan kalian ke rumah Mirela?!"

"Kak?! Semalam dia sangat mabuk, bukannya aku membiarkan saja dia ke rumah Mirela tapi dia pergi saat aku sedang mandi, ketika aku menyadari dia sudah berjalan keluar rumah, jadi aku hanya bisa mengikutinya."

"Ha?! Mengikutinya? Apakah kamu ketularan bodoh? Kenapa tidak kamu panggil satpam untuk membawanya masuk kalau perlu mengikatnya agar tidak bertindak bodoh seperti itu?!"

"....." Dina terdiam, dia juga kesal dengan kejadian tadi malam, tapi dia sungguh tidak mengira kalau kejadian tersebut akan menarik perhatian media.

"Suruh si idiot itu membereskan masalah yang telah dia sebabkan sekarang juga sebelum aku menyuruh orangku ke sana untuk memukulinya!" kata Dean sambil menutup sambungan teleponnya.

"......" Dina terdiam menatap ponselnya, ini adalah pertama kalinya dia melihat kakaknya mengamuk setelah sekian lama dia menjadi adiknya.

Pras terperangah ketika melihat berita infotainment di salah satu saluran televisi yang mengabarkan kejadian semalam saat Rengga berteriak-teriak memanggil Mirela di depan rumahnya.

"Sialan! Kenapa masalah seperti itu bisa terekspos ke media?" gerutu Pras kesal.

Padahal setahu Pras, pihak property mengatakan bahwa komplek tempat tinggal mereka adalah tempat yang terjamin keamanannya dan sangat terjaga privasinya.

Pras segera menelpon pihak agen property untuk menanyakan hal tersebut. "Apakah kamu sudah melihat berita di media? Bukankah kamu bilang ke orangtuaku bahwa hunian di sini aman dan sangat terjaga kerahasiaannya?" tanya Pras kesal setelah telponnya diterima oleh agen property.

"....kami minta maaf kejadian ini sungguh berada di luar perkiraan kami dan kami juga akan secepatnya mengurus masalah ini," kata agen property itu sambil menghela napas.

Sungguh dia juga tidak habis pikir dan mengerti bagaimana bisa reporter tersebut mengelabui satpam dan keluar masuk dengan leluasa di komplek elit yang keamanannya sangat ketat seperti komplek miliknya itu.

"Aku tidak ingin mendengar alasan apa pun tolong masalah ini segera diurus dan dibereskan!" kata Pras tegas.

"Siap, kami akan berusaha sebisa mungkin agar berita ini tidak akan beredar lagi di masyarakat," janji agen property sambil mengelap keringat di dahinya merasa panas dan tidak nyaman saat berbicara dengan Pras seperti yang terjadi saat ini.

"Bagus, aku tunggu kabar baik tindak lanjut kalian menangani urusan ini," sahut Pras sambil menutup telponnya.

"....." pihak agen property menatap telpon di genggamannya yang diputuskan secara sepihak dan mendadak oleh Pras.

Dia terduduk di kursinya dan melonggarkan sampul dasinya lalu mulai menelepon pihak media. Namun, alangkah terkejutnya dia saat melihat berita di televisi bahwa media yang pertama merilis berita di depan rumah Pras saat ini menyatakan kebangkrutannya dan media itu resmi di tutup.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status