Share

Melupakanku

Kalandra berjalan cepat menuju kolam renang. Saat sampai di sana, ia menatap Naraya yang sedang berjalan seraya melamun. Hingga Kalandra melihat seseorang berjalan cepat dan sengaja menyenggol Naraya, membuat gadis itu akhirnya tercebur ke kolam.

Kalandra yang paham betul jika Naraya trauma dengan tenggelam, langsung melepas jas dan melompat ke air. Ia bisa melihat Naraya yang memejamkan mata dan semakin turun hingga ke dasar kolam. Kalandra pun meraih tangan Naraya, sebelum kemudian membawa gadis itu naik.

"Siapa dia?" Naraya bertanya-tanya dalam hati. Terkejut juga senang karena ada yang menolongnya.

Kalandra membawa Naraya ke permukaan air dan membantu naik ke tepian kolam. Banyak orang yang menyaksikan Kalandra melompat untuk menolong Naraya.

Naraya langsung terbatuk dengan posisi menunduk ketika sudah berada di tepian kolam. Gadis itu basah kuyup dan mencoba meraup udara sebanyak-banyaknya karena rasanya stok udara di paru-paru terasa habis.

Kalandra mengambil jas yang tadi dilepas, lantas menyematkan di pundak Naraya. Bahkan pemuda itu langsung menggendong Naraya, membuat gadis itu terkejut.

"Kenapa Anda menggendong? Saya bisa jalan," ucap Naraya dengan bibir bergetar. Ia menahan rasa dingin yang menusuk kulit.

Kalandra tak menjawab, masih terus melangkahkan kaki meninggalkan kolam renang.

Naraya semakin panik, apalagi tak merasa mengenal pemuda yang menolongnya. Naraya tidak menyadari jika itu Kalandra, mungkin karena sepuluh tahun tak bertemu serta pemuda itu tumbuh lebih tinggi dan tampan dari saat dulu masih di SMA.

"Maaf, saya benar-benar bisa jalan sendiri," ucap Naraya lagi dengan masih mencoba turun dari gendongan Kalandra.

Kalandra akhirnya menurunkan Naraya karena gadis itu terus memberontak. Sebelum menatap Naraya dengan tatapan dingin.

"Terima kasih karena telah menolong saya," ucap Naraya dengan menundukkan kepala karena malu dan panik.

Naraya melepas jas yang tersemat di pundak, sebelum kemudian mengulurkan ke arah Kalandra.

"Saya pasti akan membalas kebaikan Anda," ujar Naraya lagi. "Maaf juga karena telah membuat Anda jadi basah," imbuhnya.

Kalandra masih terus menatap Naraya yang menundukkan kepala, hingga mengambil jasnya. Ia tak percaya jika Naraya melupakan dirinya, atau sebenarnya dia memang salah mengenali gadis itu.

"Saya permisi," ucap Naraya, membalikkan badan untuk segera pergi.

"Kamu benar-benar melupakanku?" 

Pertanyaan itu terlontar dari bibir Kalandra, membuat Naraya berhenti berjalan dan tertegun sejenak.

"Lupa? Jangan-jangan dia--" Naraya membungkam mulut, membuat apa yang digumamkan terjeda.

Naraya berpikir jika Kalandra membahas masalah semalam. Ia menebak jika pemuda itu yang tidur dengannya. Naraya pun membalikkan badan lagi, tapi masih menundukkan kepala.

"Jika yang Anda maksud adalah semalam, saya benar-benar minta maaf. Saya tidak bermaksud tak sopan masuk ke kamar Anda, atau pergi tanpa berpamitan, hanya saja saya masih sangat syok," ujar Naraya panjang lebar tanpa menatap lawan bicaranya. "Jika Anda ingin saya ganti rugi, saya akan mengganti dengan yang saya bisa. Asalkan Anda tak melaporkan saya ke pihak hotel," imbuhnya.

Kalandra terkejut karena Naraya malah membahas masalah semalam. 

"Apa aku salah orang?" Kalandra bertanya-tanya dalam hati.

"Kamu benar-benar melupakanku atau memang lupa, Nira?" Akhirnya Kalandra memanggil nama Naraya menggunakan nama yang Kalandra kenal.

Naraya sangat terkejut mendengar sebutan Nira. Ia mengangkat kepala dan menatap Kalandra. Naraya menelisik wajah Kalandra, hingga baru sadar jika pemuda itu adalah saudara angkatnya. Bola mata Naraya membulat lebar, tak menyangka bertemu pemuda itu di sana.

"Al." Tanpa sadar Naraya menyebut nama panggilan Kalandra, ia lantas menutup permukaan bibir dengan cepat.

"Ini benar-benar kamu, kamu sangat tega, Nira!" Kalandra menyeringai, ada rasa marah dan kecewa dalam tatapannya.

Naraya panik, terlebih saat melihat tatapan Kalandra yang dingin dan begitu terasa menusuk hati.

"Ah, Anda salah orang. Saya tidak kenal nama yang Anda sebutkan tadi," ucap Naraya mencoba mengelak, bahkan memasang senyum bodoh di wajah.

"Kamu mengelak? Apa kamu pikir bisa membohongiku? Apa sepuluh tahun tak cukup untuk melupakanku? Apa kamu masih ingin terus melupakanku dan semuanya, hah?" Kalandra mencecar Naraya dengan banyak pertanyaan. Ia berjalan mendekat ke arah Naraya.

Naraya benar-benar panik dan tak tahu harus bagaimana lagi cara mengelak. Ia berjalan mundur saat Kalandra maju.

"Tapi nama saya Naraya, Anda benar-benar salah orang," ucap Naraya tak mau mengaku.

"Saya permisi karena harus bekerja." Naraya hendak kabur dari situasi yang benar-benar membuatnya canggung. Ia hanya tak tahu cara menghadapi Kalandra yang sangat berbeda.

Kalandra tentu takkan membiarkan Naraya pergi lagi dari pandangannya. Saat Naraya membalikkan badan dan siap pergi, Kalandra dengan sigap meraih tangan Naraya. Bahkan pemuda itu langsung menggendong tubuh Naraya di pundaknya.

"Al!" teriak Naraya karena panik, sekali lagi menyebut nama panggilan Kalandra.

"Masih mau berbohong, takkan aku biarkan!"

Komen (1)
goodnovel comment avatar
aniek mardiana
uuuhhh jangan dilepas
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status