Share

Alvaro Sang Genus
Alvaro Sang Genus
Penulis: Whieta Dy

Bab 1. Tugas Pertama

“Apa?! Aku hanya dapat honor segitu untuk peran tokoh utama? Terlalu!” desis wanita itu kesal. Ia berbicara dengan seseorang melalui ponselnya. Tubuhnya yang ramping sebagian menutupi kereta dorong yang berisi seorang bayi dua tahun yang tertidur pulas. Taman kota hari ini tampak sepi.

“Tolong sampaikan, aku mengundurkan diri jika ....” Ucapan wanita itu terputus.

Seorang bocah perempuan berkulit putih menangis tersedu di sisi kereta dorong bayinya. Wanita itu menutup telepon dan menatap anak itu.

“Hai, jangan menangis. Di mana orangtuamu? Apa kau terpisah,” tanyanya.

Bocah petrempuan itu kini menangis lebih kencang. Sangat sedih. Wanita itu gugup. Ia melirik ke kereta dorong dan khawatir bayinya terbangun. Dengan gugup ia berbalik dan menekan tombol di ponselnya. Nomor kepolisian. 

Telepon itu tersambung. Wanita cantik itu baru akan membuka mulutnya dan berbalik untuk melihat si bocah perempuan. Bocah berusia sekitar empat tahun itu tidak ada. Si wanita tercengang lalu menoleh ke arah kereta dorong. Hatinya mencelus.

Bayinya yang tampan telah lenyap. Hilang tanpa jejak. Si wanita merasakan lututnya goyah. 

“Tidaaaak, jangan ambil anakkuu!” teriaknya. Lalu wanita itu jatuh pingsan.

                               ***

 

“Kasus penculikan anak belakangan ini semakin merebak. Sekitar 475 kasus anak hilang terjadi dari tahun 2017-2020. Perubahan tren penculikan anak pun terjadi. Pelaku bukan hanya berasal dari orang dewasa, namun kini juga melibatkan  sesama anak.  Modus pertemanan dan kedekatan menjadi jalan bagi tindakan kriminal ini.” Dialog itu terdengar jelas dari penyiar berita televisi di sudut rumah makan cepat saji Boobsger.

Alvaro Daharyadika, bocah berusia sembilan tahun mengabaikan siaran berita itu. Ia memilih untuk tidak melepaskan pandangannya pada seorang bocah laki-laki yang menjadi korban perundungan oleh empat bocah lain sebayanya. 

“Sini, lempar ke aku! Yes, aku mendapatkan tas buntalan ajaib!” seru salah satu dari keempat bocah itu yang bertubuh ceking diiringi oleh gelak tawa teman-temannya. 

Tian, bocah yang sedang dirundung itu berlari ke arah bocah bertubuh ceking untuk mengambil tasnya. Saat akan sampai, tas itu dilempar lagi dan berpindah tangan ke bocah yang lain hingga membuat Tian merasa frustasi.

Tian nyaris menangis ketika akhirnya tas itu dijatuhkan oleh anak lelaki bertubuh paling tambun ke arah tanah becek bekas hujan semalam. Setelah anak-anak iseng itu pergi, Tian tersedu dan mengambil tas miliknya dengan gontai. Ia sedikit lega, setidaknya lepas dari anak-anak berbahaya itu. Ia tidak sadar, bahaya yang lebih besar mengintainya.

 Alvaro mengikuti Tian dengan langkah cepat tapi tetap berjarak. Ia tak boleh menyolok karena itu akan sangat berakibat fatal. “Tak terlihat, tak terlihat,” desisnya terus-menerus pada dirinya.

Ini tugas pertama Alvaro untuk menculik bocah yang usianya tidak jauh darinya, untuk membuktikan bahwa dirinya layak untuk menjadi seorang Genus. Selama Alvaro mengikuti dan mengamati targetnya, sebuah tim sudah menunggu tanda panggilan dari Alvaro untuk menculik targetnya.

 Di sebuah persimpangan, Tian berhenti. Menoleh ke kanan dan ke kiri. Alvaro bersiap, dengan gugup ia meraba ujung kerahnya. Ia telah mencoba ini beberapa kali untuk tetap tenang. Namun, tetap saja degup jantungnya tak pernah normal. Sebuah tombol penyeranta berbentuk kancing yang tersemat di bajunya berhasil teraba oleh Alvaro.

Satu, dua, tiga. Hitungnya dalam hati. Ia menekan tombol itu.

 Dalam waktu lima menit, sebuah mobil melaju kencang menuju ke arah Tian. Sangat cepat, sangat dekat. Lalu tiba-tiba Alvaro memucat. Tanpa diduga Tian berlari menghambur ke pelukan seorang lelaki dewasa yang tampak seperti ayahnya di saat yang hampir bersamaan dengan kedatangan tim. Alvaro terperangah, sebelum tersadar sebuah tangan meraihnya dan tiba-tiba ia sudah berada dalam mobil tersebut.

 Dua orang pria yang meraihnya membuka topeng mereka menampakkan wajah kesal karena kegagalan Alvaro.

 Plak!

 Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Alvaro hingga membuat bibir tipis Alvaro sobek. Alvaro mengernyit nyeri sembari memegangi bagian wajahnya yang terasa panas dan perih.

 “Genus goblok! Sudah berulang kali Metira berpesan, jangan menekan tombolnya jika masih ada kemungkinan target meleset. Kau membahayakan kita semua. Bocah sialan!” hardik pria dewasa yang baru saja menampar Alvaro.

 Tiba-tiba lelaki di samping supir menoleh. Sebuah kaliber teracung, mengarah tepat di kepala Alvaro. Senyum lelaki itu begitu bengis. Alvaro menutup mata. Degup jantungnya terdengar keras. Namun, Ia pasrah.

 “Doorr!” teriak lelaki itu, lalu tertawa. Alvaro membuka mata, berkedip, dan menggembungkan pipinya dengan marah.

 “Kenapa, Bocah? Kau marah, heh? Punya nyali? Kau ini lebih tepat menjadi Spesies ketimbang Genus,” ledek lelaki di samping Alvaro yang membuat mereka semua tertawa, kecuali Alvaro.

 Mobil berhenti di sebuah bangunan luas berpagar baja tinggi. Penjaganya adalah empat orang berseragam hitam. Di depan bangunan bertuliskan ‘Panti Asuhan Rumah Berwarna (RB)’.

 Alvaro didorong ke luar. Bocah lelaki itu hampir terjungkal. Ia berbalik dan menggigit  tangan pria yang mendorongnya. 

 “Brengsek!” Pria itu mengumpat dan tangannya berusaha mencengkeram Alvaro. Namun, Alvaro berkelit, lalu berlari tunggang langgang ke arah sayap kiri bangunan, ke tempat tinggal para Genus dan Spesies seusianya. 

 Di organisasi terlarang berkedok panti asuhan inilah, Alvaro dan anak-anak korban penculikan—yang disebut dengan Spesies—tinggal untuk menanti giliran diekstraksi demi sebuah produk kecantikan dengan harga yang fantastis..

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status