Share

Bab 6. Gadis di Tepi Jembatan

Metira Jovanka melangkah cepat lalu berhenti dan mengarahkan wajahnya pada alat pemindai. Pintu baja itu terbuka. Di dalamnya, seorang pria paruh baya menyambut Metira dan meminta wanita itu duduk.

 “Metira Jovanka, apa pendapatmu tentang jumlah Spesies yang terus merosot selama 10 tahun terakhir?” tanya pria itu tanpa basa-basi.

 “Maaf, Tuan Alton. Laporan analisa tentang itu sudah saya serahkan setiap bulannya. Saya kira Anda memahami bagaimana kualitas Genus kita belakangan ini? Terlalu beretika dan basa-basi. Ini buruk bagi organisasi kita,” jawab Metira, mencebikkan bibirnya yang merah menyala.

 Alton berdehem dan menangkupkan kedua tangannya. “Metira, menurutku yang kurang tepat adalah pendekatan yang kau gunakan. Pendekatanmu terlalu konvensional dan kurang mengikuti perkembangan zaman. Sudah saatnya menjadikan para Genus kita populer. Berprestasi di luar. Dandani mereka, jadikan pusat perhatian. Dengan begitu dia akan menjadi magnet bagi teman-temannya.”

 Metira Jovanka terperangah. “Menjadikan mereka populer akan membuat mereka mudah dikenali dan terlihat. Itu pedekatan yang mengerikan, Tuan Alton,” sanggahnya.

 “Jovanka, terimalah bahwa mereka bukan Jovanka muda yang saat itu depresi dan sangat tertutup. Mereka memiliki potensi untuk populer. Harusnya ini bisa berjalan lebih alami.” Alton sepertinya mulai kesal dan memanggil nama Jovanka secara langsung tanpa embel-embel Metira. Metira adalah panggilan kehormatan yang artinya ‘ibu’.

 “Anda lupa selain stok Spesies yang menipis, jumlah Genus kita juga menurun. Menjadikan mereka populer seperti Anda di masa muda juga terlalu beresiko.” Suara Metira meninggi.

 “Jangan bersuara tinggi terhadapku, Jovanka. Aku tahu bagaimana prosesmu bisa sampai berada di tingkat Classis. Aku bisa mengembalikanmu ke Familia kalau kau mau,” desis Alton di telinga Jovanka.

 Wanita paruh baya itu berdiri, sedikit terhuyung. “Anda lupa Tuan Alton. Phylum seperti anda tidak akan bisa berbuat apa-apa tanpa saya,” tangan wanita itu mencengkeran pinggiran kursi.

 “Oh, kau tersinggung? Tidak masalah Jovanka. Kita bisa melihat nanti, seberapa siap saya tanpa kau di sini.” Alton tertawa. Suaranya memuakkan Metira Jovanka.

 Wanita itu melangkah ke luar, hatinya sakit saat mendengar tawa Alton masih tertinggal di belakangnya.

                                ***

 “Berhenti! Jangan lompat!” Alvaro berteriak. 

 “Bukan urusanmu!” Gadis yang sudah berada di tepi jembatan itu berpaling, maskaranya luntur akibat air mata yang mengering. Tapi hanya sebentar, selanjutnya ia kembali bersiap melompat. 

 Alvaro merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia pernah berada di posisi itu, berdiri di sana dan mencoba mengakhiri hidup. Namun saat itu Davira datang, menggagalkan rencananya. Kini ada gadis yang tak dikenalnya, melakukan hal serupa. Ia hampir tak peduli, namun bayangan akan dirinya saat itu datang. Aaah, harusnya ia mengabaikan saja bayangan itu.

 “Turun! Atau aku dorong sekalian dirimu agar jatuh!” makinya kesal. Si gadis menoleh lagi. Lalu seketika air mata mengalir deras di pipinya. 

 “Benar-benar tak ada yang peduli padaku.” Si gadis lalu melompat. Tubuhnya meluncur ke bawah tapi sebuah tangan menangkap pergelangannya. Ia meronta, berusaha melepaskan diri.

 “Alvaro, bantu aku! Jangan mematung di sana!” pekik Davira sambil meringis. Tangannya sangat sakit. Alvaro tersadar, ditariknya tubuh Davira yang hampir ikut terjungkal. Gadis yang ingin bunuh diri ikut tertarik ke atas. Lalu tubuh ke tiganya terpental di koridor dengan napas terengah. Davira tertawa lirih. Alvaro memperhatikan wajah gadis itu yang kotor terkena tanah. 

 Davira mendudukkan si gadis di koridor itu. Si gadis tersedu, memukul-mukul Davira yang coba menghindar.

 “Dari pada kamu mati sia-sia, setidaknya kamu bisa mati berguna untuk orang lain,” dengus Davira. 

 “Jangan mengguruiku. Aku memilih mati konyol dari pada melihat orang tuaku bercerai,” sergah gadis itu. 

 “Coba kita lihat, sepeduli apa orang tuamu saat mengetahui bahwa kau menghilang untuk selamanya.” Davira mengulum senyum.

 Alvaro terperangah. Ia mulai mengerti ke arah mana pembicaraan Davira. Sebelum sadar sepenuhnya, tiba-tiba Davira mendekati Alvaro dan menekan tombol penyeranta milik lelaki itu.

 “Sialan, tidakk!” Alvaro memaki. Dicekiknya leher Davira. Gadis itu terbelalak lalu menendangkan kakinya ke arah selangkangan Alvaro. Alvaro mengaduh dan tubuhnya terjatuh. Si gadis yang ingin bunuh diri memperhatikan mereka dengan bingung. Ia tidak mengerti mengapa dua orang yang baru menolongnya itu kini berkelahi.

 Saat gadis itu terbengong-bengong, sebuah mobil meluncur cepat. Berhenti tepat di sisinya. Dua orang berpakaian hitam turun, membekapnya dengan sapu tangan. Si gadis berkelojotan, lalu tubuhnya hilang bersama mobil tersebut.

 Davira terbatuk-batuk. Lehernya yang putih jenjang berbekas merah. Setengah terhuyung gadis itu meraih motornya yang terparkir tak jauh dari sana. 

 “Hei, aku belum selesai denganmu!” Alvaro mengejar gadis itu dengan terpincang-pincang. 

Davira menoleh, menatap sengit padanya. “Ucapan terimakasih yang sangat manis,” dengusnya. Lalu ia pergi.

Buru-buru Alvaro meraih motornya dan melaju menyusul gadis itu. Ia benar-benar kesal dengan gadis itu sekarang. Saat melintasi rel kereta api, terdengar bunyi peluit panjang. Alvaro seketika berhenti. Matanya terbelalak dan ia menahan napas melihat motor Davira tetap melintas dengan kecepatan tinggi. Selama menunggu ular besi itu melintas, selama itu pula jantungnya berdebar.

Kereta api berlalu. Alvaro membayangkan akan menyaksikan sebuah pemandangan seram; mayat Davira tercabik di bawah lintasan kereta api. Namun ia tercengang. Davira tak ada di sana. bahkan motornya telah raib bersamanya.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status