Share

Anak Miliarder
Anak Miliarder
Penulis: Zila Aicha

1. Mobil Butut

"Hei, apa yang sedang terjadi? Kenapa kau terlihat murung sekali?" tanya Hera Adnan yang baru saja melihat cucunya pulang dari kampusnya dengan wajah yang lesu.

Vesa Araya masih tetap menunduk dan tak menjawab pertanyaan neneknya tersebut. 

"Vesa Araya, Oma sedang berbicara denganmu. Apakah kau tidak mendengarnya?"

Vesa yang sedang berjalan dan akan menaiki tangga itu berhenti dan menoleh. Dia sudah paham setiap neneknya memanggil namanya dengan lengkap seperti itu berarti neneknya mulai tak sabar.

Pria muda yang akan segera berusia dua puluh tahun itu menatap sang nenek yang sudah berusia lanjut tapi garis-garis kecantikan itu masih ada di wajahnya.

"Memang apa yang harus aku katakan, Oma?" ucap Vesa malas.

Hera menghela napasnya dengan pelan dan kemudian berbicara, "Apa yang terjadi di kampusmu lagi? Apakah kau memiliki masalah dengan teman-temanmu?"

Vesa menjawab, "Sejak kapan aku tidak memiliki masalah dengan mereka? Oma tahu betul, mereka hampir setiap hari membullyku karena aku yang katanya tidak pantas berkuliah di University of Greenwich. Aku yang terlalu miskin dan banyak hal lainnya."

Vesa berkuliah di University of Greenwich dan tengah memasuki tahun terakhirnya di jurusan Accounting and Business. Sebuah jurusan yang tidak dia sukai tapi tetap dia pilih karena dia tidak ingin membuat ayahnya kecewa.

Hera langsung saja berdiri. Tentu saja tak akan ada seorang nenek yang rela jika cucunya dibully.

"Jangan pedulikan mereka. Mereka itu hanya iri terhadapmu karena kau lebih jenius dibandingkan dengan mereka. Kau mendapatkan beasiswa setiap tahun, sedangkan mereka tidak. Tentu saja mereka sangat iri," ucap Hera dengan sangat bangga.

Vesa mau tidak mau tersenyum saat mendengarkan perkataan neneknya yang ada nada bangga di dalamnya.

"Tapi cuma itu yang bisa aku banggakan. Mereka memiliki banyak hal yang tidak aku miliki. Well, dan yang paling menyebalkan adalah mereka selalu membanggakan orang tua mereka. Sedangkan aku? Apa yang bisa aku banggakan dari Ayah? Ayah-"

"Anak muda, yang sedang kau bicarakan itu adalah anakku. Ayahmu itu adalah anak kebanggaanku, asal kau tahu saja," potong Hera tak sabar.

Vesa memutar bola matanya malas.

"Tetap saja, Oma. Apa yang aku tahu tentang ayah? Dia bahkan hanya datang ke sini satu tahun sekali. Aku terkadang heran sebenarnya ayah itu masih mengakui aku sebagai anaknya atau tidak. Yang benar saja, rasanya hanya ayah yang begitu tega membuang anaknya ke sini dan dia malah tinggal di Indonesia sendirian," ucap Vesa panjang lebar.

Vesa terdiam begitu mengucapkan semua hal yang ada di kepalanya. Hera menunggu cucunya tersebut untuk berbicara kembali tapi setelah beberapa saat dia tak mengatakan apapun, wanita tua itu pun berujar, "Sudah?"

Vesa tak berani menatap neneknya karena sepertinya dia sudah terlalu banyak berbicara.

"Vesa, Oma tahu kau pasti sangat kesal sekali karena ayahmu yang memutuskan untuk tak terlalu sering berhubungan denganmu. Dia memiliki alasan yang sangat kuat untuk hal itu. Kau hanya harus bersabar saja. Bukankah sudah pernah kukatakan, tidak ada ayah di dunia ini yang sangat mencintai anaknya melebihi ayahmu itu. Dia melakukan semua ini karena terlalu menyayangimu."

Vesa tetap saja tak bisa menerimanya karena baginya alasan itu belum cukup kuat. Ini dikarenakan dia tak pernah mendengar sang ayah berusaha menjelaskan atas tindakannya itu.

Vesa telah tinggal bersama dengan kakek dan neneknya sejak dia masih kecil hingga sekarang usianya yang akan segera genap dua puluh tahun. Dan selama itu, dia tak pernah diizinkan sekalipun untuk mengunjungi ayahnya itu di tanah kelahirannya. Negara Indonesia seolah-olah menjadi negara terlarang untuknya.

Akan tetapi, Valentino selalu mengunjungi putranya tersebut setiap satu tahun sekali dan menghabiskan waktunya bersama anaknya itu selama satu bulan penuh.

Walaupun begitu, hubungan mereka berdua memang bisa dibilang tidak terlalu dekat. Mereka mungkin tinggal satu rumah tapi tetap saja tak terlalu akrab. Vesa bahkan terkadang merasa canggung saat berada di dekat ayahnya.

Meskipun begitu, bertemu dengan ayahnya selalu menjadi hari-hari yang dia tunggu dalam satu tahun itu.

"Kenapa, Boy?" suara pria tua berhasil membuatnya kaget saat sedang melamun.

"Seperti biasa, Opa." Vesa menjawabnya dengan malas.

Thomas Miller mendekati cucunya tersebut dan menepuk punggungnya. Hera menuju ke dapur dan membiarkan sang suami berbicara dengan cucunya itu.

"Mereka membullymu? Apa yang mereka lakukan kali ini?" tanya Thomas yang sudah terbiasa mendengar cerita tak mengenakan mengenai permasalahan cucunya itu.

Sejak kecil, Vesa selalu bercerita tentang apapun pada sang kakek dan pria muda itu selalu mendapatkan solusi yang kadang membuatnya terkejut.

Vesa tiba-tiba saja teringat saat dia masih di sekolah dasar. Waktu itu, ada salah seorang temannya yang mencuri alat tulisnya sehingga Vesa tak bisa mengerjakan ujiannya. Dan ketika dia menceritakan hal itu pada sang kakek, dia malah diberi saran untuk membalas temannya yang jahil itu dengan cara mengempeskan ban sepedanya.

Vesa tentu saja benar-benar melakukannya dan akhirnya membuatnya dipanggil ke ruang konseling. Dia pikir dia akan kena marah tapi anehnya kakeknya tersebut malah memberinya dua jempol karena telah berhasil membalas perbuatan temannya itu.

"Salah satu teman kelasku akan berulang tahun dan dia mengadakan pesta. Dia anak pengusaha sukses. Keluarganya memiliki sebuah usaha furniture. Dia bilang pestanya akan digelar dengan mewah. Yah dan dia menyombongkan itu semua. Kami semua diundang, termasuk aku." Vesa terlalu bersemangat sampai menjelaskannya dengan cepat tapi dia lalu mengambil jeda beberapa saat sebelum menjelaskan lagi.

"Mereka bilang setiap undangan harus pakai mobil untuk datang ke sana. Bukankah itu aneh? Mereka sebenarnya mau pamer merk mobil atau bagaimana?" ucap Vesa kesal.

Sebenarnya Vesa hanya bingung, bagaimana dia akan pergi ke sana. Keluarga mereka memang memiliki satu mobil tapi tentu saja mobil itu sudah jarang dipakai karena sudah terlalu tua.

"Oh Opa tahu. Tentu saja. Kau akan ke sana. Opa yang akan atur," ucap Thomas Miller.

"Apa!?" ucap Vesa kaget.

"Opa, tidak. Aku tidak mau menggunakan mobil butut itu. Bukan karena aku malu, tapi karena aku takut akan mogok di tengah jalan," ujar Vesa hati-hati.

Thomas berdecak kesal.

"Memang siapa yang menyuruhmu menggunakan mobil butut milik Opa?" ucapnya sebal.

Vesa berkedip-kedip, "Terus pakai mobil mana? Opa, mobil kita hanya satu. Apakah Opa berniat meminjam mobil untukku atau bagaimana? Tapi bagaimana uang sewanya? Bukankah mahal? Terus-"

"Diamlah!" ucap Thomas benar-benar kesal pada cucunya yang menurutnya terlalu cerewet untuk ukuran seorang laki-laki itu.

"Omong-omong, kapan pestanya?"

"Lusa, Opa."

Thomas Miller terkejut tapi kemudian dia tersenyum pada sang cucu dan berkata, "Tenanglah, Nak. Kali ini kau tidak akan dibully!"

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status