Share

7. Kejadian Aneh

Vesa telah melepaskan Sebastian dan pria itu sudah menghilang dari hadapan mereka. Saat ini beberapa teman sekelas Vesa memandang dirinya dengan tatapan aneh yang tidak Vesa mengerti.

Vesa memutar tubuhnya menghadap Derrick. Dia mengembuskan napasnya pelan. Habislah sekarang dia. Dia baru saja ingin memberi kesan baik pada Derrick dengan melawan Sebastian tapi sepertinya yang terjadi adalah sebaliknya. Dia telah memberi kesan buruk pada Derrick dan juga teman-temannya tentang dirinya yang lepas kontrol.

"Aku tidak apa-apa," jawab Vesa. Pria itu sedikit menunduk. Dia rasa dia akan kehilangan teman yang bahkan belum benar-benar resmi menjadi temannya itu.

"Baguslah kalau begitu. Mau ke kantin saja dulu? Kau sepertinya butuh minum," ajak Derrick.

"Hah!?" Vesa mengangkat kepalanya kaget.

Eh, dia tidak salah dengar kan? Derrick White mengajaknya ke kantin? pikir Vesa bingung.

"Kenapa masih diam saja? Ayo, ke kantin dulu!" ajak Derrick lagi.

Derrick yang melihat Vesa masih terdiam seperti orang bodoh itu lalu menyeret Vesa keluar dari ruang kuliah mereka itu.

Vesa masih sedikit linglung saat mereka sampai di kantin.

"Tunggu dan duduk di sini sebentar!" titah Derrick.

Vesa menurut dan langsung duduk tanpa bertanya. Dia melihat Derrick berjalan ke sebuah mesin otomatis untuk membeli minuman.

Derrick menyodorkan sebotol air mineral dingin kepadanya dan Vesa hanya melongo.

"Minumlah!" ucap Derrick.

Vesa masih heran tapi dia menerima air minum itu namun tidak membukanya. Dia hanya memegang botol itu dengan bingung.

Derrick berdecak kesal dan berkata, "Hei, apa kau lupa bagaimana caranya membuka botol itu?"

Vesa menjawab dengan terbata-bata, "Ti-tidak. Bukan begi-tu maksud aku."

Derrick menaikkan sebelah alisnya lalu merampas botol itu dan membuka tutup botolnya dengan cepat. Dia menyerahkannya pada Vesa kemudian sambil berujar, "Minumlah dan dinginkan otakmu!"

Derrick duduk di sampingnya dan bernapas lega saat Vesa akhirnya meminum air mineral itu langsung sampai habis.

"Astaga. Itu enam ratus mililiter dan kau langsung menghabiskannya? Kau cukup haus ya rupanya?" Derrick terkekeh pelan.

Vesa dengan kikuk membalas, "Apa tidak boleh?"

Dan hal itu sontak membuat Derrick tertawa kencang apalagi melihat ekspresi lugu di wajah Vesa itu.

"Astaga, Vesa. Kau ini. Benar-benar." Derrick menggelengkan kepalanya karena baru sadar Vesa sebenarnya cukup polos. Dia jadi berpikir pantas saja banyak yang tega membullynya. Anak itu terlalu naif dan lugu.

Tiba-tiba saja perasaan bersalah datang menghampirinya. Dia teringat apa saja yang pernah dia lakukan pada pemuda yang sedang duduk di hadapannya ini.

Derrick lalu berdeham.

"Vesa, aku minta maaf."

Ucapan Derrick cukup pelan tapi Vesa bisa mendengarkannya dengan cukup jelas. Akan tetapi, pemuda itu tak mengeluarkan suaranya untuk membalasnya karena tak mengerti kenapa Derrick meminta maaf.

Derrick yang tidak mendengar Vesa membalasnya itu pun lalu berujar, "Aish, kau. Kau tidak dengar ya? Baiklah aku ulangi lagi, aku minta maaf. Aku minta maaf atas semua hal buruk yang pernah aku perbuat. Apa kau menerimanya?"

Vesa melongo kaget. Dia tidak sedang berhalusinasi kan? Apakah yang sedang duduk di hadapannya ini adalah benar-benar pemuda sombong itu? Pemuda yang sering memamerkan kekayaaan orang tuanya dan menganggap rendah orang lain yang status sosialnya di bawah dia termasuk dirinya ini. Benarkah ini Derrick White yang itu? Si Tuan Muda angkuh itu?

Derrick White yang itu mana mungkin meminta maaf pada seseorang? Apalagi dirinya. Apakah pemuda ini sedang gegar otak atau bagaimana? Kemarin dia mengantarkan pulang dirinya lalu tadi membelanya bahkan sampai berselisih dengan sahabatnya yang mengakibatkan Derrick kehilangan Sebastian sebagai sahabatnya.

Terus ini? Dia sedang meminta maaf. Hei, dia kenapa bisa berubah dalam waktu secepat ini? Apakah ini ada hubungannya dengan jam tangan tua itu? Benarkah begitu?

Vesa menatap Derrick yang sedang menunggu jawabannya dengan raut wajah yang rumit. Tapi kemudian Vesa berpikir mungkin memang Derrick sudah mulai berubah jadi dia menjawab, "Aku sudah melupakannya. Tak perlu dipikirkan lagi."

Derrick terkejut tapi kemudian tersenyum lega. Dia berkata, "Syukurlah. Aku kira kau masih dendam padaku. Omong-omong kau keren tadi. Aku baru tahu kau sebenarnya bisa melawan tapi kenapa kau selama ini diam saja jika ada yang membullymu?"

Derrick ingat betul, tak sekalipun Vesa pernah melawan. Dia hanya diam saja lebih tepatnya mengabaikan orang-orang yang selalu mengganggunya.

"Aku malas saja. Aku tidak suka mencari ribut dan menarik perhatian orang," jawab Vesa pelan.

"Apa!? Kau malas? Kenapa? Padahal jika di awal-awal kau mau membela diri, kejadian itu tak akan berlangsung lama. Dan mungkin mereka lebih cepat jeranya dari pada kamu mendiamkan perbuatan mereka," ucap Derrick.

Vesa tersenyum tipis. Dia membalas, "Aku merasa itu tidak perlu. Lagi pula tak ada gunanya. Aku juga masih bisa berkuliah dengan tenang. Jadi tak ada masalah untukku."

Derrick benar-benar heran kenapa ada orang yang begitu tenang dan santai padahal dia sering diperlakukan tidak adil.

"Kau jangan begitu. Kau harus melawan orang yang mengganggumu seperti tadi. Setidaknya itu akan lebih membuatmu lebih nyaman lagi berada di kampus," ujar Derrick.

Vesa lalu menjawab, "Baiklah. Aku akan melawan. Tapi aku senang tadi kau juga membelaku. Omong-omong terima kasih untuk bantuanmu tadi."

Vesa tersenyum tulus.

Mendengar hal itu telinga Derrick memerah seketika. Dia malu.

"Hei, jangan ucapkan kata-kata itu. Aku merinding mendengarmu mengucapkannya. Aku jadi terlihat seakan-akan telah berbuat sesuatu yang besar saja. Padahal tadi aku hanya.. Hanya.. yah aku payah tadi," ucap Derrick lagi-lagi malu.

Vesa semakin bingung dengan sikap Derrick yang tidak biasa itu tapi dengan cepat dia berkata, "Kau tidak payah. Aku sungguh-sungguh berterima kasih karena kau adalah orang pertama yang mau membelaku."

Derrick langsung saja mengusap wajahnya.

"Yak. Vesa, hentikan!" Derrick benar-benar merasa aneh tapi entah kenapa hatinya menghangat.

Oh, jadi ini rasanya jika sudah berbuat baik. Cukup menyenangkan, batin Derrick.

Dia tersenyum bodoh.

Vesa menggelengkan kepalanya dan semakin berpikir jika Derrick White tidaklah seburuk yang dia pikirkan.

Tiba-tiba saja Derrick mengulurkan tangannya dan berkata, "Vesa Araya, mari berteman!"

***

Kabar Derrick White yang telah menjalin pertemanan dengan seorang Vesa Araya yang notabene dikenal sebagai mahasiswa miskin itu dengan cepat tersebar.

Beberapa di antara mereka bahkan tampak memandang aneh ke arah mereka saat berjalan bersama.

Namun banyak juga yang tetap memandang remeh Vesa dan Derrick White hanya akan memberi tatapan tajam pada mereka. Dan tentu saja setelah itu mereka tak berani menatap merendahkan lagi. Mereka tak mau mencari masalah dengan seorang keturunan dari keluarga White.

Sebastian Wright yang melihat mantan sahabatnya itu semakin dekat dengan Vesa mengepalkan tangannya.

Ayahnya telah menampar Sebastian saat tahu putranya yang bodoh itu telah memutus pertemanan dengan Derrick White. Ayah Sebastian takut jika itu akan mempengaruhi kerjasama bisnis yang terjalin antara keluarga Wright dan keluarga White.

Maka dari itu Ayah Sebastian meminta anaknya itu untuk berbaikan dengan Derrick. Sayangnya, akhir-akhir ini Derrick selalu terlihat bersama dengan Vesa dan itu menyulitkan dirinya untuk mendekati Derrick lagi.

"Sialan, si miskin itu. Mengekor Derrick ke mana-mana," ucap salah seorang teman Sebastian yang juga tak suka melihat keakraban Vesa dan Derrick.

"Keparat, memang!" maki Sebastian.

"George, apa kau sudah menyiapkan apa yang aku minta kemarin?" tanya Sebastian dengan kesal.

"Sudah bos," jawab George sambil tersenyum miring.

Sebastian menyeringai, "Bagus. Sudah saatnya si miskin itu mendapatkan balasannya."

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status