Share

Bab 2

Tiiiinnn ...

Terdengar bunyi klakson yang keras dan panjang dari mobil yang terpaksa berhenti mendadak di depanya, dan membuat Freya hampir saja tertabrak mobil itu.

Yang artinya, Freya bukannya mendapat pekerjaan tapi justru akan mendapatkan karangan bunga duka cita, "Aaaa!!!" teriak Freya sambil menutupi wajahnya karena kaget dan ketakutan.

Setelah menyadari mobil itu tak sampai menabraknya dan membuat Freya gepeng, dia pun segera menepi dan meminta maaf pada sang pengemudi.

"Apa kau mau mati, hah!? Kenapa mengerem mendadak? Kau mau di pecat!?" supir itu pun di bentak oleh majikannya.

"Maaf tuan, nona itu tiba-tiba saja nyebrang, jadi saya kaget dan harus ngerem mendadak," ucap pak sopir meminta maaf pada majikanya itu dengan gemetar.

"Maaf pak, saya buru-buru." Freya menangkupkan kedua tangan di depan dada dan meminta maaf pada si pengemudi mobil itu, kemudian melanjutkan acara lari maratonnya.

"Cih!! Dasar perempuan jal*ng! Bisa-bisanya dia berlari di jalanan dengan kostum seperti itu?" Kenzi menatap sinis ke arah Freya yang sedang meminta maaf.

"Sudah pak, ayo jalan lagi!" titah seorang pria lainya, yang juga duduk di kursi penumpang, "Cantik juga wanita itu." Pujinya dalam hati sambil melihat Freya yang berlari menjauh, setelah meminta maaf tadi.

"Untung saja tidak sampai ketabrak, kalau sampai tadi ketabrak, bisa-bisa tinggal nama aku." Freya berlari sambil mengelus dadanya yang masih kaget, akibat spot jantung barusan.

Tak lama setelah itu, Freya pun sampai di depan sebuah perusahaan besar, tempat dia akan menjalani interview sebagai sekretaris CEO hari ini, saat akan masuk ke perusahaan, Freya pun di tanya oleh security yang berjaga.

"Ada kepentingan apa nona?" tanya security itu sambil tersenyum ramah pada Freya.

"Saya ada interview pak pagi ini," Freya menjawabnya dengan nafas ngos-ngosan dan dada yang masih naik turun.

"Nona yakin mau interview dengan pakaian seperti ini?" tanya si security pada Freya, dia memperhatikan dengan seksama penampilan berantakan Freya saat ini dari ujung rambut sampai ujung kaki, Freya hanya memakai kaos, dan rok span, bahkan dengan sepatu yang masih di tentengnya.

"Saya bawa baju ganti kok pak, tadi ada insiden di jalan. Jalanan macet parah pak, makanya saya jadi harus lari marathon begini untuk sampai di sini dan nggak telat buat interview saya pak," Freya pun menjelaskan kejadian tadi, dan membuat security itu pun manggut-manggut, tanda dia mengerti apa yang sudah terjadi hingga penampilan Freya jadi berantakan seperti itu sekarang.

"Ya sudah nona silahkan masuk, biar tidak telat," ucap si security mempersilahkan Freya untuk masuk.

"Terimakasih pak." Freya pun tersenyum manis pada security yang baik hati itu, dan segera masuk ke dalam dan mencari toilet yang ada di perusahaan itu.

"Pagi yang sial! Gara-gara wanita jal*ng tadi, yang seenaknya saja menyebrang jalan. Memangnya itu jalan nenek moyangnya apa?! Membuatku moodku rusak saja!" Ken menggerutu di sepanjang jalan menuju ke perusahaanya.

"Pagi pak," sapa security tadi pada Kenzi, namun bukanya menjawab bahkan melirik pun tidak.

"Pagi juga pak," jawab Vano yang berjalan di belakang Kenzi.

"Kau ini kenapa sih Ken?" tanya Vano pada bos sekaligus teman masa kecilnya itu.

"Apa lagi? Jelas gara-gara wanita tidak benar tadi, moodku pagi ini jadi hancur berantakan," Ken menjawab dengan nada ketusnya.

"Habislah aku!!" seru Freya pelan di dalam kamar mandi itu, sambil menanggalkan kaosnya yang sudah basah oleh keringat hasil dari lari maratonnya pagi ini.

Dia pun mengeluarkan kemeja putih yang di simpannya rapi di dalam tas, kemeja yang sempat dia pakai, namun terpaksa dia lepas saat berlari bak orang kesetanan tadi. Dia pun mengeluarkan dan menatap kemeja itu dengan tatapan tajam, plus absurdnya itu.

"Ya ampun!! Ternyata kemejaku setipis ini? Oh ya tuhan ..." keluhnya sambil memijit pangkal hidungnya saat menyadari setipis apa kemeja putih miliknya itu.

Freya pun melirik kembali kaosnya yang sudah basah tadi, dan berfikir untuk memakainya kembali, "Apa lebih baik aku pakai lagi saja ya? Tapi kan sudah basah begini, bisa-bisa kemejaku ikutan basah dan bau keringat," Freya pun urung untuk kembali memakai kaosnya yang sudah benar-benar basah itu, dia pun segera memakai kemejanya sambil melirik jam tangan.

"Sial! Jadi tembus pandang begini, tapi ... ah sudahlah, lagi pula saat aku kuliah di luar negeri banyak pekerja yang memakai style seperti ini kan? Go Freya! tenangkan dirimu!!" monolog Freya yang berusaha menenangkan dirinya sendiri.

Kini Freya pun mulai merapikan kemeja yang di pakainya itu, kemudian menguncir rambutnya dengan model kuncir kuda, yang auto membuat leher putih mulusnya itu terpampang nyata. Tidak lupa, dia juga memakai bedak dan lipstik tipis-tipis di wajah cantiknya serta menyemprotkan parfum untuk menutupi bau keringatnya.

"Ulala ... perfecto!!" gumamnya saat melihat pantulan dirinya di cermin, Freya pun segera memakai kembali sepatu hak tingginya, yang sedari tadi terpaksa dia lepas untuk mendukung aksi lari maratonnya.

"Sudah waktunya." Freya pun segera keluar dari kamar mandi dan berlari kecil menuju tempat interview berlangsung.

Namun saat sedang berlari, tanpa sengaja dia menabrak seorang pria tampan dan membuatnya jatuh terduduk di lantai.

Bruk!!

"Aww!" Keluh Freya saat pantatnya mendarat sempurna di lantai, setelah menabrak pria itu.

Bukanya membantu Freya yang jatuh, Kenzi justru terus berlalu tanpa memperdulikan Freya, Vano hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap bosnya itu.

"Kau tidak apa-apa nona?" Tanya Vano pada Freya, sambil mengulurkan tanganya untuk membantu Freya berdiri.

"Tidak apa-apa, terimakasih." Freya pun menerima uluran tangan dari Vano.

"Cih! Wanita jal*ng ini lagi? trik murahan!" sarkas Ken pelan, kemudian meninggalkan Vano dan Freya begitu saja.

"Maaf, saya jadi tidak sengaja." Freya membungkuk dan meminta maaf pada Vano, namun bukanya menjawab ucapan Freya, Vano malah terpaku menatap Freya, entah bagian mana yang di lihatnya.

"Tuan ... halo, tuan? Anda tidak apa-apa kan?" Tanya Freya sambil melambai-lambaikan tanganya, di depan Vano yang terbengong menatapnya.

"Ah! tidak apa-apa, lain kali hati-hati," jawab Vano, "Cantik sekali wanita ini, tubuhnya juga bagus," batin Vano saat melihat ke arah paha mulus Freya.

"Astaga! Rokku sobek?!" gumam Freya sambil berlari kembali ke dalam kamar mandi, dan meninggalkan Vano begitu saja, dan Vano juga bergegas menyusul Ken yang sudah jalan lebih dulu darinya.

"Cih!! Untuk apa kau menolong wanita jal*ng itu? Apa kau kekurangan pekerjaan? Sangat menjijikkan!!" Ken bertanya pada Vano, saat Vano sudah berhasil menyusulnya.

"Kau baru bertemu denganya, dan kau mengatainya seperti itu? Apa kau tidak merasa kau keterlaluan, Kenzi?" tanya balik Vano.

"Tidak!"

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status