Share

Bab 7. Kecurigaan yang Salah

Malam itu, semua mata terjaga menunggu di dalam rumah Pak Agus, dan ada dua orang menunggu di rumah Mbok Inah, untuk menangkap sosok binatang yang di duga celeng itu.

"Pak Agus, tadi aku liat Mas Gilang keluar Pak, dia jalan ke arah sana, keliatannya buru-buru," ucap seorang warga yang baru saja datang dengan napas tersengal-sengal.

"Mau kemana dia?" jawab Pak Agus yang dijadikan ketua dalam penjebakan malam itu.

"Tidak tau Pak, kalau begitu malam ini kita harus benar-benar fokus, tangkap itu Celeng."

"Oke! Kita tunggu aba-aba dari si Udi yang sedang menunggu di rumah Mbok Inah."

Jam menunjukan pukul 1 malam.

Kring..kring..kring... Suara ponsel Pak Agus berdering. Ia segera mengangkatnya dengan semangat.

"Si Udi!"

"Angkat!"

"Hallo Di? Gimana?"

"Suara binatang itu sudah terdengar Pak, tepatnya ada di belakang rumah Mbok Inah."

"Oke, oke, kita menuju ke sana sekarang."

Semua orang bersiap dari berbagai arah, hingga beberapa ekor anjing pun di turunkan untuk menangkap binatang yang meresahkan warga itu.

"Tangkaaaaap!" Teriakan instruksi dari Pak Agus

memecahkan kesunyian malam, disusul dengan suara keributan saat itu, semua orang berusaha menangkap babi lari dengan segala macam cara dan alat.

Hap!

"Berhasil!"

"Celengnya berhasil di tangkap!" Teriak seorang lelaki.

Warga yang lainpun bersorak senang, terlihat seekor babi hutan tergeletak lemas dalam jaring, wargapun segera membawa bintang liar itu ke rumah Pak Agus.

Dalam kurungan Babi berputar putar mencari jalan keluar.

"Rasain lu, ketangkap juga lu!" Amuk lelaki bertubuh kurus.

"Siapa lu? Kalau nggak berubah wujud, gue potong juga lu!"

Ancaman demi ancaman di lontarkan para warga pada babi yang ada di dalam kurungan.

"Pak Agus, apa benar dia Gilang? Bagaimana kita tau dia Gilang Pak?" tanya warga lain yang masih meragukan kecurigaan sebagian besar warga.

"Nanti lama-lama juga dia berubah, kita tunggu saja," timpal yang lain.

"Tapi bagaimana kalau tidak juga berubah? Mungkin sebaiknya, ada salah satu di antara kita melihat lihat rumah Gilang, apa dia ada di rumah, atau tidak ada. Kalau sampai sore tidak ada berarti benar ini si Gilang."

"Ya."

"Ya."

"Ya,"

Semuanya pun setuju.

Babi Celeng pun untuk sementara waktu di sembunyikan warga, dan tidak banyak warga yang tau, kecuali yang suaminya saat itu ikut mengepung.

Haripun mulai beranjak siang, ima terburu-buru mendatangi rumah Dea, untuk memberi kabar tentang kejadian semalam.

"Bu Dea, celengnya sudah ketangkap semalam." ucap Mbak Ima dengan berbisik.

"Masa si?"

"Iya Mbak, sekarang warga lagi merhatiin Mas Gilang ada di rumah atau tidak?"

"Hmmm, aku ngerti maksud Mbak Ima, sebentar aku cari tau dulu ya, Mbak."

Dea tergesa-gesa menuntun Icha menuju rumah Fitri.

"Tari? Tari?"

"Kamu? Ada apa?" tanya Fitri yang saat itu tengah menggoreng ikan.

"Ini si Icha mau main sama Tari."

"Ooh, Tari ada di dalam, Icha yuk masuk." ajak Fitri.

Dea pun pulang kembali ke rumahnya, ada satu rencana yang ia susun.

"Gimana Mbak? Ada Mas Gilang nya?" Ima tidak sabar mendengar jawaban Dea.

"Tadi .... aku perhatikan rumahnya sepi, sepertinya Gilang tidak ada."

"Loh kemana? Jangan-jangan benar lagi, yang ketangkap itu Mas Gilang? Hih!" Ima begidik.

"Sebentar ya aku kesana lagi ya?"

Dea pun bergegas kembali ke rumah Fitri.

"Icha? Icha? Sini pulang sayang."

Icha pun langsung keluar rumah, dan menemui Mamahnya. Fitri yang memperhatikan tingkah Dea merasa aneh.

"Kenapa si Dea? Seperti orang bingung gitu?"

Dea pun mengajak Icha ke ruamhnya. Sesampainya di dalam rumah, Icha langsung di interogasi oleh Dea.

"Cha gimana di tanyain nggak Papahnya Tari di mana?" tanya Dea penasaran.

"Kata Tari, Papahnya lagi pergi Mah. Belum pulang."

"Tuuuuuuh kan? Benar berarti celeng itu jadi-jadian Mas Gilang." ucap Dea penuh keyakinan.

"Astaghfirullah... Apa Bu Aminah dan Mas Diki tau hal ini Bu Dea?"

"Belum, tapi nanti aku beri tau mereka. Sekarang kamu kasih tau bapak bapak sana, jelasin bahwa celeng itu benar Mas Gilang."

"Baik Bu Dea." jawabnya, Ima pun berlalu.

******

"Bu, Mas, sini aku mau ngomong." seru Dea, memanggil suami dan Ibu mertuanya di ruang keluarga.

Bu Aminah keluar dari kamarnya, sementara Diki terlihat masuk ke dalam rumahnya.

"Ada apa De?"

"Anu Mas, Bu. Jadi semalam para warga diam diam menangkap celeng."

"Celeng?" Bu Aminah melebarkan tatapannya.

"Benar Bu. Dan.... "

"Dan apa De?"

"Rencananya sesudah dzuhur ini mereka akan membawa celeng itu ke rumah yang dicurigai sebagai pelaku celeng itu."

"Memangnya mereka sudah tau siapa pelaku celeng itu De?"

"Sudah Bu, yang jadi masalahnya ....'" Lagi-lagi Dea terdiam.

"Masalahnya apa De?"

"Masyarakat mencurigai Mas Gilang Bu, Mas."

"Apa? Astaghfirullah ... Gilang?" Bu Aminah nampak syok, tubuhnya tiba-tiba limbung, dan Diki segera menangkapnya.

"De! Jaga bicaramu! Jangan asal tuduh. Mas Gilang nggak mungkin jadi yang begituan!"

"Jangan nyalahin aku Mas, aku juga tau dari warga. Kita liat saja sebentar lagi warga akan bawa celengnya ke depan rumah Mas Gilang.'

"Astaghfirullahalazim ... Gilang.... tidak mungkin Gilang begitu, Diki, bilang sama warga Mas mu tidak mungkin jadi celeng."

"Iya Bu, tenang Bu. Nanti darah Ibu bisa naik lagi. Kita percaya sama Mas Gilang, dia tidak mungkin melakukan pekerjaan haram itu."

"Ya... Kalau aku si mau buktinya aja langsung nanti, soalnya ada benernya juga si, kecurigaan warga, dia kan di rumah aja, masa banyak duit nya?"

"Mas sudah bilang sama kamu ya De. Mas Gilang itu pebisnis. Jangan asal tuduh!"

"Begini aja deh Mas sekarang kita saksikan aja nanti, lagian itukan bisa aja alasan dia doang. Emangnya kamu tau kantor dia kerja? Atau kamu tau dia bisnis di bidang apa? Enggak kan?"

"Ki, bawa ibu ke kamar Ki, bawa ibu ke kamar,"pinta Bu Aminah yang tak sanggup lagi mendengar perkataan Dea.

Dengan cepat Diki pun membawa ibunya ke dalam kamar.

Menjelang adzan dzuhur Diki masih menemani ibunya, ia merasa sangat khawatir dengan kesehatan Ibu.

"Aku yakin yang di katakan Dea itu tidak benar. Mas Gilang pasti ada di rumah." gumam Diki,

dengan cepat bergegas keluar rumah untuk menemui Gilang.

"Mau kemana Mas?"

"Kerumah Mas Gilang."

"Kamu ini nggak bisa di kasih tau! Mas Gilang nggak ada di rumah."

Diki menerus kan langkah kakinya, hingga ia mendengar keramaian para warga yang tengah menggotong seekor Babi hutan.

"Celeng! Celeng! Celeng!"

Teriak anak-anak kecil mengikuti beberapa orang tua .

Diki hanya terpaku menyaksikan semua orang melewati dirinya begitu saja.

Didepan rumah Gilang, para warga berhenti dan menurunkan binatang liar itu.

Fitri yang mendengar keributan di depan rumahnya segera keluar untuk melihat apa yang terjadi.

"Ada apa ini Pak?"

"Ada apa- ada apa! Tuh suamimu ketangkap basah!" Fitri merasa kebingugan atas penjelasan seorang lelaki yang terlihat begitu kesal.

"Maksudnya apa Pak? Babi siapa itu? Mau di kemanakan?'' tanyanya lagi.

"Alaaaah, sudah jangan pura-pura. Kami tau kamu sedang nunggu suami kamu pulang kan? Tuh suamimu pulang."

"Astaghfirullah, suamiku? Mana?"

"Itu, celeng! Dia suamimu."

Fitri ingin tertawa, tapi hatinya merasa bingung karena melihat wajah-wajah warga begitu seriusnya.

"Celeng, suamiku? Astaghfirullahalazim.... Ada apa ini? Aku memang sedang nunggu suamiku Pak, tapi bukan sebagai celeng."

"Kemana suamimu? Coba jelaskan pada kami dan di mana dia sekarang?"

"Mas Gilang sedang ke Jakarta, untuk membereskan kerjaannya."

"Alaaaah, jangan bohong kamu. Coba telepon dia. Cepat!"

Fitri dengan cepat menelepon nomor Gilang, namun ponselnya nampak tak aktif.

"Ponselnya tidak aktif Pak."ucap Fitri dengan nada menyesal.

"Tuh kan? Bener kan udaaah ..... jangan buang-buang waktu lagi. Usir mereka dari kampung ini!'

Sorak para tetangga menyetujuinya.

Fitri semakin kebingungan, karena ada beberapa orang yang sedari tadi mengajak bicara babi itu dengan menyebut nama suaminya.

"Ya Allah, ada apa ini? Mereka kira suamiku jadi Babi? Astaghfirullahalazim... Mas Gilang kenapa lagi ponselnya pake gak aktif ah" gumam Fitri.

"Udah usir aja! Usir dari kampung ini, meresahkan!" Teriak Dea, lalu di sambut oleh ibu-ibu yang lainnya.

"Puas kamu Fitri, pergi dari rumah bagus itu, biar nanti aku yang menempati rumah itu. Hahaha." Batin Dea tertawa puas melihat Fitri yang sedang kebingungan.

Sementara Diki tak bisa menyaksikan keributan yang ada, karena Bu Aminah terus memanggilnya.

"Usir'

"Usir!'

"Usir!"

Saat semua warga berteriak mengusir Fitri, dan Mentari yang tengah menangis karena ketakutan. Semuanya terdiam melihat sebuah mobil mewah Mercedes Benz CLA berwarna putih mendatangi rumah rumah Fitri, semua mata menoleh ke arah datangnya mobil.

"Waaaah, mobil siapa itu? Bagus sekali?" terdengar bisikan para ibu-ibu saat melihat mobil berhenti di pekarangan rumah Gilang.

"Wiiih, tamu siapa tuh? Keren banget mobilnya? Pasti itu temannya Mas Gilang,"gumam Dea saat melihat datangnya mobil.

"Papaaaaah?''

Mentari berlari menghampiri mobil yang semua orang belum tau siapa di dalamnya.

"Apa? Papah? Maksudnya?" Dea membulatkan matanya, dan memperjelas tatapannya.

Gilang terlihat keluar dari mobil itu, dan segera menggendong Mentari.

"Mas Gilaaaang?"

Bahkan saat ini mulut Dea menganga terlihat begitu syok.

"Tari cari Papah ya? Maaf ya, Papahnya ada kerjaan, jadi nggak gak sempet pamit ke Tari sama ke Nenek."

"Iya Pah, tidak apa apa," jawab Tari yang terus memeluk Gilang.

"Loh, ada apa itu ko rame?" tanya Gilang mempercepat langkahnya. Semua mata terpana ke arah kedatangannya.

"Assalamualaikum semuanya, ada apa nih? Aduuh ko ada Babi hutan? Hasil buruan siapa ini?" tanya Gilang dengan santainya.

Semua warga terdiam, dan hanya bisa saling menoleh satu sama lain.

"Kata mereka, itu Papah." Tari mencoba menerangkan yang ia pahami.

"Apa? Bagaimana maksudnya? Bapak-bapak tolong jelaskan ada apa kenapa Babi ini ada di sini?" tanya Gilang.

Lagi-lagi warga hanya terdiam, tak ada yang berani menjelaskan.

Komen (3)
goodnovel comment avatar
Yulistiono _07
pusing tiap bab harus beli koin
goodnovel comment avatar
Helmy Abdullah
mahaaaaalllnya . 24 koin untuk 1cepter yang bener aja ?
goodnovel comment avatar
Andi Mansyur
wah lagi asik2 baca malah harus beli koin
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status