Share

curahan hati

"Ini tasnya. Handphonenya masih ada di dalam. Kamu boleh mengeceknya terlebih dahulu." Tangan besar itu menyodorkan tas milik Reanna pada pemiliknya.

Dan dengan sigap Reanna menerimanya. "Tidak perlu. Sekali lagi terima kasih, Pak dokter. Berkat Anda, saya bisa kembali menemukan tas saya beserta isinya."

Gadis manis itu menghela napas lega. Handphone di dalam tas itu sangat berharga baginya, karena hanya handphone itulah yang bisa menghubungkan dirinya dengan keluarganya yang tinggal di kota kecil yang jaraknya lumayan jauh dari tempat tinggalnya sekarang.

Ia anak rantau. Ia datang ke kota besar ini beberapa tahun yang lalu untuk meneruskan pendidikannya berkuliah di universitas terbaik di kota ini. Dan beberapa bulan lalu ia baru saja lulus dari dunia perkuliahan.

Ia sudah menyebar beberapa Curriculum Vitae ke berbagai perusahaan di kota ini. Namun, sampai detik ini tidak ada satu pun panggilan kerja untuknya.

Yah, mencari pekerjaan memang begitu sulit di jaman sekarang, hingga ia akhirnya memilih untuk bekerja di Carnation florist, toko bunga milik sahabatnya sembari menunggu adanya panggilan kerja.

"Sama-sama." Dokter tampan itu mengalihkan pandangannya saat ia mendengar langkah kaki kecil sang putri berlari menuju ke arahnya, kedua tangan mungilnya memegang mangkuk mainan miliknya. "Pelan-pelan jalannya, Sayang," ujarnya, mengingatkan saat melihat Kia hampir saja terjatuh.

Sedangkan Kia hanya meringis lucu. Tangan kanannya menyerahkan mangkuk yang berisi plastisin dengan bentuk menyerupai mie pada ayahnya. "Lamyunnya, Papa~"

"Terima kasih, Sayang." Sang ayah menerimanya, kemudian mengacak pelan rambut lembut Kia.

"Buat kakak." Kini tangan kirinya menyerahkan mangkuk dengan isi serupa pada Reanna. Dan gadis cantik itu langsung menerimanya, tak lupa dengan senyuman manisnya pada Kia.

"Terima kasih, Kia."

Kia tersenyum, kemudian menaiki sofa di samping ayahnya. Tangan mungilnya meraih handphone yang pada awalnya sedang ayahnya gunakan, memainkan game anak kesukaannya.

Reanna lantas melirik jam dinding besar yang tergantung tak jauh dari posisi duduknya. Ternyata waktu berlalu begitu cepat, sudah hampir pukul sembilan malam. Pantas saja ia merasa sedikit mengantuk.

"Pak dokter, sepertinya saya harus segera pulang," tutur Reanna. Ia menatap gadis kecil yang saat ini sedang tiduran dengan berbantalkan paha ayahnya, kedua tangannya sedang asik memainkan handphone. Sepertinya gadis kecil itu sudah kelelahan, dan ia harus pergi supaya Kia bisa tidur.

"Biar saya antarkan." Tangan besar itu menaruh kepala sang anak pada sofanya yang empuk dengan perlahan.

Kia hanya menurut saja. Ia menjatuhkan handphone milik ayahnya, mencari posisi yang nyaman. Ia mengantuk.

Reanna tampak tersenyum menanggapi niat baik pria matang di hadapannya, kemudian menggeleng. "Tidak usah, Pak. Saya bisa naik taksi."

"Tidak baik seorang gadis pulang sendirian malam-malam."

Reanna menatap Kia yang menguap di posisinya. Sepertinya gadis kecil itu akan segera tidur. Lagi pula ada seorang baby sitter di sana, jadi ia tidak perlu merasa khawatir, bukan?

"Baiklah kalau Anda memaksa." Gadis itu akhirnya menerimanya dengan sedikit tertawa. Kemudian ia mendekati Kia sekedar untuk mengucapkan kata pamit. "Nah, Kia ... Kakak pulang dulu, ya? Senang rasanya bisa main sama Kia," ungkapnya.

Mata yang tadinya hampir tertutup itu seketika melebar. Gadis kecil itu mendudukkan dirinya. "Kakak ke mana?" tanyanya kemudian.

"Pulang." Reanna menjawab singkat dengan senyuman.

"Main cama Kia?" Kia kembali bertanya, seakan ia tak rela ditinggalkan. Bahkan mata gadis kecil itu mulai berkaca-kaca.

Melihat hal itu, sang ayah mendekatinya, memberinya pengertian. Ia mengusap sayang pada pipi tembam anaknya sebelum berucap. "Besok lagi ya, Sayang. Ini sudah malam. Kakaknya mau istirahat. Bobo di rumah."

"Jangan pelgi. Hiks." Seakan tidak mendengar kata-kata ayahnya, justru air mata itu tumpah. Kia menangis.

"Kia sayang, besok kita main lagi ya?" Reanna mencoba membujuknya. Namun, tangisan itu justru kian kencang.

"Maunya cekalang ... huuwaaa~" Kia meraung dengan air mata yang membanjiri kedua pipinya yang chubby.

Dan dengan telaten, Reanna menghapus perlahan jejak air mata gadis kecil itu. "Sayang, Ini sudah larut malam. Kia juga harus istirahat." Ia kembali memberinya pengertian.

Dan hal itu kembali menyita perhatian si dokter tampan. Hatinya menghangat melihat interaksi Reanna dengan putrinya. Ia seakan kembali melihat sosok Anya dalam diri gadis itu.

"Cama kakak?" mata besar itu berkilau saat menatap kedua mata Reanna, sehingga akhirnya mau tak mau ia menuruti permintaan si kecil di hadapannya.

"Baiklah. Kakak temani bobo, ya?"

Langsung saja tangisan itu menghilang dari wajah sendunya yang kini berubah ceria.

"Horeee~" Kia bersorak, kedua kakinya melompat-lompat pada sofa itu. Ia terlihat begitu bahagia. Dan saat melihatnya, Reanna merasa begitu senang. Kehadirannya ternyata memiliki arti di mata gadis kecil itu.

"Lalu kamu bagaimana?" tanya ayah Kia setelahnya, mengalihkan atensi Reanna.

"Tidak apa-apa, Pak dokter. Saya bisa pulang nanti jika Kia sudah tertidur. Anggap saja sebagai penebus kebaikan hati dokter yang sudah mengembalikan tas saya."

Dan secercah senyuman terbit begitu saja pada bibir merah kecokelatan pria itu.

***

Jalanan kota terasa begitu sepi malam ini. Wajar saja, waktu sudah hampir menunjukkan tengah malam saat ini. Reanna menatap jalan lurus di depannya dalam diam.

Ia sedikit merasa lelah. Namun, justru senyuman yang terbit pada bibir tipisnya. Ia berhasil menidurkan Kia beberapa saat yang lalu, setelah gadis kecil itu merasa puas bermain di dalam kamarnya dengan dirinya.

Dan sekarang ia sedang dalam perjalanan pulang, tentu saja dengan diantar ayah Kia.

"Bagaimana perutmu? Apa masih sakit?" tanya pria yang berada di sampingnya, tatapan mata birunya tak beralih dari jalanan di depannya.

Gadis itu menoleh, kemudian tersenyum.

"Sudah lebih baik setelah tadi minum obat, Dok." Jawab Reanna. Ia tadi sempat makan malam di rumah dokter tampan itu, sekalian meminum obatnya.

"Syukurlah kalau begitu. Hormonmu tidak seimbang, makanya kamu sering telat datang bulan. Jangan terlalu stress dan banyak pikiran." Nasihat si dokter pirang, tanpa mengalihkan perhatiannya pada jalanan yang dilalui mobilnya.

"Baiklah. Akan saya coba."

Setelahnya, suasana menjadi hening di antara mereka. Hanya suara dari music player yang mengisi kesunyian di dalam mobil itu.

"Sebaiknya kamu jangan pergi ke tempat seperti itu lagi jika kamu tidak bisa minum," ucap pria itu tiba-tiba.

Reanna menoleh sebentar, kemudian kembali memperhatikan jalanan di depannya.

"Saya juga menyesal sudah datang ke kelab malam malam itu."

"Untung saja yang menjadi korbanmu itu saya. Saya tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi padamu jika yang kamu tampar dan kamu tempeli itu lelaki lain. Saya ini kuat iman." Pria itu kembali berucap.

Reanna terkekeh mendengarnya.

"Percaya diri sekali Bapak dokter ini."

"Itu benar." Pria itu menatap wajah Reanna sekilas, kemudian kembali terfokus pada jalanan. "Lelaki mana yang tahan kalau ada seorang gadis yang memeluknya dan mencoba menciumnya? Kamu bahkan menempelkan buah dadamu itu di atas perut saya." Pria itu kembali berucap tanpa dosa, seakan tidak menyadari bahwa perkataannya membuat gadis di sebelahnya memerah karena malu.

"Bapak ini bicaranya frontal sekali, ya?"

"Jika saya menjadi lelaki lain, kamu pasti sudah berakhir di kamar hotel." Entah kenapa tatapan dokter itu terlihat menyeramkan di mata Reanna kali ini, membuat gadis itu bergidik ngeri.

"Sudah cukup, Pak dokter. Lebih baik kita bahas hal lain saja." Sungguh, ia tidak suka membahas hal itu lagi.

Sejujurnya Reanna merasa apa yang dikatakan dr. Adams memang ada benarnya. Beruntung dokter itu adalah pria baik, ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya jika pria itu adalah pria hidung belang.

Ia harus lebih berhati-hati lagi ke depannya.

"Ngomong-ngomong, apakah setelah ini kita akan bertemu lagi?" tanya dokter itu dengan tiba-tiba.

"Memangnya Bapak ingin menemui saya?"

"Tidak."

Reanna memutar bola matanya kesal mendengarnya. "Lalu kenapa bertanya?"

"Yah, kita tidak pernah tahu rencana Tuhan selanjutnya. Tetapi, sepertinya Kia sangat menyukaimu. Dia terlihat begitu bahagia ketika bermain denganmu," jelas dokter tampan itu.

Reanna terdiam sejenak. Entah kenapa hatinya menghangat setelah penuturan pria itu. Ia merasa seperti kembali diharapkan setelah dicampakkan oleh Kalandra beberapa hari yang lalu.

"Benarkah?"

"Ya." Pria itu kembali menatap ke depan. "Selama ini dia selalu di rumah sendirian bersama baby sitter. Mungkin ia merasa senang saat ada orang lain yang datang dan bermain dengannya." Dokter itu menatap kedua mata Reanna beberapa saat, "apa dia merepotkanmu?"

"Tidak. Dia gadis kecil yang penurut." Terdapat senyuman dalam ucapan Reanna. Yah, ia berkata jujur; Kia adalah gadis kecil yang tidak merepotkan.

"Dia malaikat saya satu-satunya," ungkap pria itu, pandangan mata birunya menerawang ke depan; pada jalanan yang mereka lalui.

"Saya bisa melihatnya. Anda terlihat sangat mencintai putri Anda."

Pria itu tersenyum. "Ya. Karena dia satu-satunya yang saya punya."

Reanna menoleh cepat.

'Satu-satunya? Apa maksudnya itu?' batin Reanna, entah kenapa ia menjadi ingin tahu.

"Maaf, lalu istri Pak dokter ke mana?" tanya gadis itu dengan sedikit keraguan. Ia tahu itu privasi, tapi rasa keingintahuan mengalahkan segalanya.

Dokter tampan itu terlihat menghela napas sebelum berucap, seakan terdapat banyak beban yang ia tahan dalam dadanya.

"Dia meninggal sesaat setelah melahirkan Kia." Pria itu menjeda sebentar ucapannya, "Dia mengalami pendarahan besar, dan tidak bisa diselamatkan."

Mata Reanna membola, tangan kanannya dengan refleks menutupi mulutnya yang sempat terbuka. Ia sedikit menyesal telah menanyakannya. Pasti pertanyaan darinya sudah membuka kembali luka lama dokter di sampingnya.

Sesaat kemudian ingatannya mundur beberapa jam lalu, saat ia mengamati sebuah potret besar wanita cantik yang tergantung indah di dinding ruang tamu rumah dr. Adams.

'Itukah istrinya?' Reanna bertanya dalam hati.

"Kamu tahu, saya merasa gagal menjadi seorang dokter waktu itu. Saya adalah seorang dokter yang bahkan tidak mampu menyelamatkan nyawa istri saya sendiri." Dokter itu melanjutkan ucapannya. Sorot mata itu terlihat terluka.

'Sepertinya Pak dokter sangat mencintai mendiang istrinya.' Reanna kembali membatin. Ia menatap sendu wajah tampan itu, ia merasa iba.

"Saya yakin jika Bapak sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan nyawa istri Bapak." Reanna mencoba menguatkan. "Tetapi semua memang sudah menjadi ketetapan Tuhan, dan kita hanyalah manusia biasa. Kita hanya bisa berusaha menolong, yang menentukan tetaplah tangan Yang di atas. Bapak sudah melakukan hal yang terbaik." Gadis itu memberikan senyuman terbaiknya, mencoba menyuntikkan semangat pada pria di sampingnya.

"Maaf, saya jadi curhat seperti ini."

"No problem. Saya senang menjadi pendengar baik Anda." Reanna tersenyum jenaka.

"Kamu ini bisa saja."

Dan Reanna merasa lega saat senyum tipis itu berhasil menghiasi bibir merah kecokelatan pria itu.

"Sudah merasa lebih lega setelah curhat dengan saya?"

"Yah, mendingan. Thanks."

"Anytime." Reanna tersenyum cantik, lantas jari telunjuk lentiknya menunjuk ke depan. "Ah, di depan sana belok ke kanan. Rumahku lima meter dari sana."

"Baiklah."

.

Bersambung...

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status