Share

Menjemput Gendhis

Pendekatan yang dimaksud Emran adalah menjemput istrinya dari sekolah, maunya mengantar tadi pagi tapi bangunnya kesiangan. Gendhis harus membiasakan bersama dengannya, terbiasa dengan sentuhannya. Cepat atau lambat Gendhis harus melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri. Kalau begini terus kapan pernikahan mereka bisa mengalami kemajuan.

Di depan sekolah Gendhis, semua anak yang pulang terlihat sama. Memakai seragam putih abu-abu dan berjajar di tempat pedagang makanan ringan. Emran tidak tahu makanan kesukaan Gendhis. Anak itu jajan apa kalau di sekolah dan sekarang bagaimana cara menemukan Gendhis di tengah-tengah anak sebegini banyaknya. 

Melihat-lihat beberapa menit, Emran menangkap siluet anak laki-laki bertubuh kerempeng yang mengajak Gendhis ke pasar malam malam minggu lalu. Anak itu berdiri di dekat pedagang siomay. Di sampingnya ada gadis berseragam SMA, memakai tas ransel biru tua dan rambutnya dikuncir sembarangan. Gadis itu terlihat menyerupai Gendhis. Emran menajamkan matanya ketika melihat gadis itu menepuk bahu teman prianya lalu tertawa. 

“Gendhis!”

Gendhis yang terpanggil balik badan, matanya yang punya kornea bewarna hitam itu membelalak saking kagetnya, ingin lari tak bisa karena Yudhi sedang mengajaknya ngobrol. Emran alias suaminya menjemputnya untuk pulang. Apalagi yang pria itu tengah lakukan sekarang. Ingin berdamai dengannya gara-gara insiden kemarin atau berusaha mendekatinya dengan memberi perhatian. Gendhis jelas tak butuh. 

“Abang mau jemput aku?” Tak baik menunjukkan pemberontakan. Setakut apa pun, Gendhis menyadari jika Emran suaminya. Lebih baik menurut. Setelah kencannya dengan Yudhi ketahuan, Bisa saja kan Emran mengincar pemuda itu untuk dipukul.

“Iya. Ayo kita pulang.” 

Gendhis menengok kanan kiri sebelum menuruti permintaan Emran. “Motor abang mana?” 

“Abang gak bawa motor, abang bawa mobil.”

Gendhis tercengang, Mobil siapa? Apa Emran meminjam pada teman. Bayangan kendaraan yang tertutup dan beroda empat itu seketika membuatnya ngeri. Apalagi berada di sana Cuma berdua kalau pun berteriak saat di apa-apakah tidak akan ketahuan orang. 

“Ndis, dia abangmu?” Yudhi memperkeruh keadaan. Gendhis Cuma bisa mengangguk sambil cemberut. Tak mungkin bilang suami, bisa diejek satu sekolahan. “Dia juara tarung kan? Aku pernah lihat.” Dan Emran ingin sekali menguji kekuatan pukulannya pada pemuda ini. 

“Iya, aku mau pulang duluan ya.” 

“Iya hati-hati di jalan nanti aku telepon. Kamu kalau balas sms ku suka lama.” 

Emran ingin menyahut tapi keburu ditarik Gendhis untuk pergi. Dalam keadaaan darurat, Istrinya tak jijik jika menyentuhnya. Emran mendiamkan kelakuan Gendhis sampai mereka berada di pinggir jalan raya. 

“Kamu sering di berhubungan sama teman kamu yang tadi itu?” 

“Ya namanya juga teman, kadang tanya PR.”

“Kadang juga ngajak main, kencan berdua.” Emran melanjutkannya dengan ucapan tajam serta penuh sindiran. 

“ Ah sudah. Aku lagi males dinasehatin.” Gendhis mengibaskan tangan lalu mempererat pegangan pada tali tas ranselnya. “Mobil abang mana?” Dan gadis ini pintar mengalihkan pembicaraan.

“Sebentar Abang ambil.” 

Gendhis menunggu tak dengan pikiran kosong. Ia punya sendiri cara agar nyaman pulang bersama Emran. Tangannya melambai ke arah beberapa temannya yang sedang jajan cilok, membawa bala bantuan sepertinya perlu. Tak berapa lama mobil Avanza hitam terparkir tepat di hadapannya dengan Emran yang berperan sebagai sopir. Gendhis kira suaminya akan membawa mobil butut yang penuh dengan dempulan seperti milik tetangga sebelah mereka. 

“Kak, aku ngajak Mitha, Sonya sama Nur pulang bareng. Boleh kan?” 

Mau menolak juga bagaimana, kalau ketiga anak gadis itu sudah berdiri rapi menunggunya membukakan pintu. Gendhis tersenyum licik sambil mengambil tempat di depan. Anak ini sengaja mengajak temannya agar merasa aman. Emran tersenyum sembari menggeleng kecil, ia lupa jika Gendhis banyak akal 

🍅🍅🍅🍅🍅🍅🍅🍅🍅🍅

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status