Share

Bab 7

Hari demi hari sudah banyak di lewati dan Aku selalu terus berjuang belajar sendiri agar bisa membuktikan kalau nilai ku bisa lebih bagus dari anak- anak yang ikut les di tempat kak Anton.

Ketika pembagian raport dan kenaikan kelas,  prestasi ku sudah mulai terlihat. Aku yang sebelumnya tidak pernah dapat peringkat, sekarang sudah bisa masuk peringkat sepuluh besar lalu masuk menjadi lima besar. Prestasi ku sedikit demi sedikit sudah mulai bagus. Dan Aku pun sangat bahagia dengan itu berarti perjuangan ku tidak sia- sia.

Sekarang aku sudah memasuki kelas dua sekolah menengah pertama (SMP). Aku dan Feni sekarang tidak lagi satu kelas. Kita semua mendapatkan kelas yang berbeda- beda dan kita bertemu dengan orang- orang baru di kelas yang baru.

Walaupun kita tidak satu kelas lagi, Aku masih terus berjuang keras untuk membuktikan kalau aku bisa tanpa les. Untuk menutupi mulut- mulut mereka yang nyinyir dan untuk mengobati rasa sakit hati orang tua ku karena perlakuan saudaranya sendiri.

Aku tau saat itu orang tua ku kecewa dan sakit hati. Aku bisa melihat itu dari raut wajah mereka. Tapi mereka lebih memilih diam agar tidak memperkeruh keadaan. Mereka tidak mau persaudaraan nya terpecah belah hanya karena kita kurang sabar.

Di kelas dua ini Aku sudah mulai menjadi ketua dalam kelompok belajar. Hampir di semua mata pelajaran. Aku selalu mempunyai semangat yang ekstra dalam belajar, aku bisa berubah 360° ketika belajar, aku yang sedikit kalem bisa berubah menjadi cerewet hanya ketika sedang belajar saja. Aku sangat bahagia menikmati masa- masa itu. Aku merasa bangga pada diri ku sendiri.

Suatu hari di kelasku sedang melaksanakan ujian harian pelajaran fisika. Aku sangat menyukai pelajaran itu. Aku bisa dengan sangat mudahnya menyelesaikan soal- soal yang di berikan oleh Guru ku. Apalagi kalau soal hitung - menghitung, rumus- rumus, aku sangat suka.

Di tengah- tengah ketika aku sedang mengerjakan soal ujian, teman- teman ku di kelas pada bisik- bisik untuk saling menyontek meminta jawaban satu sama lain nya.

"Aliiiin.. Aliiiin.." Tiba- tiba terdengar suara bisikan dari belakang yang memanggil nama ku dan itu Melinda teman sekelas ku.

"Duuuhhh ada bisikan setan lagi.!!!" Kata ku dalam hati. Tapi aku tidak menoleh dan memilih pura- pura gak mendengar suara itu.

"Aliiiin.. Aliiinnn... Heeehh... Alin.!!" Kata Melinda yang kali ini dia menyolek punggungku dengan pensilnya. Dan mau gak mau aku harus menoleh ke belakang.

"Apa Mel?" Tanyaku kesal

"Nomor lima gimana? Kamu udah di kerjain belum?" Tanya Melinda pada ku.

"Belum Mel. Aku juga belum tau rumus mana yang harus aku pakai untuk soal cerita yang nomor lima itu." Kata ku ngeles. Padahal aku sudah menyelesaikan semua soal itu dengan mudah tanpa ada kendala.

"Oh belum ya. Nanti kalau udah kasih tau aku ya?" Kata Melinda

"Hmmmm." Kata ku sambil males- malesan menjawabnya.

Setelah beberapa menit kemudian Guru ku memberikan instruksi.

"Waktu kalian tinggal 5 menit lagi.!!! Silahkan kerjakan soalnya dengan baik, jangan saling menyontek. Yang sudah selsai coba koreksi lagi jawabannya." Teriak guru ku sambil jalan- jalan di dalam kelas mengawasi murid- muridnya.

Semua murid yang ada di kelas mulai ribut.

"Jangan berisik.!!! Kerjakan soalnya masing- masing.!!! Nanti kalau waktunya sudah habis silahkan di kumpulkan jangan ada yang telat.!!! Jika telat ngumpulin nya akan Ibu tinggal dan nilainya nol.!!!" Teriak Guru ku

Salah satu murid  ada yang komplain.

"Bu nomor lima gak ada rumusnya Bu? Gak ketemu harus pake rumus yang mana." Kata salah satu murid

"Bukan gak ketemu tapi kalian nya kurang teliti. Salah satu teman kalian ada yang sudah benar memakai rumus nya." Teriak Guru ku sambil berjalan melewati meja ku.

Melinda curiga murid yang Gurunya maksud itu Aku. Lalu dia memanggil- manggilku lagi.

"Alin... Aliiinn.. Aliiinnn.." kata Melinda berbisik- bisik sambil mencolek punggung ku dengan pensilnya.

"Kenapa lagi sih Mel?" Kata ku kesal

"Nomor lima gimana?" Tanya Melinda.

"Gak tau Mel, Aku juga belum." Kata ku

"Bohong ya? Tadi Bu guru bilang ada yang udah. Itu kamu kan?" Tanya Melinda mulai ngotot

"Beneran belum Mel. Yang Bu guru bilang itu mungkin aja bukan aku." Kata ku dengan nada kesal

Tak lama kemudian bel istirahat pun berbunyi dan Guru ku ngasi instruksi lagi.

"Waktunya sudah habis.!!! Silahkan kumpulkan ke depan.!!!" Kata Guru ku

Satu persatu siswa mulai mengumpulkan dan aku pun berdiri dari tempat duduk ku untuk mengumpulkan hasil ujian ku. Dan ketika aku mau jalan tiba- tiba ada yang narik kertas hasil ujian ku. Dan ternyata Melinda yang menariknya.

"Aliiiinnn.. lihat nomor lima." Kata Melinda sambil menarik kertas ujian ku.

"Breeeeeekkkkk" kertas hasil ujian ku akhirnya robek setengahnya di tarik olehnya tapi untungnya tidak sampai terbelah menjadi dua bagian.

"Apa sih Mel narik- narik kertas ku? Tuh kan jadi robek.!!!" Kata ku kesal 

"Maaf Lin aku gak sengaja." Kata Melinda menyesali perbuatan nya itu

"Terus ini gimana Mel? Aku salin lagi di kertas lain juga gak ada waktu lagi.!!! Nanti keburu di tinggal sama Gurunya. Kalau di tinggal Aku gak dapat nilai Mel." Kata ku sambil jalan menuju meja Guru untuk mengumpulkan kertas hasil ujian ku yang sudah robek itu.

"Bu ini hasil ujian ku. Tapi kertasnya robek di tarik orang, terus gimana Bu? Aku salin lagi di kertas yang baru atau gimana?" Tanya ku pada Guru ku.

"Coba sini ibu lihat dulu Lin." Kata Guru ku sambil memeriksa kertas hasil ujian ku.

"Udah gak apa- apa Lin, masih bisa di baca kok walaupun robeknya hampir setengahnya juga. Emang siapa yang narik nya Lin?" Tanya Guru ku.

"Itu, ada teman." Jawab aku tanpa menyebutkan nama orang yang sudah menarik kertasnya itu. Aku gak mau kalau nantinya Melinda di hukum hanya gara- gara menarik kertas ujian ku.

"Oh ya udah gak apa- apa." Kata Guru ku yang seolah- olah dia bisa mengerti apa yang ada di dalam pikiran ku

Setelah selsai, Guru kita pun pergi meninggalkan kelas dan siswa- siswi pun pada pergi ke kantin untuk menghabiskan waktu istirahatnya. Tapi aku masih duduk terdiam di kursi ku. Tiba- tiba Melinda datang menghampiri ku.

"Alin, kamu marah ya sama Aku?" Tanya Melinda dengan raut wajah yang menyesal

"Gak kok Mel Aku gak marah. Santai aja kali." Kata ku

"Alin, sekali lagi Aku minta maaf ya? Kamu mau kan maafin aku?" Kata Melinda dengan nada yang memohon

"Iya udah Mel. Gak apa- apa kok, Aku juga udah maafin Kamu kok." Kata Ku.

"Makasih ya Lin. Alin kamu gak ke kantin? Kita ke kantin bareng yu?" Ajak Melinda pada  Ku

"Gak ah Mel, Aku lagi males ke luar. Aku mau di kelas aja deh." Jawab Ku.

"Oh ya udah, kalau gitu Aku mau ke kantin dulu bareng Ani. Aku tinggal ya Lin." Kata Melinda

"Iya." Jawab ku

Lalu mereka pun pergi ke kantin.

*  *  *

Dua hari kemudian, nilai hasil ujian harian mata pelajaran Fisika kemarin akhirnya di bagikan.

"Anak- anak hasil ujian harian kemarin mau Ibu bagikan sekarang.!!! Nilai tertinggi dari hasil ujian kemarin adalah seratus dan hanya satu orang yang mendapatkan nilai seratus.!!!" Teriak Bu Guru yang berdiri di depan mejanya.

"Hah??" "Siapa??" "Siapa Bu??" "Kok ada yang bisa dapat nilai seratus ya?" "Nomor lima kan gak ada yang bisa ngerjain Bu?"

(Kata seluruh siswa dan siswi sambil saling menengok teman- temannya yang lain.

"Kalian penasaran siapa yang dapat nilai seratus?" Tanya Bu Guru

"Iyaaaa" jawab semua siswa

"Yang dapat nilai seratus adalah Alin.!!! Silahkan Alin ke depan ambil kertas hasil ujian kamu kemarin.!!!" Teriak Bu Guru.

"Alin?" Kata Melinda heran

Aku pun maju ke depan untuk mengambil hasil ujian ku kemarin, dan setelah itu Aku duduk kembali di kursi ku.

"Katanya kamu gak bisa ngerjain soal itu? Tapi kok itu bisa benar sih?" Tanya Melinda

"Ya gak tau aku juga kenapa hasilnya bisa benar gitu. Itu juga aku asal- asalan aja." Kata ku yang terus mengelak

Murid- murid yang satu kelas dengan Aku pernah bicara seperti ini "Alin itu diam- diam menghanyutkan ya? Orangnya diam kaya yang tidak tau apa- apa, dan pura- pura bodoh padahal dia pintar."

"Iya Dia tuh terlalu tawadhu tidak pernah menyombongkan dan memperlihatkan kepintarannya." Kata temannya yang lain.

Aku hanya tersenyum tanpa berbicara apapun.

Aku memang seperti itu. Apalagi mata pelajaran Matematika, aku sangat menyukai pelajaran itu. Ketika ujian harian, ujian tengah semester, atau ujian kenaikan kelas, di mata pelajaran matematika di saat semua siswa harus mengulang ujian, Aku tidak pernah ikut di ulang karena nilai ku sudah cukup bagus. Itu menjadi satu kebanggaan bagi Ku dan Aku sangat bahagia dengan itu.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status